Nanang E S
Nanang E S Pengurus Rumah Baca Ponorogo

Penggiat literasi yang mempunyai mimpi besar untuk menemukan makna dalam hidup.

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Belajar dari Jejak Musafir Literasi

21 Maret 2017   08:36 Diperbarui: 21 Maret 2017   08:53 66 1 0
Belajar dari Jejak Musafir Literasi
Ngainun Naium saat berbagi inspirasi dan motivasi literasi.

Saya masih ingat betul salah satu ungkapan Djoko Saryono mengenai pergulatanya dalam dunia literasi. Ungkapan tersebut kurang lebih demikian “berguru literasi itu tidak cukup hanya membutuhkan satu rembulan dan satu matahari, tetapi membutuhkan puluhan bahkan ratusan rembulan dan matahari”, ungkapan tersebut di sampaikan dalam sebuah pertemuan santai di sekretariat Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo. Ungkapan tersebut jika dipahami betul memiliki ulur makna yang strategis, bahwa menulis itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Tetapi menulis itu membutuhkan tangga proses yang panjang dan berkelanjutan tanpa henti. Sebab kemahiran menulis hanya ditentukan berapa kali  kita konsisten tetap menulis.

Perjalanan tersebut tidak saja terjadi pada Djoko Saryono saja, melainkan dialami juga oleh banyak tokoh literasi lainnya, salah satunya adalah Ngainun Naim. Seorang musafir literasi ini telah melakukan perjalanan panjang untuk menemukan suatu tempat dimana ada gudang makna yang mendalam. Perjalanan itu dikisahkan dalam kesempatannya berbagi inspirasi dan motivsasi literasi di kelas SLG angkatan ke enam minggu ke dua (19/03/7), beliau mengakui telah menapaki jalan panjang literasi, serupa membelah lautan merah (macam pergulatan panjang melawan waktu, kesabaran, ketabahan, dan perjuangan tanpa henti). Atau dalam bahasanya Sutejo perjuangan berdarah-dara, agar kita lebih kuat dalam segala tekanan.

Jejak literasi itu disampaikan dengan lengkap di hadapan 200 peserta yang hadir. Beliau bercerita panjang lebar mengenai pergulatannya menaiki tangga literasi yang dibilang tidak mudah. Sedikitnya ada tiga poin penting yang disampaikan, yaitu (1) megenai lika-liku masuk dalam dunia literasi, (2) lika-liku menembus media, dan (3) lika-liku membuat buku.

Pertama,yang paling berkesan adalah mengenai lika-likunya saat beradaptasi dengan dunia literasi. Puncakya ketika masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, saat itu ia sangat bermimpi menjadi seorang penulis besar dan banyak dikenal banyak orang. Hingga ia memikirkan cara bagaimana untuk menggapai mimpinya tersebut. Kemudian ia mengawali pendakiannya dengan semangat dan perjuangan tanpa henti. Pasalnya ia berjuang seorang diri, tidak ada guru yang benar-benar nememaninya menuntun pada ruang literasi, ia harus mencari guru ke sana ke mari. Sebagai anak kelahiran Kota pedalaman di Jawa Timur itu harus berjuang dengan berbagai cara.

Membaca, salah satu cara kuat yang dilakukan untuk mengembangkan cita-citannya menjadi seorang penulis besar. Ia sering membaca berbagai buku yang ada, bahkan ia akan mencari buku apa saja untuk kemudian dibaca agar tambah pengetahuannya. Selain membaca, kebiasaan lain yang menarik disampaikan adalah semasa kecil yang suka mendengrakan cerita dari temanya sebelum tidur. Lelaki yang jarang tidur malam di rumah itu menjalani malam dengan beberapa temannya, karena alasan  keterbatasan kamar di rumah.  Hanya ada dua kamar, sedangkan keluarganya banyak. Saat itu ia ditemani beberapa temannya memilih mushola sebagai tempat menemukan mimpi di malam hari. Di mushola itulah Ngainun Naim kecil selalu mendengarkan Kakak-kakaknya bercerita mengenai banyak hal (ada cerita horro, cerita absurd yang ditambah-tambahi sehingga membuat ceritanya menarik untuk didengarkan, dll) sebelum tidur. Kebiasaan itu yang kemudian membuatnya terobsesi untuk menulis sebuah cerita-cerita yang menarik.

***

Salah satu peserta SLG yang bertanya kepada pemateri
Salah satu peserta SLG yang bertanya kepada pemateri

Selepas Mts, jauh menerjang perjalanan selama kuliah. Semangat berliterasinya masih berkembang sampai bangku kuliah. Meski kelahiran dari keluarga guru, (Bapaknya kepala sekolah salah satu sekolah swasta, Ibunya seorang guru di sekolahan swasta juga) namun, kehidupan Ngainun Naim tidak seenak yang kita bayangkan. Kesulitan ekonomi sempat menjangkit keluarganya, sampai-sampai ketika lulus SMA bingung mau melanjutkan ke mana. Akhirnya beliau membuat kesepakatan kerjasama dengan orang tuannya, agar bisa kuliah. Kesepakatan tersebut tidak lain demikian, Ngainun Namun remaja dizinkan kuliah tetapi untuk biaya hidup harus ditanggung sendiri, sedangkan SPP ditanggung orang tuannya.

Saat itu lelaki penulis buku "Islam Pluralisme Agama" memilih salah satu Universitas di Surabaya. Dalam perjalananya untuk mencukupi kehidupan ia harus rela berjualan susu perah, bekerja sebagai loper koran bahkan sebagai pedagang sayur keliling. Namun, pengabdian pada perjalanan literasi tetap berlanjut dalam ruang-ruang organisasi Islam, dan ruang-ruang perpustakaan, serta diskusi antar teman. Ngainun Naim benar-benar mengabdikan jejak lahirnya menemukan sejuta makna dari ketakwaan literasi. Semasa kuliah beliau bertemu para penulis. Salah satunya Syaf Anton, yang dalam sebuah dikusi literasi dengan beberapa teman (yang sudah paham dalam dunia literasi) ia tersiksa sebab tidak paham apa yang dibicarakan saat itu. Hingga akhirnya membuatnya harus berjuang menyeimbangkan diskusi itu dengan lebih banyak membaca dan menulis.

Lelaki yang gemar mengoleksi nama-nama akun facebook yang wajib dikunjungi setiap harinya di block note pribadinya itu terbilang lengkap mengenai perjalanan lika-likunya menuju lautan literasi yang tidak pernah habis. Meski tersiksa dengan ketidakpahaman, namun di balik itu telah membawannya pada semangat yang luar biasa. Bersama beberapa temannya ia semakin semangat menulis. Bahkan ia sempat sangat termotivasi dengan Sodik (salah satu teman mahasiswannya), dia mahasiswa yang tidak masuk dalam catatan diskusi tetapi karyanya malah sudah diterbitkan dan dibagi-bagikan kepada temannya. Namun kebiasaan baiknya, Sodik sangat senang membaca. Dari kelakuan temannya itulah semakin membuat Ngaiun Naim geram dan bersemangat untuk menulis dan terus menulis.

Namun, sejalan waktu ada kendala yang harus memaksanya untuk pindah kuliah. Orang tuannya meminta agar kuliahnya pindah ke Tulungagung. Dengan berat hati, akhirnya ia pindah kuliah di salah satu Institut di Tulungagung. Perpindahan tersebut sekaligus membuat dirinya kembali sulit untuk beradaptasi mengembangkan dunia literasinya, dan harus berjuang lebih untuk menjaga semangat menulis. Semasa sekolah di Tulungaggun ia harus mencari banyak jaringan untuk merawat dan mengembangkan cita-citanya.

Berkat perjungan yang keras pada tanggal 22 oktober 1996, artikel pertamannya dimuat di salah satu koran ternama nasional. Mendadak lelaki yang tidak banyak dikenal di kampusnya itu merasa sangat bangga. Bahkan ketika diberi kabar atas kemuatan karyanya ia terasa bermimpi, tidak percaya kalau karyanya benar-benar dimuat. Sebuah penghargaan besar dari perjuangannya.

Namun, di balik itu yang perlu diketahui bahwa sedikitya 22 karya yang dikembalikan redaktur sampai pada akhirnya karya ke 23-nya tersebut berhasil dimuat. Semenjak itulah nama lelaki kelahiran delapan bersaudara tersebut, yang awalnya tidak banyak orang tau, mendadak dikenal oleh warga kampus bahkan sebagian mencarinya. Perjuangan tersebut menjadi awal dari perjalananya menembus media-media lain, macam kompas yang selalu diimpikannya.

***

Dari kisah perjalanan panjang tersebut sekaligus memperkuat ungkapan Djoko Saryono di atas, menulis membutuhkan kesabaran proses yang luar biasa. Atau dalam ungkapan Tegsoe Tjahjono, “penulis harus tahan banting, harus mempunyai kebesaran hari”, atau juga ungkapan M. Uki AStro, “butuh perang tanpa henti”.

Rintangan berbagai rintangan dalam pendakian literasi telah Ngainun Naim alami sampai membentuk dirinya menjadi salah satu lelaki yang kuat dalam menungkan segala gagasan. Perjalanan pendakian media yang membutuhkan nafas panjang itu kemudian berlanjut semasa kuliah di Yogyakarta. Ia berinisiatif mengembangkan tulisannya dalam dunia perbukuan.  Dimulai dengan berkunjung ke berbagai penerbitan yang ada di Yogyakarta untuk mencari informasi mengenai rencananya membukukan tulisannya.

Hingga akhirnya lelaki berkaca mata itu kini sudah membuahkan hasil karya yang luar biasa. Sampai saat ini sedikitnya sudah ada puluhan buku yang lahir dari goresan pemikirannya. Sekaligus berkat pendakian literasinya tersebut mencatat namanya menjadi salah satu orang yang berpengaruh dalam duia perliterasian nasional. Karena literasi jugalah, beliau mengatakan “dipercaya menjadi dosen, dipercaya menjadi ketua prodi, dipercaya mengurus penelitian, dan dipercaya mengurus hal-hal lainnya.” Bahkan kini sebagian karyanya sudah dikenal diberbagai negara, yaitu di Malaysia, Filipina, Thailand, dan lainnya.

 Alagkah indahnya perjuangan suci ini kemudian menular pada para generasi kita. Di tengah merebaknya kemudahan, yang mempermudah para musyafir literasi untuk mengejar puncak pemaknaan,  justru kehilangan romantika perjalannanya. Kebudayaan instan, justru tumbuh dengan baik dalam kehidupan kita.   

Belajar dari perjalanan ini, ada pesan penting yang ditekankan pada akhir pertemuannya. Pesan itu kurang lebih demikian, “Paksalah untuk menulis, jangan terpengaruh oleh lingkungan tetapi pengaruhilah lingkungan, sebab penulis adalah makhluk yang langka dalam kehidupan kita saat ini.(Red/Nanang ES).