Cerita Cinta Anak SMA part 3

06 Maret 2013 07:45:24 Dibaca :

“Tahu gini tadi aku bawa kereta deh,” sungut Henny.

“Yah, kenapa gak dibawa setiap hari aja sih? Biar aku bisa nebeng,” ujar Lidya. Henny mengetuk pelan kepala Lidya sebagai balasan dari perkataannya yang tak tahu diri itu. Lidya merengut sambil memegangi kepalanya.

Hari ini ternyata kami dipulangkan lebih cepat dari biasanya. Guru-guru akan mengadakan rapat, membicarakan masalah anak kelas 3 yang sebentar lagi akan menghadapi UAS dan UAN.

Saat ini, kami masih berada di lingkungan sekolah. Bingung mau ke mana, kalau pulang sekarang rasanya terlalu cepat. Aku memperhatikan tingkah ketiga temanku. Henny, Sri, dan Lidya. Saat sedang memperhatikan mereka satu per satu, pandanganku berhenti di Henny. Dia tidak menyadari tatapanku.

“Hen, rumah kosong gak?” tanyaku.

Henny tampak berpikir, “Seingatku sih kosong. Icha kuliah, Denny sekolah, papa sama mama kerja. Kenapa nanya gitu?” dia tidak mengerti arah pembicaraanku. Seperti biasa, lemot.

“Kalau gitu gimana kalau kita ke rumah Henny aja? Setuju gak? Langsung cabut yuk,” ajakku tanpa menunggu jawaban dari Henny. Kutarik tangan mereka bertiga.

Kami memilih jalan memutar, takut ketahuan guru kalau kami masih berada di lingkungan sekolah. Karena bel pulang sudah berbunyi dari 1,5 jam yang lalu. Suasana sekolah pun sudah sepi. Saat sedang berjalan beriringan menuju gerbang belakang sekolah, terlihat Manda dan Imam sedang duduk berdua di parkiran belakang. Hanya ada mereka berdua saat itu.

“Berbuat mesum di sekolah tidak akan dimaafkan,” sahut Sri tiba-tiba. Aku hanya bisa tersenyum. Tidak menyangka pergerakan Imam akan secepat ini. Ya, aku tahu kalau Imam menyukai Manda. Tidak perlu tahu aku tahu darimana.

“Ciee.. Ngapain kelen di sini? Belum pulang?” tanyaku sambil menepuk pundak Imam. Lalu, dengan cueknya duduk di antara mereka berdua. Tanpa dikomando, Manda langsung menggeser ke samping untuk memberikan ruang untukku agar bisa duduk. Oh, begitu rupanya, cinta bertepuk sebelah tangan.

Henny, Sri, dan Lidya hanya menyoraki mereka berdua. Imam cengengesan dan Manda terlihat tidak suka.

“Kenapa pada belum pulang?” tanya Lidya lalu duduk di sebelah Manda disusul oleh Henny dan Sri.

“Kalian sendiri ngapain masih di sini?” tanya Imam balik.

“Kami baru aja mau pulang, tapi karena melihat ada yang akan melakukan eksekusi hari ini, langkah kami pun terhenti di sini,” jawabku di bawah tatapan maut Imam. Dia kaget karena aku tahu niatnya saat ini. Dalam hati aku tertawa senang. Haha, memangnya enak digangguin.

Handphone Manda berdering, lalu..

“Aku pulang duluan ya. Uda dijemput,” Manda pamit lalu berlalu. Kami hanya mengangguk mengiyakan. Tak lama setelah Manda meninggalkan tempat parkiran, Imam menginterogasiku dengan berbagai macam pertanyaan.

Aku tak menjawab, tidak satu pun pertanyaan.

“Jadi, hasilnya gimana, Mam? Diterimakah?” tanyaku balik tak memedulikan semua pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Ketiga temanku yang tadi hanya diam akhirnya mulai bereaksi. Sudah paham ternyata mereka, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot lagi menerangkan kepada mereka tentang situasi panas saat ini.

Mendengar pertanyaanku, Imam hanya menghela napas lalu menggeleng.

“Ditolak, Mal,” jawabnya pelan. Aku tertegun, sebenarnya aku sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari mulut Imam, tapi tetap saja kaget saat mendengarnya sendiri. Aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya ditolak. Waktu SMP dulu, aku pernah dengan PDnya menyatakan cinta kepada teman sekelasku. Saat itu, aku masih sangat tomboy. Rambut pendek, baju keluar, dan selalu berada di lapangan bola jika kelas kosong. Tentu saja aku mendapat penolakan, lelaki mana yang mau menerimaku jika sifat femininku limit seperti itu. Padahal aku benar-benar menyukainya. Memendam rasa untuknya selama 3 tahun, sejak kelas 1 SMP hingga berani kuungkapkan saat kelas 3 SMP. Pada akhirnya, tetap mendapat penolakan. Sakit bukan?

Kutepuk pelan pundak Imam.

“Sabar ya, Mam. Masih banyak kok cewek lain,” sahut Henny. Lidya ikut-ikutan menepuk pundak Imam, menguatkan.

“Iya, iya. Ya udah sih, jangan jadi mellow gitu. Haha,” tawa Imam.

“Iye, iye. Ya udah, kami cabut ya. Bye.” Kami pun beranjak meninggalkan Imam. Sesampainya kami di gerbang sekolah, aku memutar badan, terlihat Imam sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangan ditangkupkan. Yang dia butuhkan saat ini adalah waktu. Waktu untuk memperbaiki hatinya yang telah rusak akibat penolakan yang didapatnya hari ini. Cinta tidak selamanya indah, bukan?

Note:

*kereta : sepeda motor

*nebeng : numpang

*kelen : kalian

Nurmala Fitri

/nurmalafitris

Obsessed to be reporter - 94lines - student
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?