Resensi Novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

15 Juli 2013 08:09:09 Dibaca :
Resensi Novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"
-

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Author : Tere Liye

Peresensi : Nina Pradani

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : Juni, 2010 ( 2013 - cetakan kesembilan—waoW! )

“Dulu Anne pernah bilang, orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tau lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” Halaman 247.

Dari semua isi novel ini, saya paling setuju dengan sepenggal kalimat itu, dan memang itu inti dari keseluruhan ceritanya. Namun sayang, saya bahkan tidak setuju dengan judul novelnya, Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin. Saya tidak pernah bisa setuju. Bagaimana mungkin seorang Tere Liye bisa tahu bahwa daun tidak pernah membenci angin. Apakah daun itu pernah curhat padanya? Apakah Tere Liye bisa mendengar daun itu berbicara? Apakah dia pernah bertanya pada sang daun? Bagaimana jika daun—yang memang tidak pernah melawan angin—itu sangat teramat benci pada angin, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk mempertahankan dirinya? Bagaimana jika ia hanya bisa membiarkan begitu saja angin menerbangkannya, meskipun harus terbang dengan perasaan kesal? Bagaiamana jika ia terbang dengan kebencian yang tak pernah mau didengar oleh angin?

Seberapa yakin Tere Liye dengan kalimat—yang sekali lagi, berhasil membuat saya untuk membeli novelnya—itu? Apakah dia sudah mewawancarai daun-daun yang ada di seluruh muka bumi ini? Bagaimana mungkin dia bisa yakin dan dengan pede-nya menjadikan kalimat itu untuk judul novelnya? Sebagai editor bacaan anak, saya akan mencari logika yang tepat dan masuk akal untuk kalimat aneh itu, jika tidak, anak-anak akan bertanya ini-itu. Sayangnya, novel ini bukan bacaan anak. Oleh karena itu, saya tidak berhak protes. Lagi pula, apa arti celotehan saya, jika novel ini sudah sedemikian laris manisnya, lihatlah! Hmpfh… Buat orang dewasa—apalagi yang sedang jatuh cinta—semua kalimat itu masuk akal saja. Dan mengibaratkan daun itu sebagai dirinya, angin sebagai orang yang dicintainya.

Hei, tunggu dulu! Saya kan sedang mau bikin resensi, kenapa jadi ngelantur gini sih? Bukan itu sebenarnya yang ingin disampaikan Tere Liye dalam novel ini. Sebaiknya mari kita buatkan ringkasan ceritanya dulu. Ringkasan ini akan lebih banyak mengutip kalimat langsung Tere Liye. Saya tidak akan terlalu banyak menggunakan kalimat sendiri, saya takut malah menyimpang dari maksud penulisnya.

Namaku Tania, aku tahu aku cantik. Tubuhku proporsional. Rambutku hitam legam nan panjang. Menurut seseorang “Mukamu bercahaya oleh sesuatu Tania… Kecerdasan berpikir, kedewasan, dan penjelmaan positif atas semua pengalaman hidupmu… dan tahukah kau, matamu misterius. Semua cowok suka wanita yang memiliki mata misterius….”

Namun siapa yang menyangka, dulu aku tidak seperti itu. Pada saat-saat awal mengenal seseorang itu, dan dia mengajakku dan adikku ke sebuah toko buku. Sebelum berangkat, sore itu, ibu menggosok tubuh hitam dekilku. Menggunakan sampo banyak-banyak di rambutku yang mengeriting dan bau karena terkena sinar matahari seharian. Adikku Dede lebih lama lagi berkutat di sumur. Tubuhnya jauh lebih kotor. Tujuan kami ke toko buku itu adalah untuk membeli kebutuhan sekolah, ya, aku dan adikku akan bersekolah lagi, setelah kepergian ayah, kehidupan keluargaku berubah, dan aku terpaksa harus putus sekolah, lalu mencari uang di jalan dengan adikku, ngamen. Tepatnya, kami akan disekolahkan lagi oleh seseorang itu, malaikat kami.

Malam sebelum pulang dari toko buku, dia mengusap rambutku dan berkata pelan “Belajarlah yang rajin, Tania!” maka sejak saat itu aku berikrar akan selalu menuruti kata-kata dia. Aku bersumpah untuk melakukannya. Sumpah yang akan membuat seluruh catatan pendidikanku kelak terlihat bercahaya. Sempurna!

Esok harinya, setelah dari toko buku ini bersamanya, jadwalku berubah seratus delapan puluh derajat. Pagi-pagi aku berangkat ke sekolah bersama adikku. Masuk jam tujuh teng.

Awal pertemuan kami dengan malaikat itu di atas bus kota. Saat itu, aku dan Dede sedang mengamen. Selesai mengamen, saat mengedarkan kantong plastik, kakiku tiba-tiba terkena paku payung yang tergeletak di tengah-tengah bus. Aku mengaduh dan menahan tangis. Jongkok. Meletakkan kantong plastik yang baru berisi empat-lima recehan. Tanganku gemetar mencabutnya. Perih. Darah muncrat. Orang-orang di sekitar hanya satu-dua yang memperhatikan. Menatap sambil menyeringai datar tak peduli. Menatap sejenak lantas tidur kembali. Dede langsung berseru ngeri.

Saat itulah seseorang itu menegur. Aku ingat sekali saat menatap mukanya untuk pertama kali. Dia tersenyum hangat menentramkan. Mukanya amat menyenangkan. Muka yang memesona oleh cahaya kebaikan. Dia beranjak dari duduknya, mendekat. Jongkok di hadapanku. Mengeluarkan sapu tangan dari saku celana. Meraih kaki kecilku yang kotor dan hitam karena bekas jalanan. Hati-hati membersihkannya, kemudian membungkusnya perlahan-lahan dengan sapu tangan. Saat itulah, babak baru kehidupan kami dimulai.

Selama duduk di bangku SD, nilai-nilaiku selalu sempurna, bahkan aku meloncat kelas. Sebelum memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi, masuk SMP, aku dan adikku harus menelan kenyataan pahit kembali, ibu sakit keras, kanker paru-paru stadium IV. Berbagai cara sudah diusahakan oleh malaikat kami. Tapi, Takdir berkehendak lain. Ibu meninggalkan kami. Kami sempurna menjadi yatim-piatu. Tapi, malaikat kami selalu ada. Kesedihan atas kematian ibu belum hilang saat aku menerima kabar bahwa aku dinyatakan lulus dan mendapatkan satu kursi untuk melanjutkan sekolah, SMP di Singapura, beasisiwa ASEAN scholarship. Keberangkatanku ke Singapura ternyata dalam waktu yang sangat lama, tiga tahun hingga lulus sebagai lulusan terbaik kedua di sekolah itu. Aku pulang saat liburan setelah lulus. Saat pulang itulah aku mulai menyadari suatu hal. Perasaanku terhadap malaikat kami. Ya, aku sudah mulai mengerti. Tidak seperti dulu, ketika aku hanya tahu merasa jengkel melihat kedekatannya kak Ratna, pacarnya, dan tidak tahu apa penyebabnya. Kini aku mengerti, aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, pintar, dan disukai banyak cowok. Tapi, tak ada satu pun yang kupedulikan.

Aku tetap kembali ke Singapura untuk melanjutkan SMA dan aku masih mendapatkan beasiswa itu. Selama ini, aku selalu merasa bahagia dengan perasaanku, dan Anne adalah sahabatku satu-satunya yang selalu memberikan logika berpikir rasional dan mencoba menyadarkanku (salah satu contoh kalimatnya seperti di awal tulisan ini) dan itu selalu tidak kusuka. Kesenangan akan perasaan itu kupelihara hingga tiba hari kelulusanku. Setelah berjuang habis-habisan di ujian terakhir, akhirnya aku berhasil melampaui 0,1 digit nomor satu selalu. Tipis sekali. Aku mendapatkan predikat terbaik. Dan lebih dari itu, jantungku berdetak kencang bahagia. Kejutan! Benar-benar kejutan. Ternyata dia datang di hari kelulusanku. Kenapa dia tidak bilang-bilang? Katanya sedang sibuk. Tapi sekarang dia ada di sini. Sendirian? Datang khusus untukku?

Ya Tuhan! Tidak, lihatlah, di belakangnya ternyata ada Kak Ratna yang mengiringi. Ketika keluar dari auditorium, dia memelukku erat-erat. Kak Ratna juga. Dia menggelengkan kepala amat senang, tersenyum amat bangga. Dan Kak Ratna sempat mengatakan dia berkaca-kaca mendengar pidatoku. Bukankah dia selama ini tidak pernah menangis untuk siapa pun? Ada lagi kabar gembira, National University of Singapore memberikan satu kursi untukku di kelas terbaik mereka semester depan. Beasiswa hingga lulus.

Sayangnya, semua kabar bahagia itu tertutup begitu saja beberapa saat kemudian oleh sebuah kabar yang bagai petir di siang hari. Meruntuhkan semua harapan. Semuanya sudah berakhir. Kabar bahwa dia akan menikah dengan Kak Ratna.

Dan perasaan tidak terima-ku ternyata tidak pernah bisa kusembunyikan, tidak pernah bisa aku anggap biasa-biasa saja, tidak pernah aku bisa menganggap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku memboikot pernikahan mereka dengan tidak datang di hari itu. Alasan sibuk. Padahal dia sendiri yang menelponku langsung tidak melalui chatting atau email seperti biasanya. Alasan sibuk itu, tidak masuk akal memang. Tapi, siapa yang peduli, bagaimana mungkin aku menghadiri pernikahan yang tidak pernah aku sukai, itu sama saja dengan menancapkan sembilu di hatiku sendiri.

Sejak saat itu, dia tidak pernah menghubungiku lagi, hanya menanyakan kabarku melalui Dede. Sering dengan itu, Dede akhirnya mengakui bahwa adikku itu sudah lama mengetahui perasaanku. Dia membaca dan melihat sendiri perasaanku tanpa siapa pun memberitaunya. Dede yang masih remaja saja sudah sebegitu jelasnya bisa membaca perasaanku, apalagi dia yang sudah matang dan dewasa? Tapi, kenapa? Kenapa dia tidak mau mengubungiku lagi? Meski demikian, aku juga tidak berinisiatif untuk menghubunginya terlebih dahulu. Adik seperti apa aku ini?

Lagi-lagi aku bertanya, apa alasannya tidak menghubungiku? Apakah dia marah? Apakah dia membenciku yang tidak tau diri dan tidak tahu berterima kasih? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas aku akhirnya dapat menyimpulkan beberapa hal. Satu, dia tahu aku mencintainya, tetapi dia memang sama sekali tidak pernah mencintaiku. Dia selama ini menyayangiku, namun, itu sekadar sayang seorang kakak pada adiknya. Dia mengerti betul tak ada seorang pun di dunia yang bisa menghapus perasaan itu. Dia juga mengerti sikapku amat kekanak-kanakan, pencemburu, dan banyak mau. Oleh karena itu, dia tidak menghubungiku. Harus ada jarak yang jelas di antara kami. Dengan menghubungi secara langsung, itu berarti dia memberikan kesempatan padaku untuk terus memupuk perasaan itu. Anne benar, aku sudah memutuskan untuk memilah mana simpul yang nyata dan mana simpul yang hanya berasal dari ego mimpiku.

Setelah yakin dengan kesimpulan itu, aku justru berubah total. Sikapku berubah dingin, bahkan terlalu dingin terhadap teman-temanku di kampus. Wajah menyenangkanku sudah tidak ada lagi. Tapi, kenapa beberapa bulan kemudian justru Kak Ratna sering mengirimkan email yang membuat beban pikiranku kacau? Kenapa Kak Ratna kemudian sering curhat mengenai pernikahannya yang menyedihkan? Menyedihkan kenapa? Kenapa bahkan Dede seolah menyembunyikan sesuatu dari isi chatting kami? Kenapa akhirnya Kak Ratna memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya? Kenapa? Aku tidak bisa hanya tinggal diam mendengar kabar keluarga “kakak”ku seperti itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk terbang ke Jakarta untuk mencari tahu teka-teki apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Dede enggan bercerita jujur padaku. Ada apa?

Hm… kalian penasaran, kan?

Bahkan saya tidak mengunggap siapa nama malaikat itu. Sampai akhir ceritanya, nggak ada, hehe.. maaf, lupa, namanya Danar, kak Danar. Buat yang sudah baca novel ini, pastinya nggak penasaran lagi. Buat yang belum, meskipun enggak penasaran, saya merekomendasikan novel ini. Yah, sejak kapan sih saya nggak merekomendasikan novel bang Darwis Tere Liye. Novel-novelnya selalu menginspirasi. Meskipun di awal tadi saya sempat ngelantur ke mana-mana. Itu hanya Lead yang saya paksakan biar menarik, untuk memancing pembaca.

Oh iya, saya teringat pelajaran SMA, kalau buat resensi buku, novel, film, atau resensi apa pun itu harus ada penjelasan kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan novel ini, banyak sekali tentunya. Tere Liye berhasil mengajak pembaca untuk memiliki logika berpikir yang lebih rasional dan berbeda. Mengambil kesimpulan tidak hanya dari satu sudut pandang, tapi lihatlah sudut pandang lainnya. Dengan demikian, segalanya akan terasa adil dan masuk akal. Dan kamu akan menerima segala sesuatunya dengan lapang tanpa membantah, seperti daun yang tidak pernah membenci angin yang menerbangkannya ke sana kemari. Kita harus menerima takdir dan garis kehidupan yang ditentukan Tuhan. Karena apapun yang terjadi, hidup harus terus berjalan.

Kekurangannya, sepertinya Tere Liye tidak memakai Editor atau penyunting dalam penerbitan novelnya, saya tidak melihat nama editor di halaman ISBNnya. Oleh karena itu, terdapat beberapa kalimat rancu dan kurang efektif di dalamnya. Apalagi tanda bacanya banyak sekali yang terlewatkan. Tapi, semua itu tidak mengurangi makna ceritanya. Dan terakhir, saya masih akan tetap tidak setuju kalimat “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”, menurut saya, perumpaan itu terlalu dipaksakan. Saya masih belum bisa terima sebelum bang Darwis Tere Liye sendiri yang menyampaikan penjelasannya pada saya. Ini sih ngarep. Tapi, tak apa, kan? Kali aja bang Darwis membaca resensi ini. dan memberi komentar di bawahnya. Meskipun komentarnya gini: Terserahlah, mau kamu setuju kek, mau enggak kek! Yang penting novel saya tetep laris manis.

Ah, dari kesemuanya, semoga resensi ini bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Nina Pradani

/ninapradani

Let's make a simple thing and keep free your mind l Editing, Writing, Travelling, Blogging l ninapradani.blogspot.com l
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?