Nisa Sri Wahyuni
Nisa Sri Wahyuni

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masayarakat Universitas Indonesia ang.13

Selanjutnya

Tutup

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat sebagai Agen Pengubah Nusantara

12 Agustus 2013   19:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   09:23 447 0 0

“Beri aku 10 pemuda, maka akan ku guncang dunia” (Presiden I RI - Ir. Soekarno)


“Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas, terutama bagi penduduk miskin di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK); Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah, kualitas dan persebarannya, terutama bidan; Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu; Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil”. Hal-hal tersebut merupakan tantangan dan kendala selama proses pencapaian target-target MDGs 2015 yang kini tak kunjung usai.


Sejak 10 September 2000, Pemerintah Indonesia mulai bekerja dengan keras untuk melaksanakan sebuah komitmen perjuangan. Melaksanakan setiap poin penting dalam deklarasi MDGs seperti menurunkan angka kematian balita hingga 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015, menurunkan angka kematian ibu, dan masih banyak lagi. Namun melaksanakan sebuah misi yang besar, tidak hanya bisa mengandalkan sosok penguasa negara. Dua tahun lagi bangsa ini harus merealisasikan sebuah target yang masih cukup jauh dari angka pencapaian terkhusus dalam bidang kesehatan, dimana Indonesia masih memiliki banyak PR didalamnya. Menurut Menteri Kesehatan, dibutuhkan sebuah semangat yang luar biasa untuk mencapai target target MDGs karena hal tersebut tidaklah mudah. Untuk itulah untuk mencapai target MDGs diperlukan kesadaran masyarakat untuk lebih produktif dan kreatif dalam membudayakan perilaku hidup sehat. Pemuda dan kalangan perguruan tinggi perlu dilibatkan dalam hal ini (Ali, 2011). Bahwa mahasiswa mempunyai peran sebagai agent of change, yang gagah dan terdepan. Sejatinya sebagai mahasiswa yang fokus pada bidang kesehatan ini diharuskan menjadi role model(Haryadi, 2009). Target- target MDGs bukanlah tugas pemerintah saja, namun diperlukan suatu sinergi dan koordinasi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan swasta dalam mewujudkannya.


Mahasiswa sebagai role model


Mahasiswa sebagai role model dapat dikatakan sebagai sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat. Dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.


Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnya bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat.


Saat ini kita berada di tahun 2012. Sebuah tahun yang sangat dekat dengan tahun 2015. Tahun 2015 adalah tahun dimana seluruh masyarakat dunia mendukung atas pencapaian suatu tujuan ambisius. Tujuan ini dinamakan Millenium Development Goals (MDGs). Pada September 2000, tujuan ini dideklarasikan pada Konferensi Tingkat Tinggi Millenium yang dihadiri oleh pimpinan 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Millenium Development Goals merupakan sebuah paket berisi delapan tujuan utama yang mempunyai batas waktu tahun 2015 dan target yang sangat terukur. Delapan tujuan itu adalah memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem, mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan Ibu, memerangi HIV & AIDS, malaria serta penyakit lainnya, memastikan kelestarian linkungan, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.


Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa dimulai dari hal-hal yang keciluntuk berkontribusi dalam pencapaian target MDGs 2015. Banyak pelajaran yang sering kita dapatkan dari hal-hal yang kecil. Pasalnya suatu yang besar berawal dari hal-hal yang kecil. “Barang siapa tidak menghargai sesuatu yang di anggap kurang berharga (hal kecil), maka ia pun tidaklah pantas diberi kepercayaan untuk mengelola atau memiliki usaha besar” (B.J Habibie). Dari hal kecil inilah sebuah kontribusi nyata akan dimulai. Sebagai mahasiswa, memulainya dapat dilakukan dengan membentuk karakter pribadi melalui internalisasi nilai-nilai mendasar seorang akademis yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Setelah tahap internalisasi maka semangat kontribusi akan melekat pada masing-masing pribadi. Hal ini akan menjadi modal besar untuk menebar manfaat yang sebesar-besarnya. Yang berarti dapat bergerak dari sisi manapun ia berada, sebagai praktek lapangan akan kontribusi nyata di masyarakat demi tercapainya target MDGs 2015.


Kesehatan Masyarakat dari Indonesia untuk Indonesia


Masalah kesehatan masyarakat merupakan salah satu topik utama yang saat ini masih belum terpecahkan. Di bidang kesehatan Indonesia masih punya 5 rapor merah, yaitu berdasarkan hasil sementara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total, Air bersih, dan Malaria. Kementerian Kesehatan pun telah melakukan berbagai cara, salahsatunya adalah dengan mengarahkan pembangunan kesehatan melalui peningkatan upaya promotif dan preventif disamping peningkatan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Peningkatan kesehatan masyarakat dilakukan dengan penekanan untuk hidup sehat melalui pencegahan penyakit menular maupun tidak menular, hal itu dilakukan dengan cara memperbaiki kesehatan lingkungan, gizi, perilaku dan kewaspadaan dini.


Melihat kompleksitas permasalahan yang ada, dibutuhkan upaya dari seluruh elemen bangsa untuk memperkuat pembangunan kesehatan. Atas dasar tersebut maka dibentuklah sebuah organisasi IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia). IAKMI adalah sebuah organisasi profesi independen yang bergerak dalam bidang kesehatan masyarakat yang bertugas untuk mencegah dan mensosialisasikan hal-hal yang terkait masalah kesehatan kepada masyarakat yang dinaungi oleh orang-orang kesehatan masyarakat.


“We are prevent and Promote” merupakan sebuah slogan yang tak dapat terpisahkan dari Mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat. Sebagai seorang mahasiswa terkhusus mahasiwa yang menaungi ilmu kesehatan masyarakat, sebuah kontribusi nyata harus mulai di tebarkan dalam segala aspek lingkungan kesehatan sekitar untuk menyelesaikan 5 raport merah MDGs. Hal-hal kecil untuk membantu Pemerintah Indonesia demi mewujudkan sebuah target terciptanya kesehatan kepada generasi-genarasi penerus bangsa. Seperti dengan menyuarakan aspirasi dan menawarkan solusi alternatif melalui sebuah karya. Tulisan, poster, dan foto bertemakan posisi kesehatan Indonesia adalah contohnya. Apabila karya-karya tersebut dipersembahkan pada jalur yang benar (on the right track), maka perubahan-perubahan kecil yang akan berujung pada perubahan besar akan lahir dan turut mewarnai perjuangan masyarakat Indonesia untuk lebih sejahtera.


Kita sebagai seorang mahasiswa kesehatan masyarakat setidaknya harus memiliki 3 peran kontributif yang bisa dimainkan seorang mahasiswa kesehatan demi tercapainya MDGs yaitu agent of health, agent of change, dan agent of development . Pertama, sebagai agent of health. Apabila kita langsung kaitan dengan MDGs maka seorang agent of health merupakan garda terdepan dalam membina hubungan yang baik kepada masyarakat. Tentunya dengan tujuan agar masyarakat menjadi lebih peduli dengan kesehatan mereka dan pada akhirnya mereka faham bahwa kesehatan adalah suatu hal yang mahal. Misalnya dengan akses nya yang lebih leluasa dalam bidang kesehatan maka mahasiswa akan lebih mudah melakukan berbagai kegiatan yang merangsang masyarakat akan pentingnya kesehatan. Kedua, sebagai agent of change. Tentunya kita mengharapkan kualita kesehatan masyarakat Indonesia terus meningkat dan mencapai MDGs empat tahun yang akan datang. Mahasiswa bisa menjadi penggerak perubahan tersebut. Misalnya, dengan pengetahuannya akan bahaya merokok seorang mahasiswa kesehatan mengadakan seminar, kampanye bebas rokok, sampai dengan aksi long march di Hari Tanpa Tembakau sedunia yang jatuh pada 31 Mei. Ketiga, sebagai agent of development. Peran ini bersinergi dengan peran agent of change. Setiap usaha yang dilakukan demi menuju perubahan yang lebih baik, utamanya menuju MDGs, bisa terus dipertahankan dan dikembangkan pada masa yang akan datang. Tentunya MDGs bukanlah tujuan akhir dari setiap tujuannnya. Mahasiswa kesehatan baik saat ini dan seterusnya mempunyai tanggung jawab meneruskan cita-cita MDGs.


Banyak Negara yang tidak bisa mencapai sasaran yang ditetapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs). Hal ini karena kurangnya pelibatan semua pihak yang berkaitan dengan pembangunan, khususnya pelibatan masyarakat sipil yang merasakan permasalahan yang ada serta mengetahui kebutuhan paling signifikan untuk dipenuhi. Untuk itu melalui kontribusi kecil seorang mahasiswa inilah kita dapat melahirkan kontribusi-kontribusi besar dimasa mendatang. Tidak perlu setiap mahasiswa harus menjadi aktivis kampus yang aktif di ranah sosial politik, mengikuti banyak aksi massa untuk membangun karakter dengan semangat kontribusi di dalamnya Semua hal yang ada di dalam kehidupan kampus dapat menjadi media yang tepat untuk membangun karakter dan menyiapkan diri untuk berkontribusi lebih besar dimasa yang akan datang. Bangsa ini merindukan kontribusi pemuda pemudi terbaiknya. Semua itu bukan untuk siapa-siapa tapi untuk bangsa, untuk negara, dan untuk tanah air Indonesia. Dan yang harus dilakukannya adalah sekarang, bukan nanti!


Daftar Pustaka


Lestari, Dwi Riani ( 2011, Oktober 25). 20 Mahasiswa Dukung Percepatan MDGs 2015. Dipetik 12 Agustus 2013 darihttp://kampus.okezone.com/read/2011/10/25/373/519973/20-mahasiswa-dukung-percepatan-mdgs-2015


Public Health Expo.(Agustus 11, 2012). Peran Pemuda dalam Mendukung Ketercapaian Tujuan Millennium Development Goals (MDGs) 2015. Dipetik 12 Agustus 2013 dari http:// publich ealthexpo.com/2012/08/peran -pemuda-dalam-mendukung-ketercapaian-tujuan-millennium-development-goals-mdgs-2015/


Anonim. Perspektif kritis MDGs Bidang kesehatan. Dipetik 12 Agustus 2013 darihttp://www.yis.or.id/?section=detailartikel&mslink=116


Anonim. MDGsMillennium Development Goals. Dipetik 12 Agustus 2013 dari http://mdgs-dev.bps.go.id/


Anonim (2013, Februari 15). MDGs Tinggal 2 Tahun Lagi, Indonesia Masih Punya 5 Rapor Merah. Dipetik 12 Agustus 2013 dari http://health.detik.com/read/2013/02/15/154649/2171341/763/mdgs-tinggal-2-tahun-lagi-indnnesia-masih-punya-5-rapor-merah












Esensi : Tugas ini dibuat untuk melengkapi tugas sebagai Mahasiswa Baru dalam rangka OKK FKM UI 2013. Melalui penugasan ini, saya mendapatkan banyak ilmu khususnya berkaitan dengan kesehatan masyarakat yang sebelumnya saya tidak ketahui. Dengan mengangkat tema kontribusi seorang mahasiswa kesehatan masyarakat, saya mampu mengkritisi diri saya sendiri untuk bersikap saat ini sebagai seorang mahasiswa agar dapat berperan aktif dalam menuntaskan segala hal permasalahan yang berkaitan dengan masalah kesehatan dengan melakukan sebuah aksi kecil. Melalui essay ini pun saya dapat menuliskan apa yang menjadi buah pikir saya untuk mengajak semua orang untuk berpastisipasi dalam kebaikan, dan juga mendapatkan banyak ilmu baru yang tentunya sangat berguna bagi saya dan dapat saya kritisi melalu essay ini. Trimakasih.