Mohon tunggu...
Maria Ave
Maria Ave Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Sisi Lain Kemoterapi

25 September 2017   20:27 Diperbarui: 25 September 2017   20:31 1102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Penyakit kanker saat ini menjadi penyakit yang ditakutkan di dunia.  Menurut WHO, pada tahun 2012, terdapat sekiranya 14 juta kasus kanker dan 8,2 juta diantaranya meninggal dunia. Di Indonesia juga, tahun 2013 menjadi puncak dari angka kematian tertinggi yang disebabkan oleh penyakit kanker yaitu sebesar 347.792 orang.

Apa sih kanker itu? 

"Kanker berasal dari kata Yunani, karkinos yang berarti udang-karang dan merupakan istilah umum untuk ratusan tumor ganas yang masing-masing berbeda satu sama lain." (Wim de Joong)

"Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah tidak terkendali. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian." (Yayasan Kanker Indonesia).

Semua sel kanker bermula dari sel yang berjalan secara tak terkendali dan berdampak pada jaringan-jaringan lainnya. Hal ini karena sel kanker mampu bergerak menuju jaringan lainnya dengan melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik atau yang disebut dengan metaesis. Kanker bisa terjadi karena adanya kerusakan DNA pada sel. DNA yang rusak tidak diperbaiki dan sel tersebut tidak mati, malah melakukan pembelahan terus-menerus dan menghasilkan sel-sel yang tidak diperlukan oleh tubuh. Padahal semestinya, pada sel normal apabila terjadi kerusakan DNA, akan memperbaiki kerusakan atau mati dengan cara apoptosis(mematikan dirinya sendiri). Kebanyakan sel kanker membentuk tumor, namun pada jenis kanker darah (leukimia), lebih melibatkan darah dan organ pembentuk darah dan beredar melalui jaringan lain di mana mereka tumbuh.

Cara-cara untuk mengatasi penyakit kanker yang sudah lanjut ini adalah dengan melakukan kemoterapi, operasi, dan radioterapi. Sekarang saya akan mengulas lebih dalam tentang kemoterapi. Kemoterapi adalah salah satu upaya untuk membunuh sel-sel kanker dengan menggunakan zat kimia. Tujuan dari kemoterapi adalah menghambat atau mematikan sel-sel onkogen (kanker). Prinsip dasar dari kemoterapi adalah sbb.:

Pertama, kemoterapi merusak DNA sel-sel yang melakukan pembelahan cepat yang dideteksi oleh jalur p53lRb, sehingga memicu adanya apoptosis. Lalu merusak aparatus spindel sel sehingga mencegah terjadinya pembelahan sel dan menghambat sintesis DNA. Seiring berkembangnya zaman, metode kemoterapi lebih inovatif, seperti imunoterapi (terapi gen) dan oligonukleotida. Jenis-jenis kemoterapi antara lain adalah antagonis folat, analog purin, dan pirimidin yang bekerja menghambat sintesis DNA; obat pengalkilasi perusak DNA; obat yang berinteraksi dengan enzim topoisomerase I dan II mengadakan interkalasi dengan DNA untai ganda dan membentuk kompleks dengan topoisomerase II yang mudah membelah; alkaloid dan taksan, yang menghambat fungsi mikrotubulus dan mengganggu mitosis, contohnya adalah alkaloid vinka (leukimia, limfoma, kanker kandung kemih) dan taksan (kanker ovarium dan kanker payudara).

Kemoterapi selalu menyebabkan efek samping seperti terjadinya mielosupresi(gangguan pada proses regenerasi dan produksi sel-sel darah) sehingga mampu mengakibatkan resiko infeksi dan pendarahan. Selain itu, semua kemoterapi mengakibatkan teratogenik(perkembangan tidak normal pada sel), beberapa menyebabkan toksisitas yang spesifik seperti terhadap ginjal dan saraf. Efek samping lainnya adalah rasa lelah. Hal ini dikarenakan terganggunya sumsum tulang sehingga produksi sel darah merah berkurang atau adanya pendarahan akibat terganggunya pengentalan darah karena kurangnya produksi lempeng darah dan sel darah putih. Selain itu, gangguan pada usus dan mulut yang jaringan epitelnya rentan, gangguan pada kulit, kemandulan, gangguan menstruasi dan menopause, dan gangguan organ adalah gangguan-gangguan yang lain akibat kemoterapi.

Setelah saya bercerita panjang lebar tentang kanker dan kemoterapi, mungkin  pembaca sekalian akan terlintas pikiran "Mengapa harus kemoterapi? Bukankah kalau belum menjamin kesembuhan, lebih baik tidak melakukannya." Bisa dibilang, metode pengobatan kemoterapi ini seperti mennyembuhkan penyakit yang kecil kemungkinannya untuk sembuh. Karena meski dilakukan pengobatan, penyakit kanker tidak semuanya bisa lenyap begitu saja di tubuh pasien.  Jadi, kemoterapi memiliki banyak dampak negatif, dong? Untuk menjawabnya, mari kita simak kembali dampak-dampak yang disebabkan oleh kemoterapi.

Tergantung pada jenis kanker dan kanker stadium tertentu, kemoterapi bermanfaat untuk meringankan gejala kanker. Kemoterapi mampu memperkecil keberadaan tumor yang merupakan penyebab dari kanker tersebut yang menjadi sumber rasa sakit dengan cara mengurangi massa tumor. Kedua, kemoterapi mampu mengendalikan penyebaran, memperlambat pertumbuhan, bahkan menghancurkan sel-sel kanker yang berkembang menuju jaringan yang lain. Dan yang ketiga, kemoterapi mampu menyembuhkan penderita kanker secara total untuk beberapa jenis kanker, namun untuk beberapa lainnya hanya bisa memperbaiki kondisi tubuh, dan untuk sisanya, ada yang kebal dan tidak dapat disembuhkan dengan kemoterapi.

Pertama, kemoterapi mengakibatkan terjadinya mielosupresi yang mengakibatkan terjadinya anemia (kurang sel darah merah), terjadi pendarahan karena keping-keping darah terganggu, dan sistem imun yang menurunkarena sel darah putih tidak mampu diproduksi dengan baik. Gangguan pada sumsum tulang belakang, yang mengakibatkan pasien mudahlelahkarena produksi sel darah merah tidak berjalan dengan baik. Dampak selanjutnya berkaitan dengan sifat dari kemoterapi yaitu mampu membunuh sel-sel yang sedang aktif membelah. Tidak hanya sel kanker yang terkena efek yang diberikan, namun sel-sel normal lainnya juga ikut dampaknya. Contoh konkret yang bisa kita lihat, pasien-pasien yang melakukan kemoterapi dengan jangka waktu yang cukup lama biasanya berkepala botak. Rambut rontokini disebabkan kemoterapi ikut membunuh sel-sel fosikel rambut. Selain itu, obat-obat kemoterapi juga menyebabkan sel kulit matisehingga kulit pasien kemo tampak tidak sehat, seperti pecah-pecah, mudah gatal, dan bersisik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun