Meita Eryanti
Meita Eryanti karyawan swasta

Apoteker yang berusaha selalu bahagia dengan rutinitasnya dan senang bila bisa libur setiap hari sabtu. kalau ada yang ingin berbagi cerita tentang penggunaan obat, bisa kirim email ke meita.eryanti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Soal Kemunafikan

20 Juni 2017   17:31 Diperbarui: 20 Juni 2017   17:49 26 2 0

“Mengapa kesepakatan nasional tentang demokrasi pancasila, tentang manusia Indonesia seutuhnya, tentang jargon kultural edukatif, serta segala macam yang tiap saat bisa kita dengar di radio dan televisi serta media cetak, ditandai justru oleh represi kekuasaan, memfungsikan ekonomi, sekularisasi perilaku masyarakat, pendirian niteclub, penerbitan tabloid buka aurat, bursa keperawanan, dan sebagainya? Gampang kita menjawab: itu soal kemunafikan.” Tulis Cak Nun dalam bukunya yang berjudul Surat Kepada Kanjeng Nabi.

Tadi pagi, aku membaca artikel dari pharmacytimes.com bahwa pada tahun 2050, masalah resistensi antibiotika akan menjadi lebih berbahaya dibanding kanker.

Aku lalu teringat sebulan yang lalu sebuah distributor obat menawarkan diskon yang banyak untuk pembelian antibiotika dalam jumlah tertentu. Itupun masih ditambah hadiah khusus. Yang aku pikirkan adalah, bagaimana penggunaan antibiotika bisa rasional bila penjualan antibiotika diperlakukan seperti penjualan permen?

Aku membeli dalam jumlah yang banyak, maka aku mendapat diskon dan hadiah. Apa yang dipikirkan oleh apotek? Tentu membeli dengan jumlah yang banyak. Namun antibiotika bukan barang yang bisa disimpan seumur hidup layaknya kertas atau kursi. Antibiotika memiliki tanggal kadaluarsa. Maka sebelum tanggal kadaluarsa itu tiba, antibiotika ini harus keluar dari apotek dan menjadi uang. Akhirnya, siapa yang peduli dengan rasionalitas?

Aku kemudian berfikir, ini soal kemunafikan. Apoteker belajar tentang resistensi antibiotika sejak mereka duduk di bangku kuliah. Apoteker pula yang menyatakan bahwa resistensi antibiotika itu berbahaya. Namun mereka juga yang menjual antibiotika secara serampangan.

Tapi memang sistem yang ada seperti itu. Apoteker di distributor maupun di komunitas hanyalah sebagai syarat untuk berdirinya sebuah distributor obat, apotek, klinik, atau rumah sakit. Ada orang lain yang menjadi pemegang kendali di sana.

“Peredaran antibiotika itu seperti lingkaran setan,” kata seniorku saat kami sama-sama bekerja di sebuah apotek. Sebelum di apotek, dia pernah bekerja di industri farmasi. “Ada orang sakit karena infeksi, kemudian industri melakukan penelitian bertahun-tahun untuk menemukan sebuah antibiotika. Antibiotika tersebut kemudian dijual pada masyarakat dan hasil penjualannya diharapkan bisa menutup biaya penelitian yang mahal itu. Penjualan antibiotika melalui distributor dan apotek yang masing-masing mengharapkan adanya keuntungan. Salesman antibiotika itu harus menjual antibiotika sesuai dengan target yang diberikan oleh perusahaan demikian juga dengan distributor dan apotek. Kita sebagai apoteker, diajari masalah resistensi antibiotika dan penggunaan obat yang rasional tapi disini kita dikejar oleh omset.”

Aku pernah ikut dalam sebuah diskusi kelompok apoteker di kota Bandung, pembicaranya adalah seorang Apoteker peneliti lulusan sebuah universitas di Jepang. Dia bercerita, awalnya dia lulus apoteker dari universitas di kota Bandung setelahnya dia bekerja di sebuah industri farmasi. Karena dia tidak menyukai sistem di perusahaannya bekerja yang kurang memperhatikan detail kualitas pembuatan obat akhirnya dia keluar mendaftar beasiswa sekolah lanjut di Jepang dan bekerja di sana sampai sekarang.

Pasti orang yang merasakan seperti itu bukan hanya dia.