Mental Feodal Generasi Muda

21 Maret 2017 20:29:34 Diperbarui: 21 Maret 2017 20:40:45 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Masa muda merupakan masa emas seseorang, yang hanya didapat sekali seumur hidup. Pada masa ini, idealnya seorang pemuda mampu mengreasikan ide-ide, gagasan, pemikiran, inovasi, kreativitas dll, untuk mengisi waktu mudanya dengan hal-hal positif. Banyak hal positif yang bisa dilakukan pemuda untuk mengimplementasikan ide-ide atau pemikirannya. Contohnya, yang saat ini sedang marak dikalangan mahasiswa maupun siswa, yakni membentuk komunitas. 

Komunitas yang dibentuk mahasiswa maupun siswa ini umumnya bergerak dibidang sosial, kepemudaan, pendidikan dan bidang-bidang umum lainnya. Yang mana biasanya tujuan mereka adalah untuk membantu sesama dalam bidangnya masing-masing. Contohnya adalah komunitas X, yang saat ini sedang saya ikuti. Komunitas X ini adalah komunitas yang bergerak dibidang pendidikan dan sosial, yang mana tujuannya adalah membantu anak-anak dari suatu desa yang kurang maju dan kurang layak pendidikannya. 

Di sana kami membantu mereka review pelajaran yang sudah mereka dapat di sekolah, membantu mengajarkan mereka belajar bahasa Inggris, dan juga mengenalkan mereka pada budaya lokal yang dimiliki. Hal positif lainnya yang bisa didapat dengan membentuk komunitas tersebut yakni koneksi. 

Dengan mengikuti banyak komunitas pasti koneksi atau jaringan semakin meluas. Belum lagi jika komunitas yang didikuti lingkupnnya nasional, yang memiliki Local Chapter di berbagai daerah, pasti koneksi atau jaringan yang terbentu akan semakin luas. Hal ini akan sangat menyenangkan bagi mereka yang senang mendapatkan teman-teman dan pengalaman baru. Karena dengan memiliki teman dari berbagai daerah, tentunya akan ada pertukaran informasi, pemikiran, serta rasa memiliki sebagai keluarga yang hal ini dapat mempererat persatuan pemuda Indonesia. 

Yang hal ini akan berdampak positif bagi kemajuan Indonesia pula. Namun, disisi lain sadarkan kalian, tidak semua pemuda Indonesia mampu merepresentasikan gagasan dalam wujud nyata?. Juga tidak semua pemuda Indonesia berani memaparkan gagasannya. Bahkan mereka saja yang ikut andil dalam sebuah komunitas, juga belum tentu berani mengutarakan/mengekspresikan ide dan gagasannya. 

Ini dapat dilihat dari intesitas mereka berbicara di depan umum. Sedikit cerita dari beberap waktu yang lalu saya gathering bersama komunitas saya yang dihadiri oleh founder komunitas tersebut. Di sana kami mengadakan kegiatan belajar bahasa Inggris, namun sebelum dimulai sang founder mengajak kami melakukan diskusi kecil untuk membahas tentang rencana-rencana komunitas ke depannya. Sebelum memulai diskusi sang Founder meminta kami untuk bercerita tentang pengalaman kami. 

Sang founder membebaskan kami untuk bercerita apa saja baik pengalaman, motivasi belajar, hal yang pernah di alami ataupun hal lainnya dan juga membebaskan siapa saja yang hendak bercerita. Namun seperti biasa, hanya segelintir orang saja yang mau mengacungkan tangan untuk menceritakan pengalamannya. 

Mungkin kejadian di atas tidak hanya terjadi di komunitas saya. Di kelas, organisasi, pondok dan bahkan di tempat lain, pasti banyak anak-anak muda yang sebenarnya memiliki gagasan yang cemerlang namun tidak mampu mengutarakan gagasannya tersebut. Namun, ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk mengutarakannya, terkadang mereka hanya bersembunyi di balik teman, pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak memperhatikan atau bahkan pura-pura tidak dengar. Mental-menta negative yang seharunya pemuda Indonesia mampu membuangnya. Karena sepintar apapun kita, sejenius apapun kita jika kita tidak bisa menyampaikannya sama saja dengan kita tidak memiliki gagasan. 

Dan pastinya, kita akan dipandang rendah oleh orang lain. Banyak faktor yang menyebabkan mereka tidak berani mengutarakan gagasan mereka tersebut. Contohnya, kurangnya percaya diri, merasa orang lain lebih mampu (padahal itu persepsinya sendiri), masih mencari perbandingan dari orang lain, bahkan titik terparahnya adalah ketika dia merasa paling rendah. Hal-hal tersebutlah yang sebenarnya menghambat kemajuan Negara kita. bagaimana tidak Negara Indonesia yang merupakan Negara dengan penduduk yang sangat besar, yang otomatis memiliki jumlah pemuda yang juga tidak sedikit, seharunya mampu menghadirkan inovasi-inovasi yang datangnya dari pemuda itu sendiri. Namun pada kenyataannya masih kalah dengan negar-negara tetangga yang hanya memiliki penduduk tidak lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia. Yang artinya, jumlah pemudanya juga tidak lebih dari jumlah pemudad negra kita. 

Mental feodal generasi Indonesia, sudah sewajarnya dihilangkan. Mental feodal yang dimaksud adalah mental-mental yang hanya mengagungkan-agungkan mereka sudah yang berhasil, sukses, dan lain-lain. Generasi muda haruslah sadar mereka yang sekarang sukses juga pernah mengalami kegagalan, cacian, cemoohan, bahkan remehan tentang gagasannya namun mereka tampil sebagai pemenang setelah mengalahkan rintangan-rintangan tersebut. Mental-mental feodal inilah juga yang nantinya akan melahirkan para buruh, pekerja, bawahan. 

Padahal generasi muda saat ini adalah generasi emas yang dipersiapkan Indonesia untuk memajukan Indonesia pada 1 abad kemerdekaannya. Kita sebagai generasi muda harus mengubur dalam rasa takut, malu, tidak percaya diri, bahkan merndahkan diri sendiri dan buang mental feodal kita. agar kita bisa benar-benar merdeka dari Negara lain yang secara halus menjajah kita, contohnya dengan mendirikan perusahaan dan menjadikan kita sebagai buruhnya.

rosida kerin meirani

/ocy

Menjadi sukses itu kuncinya cuma satu, yaitu MAU
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana