Dining Maziyah
Dining Maziyah

Mahasiswa UIN Malang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku Belum Pernah Bertemu, namun Aku Begitu Mencintainya

21 Maret 2017   20:23 Diperbarui: 21 Maret 2017   20:38 34 2 1
Aku Belum Pernah Bertemu, namun Aku Begitu Mencintainya
Syamistimewa

Bismillahirrohmanirrohim.... 

❤ Panggilan jiwa ❤

Seorang pendeta yahudi yang tinggal di syam, mengisi hari sabtunya dengan mempelajari dan menelaah isi kitab taurat. Sebagaimana doktrin yang ia terima dan diamalkan oleh orang seperti dirinya, setiap kali menemukan penjelasan tentang sifat kerasulan Nabi Muhammad SAW, ia akan menghilangkannya dengan cara melepas halaman berisi penjelasan tersebut dan membakarnya. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya, saat ia menemukan lembaran2 taurat yang berisi penjelasan sifat Muhammad SAW, pendeta itu mengurungkan niatnya. Ia tidak melepas dan membakar halaman itu sebelumnya. "Jika aku selalu memotong bagian seperti ini, apalagi yang tersisa dengan kitab ini?" Tanyanya dalam hati.

Penjelasan2 tentang sifat2 Muhammad SAW yang ditemukanya membuat pendeta itu penasaran. ia merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Muhammad SAW sepertinya bukan orang asing yang mesti ia hindari. Untuk menyingkap tabir itu, pendeta itu akhirnya menemui teman2nya, "siapa Muhammad ini?" "Dia pendusta yang tinggal di madinah" kata salah satu rekannya. "Tapi lebih baik aku tidak menemuinya. Diapun tidak perlu melihatmu".

Jawaban seperti itu tak serta merta memuaskan hatinya. Ia meyakini hal lain dari kajiannya terhadap kitab taurat. Semakin digembosi keyakinannya, semakin besar hasrat pendeta itu untuk menemui Muhammad SAW di madinah. "Demi kebenaran taurat Musa" kata pendeta itu, "jangan cegah aku untuk mengunjungi Muhammad!". Dengan perbekalan seperlunya, pendeta itu berangkat menuju madinah. Orang pertama yang ia temui kala itu adalah salman Al farisi. Melihat sosok salman yang tampan dan mirip dengan gambaran yang diperoleh dari taurat, pendeta itu ingin memastikan, "kau kah Muhammad?"

Mendengar pertanyaan itu, salman seketika saja menundukkan kepalanya. Belum lekang kenangannya bersama Rasul. Baru tiga hari beliau dikebumikan, saat itu ia dipaksa untuk mengingatnya kembali. Ia tak mau air matanya yang berlinang nampak jelas dihadapan pendeta itu, "aku pesuruhnya" jawab salman. "Dimanakah Muhammad?" Tanya pendeta itu lagi. Apa yang harus dijawab oleh salman? Jika ia jujur dengan menjelaskan bahwa Rasul telah wafat, ia khawatir akan mengecewakan lelaki didepannya itu. Tapi jika ia katakan Rasul masih hidup dan tinggal di madinah, berarti ia berbohong. Jawaban jenius akhirnya muncul dengan sangat cepat. "Akan ku antar kau pada sahabat2 beliau" kata salman. 

Salman kemudian membawa pendeta itu menuju masjid Nabawi. Disana, para sahabat masih berkumpul dirunding kesedihan sepeninggal Rasul. Pendeta yahudi itu mengira Rasul ada di antara mereka. Tiba di depan pintu, pendeta itu berseru dengan agak keras, "assalamu'alaika ya Muhammad" mendengar sapaan seperti itu, seisi ruangan pecah oleh tangisan para sahabat. Sebagian makin sesenggukan. Sebagian tenggelam kedalam sedu sedan yang tak tersuarakan. Kepiluan tampak jelas pada wajah2 para sahabat yang mencintai beliau. "Hai orang asing, siapa kau ini?" Tanya salah seorang sahabat. "Sungguh kau telah membuat luka hati kami semakin perih. Kau membuatnya semakin menganga. Apa kau belum tahu jika beliau telah wafat 3 hari yang lalu?".

Langit seakan runtuh. Bangunan2 masjid seakan menghimpit si yahudi dan meremukkan seluruh persendiannya. Dengan nada parau, ia mulai meracau. "Aduahi malangnya nasibku" kata pendeta yahudi. "Betapa sia2 perjalananku. Andai saja ibuku tidak pernah melahirkanku. Andai saja aku tidak pernah membaca taurat dan mengkajinya. Andai saja ketika membaca dan mengkajinya aku tak menemukan sifat2 dan keadaannya. Andai saja aku bertemu dengannya setelah menemukan ayat2 taurat tersebut. Andai saja......." lelaki yahudi itu tenggelam dalam tangis dan kepiluannya. Ketika salah seorang sahabat menenangkannya, ia mencari Ali ra. "Apa Ali ada disini?" Tanya lelaki yahudi itu. "Kurahap ia bisa menyebutkan sifat2nya untuk mengobati kerinduanku". "Saya" kata Ali menghampiri lelaki itu. "Kutemukan namamu bersama Muhammad dalam kitab taurat" lelaki itu. "Tolong ceritakan kepadaku ciri2 beliau".

"Rasulullah SAW tidak tinggi dan juga tidak pendek, kepalanya bulat, keningnya lebar, kedua matanya tajam, kedua alisnya tebal. Jika beliau tertawa, cahaya keluar dari sela2 giginya, dadanya bidang dan berbulu, telapak tangannya berisi, telapak kakinya cekung, langkah kakinya lebar, diantara kedua belikat beliau terdapat tanda kenabian". "Kau benar Ali, seperti itulah ciri2 Muhammad yabg disebutkan dalam taurat. Apa masih ada sisa baju beliau agar aku bisa menciumnya?" Kata lelaki yahudi. Kemudia Ali meminta salman mengambilkan jubah Rasulullah SAW yang disimpan Fatimah. Sampai dirumah fatimah, salman mendengar isak tangis Hasan dan Husein. Lalu ia mengetuk pintunya.

"Siapa yang mengetuk pintu anak yatim?" Tanya fatimah dari dalam rumah. "Salman" setelah bertemu, salman kemudian menyebutkan maksud kedatangannya sesuai yang dipesankan sahabat Ali karamallahu wajhah. "Siapa yang akan memakai jubah ayahku?" Tanya fatimah dengan isak tangis. Salman kemudian menceritakan tentang lelaki yahudi dan keadaan yang menimpanya.  Fatimah kemudian mengeluarkan jubah Rasulullah saw  dan menyerahkan kepada salman. Pada jubah itu terdapat 7 tambalan serat kurma.

Setelah menerima jubah itu, salman membawanya ke masjid dan menyerahkannya kepada Ali. Dengan perasaan haru menahan rindu, Ali mencium jubah itu dan mengedarkannya kepada para sahabat yang lain. Tangis pilu memenuhi ruangan masjid. Ketika sampai giliran lelaki yahudi, ia tak kuasa menahan gemetar di sekujur tubuhnya. Ia memeluk jubah itu seperti miliknya sendiri, "betapa harumnya jubah ini!" Sambil tetap mendekap jubah itu, lelaki yahudi minta diantarkan ke makam Rasulullah saw. Sesampainya disana, lelaki itu menengadahkan kepalanya ke langit. Disaksikan para sahabat, lelaki itu menyatakan diri masuk islam.

"Ya Allah, jika engkau menerima keislamanku maka cabutlah nyawaku sekarang!" Beberapa saat setelah ikrar tersebut, lelaki yahudi itu lemas terkulai. Ia jatuh dan meninggal saat itu juga. Hal itu membuat Ali dan sahabat terharu. Lelaki yang belum pernah melihat beliau saja bisa berlaku seprti itu, apalagi dengan mereka yang menghabiskan banyak waktu bersama beliau? Meskipun bukan termasuk sahabat dan belum ada satupun ajaran islam yang diamalkannya, para sahabat yakin bahwa lelaki itu pantas diberikan haknya sebagai seorang muslim. Mereka semua mengurus jenazah lelaki dan menguburkannya di area pemakaman Baqi, tempat peristirahatan terakhir para sahabat Rasul saw.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa'fu anhu

*aku belum pernah bertemu dengannya, namun hati ini begitu mencintainya* allahumma sholli ala sayyidina Muhammad

Sumber:  Puncak rindu saat2 istimewa bersama Rasulullah Muhammad saw

Oleh syarif Ali, 2015 jakarta.