Repotnya Jika Tuhan Sudah Berubah Jadi Uang

17 Juli 2017   22:22 Diperbarui: 19 Juli 2017   22:36 145 0 0
Repotnya Jika Tuhan Sudah Berubah Jadi Uang
19577464-1846596855656314-2776598938591735818-o-596f7c6c2bbb134892087af2.jpg

Repot itu ketika Tuhan sudah tak lagi menjadi zat tunggal untuk penyembahan diri menuju jalan terang di tengah ketersesatan hidup dalam belantara akal, dimana sifat-sifat Tuhan dan firmanya semestinya adalah satu-satunya petunjuk untuk dapat keluar dari ketersesatan itu.

Repot itu ketika Tuhan sudah tidak lagi menjadi satu-satunya alasan yang masih Relevan di dalam perjuangan menegakan norma-norma kehidupan suci, yang oleh mereka sering di namai sebagai jihad 'Amar Ma'ruf Nahi Munkar'.

Repot itu ketika Tuhan telah berkamuflase menjadi pesona-pesona Sahwat berwajah nafsu penggoda, yang genit mengelus selangkangan keimanan sehingga desahan konaknya terus menjadi pengganggu perjuangan Amar Ma'ruf Nahi Munkar tadi.

Dan yang lebih repot lagi, adalah ketika Tuhan sudah bermetamorfosis sempurna menjadi lembaran-lembaran rupiah yang akan obati dahaga perburuan duniawi mereka, sehingga apapun motif perjuangan itu asal ada wujud Tuhan disana (Baca uang-Red), maka cara apapun akan nampak halal untuk dilakukan.

"Seorang kafirpun yang dizolimi, tetap akan kami bela"

Tentu teman-teman pernah mendengar pernyataan super lucu ini dari salah satu presidium alumnus 212, bukan?

Sumber : https://m.cnnindonesia.com/nasional/20170714163251-12-227965/alumni-212-kafir-yang-dizalimi-kami-bela/

Dan kita tau siapa yang sedang kita bicarakan. Kita juga sebenarnya tau apa sebenarnya motif di balik aksi-aksi mereka selama ini. Kita tau sebuah organisasi atau ormas adalah ladang emas bagi para hantu gentayangan yang lapar akan kepentingan. Dan kita juga pasti sangat tau bahwa menjadi ketua atau bagian dari pengurus sebuah kelompok massa itu, adalah posisi paling maksyur untuk mendulang rupiah-rupiah yang teramat berlimpah.

Kita faham bahwa mereka-mereka ini adalah lumbung suara bagi para pemburu kekuasaan. Dan keberhasilan aksi mereka di pilkada Jakarta lalu, adalah bukti bahwa kelompok massa, organisasi atau ormas, adalah Gerbong Exlusive Class untuk dapat mengantarkan seseorang ke puncak apa yang diinginkanya.

"Simbiosis Mutualisme. Ane punya fulus, ane beli ente punya suara..!".

Begitulah kira-kira deal-dealan yang dilakukan di ruangan yang sangat rahasia. Dan Anies Sandy adalah salah satu contoh manusia beruntung yang pernah mendapat kesepakatan menguntungkan itu.

**

Beberapa hari lalu saya pernah membahas bahwa Hary Tanoe (HT) adalah Kancil Cerdik yang menyadari bahwa kekuatan masa adalah cara yang masih ampuh untuk bisa melakukan aksi pemaksaan kehendak. Dan melihat keberhasilan mereka dalam menumbangkan Ahok dari kursi jabatan Gubernur hingga masuk penjara, HT tak mau kalah, HT pun ingin mengikuti jejak Anies Sandy dalam memanfaatkan JASA mereka-mereka ini.

Dengan uang yang begitu banyak, rasanya tak sulit bagi HT untuk juga melakukan deal-dealan yang akan menguntungkan kedua belah pihak itu.

 "Haiyaaa... Owe funya fulus, maka lu olang halus selamatkan owe dari kasus yang menjelat Owe. Bisa?"

"Pasti bisa..!" Jawab Ansfuri Idrus Sambo dengan wajah berbunga-bunga. Maka tanpa sepengetahuan petinggi-petinggi kelompok itu, dimulailah aksi 'solideritas' tersebut untuk membela HT dengan segenap jiwa raga.

"Yang jadi pertanyaan, kenapa harus A.I. Sambo yang di pilih oleh HT untuk memimpin aksi gerakan "Bela Harry Tanu" tersebut?"

Saya fikir itu pilihan paling masuk akal bagi HT mengingat memang hanya si Sambo inilah figur paling tepat untuk memimpin gerakan itu pasca teracak-acaknya formasi pasukan 212 oleh keganasan tangan Tito. Terhitung sejak ketua GPNF-MUI yang nglondoh ke istana lebaran kemarin tapi justru seperti terlihat membelot dari kelompok mereka, lalu setelah itu HT pun harus mendapati kenyataan juga bahwa sang Raja Singa tak kunjung berani pulang ke Indonesia, maka memang hanya orang inilah pilihan paling ideal. Maka, fiks. "Ane transfer, ente kerahkan pasukan".

Namun apa lacur, di luar dari prediksi HT dan Sambo yang sudah kadung deal-dealan tadi, teryata aksi itu justru mendapat protes keras dari sang Raja Singa di Zazirah Arab sana. Rupanya dia masih merasa bahwa semua aksi-aksi gerakan yang mengatas namakan GNPF-MUI, FPI atau Alumnus 212, harus melalui keputusan dan persetujuanya.

Sumber => http://kriminalitas.com/habib-rizieq-kecewa-berat-aksi-bela-hary-tanoe-disebut-coreng-perjuangan-umat/

"Tapi, bukankah hal itu justru menimbulkan tanya di benak masyarakat Indonesia?"

Mari teman-teman, kita sama-sama seuzon, sama-sama curiga, lalu kita sama-sama bertanya, "Apa sebenarnya yang terjadi di balik perpecahan kelompok mereka..?!" Jelas patut kita curigai. Jelas prediksi dan analisapun harus kita lakukan!

Lalu, jika lantas teman-teman meminta kesediaan saya untuk menganalisa sebab apa perpecahan bisa terjadi di kubu mereka? Maka analisa saya hanya ada dua.

Pertama adalah Kemungkinan alasan marahnya Rizieq terhadap Sambo.

Kenapa bisa marah? Sebagai seseorang yang sudah di tasbihkan sebagai KOMANDO dalam semua gerakan-gerakan aksi itu, tentu dari sisi fisikologis, sikap Sambo telah membuat Rizeq amat sangat tersinggung. Jelas apa yang dilakukan Sambo yang tidak melakukan kordinasi terlebih dahulu, adalah tindakan gegabah. Itu namanya tidak sopan.

Siapa sik yang tidak mengakui bahwa keberhasilan Pilkada Jakarta waktu itu sebenarnya adalah kemenangan Rizeq? Bahkan seorang Probowo-pun, secara tersirat mengakui hal itu. Dan sebagai imbalanya adalah tiket Umroh istimewa sepanjang masa.

Maka menjadi wajar, jika ada deal-dealan yang masih melibatkan massa, terutama para alumnus yang tempo lalu tergabung di dalam gerakan-gerakan aksi berjilid itu, harus melalui izin dan persetujuan Rizeq. Ini alami sekali guys. Nuluriah sekali sebagai manusia.

"Lalu apakah yang di lakukan Sambo itu sebagai sebuah kesalahan? Menurut saya malah Tidak..! Lho,, ko bisa..?!"

Seperti yang saya katakan di atas bahwa menjadi petinggi sebuah ormas adalah posisi maksyur untuk mendulang rupiah. Jelas, siapapun merasa iri dengan gaya hidup Rizeq. Mobil mewah, rumah mewah, hidup berkelimpahan, dan kamu fikir biaya plesiran selama di arab yang pasti sangat-sangat besar itu, sumber dananya darimana?

Tidak juga saya, si Sambo pun jelas menginginkan hal yang sama. Terlebih jika menilik rekam jejak Sambo yang ternyata juga memiliki impian untuk menjadi seorang Presiden. Maka panggung, eksistensi dan uang adalah hal yang teramat di butuhkan untuk karir politik si Sambo ini. Jadi stop jangan lagi membully. Sebab HT butuh massa, Sambo butuh Dana. Wajar bukan?

• Itu analisa pertama. Lalu yang kedua adalah kemungkinan Marahnya Rizeq terhadap HT.

Kenapa ada kemungkinan Rizeq juga marah terhadap HT? Jika memang benar bahwa HT adalah salah satu orang yang terindikasi sebagai penyokong dana atas aksi-aksi massa tempo hari, maka si Rizeq pun sangat-sangat tau bahwa HT pun akan melakukan hal yang sama (menggelontorkan dana) ketika ia sedang membutuhkan JASA gerakan massa untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman pidana.

Maka pemikiran Rizieq ini sederhana sebenarnya, "Kan ketua ormasnya gue? Kan yang selama ini menggerakan umat, juga gue. Kan yang punya pasukan, lagi-lagi juga gue? Kanapa ente malah transfer duitnya ke onoh..?! Begok Luh..!".Mungkin begitulah kurma-kurma.

"Ahh.. masa iya sik Jack, gerakan mereka itu sudah bukan lagi atas nama Bela agama?"

"Lhaaa.. Kamu fikir apa bedanya Ahok dengan Hary Tanoe, Njul? Sama-sama China juga iya. Sama-sama kafir juga iya. Sama-sama orang yang terlarang (versi mereka) untuk menjadi seorang pemimpin di negara Muslim terbesar ini, juga iya. Jika Al-Maidah berlaku untuk Ahok, ya semestinya juga HARUS berlaku  untuk Hary Tanoe dong?!"

"Ohh,, iya. Bener juga lu Jack?!"

"Kenapa bisa begitu, hayo..?"

"Ummm.. Gak tau..!"

"Coba tebak, kira-kira ada apa di balik sempak? Ehh.. Ada apa di balik perubahan mereka punya sikap?! Tanya saja pada rumput yang bergoyang..!" ;)