Sekotak Nasi Gudeg di Stasiun Tugu Jogja

02 Juni 2013 00:13:15 Dibaca :

Sekotak Nasi Gudeg di Stasiun Tugu Jogja


Karya: Nur Fauziyyah Eka Pratiwi


05.00, Pagi senja di stasiun tugu…


Suasana sibuk terlihat sudah disana. Dikala orang lain masih terlelap dalam tidur, namun para pedagang sudah mulai membuka lapak-lapak mereka bak semut yang keluar dari lubang persembunyian nya untuk mencari makan. Tanpa ada rasa takut jika nantinya dagangan tak terjual habis.


***


Disudut timur pintu keluar stasiun terlihat dari kejauhan seorang laki-laki bertubuh tak terlalu tinggi dan juga tak terlalu pendek. Terlihat menunggu sesuatu. Sambil melihat terus menerus layar handphone nya.


“Halo? Saya sudah sampai stasiun.” Suara nya yang tegas dengan nada membentak terdengar hingga kejauhan.


Tak sedikit juga orang yang menengok kearahnya. Salah satunya Riri gadis cantik yang sudah lama menempati salah satu lapak di stasiun itu.


“Ish apa to esuk-esuk telpon bentak-bentak” gumam Riri didalam hati


Tak lama laki-laki itu menghampiri sebuah mobil yang mewah.


“Hm pantes wae bentak-bentak. Dasar songong. Wong sugih kaya ngono ya.” Gumam Riri lagi-lagi


***


“Ayo mbak mas bu. Mumpung pagi, ini gudegnya dijamin lezat untuk sarapan”


Setiap pagi kalimat itu yang selalu saja diucapkan oleh Riri. Tak kenal bosan, lelah demi selembar uang untuk kehidupannya. Dan terus saja berusaha menawarkan gudeg buatan ibunya itu.


***


“Buk.. Riri sampun pulang” sambil memasuki rumahnya yang sederhana dengan logat jogja nya yang masih sangat khas


“Iya Ri. Piye mau dodolan e? Laris to?” Tanya Ibu Riri sambil memberikan segelas air putih. Mengetahui jika putri semata wayangnya itu kelelahan.


“Alhamdulillah buk. Laris manis.” Jawab Riri dengan muka tersenyum sumringah


***


Riri, sejak usia 5 tahun ia sudah ditinggal Ayahnya ke surga. Ia sesungguhnya tak mengerti mengapa Ayahnya pergi disaat dia masih kecil. Kini Riri hanya tinggal berdua dengan Ibunya. Ibu yang sangat sayang kepadanya. Riri menyadari ia masih beruntung dikarunia Ibu yang sangat sayang kepadanya. Setiap hari, waktunya ia habiskan untuk berjualan gudeg di Stasiun Tugu. Tempat yang menurutnya strategis dan mengeluarkan sedikit modal untuk berjualan.


Riri seperti perempuan lain seusianya. Ia memiliki mimpi. Ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya di universitas. Namun semua impian Riri terhenti sudah, ketika biaya tak dapat ditanggung lagi.


***


Pagi senja di Jogjakarta.. Pengumuman SNMPTN.. Koran-koran memuat berbagai nama siswa yang lolos.


“Mana ini namaku. Lolos nggak.” Suara laki-laki itu terdengar sedikit lembut


Dengan perlahan-lahan membaca satu demi satu nama yang tertera di Koran yang ia beli pagi itu..


“Yeeeeeah akhirnyaa!!” dengan bangga dan senang seorang laki-laki itu meraih handphone nya.


“Pah, Mah… Aku ke terimaaa” suara teriakannya menyelimuti kamar berdesain coklat elegan dengan penataan furniture yang pas.


“Yasudah selamat ya Rendi. Belajar yang bener di Jogja. Minggu besok Mama Papa kesana” jawab Mama nya dengan tergesa-gesa akan pergi ke kantor. Lantas lansung menutup pembicaraan nya


***


Awalnya memang orangtua Rendi tak setuju jika Rendi mengambil kuliah di Jogja. Selain Rendi anak semata wayang, orangtua Rendi juga mempunyai perusahaan besar di Jakarta. Jadi tak mungkin jika mereka harus berpindah.


***


“Selamat ya Ren lolos!!! Jangan lupa aku lho ya”


sms dan bbm banyak sekali masuk di handphone blackberry nya


Lalu tiba-tiba.. nada lagu Bruno kesukaan nya berdering.


Putri calling..


“Rendi?” tanya seorang cewek diseberang kota sana


“Iya? Putri? Ada apa Put? Gimana snmptn mu? Lolos kan? tanya Rendi menyambutnya dengan penuh senyum yang berarti


“Hehehe enggak Ren. Kamu lolos ya? Selamat ya. Sukses selalu buat kamu..” jawab Putri dengan menyembunyikan rasa kekecewaan nya


“Iya Put makasih ya. Makasih udah jadi penyemangat di SMA dulu. Terus kamu mau ke Aussi?” tanya Rendi penuh arti


“Iya Ren. Aku mau lanjut kuliah disana. Sama-sama Ren. Jangan lupa denganku ya”


Kurang lebih satu jam dari mulai pembicaraan hingga selesai itu baru ditutup.


***


Putri. Sahabat terdekat Rendi saat SMA dulu. Terbilang dulu disekolahnya, Putri adalah anak yang sangat cerdas. Namun saat menjelang kelas tiga, berbagai persoalan keluarga menhampirinya dan merubah segala pola belajarnya.


***


Suasana pasar bak lautan manusia di pasar sore.


Buk, niki pinten?” Tanya Riri menanyakan harga kelapa


“lima ewu dek” jawab pedagang itu


***


Setiap sore Riri berbelanja untuk kebutuhan pembuatan gudegnya di keesokan hari.


***


Pagi hari di Stasiun Tugu disambut oleh hujan...


Rendi harus menjemput Papa Mama nya di Stasiun. Tanpa memperdulikan hujan, Rendi dengan tepat waktu bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.


Rendi memang anak tunggal. Namun ia sangat menghargai yang namanya waktu.


Mobilnya ia keluarkan sendiri dari garasi rumahnya.


Handphone Rendi berdering…


“Ren kamu dimana? Mama sama Papa udah sampai ini” suara Mama nya yang lembut, sangat berbeda dengan Rendi


“Sebentar Mah. Ini udah dijalan” jawab Rendi


Sambil menunggu. Mama Rendi merasa sangat lapar. Tak biasanya begitu. Mama Rendi termasuk ke dalam wanita yang sangat menjaga kondisi berat badannya.


Namun entah mengapa berbeda pada pagi itu. Tanpa ada angin besar yang lewat.


“Buk gudeg. Masih panas dan dijamin sehat” suara penjual gudeg satu-satunya disitu. Dan suara logatnya lagi-lagi yang sangat khas.


“Berapa nak?” tanya Mama Rendi


“Sepuluh ribu saja” jawab Riri


“Saya ambil satu nak” jawab Mama Rendi lagi sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan


“Terimakasih Bu” jawab Riri tersenyum sebelum meninggalkan setiap pembeli nya


***


“Pah. Mah. Panggil Rendi disertai dengan pelukan hangat.


“Loh Mah. Tumben makan, biasanya kalo nggak disuruh nggk mau” canda Rendi dengan nada humornya


“Ini enak banget Ren gudegnya. Baru kali ini Mama makan gudeg senikmat ini. Mana yang jualan tadi juga ramah” jawab Mama Rendi panjang lebar sambil berjalan menuju pintu keluar Stasiun


“Ya ini di Jogja, Mah. Terkenal dengan gudeg dan orang-orangnya yang ramah. Jadi ya jangan kaget gitu” canda Rendi lagi-lagi


***


Suasana sore hari mulai menghilang perlahan-lahan ditelan senja malam.


“Sepuluh ribu.. Dua puluh.. Riri menghitung uang nya hari ini.


Tiba-tiba, dengan kagetnya seorang pemuda berwajah suram mengambil secara paksa uang didalam genggaman Riri. Riri mengejarnya tanpa memperdulikan keranjang gudegnya masih tertinggal. Yang iya butuhkan adalah uang.


Dan seorang laki-laki keluar dari swalayan dan pemuda berwajah suram seperti preman yang mencuri uang Riri pun jatuh terkena tubuh tegap laki-laki itu.


“Kamu kenapa? mencuri ya?” nada laki-laki itu sangat tinggi.


“Mas. Tolong tangkap dia” terdengar suara teriakan Riri oleh preman itu. Pencuri itu bergegas lari dengan meninggalkan uang Riri yang berserakan


“Ini uangmu?” tanya laki-laki yang bernama Rendi itu sambil membereskan uang itu


“Iya terimakasih ya” jawab Riri dengan nada terengos-engos karena lari mengejar preman itu


“Ini saya ada minum. Sebaiknya kamu minum dulu” jawab Rendi sambil menyodorkan minum


“Sekali lagi terimakasih ya” muka tersenyum Riri dengan capeknya


***


“Ren. Kok lama sekali. Terus tadi juga ada yang jatuh ada apa?” tanya Papa Rendi yang sedari tadi menunggu Rendi


“Iya Pah. Tadi ada pencurian gitu deh” jawab Rendi dengan nada cool nya


***


“Huh, untung aja uang ini nggak jadi dibawa pencuri ituu.” Gumam Riri sambil mengelus dada


***


“Ren, Mama pengen sarapan gudeg. Tapi yang kemarin. Hehehe” nada Mama Rendi dengan senyuman


“Oke Mah. Buat Mama apasih yang enggak.” Jawab Rendi sambil menuju garasinya


***


Hari itu Riri tak dapat berjualan. Riri masih trauma dengan kejadian semalam dan kondisi Riri masih sakit yang seharusnya Riri tak boleh berlari dengan kencang. Akhirnya pada pagi itu. Ibunya lah yang menggantikan Riri.


Ibunya hanya duduk di lapak dan menunggu pembeli datang. Sebab, ibunya tak kuat jika harus berjalan-jalan mencari pembeli seperti yang dilakukan Riri.


***


Sesampainya di stasiun Rendi langsung mencari tempat yang berjualan gudeg yang diinginkan Mama nya.


Dari pintu masuk hingga hampir menuju pintu keluar, Rendi tak menemukan tempat berjualan gudeg itu. Ya memang lapak yang ditempati Ibu Riri itu sangatlah sederhana dibandingkan lapak-lapak lainnya.


Rendi melihat dari kejauhan,


“Apa itu yang dibilang Mama ya. Tapi apa iya” gumamnya sambil memandang kearah lapak Riri itu.


“Bu, gudeg satu kotak berapa?” Tanya Rendi ramah


“Sepuluh ribu,nak” jawab Ibu Riri


“Saya beli dua ya bu” sahut Rendi lagi


“Baik nak” jawab Ibu Riri dengan ramah


“Bener juga kata mama, yang jual ramah hehehe” gumam Rendi dalam hati


***


Penerimaan Mahasiswa Baru.


Rendi sudah masuk di Universitas Gajah Mada Kedokteran Umum. Sangatlah berbeda dengan Mama Papa nya. Rendi memang lebih suka mempelajari di bidang ilmu pasti.


***


Seminggu sudah Mama Papa Rendi di Jogja. Saatnya besok mereka harus kembali ke Jakarta.


***


Pagi ini disambut mentari yang sangat cerah. Langit bersih tanpa ada awan. Terlihat biru bak lautan samudera luas.


Kereta yang ditunggu orangtua Rendi datang.


“Hati-hati ya Mah,Pa.” kata Rendi dengan pelukan


“Iya. Kamu juga harus hati-hati tanpa Papa Mama. Papa percaya anak Papa tanggung jawab dan disiplin seperti Papa nya” ujar Papa Rendi menunjukkan canda nya.


Kereta itu pun berangkat. Lambaian tangan mengakhiri keberangkatan kereta itu.


Tiba-tiba saja perut Rendi terasa lapar dan merasa ketagihan dengan gudeg yang dibelinya kemarin.


Menuju lapak yang kemarin, tiba-tiba ada seorang perempuan yang tak asing oleh mata Rendi.


“Mas, gudeg nya. Masih anget ini. Dijamin sehat.” Kata perempuan itu dengan ramah.


“Heiii. Kamu? Yang malam itu kan?” tanya Rendi kaget


“Kamu yang memberiku minuman itu?” tanya Riri juga


“Iya ini aku yang waktu itu menolongmu” jawab Rendi dengan nada coolnya yang sebenarnya didalam hati nya dia bingung mengapa bisa bertemu dengannya


“Iya terimakasih sudah menolongku dulu. Mau beli gudeg?” tanya Riri dengan keramahannya


“Enggak.” jawab Rendi dengan gengsi dan meninggalkan stasiun itu


“Aneh” gumam Riri dalam hati


***


Di dalam mobilnya Rendi tak bisa menyembunyikan rasa kebingungan bahwa yang diliatnya itu adalah perempuan yang kemarin ia tolong.


“Yasudah mungkin cuma kebetulan” kalimat itu yang mengakhiri pemikiran Rendi


***


Hari pertama masuk sebagai mahasiswa baru. Rendi adalah seorang laki-laki yang akrab dan mudah beradaptasi. Sehingga, tak heran jika dari SMP hingga SMA ia mempunyai banyak teman yang care dengannya.


Ia memulai masa perkenalan dan OSPEK.


Dan Rendi dipanggil oleh kakak mahasiswanya itu.


“Rendi?” “Iya saya” jawabnya


Rendi disuruh menjelaskan bagaimana cara agar kita bisa membedakan ini pekerjaan dan ini masalah pribadi.


Rendi pun menjelaskan panjang lebar. Semua orang mendengarkan dengan saksama bak seorang presiden yang sedang berpidato.


***


Pada hari itu disepanjang jalan menuju Stasiun. Riri melihat mahasiswa dengan membawa perlengkapan OSPEK. Dalam hatinya, andai aku ya.


Riri berusaha mencari beasiswa untuk bisa melanjutkan study nya.


***


“Ini kenapa sih. Kenapa pengen gudeg” gumam Rendi dengan jengkel


Masak iya. Aku harus kesana. Ketemu perempuan yang kemarin itu.” gumam nya dengan mondar-mandir


***


Sekarang di Stasiun Tugu itu tak ada lagi yang berjualan gudeg.


Riri sudah mendapatkan impiannya. Ia mendapat beasiswa dan bisa melanjutkan kuliah.


***


Tanpa Rendi dan Riri sadari mereka berada dalam satu tempat kuliah yang sama.


Hingga siang yang panas itu. Mereka bertemu di masjid kampus.


Semenjak pertemuan itulah, mereka saling berbagi cerita dan menjadikan ikatan persahabatan.


***


Tiga tahun kemudian…


Kelulusan mahasiswa..


Rendi lulus dengan IPK yang memuaskan begitu juga Riri.


Namun Rendi mengerti. Sesuai janjinya dahulu. Setelah ia lulus. Ia harus kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan di Jakarta saja.


Alhasil. Rendi pergi meninggalkan kota Jogja. Meninggalkan sahabatnya yang ia kenal dari sebuah kotak nasi gudeg.


“Makasih ya Ri. Selama ini udah ngajarin banyak banget pelajaran. Dan yang terpenting sudah menjadi tour guide ku.” kata Rendi dengan candaannya


“Jadi.. totalnya satu juta dikali…” sahut Riri dengan bercanda. Dan sebelum Riri selesai berbicara.


“Ri, sebenernya…” kata Rendi yang belum juga menyelesaikan kalimatnya


“Ituu. Kereta nya udah dateng” jawab Riri


Dengan banyak pertanyaan diantara keduanya


Dan Rendi pergi kembali ke Jakarta. Dan Riri pun melanjutkan study nya di Jogja mengambil S-2.


“Setiap kota memiliki cerita” kalimat yang dituliskan Rendi di tutup kotak nasi gudeg Riri.


***

Nur Fauziyyah EP

/nurfauziyyahep

Seorang pelajar yg akan meneruskan ke dunia perkuliahan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?