Waspadai Pemulung!

23 Juni 2012 14:20:24 Dibaca :

Hidup itu memang keras. Tentu tak pernah terbayangkan oleh sebagian orang bahwa mereka harus hidup dalam gelimangan sampah. Ya, ketika nasib baik belum memihak mereka, salah satu pilihan hidup itu harus mereka jalani. Pilihan hidup yang kalau boleh memilih, tentu tidak ingin seperti itu. Menjadi pemulung, atau pemungut sampah, yang mungkin masih layak untuk dijadikan rejeki bagi mereka.


Keberadaan pemulung sebenarnya sangat membantu hidup manusia. Anda mungkin bisa bayangkan betapa banyak sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, terutama kaum urban yang tinggal di perkotaan, atau pinggir kota besar. Kesulitan tempat untuk membuang sampah dan mengolah sampah sendiri mewajibkan mereka untuk membuang sampah mereka di tempat pembuangan sampah umum, yang terkadang tidak juga langsung diangkut oleh mobil pengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir.


Keengganan masyarakat untuk memilah sampah pun akhirnya terbantu oleh para pemulung yang notabene mencari sampah yang mungkin bisa didaur ulang oleh mereka. Entah sampah apa saja yang mereka cari, yang saya perhatikan, pilihan mereka jatuh ke botol kemasan atau gelas kemasan plastik. Tentu kontribusi mereka akan sangat membantu pihak pengelola sampah dengan mengurangi produk sampah yang harus dimusnahkan.


Saya sendiri tidak pernah melihat ada yang salah dengan profesi mereka, hingga tadi siang kakak saya mengingatkan saya untuk menyimpan penampung air/toren di dalam rumah. Saya bingung, toren sebesar itu harus di dalam rumah? Saya bilang saja biarkan di belakang, gak akan ada yang bawa kan? Eh, saya malah dibilang terlalu baik, terlalu berpositif thinking! Mereka bilang yang namanya pemulung, barang sebesar apapun bisa ia bawa. Mungkin awalnya dia cuma lihat, tapi dia bisa balik lagi dengan membawa pasukannya ketika kita sudah terlelap tidur.


Masih gak percaya dengan cerita kakak saya. Ia menambahkan bahwa tetangganya sering kehilangan buah mangganya. Satu ketika, ada tetangga lain yang memergoki seorang pemulung sedang mengambil mangganya. Eh, bukannya malu, pemulung itu malah balik marah ke orang yang menegurnya sambil mengacungkan alat angkut sampahnya itu. Kontan, tetangganya itu sempat takut.


Cerita yang lain, ketika anak kakak saya lapor bahwa ada seorang pemulung di belakang rumahnya. Kebetulan si anak salah sebut, ia bilangnya ada pemaling. Gak terima dibilang pemaling, si pemulung itu marah-marah dan teriak-teriak. Tentu saja kakak saya balik marah dan mengusir si pemulung. Namanya anak kecil, pasti dia gak sengaja bilang pemulung itu "pemaling".


Nah, ini yang lebih parah. Masih kisah tetangga kakak saya. Waktu shubuh, ia mendengar suara berisik di belakang rumahnya. Ternyata, pas dilihat, seorang pemulung sedang berusaha memasukkan panci miliknya yang digantung di tembok belakang rumah. Ketika ditegur, si pemulung langsung menusukkan alat pengangkut sampahnya ke tubuh si pemilik panci yang mengakibatkan luka tusuk yang dalam.


Wah, ternyata pemulung bisa sangat membahayakan ya? Walaupun tentu tidak semuanya. Namun, dari banyak cerita, pemulung itu kalau ditegur oleh si empunya rumah, dia akan lebih galak dari yang punya rumah. Makanya, jangan sekali-kali menegur mereka. Cukup lihat saja aktivitas mereka dan apa yang mereka ambil dari lingkungan rumah kita. Jika kita awasi, mereka tidak berani mengambil, asal dengan satu syarat, JANGAN MENEGURNYA! Bisa-bisa tuh alat yang mereka pegang melayang ke kita.


Salam waspada! :)


Nunung Nuraida

/nunung_nuraida

TERVERIFIKASI (HIJAU)

teacher, English, novel, x-files, Rayhan
http://nunungnuraida.wordpress.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?