Mohon tunggu...
Yoga Pratama Tarigan
Yoga Pratama Tarigan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - calon imam diosesan medan

calon sarjana Filsafat, suka berpikir, berimajinasi, dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Dahsyatnya Sebuah Kata

15 Maret 2019   23:25 Diperbarui: 15 Maret 2019   23:51 176
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 Di bagian ini penulis akan mendalaminya secara lebih spesifik yakni, kata. Bila dicermati lebih dalam ternyata hidup manusia sungguh dipengaruhi oleh kata-kata. Misalnya, seorang ibu yang mengalami kemalangan karena anaknya tewas dibom teroris mengalami kekuatan batin ketika sanak-saudaranya memberi kata-kata penghiburan ataupun mengumandangkan kata-kata yang tersusun rapi dalam bingkai sebuah doa.

            Mark Twain mengungkapkannya dengan sangat indah ketika mengatakan, "Udara sangat dingin, sehingga jika termometer ini lebih panjang satu inci saja, kita pasti akan mati membeku." Pesan yang hedak disampaikan dalam perkataan tersebut ialah bukan udara dingin itu yang akan membuat mereka akan mati tetapi kata-kata yang diucapkannya itulah yang akan membuat mereka mati. Yang menjadi persoalan bukanlah realitas itu, tetapi kata-kata mengenai realitas itu sendiri.

            Satu kisah lain yang cukup menarik dari Athony De Mello dalam bukunya yang berjudul Awarness, mengkisahkan bagaimana kata-kata sungguh mempengaruhi reaksi seseorang. Dikatakan bahwa suatu ketika seorang guru berusaha untuk menjelaskan kepada sekelompok orang bagaimana orang-orang bereaksi terhadap kata-kata, menelan kata-kata, hidup dalam kata-kata, ketimbang dalam realitas. Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan protes; dia berkata, " Saya tidak setuju dengan pendapat Anda bahwa kata-kata mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita." 

Guru itu berkata, "Duduklah anak haram." Muka pemuda itu menjadi pucat-pasi karena tidak terima dirinya disebut anak haram. Dengan marah ia berkata, "Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang berpendidikan, yang sudah mengalami pencerahan, seorang guru besar, seorang yang bijaksana, tetapi seharusnya Anda malu dengan diri Anda sendiri dengan berkata demikian kepada saya." 

Kemudian guru itu berkata, "Maafkan saya, saya terbawa perasaan. Saya benar-benar mohon maaf; itu benar-benar di luar kesadaran saya, sekali lagi saya minta maaf." Pemuda itu akhirnya menjadi tenang dan kembali duduk seperti sediakala. Setelah pemuda itu duduk tenang, guru itu pun berkata dengan penuh kemenangan, "Lihat, hanya diperlukan beberapa kata untuk membangkitkan kemarahan dalam diri Anda; dan hanya diperlukan beberapa kata untuk menenangkan diri Anda, benar bukan?" Betapa kuatnya kata-kata mempengaruhi kehidupan seseorang.

            Dari dua kisah tersebut dapat dipahami bahwa kata-kata bermuka dua, yakni ada sisi baik dan sisi buruk. Ia punya daya untuk mempersatukan sekaligus menghancurkan kebersamaan. Benar yang dikatakan pepatah, "Mulutmu adalah harimaumu". Dari pepatah ini kita selalu diingatkan untuk berpikir dahulu sebelum berucap. Akan tetapi, di era post-truth yang terjadi ialah sebaliknya.

Era Post-Truth

Bre Redana (salah seorang wartawan senior di harian Kompas) mengatakan bahwa media online bersifat paradox di era post-truth. Unggul pada kecepatan, namun cenderung abai pada akurasi dan keberimbangan. Informasi bisa didapat dalam sekejap namun miskin kedalaman dan perspekstif. Pun, rentan dimanipulasi menjadi kabar bohong (hoax).

Pada tahun 2016, Kamus Oxford menjadikan kata "post-truth" sebagai Word of the Year. Kamus Oxford mendefinisikan post-truth sebagai situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif. 

Dengan kata lain, perasaan dan keyakinan personal yang ditonjolkan dalam membentuk suatu opini sehingga tidak mengherankan bila di media sosial berseliweran ujaran-ujaran kebencian, hasutan, dan propaganda yang memecah kesatuan. Dalam situasi tersebut, informasi-informasi hoax punya pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang fakta sebenarnya.

Bre Redana melukiskan bagaimana perjuangan yang harus dilewati oleh para jurnalis terdahulu. Mereka harus berada di jantung peristiwa-bukan hanya bermodal telepon genggam atau media sosial untuk menghubungi narasumber seperti saat ini. Prosesnya memang panjang dan kurang praktis dibandingkan dengan perkembangan baru seperti ditawarkan teknologi digital saat ini; kejadian yang terdengar bisa langsung disebar-luaskan seketika itu juga. Namun hal itu menghasilkan kedalaman dan cakrawala yang lebih luas. Pada masanya, orang pikir dulu baru sebarkan, tetapi sekarang orang sebarkan dulu pikir belakangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun