NOVEL : "Budak Seks"

28 Agustus 2011 07:46:38 Dibaca :

Bagian Pertama

Hidupku Kelam

AKU kerapkali malu dan tidak mempunyai harga diri sebagai seorang wanita. Terkadang aku ingin bunuh diri menghadapi semua masalah ini. Aku merasa sebagai manusia yang tidak ada guna sama sekali dan mungkin seharusnya segera saja berada dalam kuburan, daripada harus menanggung malu yang terus berkepanjangan. Aku mencoba tegar dan melawan semua emosi dalam dadaku yang terus bergejolak. Terlintas dalam benakku, aku ingin segera mengakhiri hidupku, agar semua masalah selesai. Tetapi dipikir lagi, bagaimana aku mempertanggungjawabkan hidupku selama ini. Aku merasa sebagai manusia sampah yang tidak lagi pantas ada di muka bumi.

Bagaimana tidak, selama hampir 3 tahun aku menjadi budak seks ayahku yang benar-benar sudah bejad moralnya. Untung saja aku tidak hamil karena ayah membeli obat anti hamil yang dibeli di Puskesmas. Aku merasa tersiksa hidup dalam keadaan yang tidak menentu. Aku khawatir suatu ketika aku akan hamil . Ada rasa dendam terpendam dalam rongga dadaku; rasaku aku ingin sekali membalas dendam terhadap ayah yang menghancurkan masa depanku. Padahal aku berkeinginan sekali melanjutka sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, meski ayah dan ibuku hanya sekolah sampai SD, namun aku berkeinginan menjadi seorang sarjana. Namun cita-citaku kandas di tengah jalan seiring dengan masa depanku yang suram.

Sejak sekolah, aku memang tergolong remaja yang memiliki prestasi yang sangat bagus, bahkan semua guru-guruku merasa bangga kalau hampir semua nilai pelajaranku tidak ada mata pelajaran yang jelek, semua diatas rata-rata 8 dan 9, tak heran kalau aku dijuluki sebagai wanita jenius yang serba bisa dan cerdas dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan guru.

Menurut ibuku, aku memang berbeda dengan kakak dan kedua adikku, aku dilahirkan prematur dalam usia 7 tahun. Semula oleh kedua orangtuaku dianggap tidak akan bisa tumbuh sebagaimana anak-anak yang lain, sebab selain keadaannya sangat kecil, aku pun semasa masih balita seringkali sakit-sakit, bahkan pernah aku dibawa ke Puskesmas dalam keadaan sudah penuh darah di mulutku, sebab aku terkena demam nberdarah dan hampir saja merenggut nyawaku.

Namun takdir menentukan lain, aku masih diberi kesempatan hidup dan bisa menikmati masa sekolah di SMP. Namun ternyata mengingak kelas 2, hidupku berubah total dan aku menjadi wanita yang hanya bisa mengurung diri di kamar, sebab aku menjadi wanita yang benar-benar sial dan jauh dari impianku selama ini. Padahal ketika kelas 1, aku mempunyai impian yang sangat indah. Aku ingin menjadi seorang wanita yang bisa membahagiakan kedua orangtuaku. Namun semua itu tinggal impan belaka, sebab semua hancur seiring dengan keadaanku yang tidak lagi sebagai seorang gadis yang hidup ceria, aku telah menjadi budak seks ayahku yang memang benar-benar keji dan biadab memperlakukan aku bagaikan binatang.

Ayahku memang semenjak tidak bekerja, terlihat murung dan tidak ada gairah dalam hidup, lebih sering menyendiri dan terkadang seharian tidur. Tentu saja, ibuku kerapkali marah-marah dan menyuruh agar segera mencari pekerjaan untuk nafkah setiap hari. Tetapi suara ibu yang keras dan lantang itu sama sekali tidak dihiraukan, bahkan dibiarka begitu saja.

Namun belakangan , ayahku suka keluar rumah di malam hari dan bergaul dengan beberapa orang yang ternyata senang minum-minuman keras dan berjudi. Hampir setiap hari dia pulang ke rumah dalam keadaan sempoyongan dengan mata merah. Bau alkohol menyegat dari mulutnya. Tentu saja, ibuku marah-marah dan terjadilah pertengkaran yang ujung-ujungnya ibuku seringkali ditampar dan dipukul bertubi-tubi.

Aku hanya bisa menangis dan memeluk ibuku kalau ayah sudah melakukan tindak kekerasan. Aku ingin berontak dan melawan terhadap kekejaman ayah, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, dia adalah ayahku. Aku sedih dan kecewa terhadap perilaku ayah yang semakin hari semakin buruk.

Teman-teman ayah adalah penjudi dan peminum alcohol, bahkan orang-orang yang kerapkali membuat keonaran di daerah kami. Mereka mempunyai geng yang hampir setiap hari membuat keresahan. Berulang kali berurusan dengan kepolisian, namun tetap tidak merubah sikap dan perilaku mereka yang semakin membabi buta. Warga dibuatnya resah dengan keberadaan mereka, dan berharap agar mereka segera sadar atau meninggalkan daerah mereka yang jelas-jelas merugikan.

Ayah lebih menyukai dunia hitam dan terlihat perilakuknya semakin tidak menentu. Ia lebih senang di seluruh tubuhnya dilukis berbagai tato, menurutnya, itu adalah cermin laki-laki moders. Aku hanya tersnyum saja bila sudah berkata demikian.

Ibuku yang berusaha beratahan menghadapi perilaku suami yang sangat kejam, tetapi lama kelamaan, dia akhirnya minggat dari rumah meninggalkan aku sendirian bersama adikku. Di sini betapa merasakan pahit getirnya hidup. Benar-benar bagaikan berada dalam neraka. Yang sangat kusesalkan, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ibu meninggalkan kami, entah kemana! Sementara aku dan adikku yang laki-laki dibiarkan di rumah.

Rasanya dunia ini benar-benar bagaikan berada dalam api, aku merasakn pahit getir yang luar biasa, karena ayahku setiap hari marah-marah karena ibuku tidak pernah kembali. Aku dibentak dan disuruh untuk mencari,

“Bagaimana aku harus mencari? Aku tidak tahu pergi kemana?” kataku.

“Apakah dia tidak bilang? Dasar perempuan kurang ajar meninggalkan rumah,” katanya.

Aku hanya terdiam kalau ayah sudah marah, sebab bila dilawan maka emosinya akan keluar dan tidak segan-segan memukulku dengan kayu atau menempeleng. Tidak ada rasa belas kasihan terhadap anaknya sendiri, justru sebaliknya merasa puas kalau sudah menyiksaku.

Pernah aku dan adikku tidak boleh keluar rumah selama 3 hari, aku tidak mendapat makanan. Untung saja ada tetangga yang sangat kasihan melihat kami, sehingga memberikan makanan dan minuman melalui jalan belakang yang kebetulan ada lubang. Tetangga tidak ada yang berani melapor ke polisi sebab mereka tahu akan berurusan dengan ayahku yang memang tidak segan-segan melakukan penyiksaan.

Untung selama tiga hari itu aku dan adikku diberi kekuatan, sehingga tidak membuat aku payah. Apa saja yang ada di rumah aku makan, termasuk makanan sisa yang penting aku bisa bertahan hidup. Aku sedih dan tidak mengerti dengan ibuku yang tiba-tiba saja menghilang tanpa tahu kemana perginya.

Adikku yang berusia 7 tahun seringkali menanyakan kepadaku, namun aku selalu menjelaskan bahwa ibu sedang bekerja di luar kota dann nanti akan datang bulan depan. Rupanya adikku Ridwan memahami akan keadaan di rumah yang sudah mulai terasa tidak ada lagi ketenangan, apalagi ayahku yang seringkali membentak dan marah-marah kepada dirinya. Ridwan justru sekarang tidak mau bertemu dengan ayah, bahkan pernah suatu ketika mengajak aku untuk kabur dari rumah ini,

“Iya tapi kita mau kemana? Kita tidak mempunyai sanak saudara? “ kataku bingung.

“Daripada berada di sini yang selalu disiksa dan dimarah ayah, aku kesal, benci melihat kelakukan ayah begitu” katanya.

“Iya juga kalau begitu, sebaiknya kita pikirkan untuk bisa kabur dari rumah yang terasa bagaikan neraka ini. Aku benar-benar sudah sakit hari dengan perilaku ayah yang sangat keterlaluan,”

Kami berdiskusi lama sekali, namun akhirnya kami sendiri menjadi bingung sebab kalau saja kami kabur dari rumah, maka selanjutnya kami akan kemana? Apakah akan menjadi anak jalanan, tidur di emper jalan atau di kolong jembatan. Bagaimana kami makan dan dimana tidur, serta bagaimana kalau kehujanan. Berkecamuk dalam dada berbagai pertanyaan yang tidak bisa kami jawab, yang akhirnya kami hanya bingung sendiri memikirkan nasib jelek yang sangat tidak kami inginkan ini.

Kami berusaha tabah dan sabar menghadapi semua kejadian ini. Ibu yang sudah tidak peduli lagi kepada kami membuat kami menjadi timbul kebencian mendalam dan sama sekali tidak ingin bertemu. Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasib yang sangat naas dan menyakitkan ini. Aku paling berduka kalau adikku sudah menanyakan keadaan ibunya, aku harus mengatakan apa?

“Sudahlah tidak perlu lagi mengingat ibu yang sudah meninggalkan kita. Biarlah kita hidup berdua dalam keadaan pedih dan sakit hati, tetapi aku yakin kita akan bisa mengatasi semua ini,” ujarku saat melihat adikku terus merengek menanyakan ibu.

Lama kelamaan akhirnya Ridwan terdiam sendiri dan segera aku membawanya bermain keluar. Kulihat matanya masih merah dan basah dengan air mata. Aku berusaha menanangkan dan membeli makanan ringan seharga Rp 500 yang kebetulan aku masih memiliki sisa uang.

Aku benar-benar harus kuat menghadapi yang sangat berat. Hampir-hampir aku tidak kuat menghadapi semua ini, namun aku masih ingat kalau guru agamaku di sekolah selalu mengatakan agar sabar setiap menghadapi kesulitan hidup. Ibu Hanifah, sangat tahu akan masalah yang aku hadapi di rumah, sehingga seringkali dia memberikan nasihat yang terasa sangat kena dalam jiwaku. Aku seolah mendapat cahaya ditengah kegelapan dalam hidup ini.

Ibu Hanifah berbeda dengan guru yang lain, dia memberikan perhatian kepadaku yang membuat aku merasa sebagai ibuku sendiri. Ketika aku sudah beberapa hari tidak sekolah karena keadaanku yang sangat terbatas dengan kondisi keluarga yang sama sekali tidak menentu, ibu Hanifah mendorongku agar aku tetap menyelesaikan sekolah.

“Sayang kalau kamu tidak tamat sekolah, bukankah kamu memiliki prestasi yang patut ditonjolkan dan tidak kalah dengan yang lain, bangkitlah dalam keadaan kamu seperti sekarag, insya Allah kamu akan menjadi orang yang penting di Negara ini,” ujarnya.

Aku hanya menarik napas dalam-dalam ketika dia berkata begitu. Sesungguhnya hatiku hancur menghadapi keadaan ibu yang tidak bertanggungjawab terhadap aku dan adikku, sementara ayahku tidak memahami keadaanku.

Di rumah aku terkadang sedih terutama kalau sudah tidak ada yang bisa dimakan, namun untun saja ada tetangga sebelah yang selalu mengirim makanan untuk berdua, meskipun hanya nasih dan ikan asin, sudah cukup bagi kami untuk bisa tidur nyenyak. Pernah kami alami semalaman menahan perut kosong, di dapur sudah tida ada makanan, aku mencari kesana-kemari, terpaksa beberapa kali hanya bisa minum air putih.

Ayah sudah jarang pulang ke rumah, entah kami tidak tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan. Kami biasanya diberi uang Rp 20.000, maka aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk makan sehari-hari. Keperluan yang dadahulukan yaitu membeli beras untuk kebutuhan kami sehari-hari, kemudian membelu mie dan kerupuk, itu sudah beruntung bagi kami. Bekal sekolah aku dan adikku sudah tidak pernah dihiraukan lagi.

Setiap hari aku memandikan Ridwan. Belakangan dia ternyata menjadi anak penurut dan tidak rewel seperti beberapa bulan yang lalu, tentu saja aku sangat gembira melihat perubahan pada Ridwan. Ia memahami benar keadaanku yang harus bekerja keras setiap hari membereskan rumah, mencuci piring dan pakaian kotor kami.

“Bapak kenapa ya nggak pulang sudah 3 hari?” tanya adikku suatu ketika saat aku memandikan di pagi hari.

“Aku juga nggak tahu, kenapa ayah dan ibu membiarkan kita, apa sesungguhnya dosa kita?” tanyaku.

“Iya ya…koq mereka membiarkan kita berdua di rumah dalam keadaan begini. Apa mereka tidak sayang lagi sama kita, aku iri kalau melihat teman-temanku yang diantar sekolah, aku suka sedih kalau teringat ibuku,”

“Sudahlah, kenapa harus memikirkan orang yang tidak ada, toh bagi kita sendiri malah menjadi sedih. Sekarang marilah belajar kuat menghadapi masalah sesulit apapun. Aku sangat bangga mempunyai adik yang tidak rewel dan siap menghadapi masalah?”

“Aku juga bangga memiliki seorang kakak yang bisa mengatasi semua masalah yang kita hadapi. Kita tak perlu sedih lagi, kita harus bangga dengan kehidupan kita sekarang ini!”

Aku memeluk adikku mendengar ucapannya yang memberikan semangat yang sangat kuat dalam dadaku. “Ya Alloh, aku bersyukur memiliki adik sehebat ini, semoga engkau memberi kekuatan dan ketabahan kepada kami. Bimbinglah agar kami tetap kuat menghadapi cobaan berat ini. Ya Allah, ampunilah dosa kedua orangtuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyanyi kami,” bisikku serasa mengusap air mata yang meleleh di pipi.

Selesai memandikan adikku, aku menyuruh untuk memakai baju, sebab dia sudah terbiasa memakai baju sendirian. Aku segera mandi. Selesai mandi dan mengenakan baju seragam sekolah, aku menyuruh adikku untuk makan nasi goring yang sudah kubuatkan. Satu piring berdua sudah terbiasa bagi kami.

Kami keluar rumah dan mengunci pintu telebih dahulu. Kami berjalan kaki ke sekolah. Meski jarak cukup jauh antara rumah kami dan sekolah, kami sudah terbiasa berjalan kaki.

“Selama di sekolah, kamu jangan nakal, jadilah anak yang baik di kelas,” aku menasihati. Memang kuakui di sekolah Ridwan anak yang aktif dan tidak mau diam, dia selalu bersama-sama dengan kawan-kawannya bermain sepakbola sepulang sekolah atau bermain lari-larian.Sudah tidak aneh lagi bila pulang ke rumah dalam keadaan baju yang kotor dan penuh debu di wajahnya, namun bagi dia sangat senang seperti itu. Kalau dimarahi dia akan berontak dan sulit dikendalikan. Maka aku sering membiarkannya, sepanjang tidak berbahaya atau menganggu orang lain.

Aku sudah tidak lagi mempedulikan ayah dan ibu,biarlah mereka dengan kehidupannya masing-masing.Aku dan Ridwan pun berusaha untuk bisa mandiri dalam menjalani roda hidup yang sangat pahit ini. Aku harus mampu menjadi orang yang berhasil kelak ketika aku sudah besar. Aku tidak tahu, bagaimana menghadapi masa depan yang masih sangat gelap dan sulit diterka?

Ibu Hanifah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan dari kami. Dia kerapkali memberikan makanan untuk kami, sehingga kami benar-benar merasa ada orang yang mau melindungi kami disaat kami sedang kesulitan. Sudah bisa makan dan minum pun, aku sudah beruntung dan sangat bersyukur sekali, sebab ayahku tidak menentu memberi uang kepada kami. Kami sebenarnya tidak mau berada di rumah yang bagaikan dalam neraka, sebab ketika ayah berada di rumah, maka dia seringkali membentak dan marah-marah kepada kami, sehingga membuat hidup kami merasa tidak nyaman.

Kami benci kepada ayah, karena setiap ada di rumah pasti saja marah-marah dan membentak kami, sehingga kami merasa takut kalau tiba-tiba dia menempeleng atau memukul kami dengan kayu. Perlakukannya bagaikan ke anak orang lain. Sudah tidak aneh kalau aku seringkali dipukul kepala atau ditendang pantatku, yang membuat aku terkadang menyimpan dendam kepada ayahku.

Aku sebenarnya ingin minggat dari rumah neraka ini. Tapi aku harus pergi kemana? Pernah hal itu kusampaikan kepada Ibu Hanifah, namun beliau dengan sabar mengatakan kalau semua itu adalah ujian yang harus kamu hadapi.

“Tapi Bu, ayahku sudah sangat keterlaluan, dia bisa menyiksa aku dan adikku secara terus menerus. Tuh lihat bada saya, biru-biru dan terluka akibat pukulan kayu yang tidak pernah berhenti memukulku!” kataku deraya memperlihatkan anggota tubuhku yang terlihat membiru dan terluka.

“Astagfirullah, tega benar kepada anak sendiri sampai berbuat sekeji itu?” ujar Ibu Hanifah seraya memperhatikan beberapa luka memar pada anggota tubuhku. Beberapa kali Ibu Hanifah menggelengkan kepala sambil berkata,”Kami harus sabar menghadapi semua ini, mudah-mudahan ayah kamu insyaf atas perbuatan biadab itu,” katanya sambil menghela napas ikut merasa sedih menyaksikan siswa dilukai seperti itu.

Ibu Hanifah sangat kasihan melihat keadaanku begitu, maka dia memberikan beberapa uang lembar untuk kebutuhan aku dan adikku. Tentu saja aku bahagia, sebab di rumah sudah tidak mempunyai beras untuk makanan kami. Meski tidak besar uang yang diberi Ibu Hanifah, namun telah membuat aku sedikit bernapas lega, aku masih bisa makan.

Belakangan ayahku sudah hampir sebulan tidak datang ke rumah dan aku tidak tahu kemana perginya. Beberapa orang temannya datang untuk menagih utang, namun kukatakan bahwa sudah sebulan ayah tidak pernah memperhatikan lagi kami, bahkan kami hidup ditelantarkan.

“Jadi ayah kami kemana?” tanya seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan muka yang sangat menyeramkam.

“Aku tidak tahu, ayah tidak pernah bilang apa-apa, aku dan adikku di sini sampai kepalaran, kalau tidak ada tetangga yang memberi makan kami,”

“Dasar lelaki kurang ajar dan tidak bertanggungjawab,” ucapnya. Aku hanya terdiam dan tidak berkata sepatah katapun. Bukan satu dua kali, ayah dikatakan begitu, dan itu bagiku sangat menyakitkan sekali. Ayah dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggungjawab. Memang benar adanya, namun bagaimana pun dia adalah ayahku yang menyebabkan aku lahir di dunia ini.

Aku kerapkali menangis sendirian di kamar kalau mengingat semua kejadian yang menimpa kami. Rasanya sangat menyakitkan hati hidup ditinggal oleh kedua orangtua, mereka tidak mau bertanggungjawab terhadap apa yang telah mereka perbuat. Sungguh keji apa yang telah mereka lakukan kepadaku, padahal aku dan adikku tidak mempunyai dosa dan kesalahan, bahkan kalau aku boleh meminta, kami tidak ingin dilahirkan ke dunia dalam keadaan duka nestapa yang tidak pernah tahu kapan akan berakhir semua ini.

Tak terasa waktu terus berlalu, aku pun akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMP dan aku mendapatkan ijazah yang selama ini aku sangat dambakan. Aku sangat beruntung bisa selesai kuliah dalam keadaan situasi dan kondisi yang tidak menentu, apalagi ayahku yang sama sekalu tidak bertanggungjawab terhadap kami. Aku harus berjuang melawan semua tantangan yang menghadang. Berat memang, hidup ditinggal kedua orangtua yang sampai sekarang tidak pernah ada kabar beritanya. Untung adikku banyak yang menyenangi dan menyukai, sehingga ia kerapkali bermain di rumah tetangga. Banyak tetangga yang gemas terhadap adikku sebab selain badanya gemuk dan memiliki wajah yang lucu, sehingga tidak jarang tetangga yang memberi makanan ringan.

Aku sangat berterima kasih kepada Ibu Hanifah yang telah mendorong aku agar bisa menyelesaikan sekolah, sebab hidup di zaman sekarang tanpa memiliki ijazah tidak akan dihargai. Maka berulang kali aku sampaikan terima kasihku yang telah ikut membantuku bisa selesai sekolah. “Ibu harap kamu bisa melanjutkan sekolah, sebab kamu memiliki prestasi yang bagus, meski kamu jarang sekolah, tetapi kamu tidak kalah dengan teman-teman yang lain,” katanya. Aku menundukkan kepala, kuakui aku jarang masuk sekolah sebab aku harus bisa mencari sesuai nasi untuk bisa makan. Itu sebabnya, aku berusaha untuk bisa menghidupi kami berdua dengan jalan apapun sepanjang uang yang aku peroleh halal.

Aku tidak segan-segan berjualan dari rumah ke rumah makanan ringan bersama adikku. Aku hanya menjualkan dagangan milik tetangga yang keuntungannya tidak seberapa, namun bagiku sangat beruntung, sebab dari situ aku bisa makan dengan adikku. Aku terkadang berjalan-jalan menyusuri gang-gang kecil untuk menjajagan dagangan. Aku tidak malu bertemu dengan teman sekolah, bahkan mereka sangat seringkali membeli makananku dan memborong ketika sedang berkumpul, sebab mereka tahu kalau aku sudah tidak tinggal bersama ayah dan ibunya.

Beberapa orang tetangga secara bergiliran sering memberi makan sehari-hari kepada kami, namun itu pun terbatas, sebab di lingkungan kami masih banyak pula yang hidup pas-pasan. Pak RT pun, hampir setiap hari datang ke rumahku, sekedar melihat keadaanku dan adikku. Dia sangat perhatian kepada kami, dan beberapa kali telah mencari ibu dan ayah kami, namun tidak pernah tahu dimana rimbanya. “Sungguh keterlaluan ibu dan ayah kamu yang tega meninggalkan kamu di sini,” keluhnya. Pak RT yang menggalang dana ke masyarakat dan memberi makanan kepada kami secara bergiliran. Sangat besar sekali jasa pak RT kepada kami, jadi aku sangat kehutangan budi. Aku ingin sekali membalas kebaikannya, namun hanya ucapan saja yang aku sampaikan. “Sudahlah, kami masih remaja, seharusnya kamu tidak menanggung beban hidup seberat ini,” ujar pak RT

Aku masih beruntung tinggal di rumah milik ayah meski berukuran kecil. Kalau saja tidak mempunyai rumah itu, entah bagaimana kami tinggal, apalagi kalau harus mengontrak. Rumah itu adalah warisan kakekku yang sudah meninggal dunia ketika aku masih SD. Memang tidaklah besar rumah itu, hanya ada satu kamar kecil, ruang tamu, dapur dan kamar mandiri. Tetapi sudah menyelamatkan kami bisa tidur dan tidak kehujanan.

Ibuku sama sekali tidak pernah ada kabar beritanya sampai saat sekarang, dia seperti ditelan bumi, menghilang entah kemana?, meninggalkan kami yang sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Kenapa ibu setega itu? Apakah yang menyebabkan ibu tega meninggalkan kami? Apakah ibu sakit ?Aku tidak paham dan ingin tahu apa yang terjadi dengan ibuku. Tetapi, telah bertanya kesana-kemari, tidak seorang pun yang tahu.

Aku masih teringat, dulu sewaktu kelas 5 SD, aku pernah dibawa ke rumah kakek dan nenek di Malang Jawa Timur. Ada keinginan untuk ke sana, tetapi aku belum begitu hapal alamat lengkapnya. Aku harus menanyakan ke pak RT, barangkali dia tahu. Pak RT kemudian membuka-buka data warga di mapnya. Hampir satu jam dia mencari-cari alamatnya, sebab menurutnya, rasanya dia pernah menyimpannya dulu, sewaktu ibuku akan menikah dengan ayahku. Setelah beberapa waktu lamanya membongkar-bongkar data, akhirnya Pak RT menemuka kertas alamatnya nenekku di kampung.

“Alhamdulillah, ini ada alamantnya,” katanya seraya memberikan kepadaku. Aku sangat gembira ketika menerima secarik kertas alamat rumah ibu di Malang.

“Dengan siapa kamu ke sana?” tanya pak RT.

“Aku dengan adikku akan mencari ke sana, mudah-mudahan bisa bertemu dengan ibu, atau dengan nenekku,”

“Ada ongkosnya nggak ke sana?”

“Kami hanya mempunyai uang Rp 50.000 . mudah-mudahan saja cukup, kami akan naik kereta api dari Stasion Bandung,”

“Tentu tidak akan cukup uang sebesar itu. Biar sama bapak ditambah saja Rp 100.000 dan bawa saja perbekalan yang akan bawa sediakan,”

Aku gembira mendengar Pak RT berkata begitu, sebab itu yang sangat aku harapkan, ada tambahan ongkos untuk bisa sampai ke Malang.

Adikku sangat gembira ketika kukatakan akan ke rumah nenek di daerah Malang Jawa Timur.

“Horee aku bisa bertemu nenek di Malang,” teriaknya dengan penuh kegembiraan, “Mudah-mudahan ibu juga ada di sana,” lanjutnya.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku adikku yang memang masih belum tahu tentang masalah yang dihadapi olehku. Dia selama ini beranggapan kalau ayah dan ibunya pergi bekerja, dan aku pun seringkali berusaha untuk menutup-nutupi, meski akhirnya adikku tahu juga apa yang sesungguhnya terjadi di rumah ini.

Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk pergi ke Malang. Rumah dititipkan saja ke Pak RT, kalau-kalau ayahku datang ke rumah agar diberikan saja kuncinya. Pak RT berkali-kali pesan agar di perjalanan menanyakan alamat ke polisi atau orang yang berpakaian dinas, sebab mereka akan memberikan informasi yang benar. “Kalau kehabisan ongkos kamu masuk saja ke kantor polisi dan minta diantarkan ke alamat ini,”

Aku menganggukkan kepala. Aku pun berpamitan kepada tetangga yang selama ini banyak memberikan bantuan makanan dan menambah ongkos untuk pergi ke Malang. Uang kami jadi bertambah, aku menyimpan di dompet uang Rp 300.000 dan itu lebih dari cukup untuk bisa sampai ke daerah Malang.

Kami diantar tetangga seraya tidak sedikit diantara mereka yang meneteskan air mata ketika kami akan meninggalkan rumah yang sudah bertahun-tahun aku berada di situ. Aku tak dapat menahan air mata ketika naik angkutan kota yang menuju stasion keretapi api. Beberapa teman bermain adikku melambai-lambaikan tangan saat kami sudah duduk di angkot. Kulihat mata mereka berlinang air mata., apalagi ketika angkot yang kutumpangi melaju meninggalkan daerah kelahiranku.

Aku menarik napas panjang dan menghela napas beberapa kali seraya menyusut airmataku yang tidak bisa kutahan terus meleleh ketika sudah tidak terlihat lagi para tetanggaku. Adikku hanya terdiam saja, dia Nampak ikut bersedih meninggalkan tempat bermain sehari-hari. Berbagai kenangan indah kembali menari-nari dalam benakku apalagi saat aku sekolah, teringat kepada teman-teman yang selama ini seringkali memberi semangat kepadaku agar tabah dan sabar menjalani kehidupan yang sangat pahit dan panjang.

Sesampainya di Stasion Kereta Api bergegas aku membeli tiket tujuan Surabaya. Selama perjalanan dalam kereta api, adikku sangat gembira karena selama ini belum pernah naik kereta api. Dia banyak bertanya-tanya tentang keadaan kereta api dan tempat yang ramai, aku tidak bisa menjawabnya, sebab aku sendiri belum begitu tahu. “Sudahlah, kita tidur saja, perjalanan masih sangat jauh. Besok kamu akan banyak melihat hal-hal yang selama ini belum pernah kamu lihat,” kataku untuk menutup pertanyaannya.

Dia akhirnya menurut setelah aku terlihat menguap beberapa kali, lalu aku pura-pura tertidur. Sambil meletet aku melihat adikku pun ikut-ikutan tertidur dan tak terasa aku pun akhirnya tertidur pulas di kereta api.

Entah berapa lama kami tertidur, sebab ketika bangun kami sudah berada di Stasion Surabaya. Suasana ramai dan orang-orang bergegas turun dari kerea api. Sambil menggesek-gesekkan tangan ke mataku, kami pun bersiap-siap untuk turun. Aku menjinjing kantong yang berisi baju dan makanan. Kami pun turun dari keretapi api dan bergegas berjalan menuju ruangan informasi yang tidak jauh dari situ. Tujuanku tidak lain akan menanyakan kepada petugas disana. Petugas memberi penjelasan agar aku naik kendaraan umum, dia menyuruh seorang petugas lagi untuk mengantarkan aku. Petugas yang masih muda dan berseragam itu pun segera mengantarkan aku lalu ketika ada kendaraan angkutan desa yang lewat, aku dititipkan kepada sopirnya.

Rupanya kampung halaman nenekku cukup jauh, sebab sudah hampir 30 menit, kendaraan belum juga sampai. Adikku terlihat kesal karena kendaraan belum juga berhenti. Jalan yang dilalui sangat jelek dan tidak sedikit yang berlobang serta banyak bebatuan, sehingga mobil agak pelan.

Ketika sampai ke sebuah perkampungan, hari sudah siang. Keadaan kampung itu sangat sepi serta hanya ada beberapa orang saja yang lewat. Sebagian besar warganya bekerja di sawah atau menjadi nelayan, sebab kebetulan kampung itu tidak terlalu jauh dengan laut. Ada kenangan masa lalu yang terlintas dalam pikiranku, ketika aku 4 tahun yang lalu bermain di kampung ini, aku berlari-lari di pantai dan bermain lumpur di sawah. Nenekku Nampak sangat cerewet ketika aku bermain di sawah, sebab khawatir sekali kalau bajuku kotor dan basah.

Aku menarik napas ketika sudah turun dari kendaraan. Lupa-lupa ingat rumah nenekku, karena sudah 4 tahun aku tidak pernah menginjakkan kaki lagi ke kampung ini. Ketika ada seorang ibu yang sedang berjalan, aku bergegas menanyakan alamat rumah nenek Ngatiyem. Wanita yang sedang menggendong bayi itu pun memberi petunjuk agar aku berjalan beberapa meter, disitulah nenek Ngatiyem tinggal.

Seraya memegang tangan adikku, aku bergegas menuju rumah nenekku yang terbuat dari kayu. Ketika sampai di rumah nenek, segera aku mengetuk pintu dan berteriak memanggil. Terdengar suara nenek Ngatiyem di dalam rumah dan pintu dibukakan. Tentu saja, nenekku kaget saat melihat aku dan adikku sudah berada disitu, sama sekali tidak percaya. Ia masih bengong dan belum yakin kalau di depannya adalah cucunya yang selama ini sangat didambakan. Ketika sudah agak lama dan sadar bahwa semua itu bukanlah mimpi, maka tak ayal lagi, berteriak histeris sambil menangis dan memelukku kami erat-erat.

“Ya Allah…ini cucuku..sudah lama aku ingin bertemu dengan mereka,” ujarnya seraya menangis.

Suasana di rumah sangatlah mengharukan, apalagi ketika nenekku mengatakan, bahwa sudah lama ia ingin menjemput aku dan adikku, tetapi dia tidak tahu tempat tinggalnya, seba selama ini belum pernah bepergian dalam jarak yang begitu jauh.

“Nek, apakah ibuku ada di sini?” tiba-tiba aku bertanya tentang ibu, sebab sejak dari rumah, kalimat itu yang ingin aku tanyakan pada nenekku.

Nenek Nyatiyem tidak menjawab, hanya matanya langsung bercucuran air mata. Dia menangis terisak-isak. Wajahnya yang sudah sangat tua semakin terlihat betapa menyimpan luka batin yang sangat mendalam. Gurat-gurat wajahnya menandakan bahwa hidupnya selama ini bergelut dengan kesusahan dan kepedihan yang mendalam.

Sesaat nenek tidak berkata sepatah katapun, hanya menyusut air mata dengan saputangan; dia belum bisa bicara selain wajah yang terlihat kedukaan.. Kegembiraan bercampur dengan kepedihan, seakan menyatu dalam dirinya.

Sekali lagi aku bertanya, “Nek, apakah ibu ada di sini?”

Nenek kembali menangis seakan merasakan sakit hati yang sangat pedih. Dia belum bisa bicara, kecuali terdengar napasnya turun naik, seakan belum bisa menerima ada pertanyaan seperti itu dariku.

“Sudahlah…kalian pasti lelah. Makan dan minumlah dulu!” katanya mengalihkan pembicaraan. Aneh mengapa nenek mengalihkan pertanyaanku, bisik hatiku. Aku tidak mendesak lagi, hanya mengikuti saja apa yang dikatakan nenek. Kulihat adikku masih bengong dan belum bicara sepatah katapun. Ia melihat-lihat rumah berukuran kecil yang terbuat dari bilik bambu itu.

Nenek sendirian berada di rumah itu, sebab kakek sudah ada 10 tahun meninggal dunia. Aku tidak pernah tahu wajah kakek, saat kakek meninggal dunia aku masih kecil. Pernah suatu ketika datang ke Bandung untuk menjenguk kami, itu pun hanya sekali saja. Setelah itu, tidak pernah lagi datang ke sana, dan tahu-tahu dapat kabar sudah meninggal dunia karena penyakit paru-paru.

Nenek bergegas menyediakan makanan dan minuman buat kami. Meski makanan sederhana dengan sayuran, namun terasa sangat nikmat, apalagi nenek menyediakan ikan bakar kesukaanku.

Selesai makan, rasa penasaranku terus berkecamuk dalam dadaku, aku ingin ada kepastian apakah ibuku ada di sini. Iseng-iseng sesudah makan, aku melihat-lihat kamar, barangkali ibu berada di kamar, namun tiada orang lain, kecuali nenekku yang tinggal sendiri. Nenek belum menjawab atas pertanyaanku tadi , dia malah mengambil pisang dan buah alpukat yang disimpan di dapur. Lalu diberikan kepadaku dan adikku.

Aneh, mengapa nenek belum juga menjawab apa yang aku tanyakan, ada apa sebenarnya ini? Hatiku terus diliputi berbagai pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Ada keanehan yang kulihat dimata nenekku. Misteri tentang ibuku. Aku yakin, ibu pernah datang ke sini, namun sekarang tidak tahu kemana ibuku pergi?

Walaupun usianya sudah tua,namun kulihat nenek Ngatiyem masih normal pendengaran dan penglihatannya. Bahkan yang membuat aku salut, giginya masih utuh belum ada yang ompong satu pun.

Ketika suasana agak tenang dan kami pun sudah makan, tiba-tiba nenekku berkata:”Kalau ingin bertemu dengan nenek, besok akan nenek antar kamu ya. Sekarang kamu istirahat saja, sebab ibumu berada di tempat yang agak jauh dari sini. Besok pagi-pagi kita ke sana saja!”

Bukan main kami gembira mendengar nenek berkata begitu. Inilah jawaban yang sangat kutunggu-tunggu.

“Kalau memang berada di sini, mengapa ibu membiarkan kami hidup terlantar di Bandung?” tanyaku protes.

Nenek Nyatiyem menggelengkan kepala, seolah tidak menerima apa yang aku sangkakan kepada ibuku.

“Ibu kamu bukannya tidak bertanggungjawab, tetapi…..sudahlah besok kamu akan lihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan ibu kalian!” ujar nenek dengan suara yang nampak tak kuasa menahan tangis, yang tentu saja membuat aku heran dan penasaran.

“Apa yang sesungguhnya terjadi dengan ibuku?” tanyaku heran.

“Sudahlah sekarang istirahat saja, kalian telah menempuh perjalanan yang sangat jauh, jadi perlu istirahat dulu!”

“Nggak bisa, nek! Aku nggak akan bisa tidur sebelum bertemu dengan ibuku. Aku hanya ingin bertanya ; mengapa ibu tega meninggalkan kami berdua dalam keadaan yang sangat memprihatinkan,” kataku.

Nenek Ngatiyem kembali menangis saat aku mendesak ingin segera bertemu dengan ibu.

Tetapi nenek berkata,“Tempatnya sangat jauh dari sini. Kalau berjalan kaki memerlukan waktu satu jam, jadi besok saja. Tidak ada kendaraan menuju ke sana!”

“Mengapa ibu tinggal jauh dari nenek?” desakku tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.

“Sudahlah, kamu harus istirahat dulu. Nanti nenek akan jelaskan semua, apa yang sesungguhnya terjadi dengan ibumu..!”

Kulihat nenek beberapa kali menarik napas berat, seakan belum bisa menerima kenyataan pahit hidup yang harus kualami. Aku semakin tidak paham, apa dan mengapa ibu berada jauh dari rumah nenek? Pertanyaan itu bertubi-tubi dalam pikiranku. Aku tidak mengerti? Aku kecewa pada nenek yang belum bisa memberikan jawaban atas pertanyaanku.

Adikku hanya terdiam, dan tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi di rumah ini. Jadi kalau demikian, ibu jelas berada di sini, dia minggat dari Bandung hanya melepaskan tanggungjawabnya. Kenapa semua ini bisa terjadi begini? Berkali-kali aku hanya menarik napas. Kalau bertemu dengan ibu, aku hanya ingin meminta pertanggungjawabannya, kenapa kami dibiarkan hidup seperti ini; jauh dari kasih sayang, apalagi aku da adikku harus berjualan sekedar untuk makan sehari-hari.

Kepedihan selama berada di Bandung kembali terbayang dalam benakku, apalagi saat aku harus menjajagan dagangan ke tiap-tiap rumah, dengan untung yang tidak seberapa! Kembali air mataku membasahi pipi. Aku belum paham!, kalau demikian selama ini ibu kami berada di rumah nenek, lantas apa yang dikerjakan oleh ibu, padahal kami di Bandung hidup menderita berkepanjangan. Belum lagi sikap dan tindakan ayah yang sangat berlebihan dan tidak ada rasa kasih sayang kepada anaknya.

Aku menyimpan dendam pada ayahku sendiri bila teringat perlakukan selama ini, benar-benar menyakitkan hati. Aku tak mungkin bisa melupakan kekerasan yang kerapkali dilakukan padaku. Tak terasa kalau air mataku sudah meleleh membasahi pipi saat kubuka dalam ingatanku lembaran hidup yang telah aku jalani. Aku tidak ingin bertemu dengan ayah yang sudah biadab kelakukannya. Yang lebih menyakitkan lagi, aku telah diperkosa oleh ayahku sendiri, inilah yang membuat aku tergoncang jiwaku.

Selama ini aku bertahan dengan kehidupan yang pahit, namun lama kelamaan kesabaranku terbatas, aku ingin lari dari keadaanku. Beberapa waktu yang lalu sebenarnya aku ingin bunuh diri mengakhiri hidup ini, namun ketika sudah bulat ingin menjerat leher dengan tambang plastic mendadak wajah Ibu Hanifah seperti berada di depanku dan memarahi aku ketika keputusan itu akan diambil. Mendadak ada perasaan takut dan kulitku seketika keluar keringat dingin.

Segera saja aku beristigfar memohon ampun atas pikiranku yang bodoh dan tolol. Berulang kali aku menyebut asma Allah dan memohon diberi kekuatan menghadapi semua masalah yang sedang kuhadapi.

Bayangan kebiadaban ayahku terlintas dalam benakku, ketika malam itu dia pulang dalam keadaan mabuk dan mulutnya bau alcohol yang sangat menyengat hidung. Matanya merah dan mendadak ketika kubuka daun pintu rumah, mendadak ayahku merontok dan membawaku ke kamar.

Aku berontak dan tidak ingin diperlakukan senonoh itu, aku berusaha melawan sekuat tenaga menghadapi tekanan ayahku yang kerasukan setan.

“Ayah ingat….ini anakmu…ini aku!” teriakku seraya memukul-mukul wajahnya.

Namun setan sudah merasuki jiwa raganya, sehngga suaraku yang berteriak sama sekali tidak didengar. Dia malah semakin bernafsu menghadapiku. Tangannya kuat mencengkram tanganku yang kecil. Percuma semua upaya yang kulakukan. Sia-saia apa yang telah kulakukan, sebab dengan nafsu setan yang bergolak dalam dadanya, dia memaksa dan memperkosa kegadisanku.

Betapa sakit sekali dan aku menyimpan dendam berkepanjangan, ketika ayahku sudah berhasil mengggahi kegadisanku. Ia telah menjadi iblis yang berbentuk manusia, ia telah menghancurkan masa depanku. Dia bukanlah ayahku, dia adalah setan yang sangat kubenci selama hidupku. Aku tak ingin lagi melihat wajahnya dan tak mau terlintas dalam benakku, bahwa lelai yang telah menghancurkan masa depan adalah lelaki bagian daging dalam hidupku.

Dunia rasanya hancur dan mau kiamat jika aku mengingat kembali di masa lalu. Aku masih beruntung bisa bertahan hidup karena bimbingan yang sangat besar dari Ibu Hanifah. Seandainya tidak ada wanita yang kuanggap sebagai ibuku sendiri dan yang banyak pula memberi bantuan kepadaku, aku sudah lama mau mengakhiri hidupku. Kupikir mati adalah lebih baik daripada hidup harus menanggung derita berkepanjangan. Namun berulang kali Ibu Hanifah sebagai guru agama di sekolah, selalu menasehati agar aku sabar dan tabah, sebab kita tidak pernah tahu rencana yang terbaik terhadap kita di masa yang akan datang.

“Jangan melakukan tindakan bodoh,apalagi terlintas dalam benak kami ingin bunuh diri, sama saja itu adalah perbuatan setan terkutuk. Setan akan bergembira ria bila melihat manusia terjebak dalam godaannya. Terima semua yang terjadi apa adanya, Allah tidak pernah membiarkan seorang hamba di muka bumi diperlakukan tidak adil, justru sebaliknya Allah ingin menguji kamu,” ujar Ibu Hanifah yang masih terngiang di telingaku.

“Tapi, Bu! Mengapa derita ini begitu berat yang aku tanggung. Kami ditinggal oleh kedua orangtua kami yang sangat kami butuhkan kasih sayang!”

“Itulah hidup, tidak harus sama dengan apa yang kita inginkan, justru kita harus bersiap menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai,”

Semua ucapan Ibu Hanifah terpatri dalam kalbuku, namun demikian aku seakan tak kuasa untuk menghadapi semua derita dan duka yang terus datang silih berganrti, apalagi aku bukanlah seorang gadis suci, aku telah ternoda. Siapa lelaki yang mau dengan keadaan yang sudah tercoreng begini? Aku merasa diri hina dan yang sangat aku malu, bahwa semua itu dilakukan oleh ayah kandungku sendiri. Sungguh biadab? Kalau dilaporkan ke polisi bagaimana nasib ayahku berada di penjara.

Kembali aku hanya menangis dan menyesali nasib yang sudah terlanjur seperti ini. Aku berusaha untuk tegar dan tabah menghadapi semua ini. Namun rasanya tidak mudah untuk bersikap seperti itu, sebab aku harus kuat mental. Pernah aku membuang jauh-jauh trauma dan rasa sakit hati dalam dada akibat perilaku ayahku yang biadad itu, namun itu sangat berat, sebab wajahnya kerapkali muncul dalam bayanganku. Hal itu membuatku histeris dan aku jatuh pingsan karena menagan trauma yang sangat berlebihan. ***

Bagian Kedua

Ibuku Tinggal di Gubuk Terpencil

Rasa penasaran terus menerus berkecamuk dalam dadaku, sehingga semalaman aku tidak bisa nyenyak tidur. Aku terbangun dan ingin segera hari cepat pagi agar aku bisa mengetahui keberadaan ibu. Aku tak habis pikir, apa sesungguhnya yang terjadi dengan ibuku? Mengapa dia begitu tega membiarkan aku dan adikku hidup menderita selama beberapa tahun? Padahal dia berada di sini. Aku bingung dan tidak mengerti dengan sikap Ibu, padahal selama ini yang kuketahui ibu adalah sosok wanita yang bertanggungjawab dan sangat menyayangi kami. Namun dengan membiarkan kami hidup menderita seperti, mana tanggungjawabnya?

Tengah malam aku terbangun. Rasanya aku tidak bisa melanjutkan tidurku, padahal perjalanan dari Bandung ke Malang memerlukan waktu yang begitu lama, namun aku merasa tidak lelah, malah rasa penasaran bergejolak dalam dadaku. Kini setelah tiba di rumah nenek, ada misteri yang sama sekali tidak kupahami dan membuat aku bingung menghadapi semua ini. Apa yang terjadi dengan ibuku? Semakin banyak pertanyaan dalam diriku yang tidak bisa kujawab dan semua itu hanya neneklah yang bisa menjelaskan semuanya.

Suara jangkrik terdengar dari kejauhan diiringi angin malam yang menghembus dedaunan, sehinga malam itu terasa mencekam. Aku baru malam pertama berada di rumah nenek ini, namun terasa kegelisahan menyergap dalam sanubariku. Ada sesuatu yang belum bisa kuterima dan rasa penasaran berkecamuk dalam dadaku.

Daun pintu kamar nenek terdengar dibuka, mungkin nenek akan ke air untuk sekedar kencing. Aku mendengarkan saja dari dalam kamar dengan pura-pura memejamkan mata. Kamar kami dengan nenek hanya terhalang dinding kayu, jadi kami bisa mendengar gerak langkah nenek di rumah. Terdengar suara air yang diambil dari bak mandi. Tidak lama, nenek sudah keluar dari kamar mandi.

Daun telingaku terus mendengarkan apa yang akan dilakukan nenek, apakah akan tidur lagi atau tidak? Namun kudengar nenek mengucapkan beberapa doa, lalu bertakbir seperti sedang melaksanakan sholat malam. Aku terhentak, rupanya nenek sedang melaksanakan sholat tahajud.

Kudengar suara nenek yang sedang melaksanakan sholat malam. Suaranya indah dan sangat menyentuh kalbu membuat aku tidak bisa melanjutkan tidur. Aku terjaga di tengah malam mendengar suara nenek yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran di saat sholat tahajud. Lama sekali nenek berdiri seraya terus menerus membaca Al-Quran yang sudah dihapalnya. Aku tercengang, hapalan nenekku luar biasa kuat! Belum pernah selama di Bandung ada seorang nenek yang bisa menghapal Quran begitu panjang. Aku baru pertama mendengarkannya di tengah malam buta disaat orang sedang terlelap tidur.

Diam-diam akhirnya aku duduk di ranjang. Kulihat nenek sedang melaksanakan sholat tahajud di sudut rumah dengan sajadah tua. Mukena yang dikenakannya pun sudah agak lusuh, warna putihnya sudah berubah mungkin karena setiap hari dipakainya. Aku termenung duduk di ranjang, belum pernah selama ini aku melaksanakan sholat tahajud, padahal Ibu Hanifah pernah mengingatkan agar aku rajin bangun di tengah malam dan memohon kepada Allah agar diberi hidayah dan kekuatan iman menghadapi ujian yang sangat berat.

Kuperhatikan nenek Ngatiyem yang sedang khusyu membacakan ayat suci Al-Quran. Aku kagum dengan nenekku, masih bisa melaksanakan sholat tahajud. Sesekali kudengar suara nenek yang sedih dan mengeluarkan air mata disaat sedang sholat itu. Aku hanya tertunduk, mungkin nenek sedang meresapi setiap bacaan dan membuarnya tak kuasa menahan air mata yang terus membasahi pipinya.

Lama aku merenungi diri di ranjang. Sementara kulihat adikku tertidur sangat lelap, sehingga terdengar suara dari mulutnya. Kasihan adikku, dia tidak perlu tahu keadaan yang sedang kuhadapi dan itu sangat berat kuhadapi. Biarlah semua itu kutanggung sendiri. Biar aku saja yang merasakan betapa pahit hidup ini, apalagi aku sebagai wanita. Saat kulihat wajah adikku, aku hanya bisa bernapas lega dan berharap semoga sifatnya tidak sama dengan bapaknya.

“Koq dari tadi kulihat kamu melamun terus?” tiba-tiba terdengar suara nenek yang membuat aku terperanjat.

“Ah, nenek aku kaget. Aku tidak bisa tidur?”

“Sudahlah kamu sholat dulu saja. Hadapi semua masalah ini dengan ketabahan dan hanya memohon kepada Allah saja. Tidak yang bisa dipinta dalam menghadapi setiap masalah yang kita hadapi selain kepada Allah. Yakinlah semua yang terjadi pada kita ada hikmah yang tersimpam di dalamnya,” ucapnya.

“Tapi aku mengapa harus menghadapi beban yang sangat berat sekali. Aku tak kuat menghadapi semua ini? Ayahku telah tega berbuat aniaya kepadaku!”

Nenek Ngatiyem menatapku dengan rasa penuh kasihan.

“Sudah lama sebenarnya aku ingin pergi ke Bandung menjemput kamu berdua, namun bagaimana nenek mau ke sana, nenek sendiri di sini harus merawat ibumu?”

Aku kaget ketika nenek menyebut ibuku dirawat.

“Memangnya ibuku kenapa?” tanyaku penasaran dan tidak mengerti apa yang diucapkan nenekku.

Nenek tidak menjawab, tetapi langsung menangis terisak-isak.

“Apakah selama ini ibuku sakit? Dimana dirawatnya?” tanyaku.

“Makanya besok nenek akan ajak kamu menengok ibu kamu. Nenek kasihan sekali, dia terlalu banyak beban mental dan tidak kuat menghadapi cobaan hidup yang sangat berat…!”

Beberapa kali nenek Ngatiyem mencucurkan air mata dan nampaknya ia pun tak dapat membendung emosi dalam kalbunya.

“Makanya nenek setiap hari bangun tengah malam, untuk memohon kepada Allah kekuatan dan ketabahan menghadapi ujian yang sangat berat ini. Kita harus pasrah terhadap apa yang telah digariskan oleh Allah. Kita tidak bisa menolak terhadap takdir yang sudah ditetapkan-Nya,”

Aku hanya menundukkan kepala ketika nenek berkata begitu, sebab kulihat wajahnya sudah tidak ingin mengingat kepedihan yang pernah dialami. Sangat dalam makna yang tersimpan dalam ucapannya itu, membuat aku sesaat termenung. Aku yang baru berusia 14 tahun yang belum paham tentang arti kehidupan, hanya terdiam saja mendengarkan ucapan nenek.

“Manusia adalah makhluk yang sesungguhnya tidak berdaya menghadapi semua kekuasaan Allah. Kita harus belajar pasrah terhadap takdir Allah. Terimalah semua yang pernah terjadi pada diri kita. Ada hikmah yang tersimpan dalam setiap perjalanan kehidupan yang dialami setiap anak manusia. Tidak perlu menyesali diri terhadap apa yang telah terjadi. Nenek yakin semua itu adalah rencana terbaik Allah yang diberikan kepada kita,” ucapnya.

“Apakah nenek tahu apa yang selama ini terjadi dengan diriku?”aku bertanya.

“Terlalu pedih hidup yang telah kamu alami, namun nenek yakin Allah sesungguhnya menyayangi kepada kamu, jangan sekali-kali berputus asa menghadapi kepahitan hidup ini. Bangkitlah dengan kedukaan yang sedang kamu alami”

“Mana bisa aku bangkit diatas dukaku yang sangat mendalam. Aku dendam terhadap ayahku sendiri, sebab dialah yang merusak masa depanku!”

“Jangan sekali-kali menyimpan dendam kepada makhluk Allah di dunia ini. Dendam itu hanya dimiliki oleh setan karena dia membisikkan kejahatan kepada manusi. Pandanglah semua manusia adalah sebagai makhluk yang bertumpuk dosa dan noda, jadi kita tidak merasa paling suci sendiri. Kita harus yakin dan percaya penuh terhadap janji Allah!’

Beberapa kali aku menarik napas panjang mendengar penuturan nenek. Aku jadi teringat kepada Ibu Hanifah yang ucapannya hampir tidak jauh berbeda dengan nenekku. Boleh jadi mereka telah memiliki pengalaman hidup yang panjang. Sementara aku masih mentah dan belum tahu tentang makna dibalik kehidupan ini. Kami asyik berbincang-bincang ditengah malam. Aku merasa ada cahaya yang menerangi dalam hidup ini, dan itu yang selama ini aku cari; cahaya yang mampu membangkitkan semangat mengarungi perjalanan nasib.

Perbincangan panjang dengan nenek telah memberi kekuatan dalam jiwaku; aku harus melawan semua rintangan yang akan menghadang. Aku harus bangkit menjadi sosok wanita yang siap menghadapi masa depan. Aku tidak boleh cengeng dan hidup dirundung duka, sementara didepan mataku masih terbentang masa depan yang harus kuraih sebaik-baiknya.

Ketika aku menanyakan kepada nenek, mengapa ibuku tidak berada di rumah ini. Sekali lagi nenek hanya mengatakan, “Pokoknya besok lihat saja apa yang terjadi dengan ibumu. Apapun itu, kamu harus siap menghadapi semua itu,”

“Tapi mengapa harus jauh dari rumah ini?”

“Ya habis bagaimana lagi. Warga disini tidak menghendaki ibumu berada di sini, sebab pernah dulu dibiarkan, namun ternyata dia menjadi sasaran kemarahan orang lain?”

“Memang ada apa dengan ibuku?”

Rasa penasaran itu bergelora dalam dadaku. Aku ingin tahu duduk persoalan yang sebenarnya.

“Sudahlah…esok kita lihat saja…mudah-mudahan kedatangan kamu berdua ke sini, setidaknya merubah keadaan ibu!”

Aku semakin tidak mengerti dengan ucapan nenek. Ada apa dengan ibuku? Rasa ingin tahu begitu kuat berada dalam dadaku, sehingga aku ingin segera esok hari saja. Aku ingin bertemu dengan ibuku.

Nenek Ngatiyem mengajakku untuk bersama-sama melaksanakan sholat tahajud. Aku mengikuti saja apa yang dikatakan nenek. Segera aku mengambil air wudhu. Meski terasa sangat dingin air di malam hari, namun aku berusaha untuk bisa memenuhi ajaka nenek. Kuakui selama ini aku tidak pernah mengerjakan sholat tahajud. Sholat pun selama ini masih sangat jarang-jarang, soalnya bukan apa-apa, aku merasa dicampakkan oleh Tuhan dan sangat tega aku dibiarkan hidup dalam keadaan penuh duka nestapa berkepanjangan.

Aku mengikuti saja gerakan nenek saat melaksanakan sholat. Beberapa surat-surat pendek yang kuhapal aku bacakan dalam sholat itu. Aku ingin mencoba untukb bisa berubah dengan keadaan yang selama ini sangat menyakitkan sekali, terlebih bila aku teringat kalau aku bukan lagi seorang gadis, hidupku telah ternoda dan hina. Namun haruskah aku berontak terhadap Tuhan dengan keadaan seperti ini.

Nenek ternyata memahami sepenuhnya yang terjadi padaku. Aku sendiri berterus terang, bila ayahku telah bertindak biadab terhadap anaknya sendiri. Nenek terbelalak ketika mendengar penuturanku begitu.

“Astaghfirullahal adhiim…azab apa yang akan ditimpakan kepada ayah kami yang telah tegas berbuat sekeji itu?” ujarnya.

Aku hanya menundukkan kepala, tak mampu berkata sepatah katapun. Bibirku kelu untuk mengeluarka beberapa kalimat. Aku terdiam bisu dan hanya air mata yang meleleh di pipi.

Rumah kecil sederhana itu menjadi saksi bisu bagi kami yang tengah dirundung duka nestapa. Adikku yang tertidur pulas sama sekali tidak terbangun saat kami sedang berbincang-bincang.

Lama kami berdua bersujud pasrah di malam sunyi itu. Suara semilir angin di malam hari seakan menjadi saksi bisu bagi kami. Nenek tak dapat menahan air mata mendengar kisah perjalanan hidupku yang penuh dengan derita. Beberapa kali dia meminta maaf, bukan bermaksud membiarkan kami hidup dalam penderitaan yang panjang. Tetapi dia sendiri dalam keadaan yang tidak bisa meninggalkan ibu kami di sini. Terlebih lagi, nenek tidak mungkin berangkat sendirian ke Bandung, sebab kondisi badannya yang sudah sepuh dan belum pernah pergi ke kota Kembang karena jarak yang sangat jauh serta ongkos yang tidak sedikit.***

Setelah terdengar suara adzan subuh di mesjid, aku dan nenek pun sholat berjamaah di rumah. Rasa kantukku kembali menyerang mataku, sehingga tak kuasa aku pun tertidur di lantas beralaskan sajadah. Nenek tidak membangunkan aku, sebab dia merasakan kalau semalaman kami telah berbincang panjang lebar.

Entah berapa jam aku tertidur. Namun baru terbangun ketika adikku Ridwan menggoyang-goyangkan badanku agar aku segera bangun.

Meskipun terasa masih mengantuk, aku pun bangun dan duduk di lantai seraya mengusap wajah beberapa kali.

“Koq, teteh tidurnya di bawah sih?” tanyanya

“Aku nggak kuat ngantuk sesudah sholat subuh!”

“Ayo bangun nenek sudah menyiapkan sarapan pagi buat kita. Kita ‘kan akan menegok ibu?”

Aku pun segera berdiri dan kulihat nenek sedang memasak nasi goreng di dapur.

“Kamu sudah bangun. Tuh mandi dulu, nenek sudah menyiapkan air hangat buat kalian berdua!”

Aku bahagia selama ini belum pernah mandi dengan air hangat. Di rumah aku mandi air dingin setiap hari, jarang mandi dengan air hangat kecuali kalau keadaan sedang sakit. Itu sebabnya, aku beruntung bisa bersama-sama di rumah yang bagi kami bagaikan berada dalam istana.

Pagi itu sesuai rencana kami akan melihat ibu yang jaraknya agak cukup jauh dari rumah kami. Rasa penasaranku terus berkecamuk dalam dada, mengapa nenek membiarkan ibuku berada jauh dari rumah. Aku tak habis pikir? Berulangkali ditanyakan kepada nenek, namun nenek tidak pernah memberi jawaban yang memuaskan, justru sebaliknya membingungkan. Bahkan nenek selalu mengalihkan pembicaraan kalau hal tersebut ditanyakan lagi kepada nenek.

“Apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan ibu kamu?” tanya nenek sebelum kami pergi.

“Kami sudah siap!”

“Tapi apakah kamu tidak akan kaget? Dan tetap menerima ibu kamu apa adanya?”

Pertanyaan itu membuat aku bingung dan tidak mengerti. Memangnya ada apa dengan ibuku? Ini yang membuat aku tidak bisa dimengerti. “Kalau bisa jangan sekarang, biar nanti saja bertemu dengan nenek,”

“Nggak mau, kami ingin segera bertemu, sebab sudah lama sekali kami dibiarkan hidup tak menentu,”

“Sekali lagi nenek bertanya, apakah kalian akan menerima ibu apa adanya?”

Meski agar berat dengan pertanyaan itu, akhirnya aku menjawabnya.

“Kami akan menerima ibu apa adanya!”

“Apakah juga Ridwan akan dibawa?”

“Justru dia ingin bertemu dengan ibu sejak ibu meninggalkan kami,”

“Kalau begitu, kamu berdua harus siap dengan apa yang sesungguhnya terjadi dengan ibu kamu!” ujar nenek Ngatiyem seraya menyiapkan makanan untuk segera pergi dari rumah.

Kami terus melangkahkan kaki berjalan menyusuri jalan setapak yang berbelok-belok dan banyak bebatuan. Daerah yang kami tuju agak sepi, hanya pepohonan liar yang tumbuh di sepanjang jalan. Aku heran, mengapa ibu mau tinggal di daerah yang sepi?

Kampung nenek bukanlah daerah yang ramai, penduduknya pun tidaklah banyak, namun lahan di daerah itu sangatlah luas. Masih banyak lahan kosong dan ditumbuhi berbagai pohon-pohonan yang tidak terawat, sehingga tidak aneh kalau banyak binatang liar yang berbahaya, terutama ular dan babi hutan.

“Koq daerahnya semakin sepi, Nek!” tanyaku penasaran, sebab sudah berjalan hampir 30 menit namun belum sampai juga ke tempat yang dituju.

“Ya memang keadaannya begini,”

“Kenapa ibu mau tinggal di daerah ini?”

Nenek Ngatiyem tidak menjawab, hanya terdengar menarik napas panjang. Kemudian, dia berkata,”Makanya nenek sudah bilang, jalan cukup jauh dari rumah!”

Aku hanya terdiam. Namun kaki terus berjalan. Sementara kulihat adikku mulai kelelahan dan meminta untuk bersitirahat duduk di sebuah batu. Maka kami pun beristirahat dulu dekat pohon rindang.

“Sebentar lagi juga sampai, tuh kelihatan ada gubuk!” ujar nenek sambil menujuk sebuah gubuk tua yang terbuat dari potongan kayu.

“Hah, ibu tinggal di sana? Mengapa dia berani sendirian di situ?” aku kaget dan tidak percaya.

“Ya, itulah cara yang terbaik, tidak ada jalan lain, sebab nenek sudah payah dan lelah menghadapi ibu kamu?”

“Memangnya ibu itu kenapa?” tanyaku penasaran dan ingin segera mendapat jawaban tegas.

“Nenek ‘kan sudah bilang, kamu harus menerima apa adanya dengan kondisi Ibu dan kamu sudah siap untuk menerimanya. Makanya nenek berani membawa kamu ke sini!”

Aku menarik napas panjang. Belum mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan ibuku dan mengapa harus berada di tempat terpencil serta tidak ada seorang yang menemani.

“Kalau begitu, jangan lama-lama istirahatnya, aku ingin bertemu dengan ibu!” kataku kepada Ridwan.

“Kalau ibu kamu tidak mengenal kamu, maka kamu pun harus siap untuk menghadapi semua itu?”

“Lho! Memangnya ada apa dengan ibu?” aku kembali dibuat heran dan tidak mengerti dengan perkataan nenek.

“Sudahlah, sekarang kalian siap-siap saja!” ujarnya.

Kami segera berdiri dari tempat duduk. Lalu bergegas berjalan menuju sebuah gubuk yang terlihat sangat tua dan tidak terawatt.

Semakin dekat perasaan kami semakin tidak menentu. Ada rasa degdegan serta penasaran. Aku ingin melihat wajah ibu yang sudah 3 tahun belum pernah bertemu, ibu seperti lenyap ditelan bumi. Kini tinggal beberapa meter saja, aku bisa kembali melihat ibu. Ada kerinduan yang sudah lama tersimpan dalam kalbuku. Namun apakah ibu mengenali kami? Itu pertanyaan yang tersirat dalam benak kami. Bagaimana pula dengan adikku!

Gubuk yang berukuran 3 x 3 meter persegi itu terbuat dari kayu, dengan atap bambu serta ditimbuni daun-daunan besar diatasnya serta dikelilingi pagar kayu berukuran 2 meter. Persis seperti kandang seekor kerbau. Pepohonan liar mengelilingi di sekeliling gubuk itu. Suasana sangat sepi dan nyaris hanya terdengar desir angin yang menerpa pohon-pohon. Sesekali terdengar suara burung hutan berkicau, seolah menyambut kami yang baru saja tiba di tempat yang bagi kami sangat asing sekali.

Ada sungai kecil di dekat gubuk itu, mungkin untuk buang air atau sekedar membersihkan tubuh. Airnya sangat jernih dan terlihat ada ikan-ikan kecil yang saling berlarian. Nyaris tak ada orang lain yang tinggal di sana. Dari kejauhan kami mendengar seekor anjing yang menggonggong, rupanya tahu kalau ada orang yang sedang berjalan menuju ke gubuk itu.

Anjing itu tiba-tiba berlari mendekati kami. Tentu saja aku kaget dan takut, apalagi adikku langsung menangis ketika terlihat anjing itu menjulurkan lidahnya.

“Hus! Kamu ke sana…!” gubrik nenek Nyatiyem seraya mengusir seekor anjing yang cukup besar. Ia sangat penurut ketika dikatakan demikian, dan langsung berlari meninggalkan kami.

“Wah nenek luar biasa bisa mengusir anjing,!” kataku.

“Anjing itu namanya si Oloh, sudah lama menemani ibu kamu di sini. Dia sangat penurut dan selalu bersama-sama dengan ibu kamu!”

Aku menggelengkan kepala merasa heran ada seekor anjing yang mau menemani di tempat yang jauh dari keramaian. Aneh, mengapa ibu bersikap begitu!

Rasa penasaran bergelora dalam dadaku dan aku ingin segera melihat ibu.

Ketika satu meter lagi akan mendekati pagar kayu, aku melihat seorang perempuan sedang duduk di depan gubuk dengan menatap ke bawah tanah. Rambutnya terurai tidak menentu. Terkesan acak-acakan yang tentu saja membuat aku heran dan aneh! Benarkah itu adalah ibuku. Badannya terlihat sangat kurus kering serta tidak terawat. Nyaris tak percaya dengan apa yang aku lihat. Masa ibu seperti itu?. Apa yang telah terjadi dengan ibu?

Adikku bengong dan matanya tidak mengedip beberapa waktu lamanya, ketika melihat sosok wanita yang tengah duduk di kursi bangku dekat gubuk tua. Nenekku hanya terdiam dan tidak sepatah katapun keluar, malah terlihat bola matanya berkaca-kaca, seolah menahan kesedihan yang bergelora dalam dadanya. Ia sebenarnya berat membawa kami ke tempat ini, kalau saja aku tidak memaksa, sebab aku hanya mengetahui keberadaan ibu yang selama ini begitu saja meninggalkan kami, tanpa ada rasa kasihan.

“Bu!...” aku memanggilnya dengan suara pelan. Namun suaraku tidak didengar, ia masih tetap menundukkan kepala.

Kulihat nenek menarik napas panjang dan beberapa kali menelan ludah, seolah ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Butir-butir keringat terlihat jelas di wajahnya.

Sekali lagi aku memanggil agak keras. Rupanya panggilan itu telah membuat dia langsung tersentak kaget dan langsung matanya menatap kepada kami yang baru datang. Tiba-tiba dia berlari mendekati kami seraya memanggil namaku dan adikku. Suaranya berat seolah menahan derita yang berkepanjangan.

“Ya Alloh, ini anakku yang selama ini aku rindukan siang dan malam!” ucapnya seraya merangkul dan menciumi aku dengan sangat rindunya. Demikian pula Ridwan, beberapa kali dirangkul dan diciuminya, seolah memuntahkan kerinduan yang selama ini membelengu dirinya.

“Maafkan Ibu, tidak bermaksud meninggalkan kalian!’ ucapnya dengan isak tangis yang tidak berhenti.

Ibu sudah berubah dan sepintas bukan ibuku, sebab kulitnya semakin hitam dan wajahnya terlihat ada benjolan tulang. Boleh jadi ibu mengalami sakit yang lama dan harus berada di tempat yang agak jauh dari penduduk.

“Ibu, mengapa tinggal di sini?” tiba-tiba aku bertanya seraya menatap wajah ibu yang semakin terlihat jelas menyimpan kedukaan dan rasa kepedihan

Kami dibawa ke gubuk yang sangat sederhana. Gubuk itu tidak jauh berbeda dengan kandang ayam. Tidak ada perabot rumah tangga, kecuali piring, sendok dan gelas untuk makan yang masih belum dicuci, mungkin bekas kemarin. Ada lilin sebatang serta alat penerang yang terbuat dari kaleng yang diisi minyah tanah. Ada kasur dan bantal kecil yang sudah sangat kotor, mungkin sudah lama tidak pernah dicuci.

Ibu tidak menjawab apa yang aku tanyakan, dia malah mencucurkan air mata serta beberapa kali menatap nenek, seolah meminta dibantu untuk bisa menjelaskan semua ini. Nenek kemudian berkata lirih,

“Kalian harus sabar dengan semua yang telah terjadi. Ibu kamu berada di sini, bukan atas keinginan nenek, tetapi ibu menderita sakit yang cukup berbahaya dan harus dipencilkan di sini. Nenek setiap hari ke sini untuk merawatnya. Sekarang sudah lumayan agak sembuh, sebab selama beberapa tahun dengan nenek, dia kerapkali bertingkah laku aneh dan bisa menyerang orang lain yang tidak berdosa. Bahkan pernah mengejar-ngejar seorang lelaki seraya membawa pisau, dia ingin membunuhnya,”

Kami bengong mendengar nenek berkata begitu. Tak terlintas dalam benak sedikit pun, bila ternyata ibu menderita penyakit yang parah dan harus diungsikan. Sementara kalau dimasukkan ke rumah sakit jiwa, darimana biaya pengobatan? Sedangkan nenek hanya seorang wanita tua yang tidak mendapat uang pensiun .

“Jadi ibu pernah menderita sakit jiwa?” tanyaku penasaran.

“Ya begitulah, sejak datang dari Bandung, sudah terlitas stress dan bingung, bahkan ketika ditanya tidak banyak yang dijawab, kecuali menangis. Dia sering menyendiri dan menjauhi pergaulan dengan tetangga. Belakangan dia suka marah-marah sendirian dan ingin membunuh suaminya serta memanggil nama kamu berdua…”

Aku mengehela napas, tidak mengira ibu akan menderita selama berada di sini. Wajar saja kalau kami telantar dan tidak ada yang mengurus, sementara ayah disibukkan dengan main judi dan minuman keras setiap hari. Jelaslah kini, apa yang terjadi dengan ibu. Rupanya ia tidak kuat menahan tekanan hidup dengan ayah yang setiap hari tidak ada pekerjaan yang jelas , sementara kebutuhan hidup sehari-hari harus terpenuhi. Rupanya selama ini ibu mengalami tekanan batin yang sudah tidak tahan lagi, sehingga dia melupakan segala-galanya.

Kasihan Ibu! selama ini hidup didera derita yang berkepanjangan, sementara kami pun tidak terurus dan hidup dalam kemelaratan. Kini aku menyaksikan sendiri keadaan ibu yang sesungguhnya, dia bukan menghindari rasa tanggungjawab, tetapi tekanan batin yang tidak bisa dikendalikan sehingga akhirnya harus menderita sakit jiwa.

“Sekarang ibu kamu sudah agak sedikit sembuh dibandingkan sebulan yang lalu. Setiap hari nenek datang ke sini untuk memberi makan dan selalu mengajak berdialog agar menghilangkan semua tekanan batin yang selama ini membelengu dirinya. Alhamdulillah, dengan berada di sini, rupanya Gusti Alloh memberi jalan kesembuhan…!” ucap nenek dengan suara agak berat.

Beberapa kali ibu meminta maaf kepada kami yang telah tega meninggalkan tanpa ada kabar berita.

“Ibu merasa hilang ingatan, lupa kepada siapapun. Jadi yang bergemuruh dalam dada itu adalah rasa dendam yang bergelora dan ingin membunuh ayah kamu…!” ucapnya sambil menutup wajah dan menangis terisak-isak, menahan sakit hati yang selama bertahun-tahun dipendam.

“Sekarang ayah kalian dimana?” tanya ibu.

“Sudah lebih 5 bulan tidak pernah ke rumah. Dia pun meninggalkan kami dalam keadaan kami kekurangan segala-galanya. Untung saja aku dan Ridwan bisa bertahan dan ada Pak RT yang selalu membantu kebutuhan kami sehari-hari,” katanya.

Ibu menarik napas. Bola matanya belum berhenti mengeluarkan air mata, seolah menumpahkan penyesalan yang selama ini terjadi.

“Sudahlah Bu jangan menangis terus….sekarang bagaimana kalau ibu tinggal di rumah nenek lagi…mau nggak?” tanyaku seraya memandang wajahnya. Ibu tidak langsung menjawab tetapi menatap ke nenek.

“Ya, lebih baik di rumah saja! Daripada berada di sini…kamu sendirian masih bisa bertahan…sudah saja sekarang pulang ke rumah!” kata nenek.

“Justru ibu sudah kesal berada di sini, ibu ingin meinggalkan gubuk ini. Tapi apakah masyarakat desa menerima aku tidak ya!” suaranya pelan. Kami terdiam tidak ada seorang pun yang memberi komentar. Kulihat sejak tadi adikku hanya tertunduk, dia seperti kebingungan menghadapi ibunya sendiri yang sudah berubah, bukan ibunya saat dulu masih berada di Bandung.

Aku dapat merasakan betapa berat beban yang dirasakan ibu, apalagi berada sendirian di gubuk seperti ini, ditambah tak ada kawan atau tetangga untuk bisa berkomunikasi. Apa saja kegiatan ibu yang dilakukan selama berada disini? Apakah tidak merasa bosan, kesal dan jenuh berada di tempat yang jauh dari penduduk?

Kulihat sejak tadi, anjingyang menemani Ibu duduk tidak jauh dari situ, bahkan sekali-kali berlari-lari mengejar seekor tikus yang masuk ke dalam lubang. Kemudian balik lagi mendekati kami. Terlihat matanya menatap kami seraya ekornya bergerak-gerak, seolah ingin mengenal kami lebih dekat.

Dalam suasana hening, tiba-tiba nenek berkata, “Jangan khawatir ibu akan datang kepada Pak Kades untuk meminta perlindungan agar jangan ada yang menganggu selama kamu di sini tidak membuat masalah dengan siapapun!”

Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya ibu bersedia untuk meninggakan gubuk derita itu, dengan catatan bahwa kami harus selalu menemaninya, sebab ibu sendiri mengakui kalau masih ada gangguan yang kerapkali datang tanpa diundang. Bisikan halus yang datang selalu mengajak kearah negative dan terkadang sulit untuk dihindari. Aku tidak mengerti bisikan apa yang selalu menganggu ibu?

Kami berbahagia dengan keinginan ibu yang ingin kembali berkumpul bersama kami. Nenek Ngatiyem sebenarnya sudah berulangkali mengajak ibuku untuk berada di rumah, namun entah bagaimana ibu bersikeras untuk tinggal di gubuk, dia ingin menyendiri dan menenangkan batin, meski terkadang banyak godaan makhluk halus yang datang.

Kehadiran ibuku di rumah nenek, sempat membuat penduduk timbul kekhawatira, sebab menurut mereka, perilaku ibu masih harus diawasi. Selama ini banyak kejadian yang meresahkan masyarakat desa. Bahkan awal datang ke kampug ini, terlihat sekali kondisi menral ibu yang sangat menakutkan warga, karena tindakan keras yang membahayakan orang lain, apalagi kepda anak-anak.

Kejadian yang dulu pernah dialami oleh beberapa warga kembali diungkap, yang tentu saja membuat aku bengong. Selama ini aku tidak mengetahui, bagaimana parahnya kondisi yang dihadapi ibu selama dia sakit jiwa di kampung ini. Berdasarkan laporan warga yang sampai kepadaku, sungguh membuat aku malu, karena pernah ibu telanjang bulat dan berjalan-jalan sendirian sambil berteriak-teriak tidak menentu. “Tidak hanya itu, banyak warga yang ketakutan tindakan Ibu Nina yang meresahkan, sehingga pernah dipasung di kebun milik Pak Kades, diikat kakinya selama lebih setahun,” ujar tetangga sebelah rumah saat aku ngobrol di warung untuk belanja sayuran.

Mendengar penuturan itu, aku hanya menghela napas dan bola mataku tak kuasa menahan air mata; terbayang betapa beratnya derita batin yang dirasakan ibu dan nenekku di sini. Warga desa sudah muak dengan keberadan mereka, namun apa boleh dikata nasib sudah mengantarkan harus begitu.

Terlalu pedih bila mendengar penuturan beberapa tetangga yang ditujukan kepada ibuku yang berujung terjadinya pengusiran warga dan mereka mendesak nenek segera untuk ditempatkan di gubuk yang jauh dari warga. Masalahnya karena banyak kejadian yang menimbulkan ketakutan warga, karena pernah selama beberapa hari mengejar-ngejar lelaki yang akan dibunuhnya. Untung saja belum ada warga desa yang terkena luka akibat kebrutalan ibu yang memang semakin membahayakan.

Dia menceriterakan awal Ibuku datang ke sini, rasanya tidak percaya melihat kondisi fisiknya yang semakin kurus, serta ngomong yang tidak menentu. Ditanya tidak menjawab, kecuali terdiam atau tiba-tiba menangis terisak-isak dan marah-marah. “Aku sedih ketika itu melihat beberapa anggota tubuhnya membiru bekas pukulan dan wajahnya kusam. Punggungnya penuh dengan luka memar serta kakinya seperti baru mendapat pukulan keras,” ucapnya.

Ingatanku kembali menerawang ke masa lalu. Ibu memang kerapkali mendapat siksaan yang diluar batas perikemanusiaan oleh ayahku. Hanya masalah sepele, ibu selalu mendapat omelan atau pukulan di wajahnya. Tidak hanya itu, kekerasan fisik menjadi bagian dalam hidupnya, sehingga wajar kalau ini hidupnya menderita, ditambah lagi di rumah tidak nasi dan lauk pauk untuk makan sehari-hari.

Tidak aneh kalau ibu meminjam kepada tetangga yang masih dipercaya dan mengetahui keberadaan hidupnya yang butuh bantuan. Namun tidak semua tetangga baik hati, ada saja tetangga yang cerewet dan membeberkan utang piutang yang ibu tanggung. Aku sedih melihat kenyataan begitu, apalagi sikap ayah yang sama sekali tidak memperlihatkan tanggungjawabnya. Aku tak habis dengan perilaku ayah; apa yang menyebabkan semua itu? Apa yang melatarbelakangi ia sampai tega menyiksa ibu atau terkadang kami yang tidak mengerti sama sekali.

Belakangan aku tahu, itu pun setelah ibu berceritera kalau ayah terlahir dari keluarga yang tidak bertanggungjawab kepada dirinya, sebab mereka bercerai dan membiarkan ayah kami hidup di pamannya yang keras dan galak. “Ayah pernah ceritera kalau dulu oleh paman sering sekali dipukuli kalau terlambat saja mencuci motor atau mengambil air di sumur,” itu ceritera ibu yang masih terngiang ditelingaku. Tidak hanya itu, ayah ternyata dibesarkan di terminal bersama-sama orang yang setiap hari keluyuran di malam hari dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, selain mengamen atau memeras.

Aku hanya menggelengkan kepala mendengar penuturan ibu seperti itu. Semua itu tidak lain disebabkan jauhnya kasih sayang antara anak dan orangtua. Ayah kehilangan sosok orangtua yang memperhatikan dirinya yang selama sangat dirindukan. Tanpa mengenal ayah dan ibu sejak lahir telah menerbitkan sikap yang keras dalam dirinya ayahku, sebab ternyata lingkungan sehari-hari tidak pernah memperhatikan tentang dirinya. Itu karenanya, ketika menikah dengan ibu yang berlatar belakang perkampungan serta memiliki latar belakang yang bertolak belakang, telah menimbulkan penderitaan yang bekerpanjangan.

Ibuku hanyalah sosok wanita desa yang polos, lugu dan lemah serta terlahir dari keluarga yang sederhana. Dia datang ke Bandung karena diajak oleh temannya untuk bekerja di sebuah konveksi, karena ibu kebetulan dulu pernah ikut kursus menjahit yang diselenggarakan di kantor desa untuk memperdayakan kaum perempuan. Rupanya kursus menjahit itu menjadi bekal yang sangat berharga bagi ibu, sebab ketika dia melamar di pabrik konveksi langsung saja diterima.

Di Bandung, ibu tinggal bersama teman sesama perantau dari Malang. Walaupun gaji tidak seberapa, namun karena hidup bersama dan tidur disediakan oleh pabrik, maka ibu menikmati pekerjaan sebagai penjahit. “Pokoknya ibu sangat bahagia bisa mengirim uang ke ibu dan bapak di kampung, meski tak seberapa namun ibu bangga telah bisa memberi kepada mereka,” ceritera ibu waktu.

Semua kisah ibu terekam dalam sanubari seakan menjadi dorongan bagiku agar hidup bisa membahagiakan orang lain. Aku merasakan betapa hancurnya hati ibu yang setiap hari ada dalam tekanan dan penderitaan.Setiap hari kusaksikan ayah menyiksa dengan potongan kayu sampai kayu itu hancur, kemudian membentur-benturkan kepala ibu ke meja. Sungguh biadab tindakan ayah itu dan bukanlah dia sebagai suami yang menyayangi istrinya.

Tangannya yang mudah menampar atau kakinya yang tanpa ragu langsung menendang ulu hati, sehingga ibu pernah pingsan karena merasakan sakit yang luar biasa. Ibu minta cerai hari itu, tetapi bukannya dikabulkan permintaan itu, malah mendapat kekerasan fisik yang lebih hebat. Baru berhenti menyiksa kalau aku dan adikku sudah menjerit-jerit histeris dan berontak pada ayah agar jangan bertindak menyakiti ibu.

Nasib keluarga kami memang merupakan takdir yang tidak bisa dihindari dan juga tidak perlu disesali. Semua itu adalah kehendak Allah Swt. Meski kami merasakan pahit getirnya berada dalam neraka ayahku, tetapi kami tetap bersabar. Namun lama kelamaan ibuku runtuh juga kesabarannya, walaupun kerapkali ibu diam-diam bangun ditengah malam memohon diberi perlindungan dan kekuatan, tetapi karena ibu sosok wanita yang lemah dan tidak bisa berbuat banyak; dia hanya mencucurkan air mata menghadapi kekerasan ayah.***

Bagian Ketiga

Aku Hamil

Baru kusadari bahwa selama ini perilaku ayahku yang kerapkali memerkosa aku di rumah telah menyimpan benih-benih yang merupakan janin dalam rahimku. Semula aku tidak begitu peduli, namun lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang lain dalam tubuhku. Bahkan aku terus terang saja semua masalah yang pernah kurasakan, aku sampaikan kepada ibu dan nenekku. Mereka tercengag kaget ketika mendengar aku kerapkali di perkosa. Seketika ibuku menangis terisa-isak seraya memelukku erat-erat dan meminta maaf atas tindakan ayahku yang sangat keterluan. Sementara nenek tak dapat kemarahan dan dendam membara dalam dadanya; terlihat mimic mukanya yang menyimpan kekesalan.

“Dasar lelaki kurang ajar!” teriak nenek dengan mata memerah.

“Sudahlah Bu!. Semua ini harus kita atasi dan hadapi bersama. Kasihan kepada Nurul yang harus menderita berkepanjangan. Bagaimana pula bayinya yang suci bersih dan tidak pernah tahu tentang jalan hidup yang akan dilalui,” kata ibu dengan suara yang keharuan dan kesedihan yang mendalam. Ia tidak bisa menerima kalau cucunya harus menjadi budak nafsu ayah kandungnya sendiri.

“Azab apa yang akan ditimpakan kepada ayahmu dengan perbuatan setan itu!” ucap nenek dengan tak kuasa membendung air mata yang tak berhenti terus menetes dari kelopok matanya. Wajahnya yang sudah keriput seakan bertambah keriput dengan beban yang harus dihadapi. Sudah dapat kubayangkan; bagaimana nenek menghadapi cemoohan dan ejekan dari tetangga di sekitar kalau cucunya sudah hamil duluan tanpa ada pernikahan. Tentu akan hancur hati nenek.

Aku hanya terdiam dan menahan gejolak nafsu yang bergerlora dalam dadaku. Wajah ayah seakan kembali terbayang dalam benakku, yang tentu saja membuat aku terbit kembali amarah. Aku dendam dan ingin sekali membunuh orang yang telah menghancurkan masa depanku. Sekarang siapa lelakinya yang mau sama aku? Aku sudah hamil duluan dan bayi yang dikandung adalah darah daging bapakku. Apa kata warga kalau mereka tahu bahwa aku dihamili oleh ayahnya sendiri; sungguh suatu perbuatan keji yang sangat hina dan tak pantas aku berada di desa ini, karena akan membawa malapetaka yang berkepanjangan.

“Apa sebaiknya digugurkan saja kandungan itu” tiba-tiba ibu berkata begitu.

Nenek langsung menimpali, “Jangan! Kasihan sama bayi yang ada dalam kandungan. Lagi pula risikonya besar, bagaimana kalau Nurulnya tidak kuat menahan sakit dan meninggal kedua-duanya. Itu dosa besar! Suami kamu telah melakukan perbuatan dosa yang tercela dan akan berakibat kepada dirinya sebelum meninggal dunia!”

Aku hanya diam dan tidak berkata sepatah katapun. Hatiku hancur bahwa aku lahir ke dunia membawa derita bagi semuanya, tidak hanya adik, ibu, nenek, tetapi juga membawa aib bagi warga kampung. Aku khawatir bagaimana kalau seandainya mereka tahu bahwa aku kini telah mangandung janin hasil perbuatan ayahku.

“Marilah kita belajar menerima apa yang telah terjadi pada kita. Sepahit apapun peristiwa itu, ada hikmah yang tersimpan. Mudah-mudahan semua ini menebus dosa kita,” ucap nenek yang terus menerus menyusut air mata yang meleleh di pipinya. Duka dan derita seakan menyatu dalam diri kami.

Kami pun harus berjuang melawan semua kepahitan hidup yang kini kami rasakan. Kami tidak boleh putus asa, itu amanat nenek, sebab orang yang berputus asa adalah orang yang tidak beriman. Keimanan kita sedang diuji Allah, sehingga kita harus terus memohon petunjuk-Nya. “Biarlah semua yang terjadi ini kita hadapi dengan keikhlasan dan jangan sekali-kali menyesali nasib yang sudah ditakdirkan Allah,” katanya.

Rumah nenek yang sedernana dengan dua kamar kecil yang dihalangi kayu triplek, serta ruang tamu berukuran 1 meter persegi, terasa sangat sempit. Aku tidur dengan nenek, sementara Ridwan dengan ibuku. Kami tidak mampunyai ranjang, tidur pun hanya beralaskan kasur yang sudah lapuk. Bantal sudah lama belum pernah diganti, berukuran kecil. Lampu yang menerangi kami hanya 10 watt, yang dibagi menjadi dua tepat diatas kayu triplek pembatas kamar kami.

Tidak ada televise atau kulkas di rumah kami, hanya radio berukuran 20 x 30 model lama sekali, namun suaranya keras. Nenek tiap sore suka mendengarkan radio dengan acara pengajian atau malam mendengar suara wayang kulit. Dia sangat gemar sekali mendengar wayang kulit sampai menjelang malam. Aku tidak mengerti bahasanya, sebab menggunakan bahasa Jawa. Namun sedikit demi sedikit aku mulai beradaptasi dengan bahasa Jawa.

Rumah kami tidaklah berdekatan dengan tetangga, jadi ada jarak yang memisahkan sekitar 2 sampai 3 meter. Meski rumah kami kecil, tetapi nenek dibelakang rumah mempunyai kebun berukuran tidak kurang 50 meter yang cukup untuk menanam berbagai sayuran. Kebun itulah yang dijadikan nenek sebagai lahan untuk kami hidup, bahkan nenek pun rajin memelihara beberapa ekor ayam. Nenek pandai menanam sayuran dan bisa dijual ke pasar. Itu yang bisa menghidupi kami sehari-hari.

Ruang dapur pun tidak menggunakan kompor atau gas, namun memakai tungku yang terbuat dari batu. Nenek biasanya mencari kayu bakar untuk memanaskan air atau menanak nasi. Kamar mandi memakai sumur yang tidak terlalu dalam. Jadi setiap hari kami mandi menggunakan air sumur yang bersih.

Secara perlahan-lahan kami mengawali hidup dalam keadaan yang tidak lepas dari duka dan derita. Namun nenek bagi kami sosok yang memberi semangat, sebab usianya yang sudah tua tidak menghalangi untuk tetap bekerja setiap hari, bahkan dia sudah terbiasa berjalan kaki berkilo-kilo, itu yang membuat aku kagum. Aku banyak belajar dari cara nenek hidup dan menghadapi berbagai masalah yang datang bertubi-tubi.

Perutku dari hari ke hari terus mengalami perubahan. Aku menutupi diri dengan berada di rumah atau berada di kebun membantu nenek menanam sayuran atau memetik cabai. Aku berusaha untuk belajar menanam berbagai sayuran di kebun itu. Tidak ada satu jengkal tanah pun yang dibiarkan tanpa ada tanaman disitu. Demikian pula ayam yang kami pelihara, terus bertambah meski kami pun harus menyediakan pakannya. Namun itu tidak sulit, sebab warga kampung sudah tahu kalau ada kelebihan makanan atau sudah tidak dipakai lagi, mereka biasa memberikan kepada nenek.

Ridwan pun disekolahkan di SD Inpres dengan tidak ada biaya yang harus dikeluarkan karena pemerintah telah memberi gratis kepada warga kampung. Tentu saja hal itu sangat menggembirakan dan meringankan beban orangtua. Ridwan memang memiliki bakat yang luar biasa, sebab ternyata dia memiliki prestasi yang patut dibanggakan. Ia cepat beradaptasi dengan lingkungan hidup yang baru.

Ibu tidak tinggal diam, seraya bangkit menghadapi keadaan di rumah serta lebih termotivasi untuk bekerja keras manakala melihat aku dan Ridwan yang membutuhkan biaya. Apalagi nanti kalau bayi dalam kandunganku akan lahir. Tentu semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya persalinan pun harus dipersiapkan sejak sekarang. Belum lagi biaya popok dan keperluan bayi.

“Pokoknya kita harus yakin, setiap bayi yang lahir ke dunia sudah memperoleh rejekinya masing-masing. Jadi tidak perlu takut dengan rejeki Allah yang berlimpah ruah di langit dan di bumi. Perhatikan saja ikan yang ada di lautan. Berapa ratus juta ikan-ikan bertebaran di laut, namun mereka tetap hidup dan ada yang memberi rejeki. Itu adalah contoh yang berharga bagi kita!” ujarnya.

Nenek Ngatiyem tidak henti-hentinya terus memberi nasihat kepada kami, sehingga bagi kami bagaikan cahaya di gelapan. Ucapan nenek memberi inspirasi dan semangat bergelora bagi kami. Pengalaman yang sudah mendalam yang pernah dilalui nenek memberikan ketegaran jiwa terhadap masalah yang kami hadapi.

Dulu pernah terlintas hendak mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Bahkan teringat kembali ketika aku sudah mengambil tambang plastic yang diikatkan di pintu. Aku sudah memejamkan mata dan siap bunuh diri. Namun secara tiba-tiba adikku Ridwan berteriak histeris ketika ia melihat apa yang akan aku lakukan. Aku tersentak kaget dan segera memburu Ridwan sambil menangis.

Ingat semua itu, berulang kali aku istigfar, seandainya tidak ada Ridwan yang melihat perbuatan nekatku, mungkin aku sudah berada di alam kubur. Mungkin aku mendapat siksaan yang terus menerus, sebab kata nenek, bunuh diri adalah perbuatan dosa besar yang akan mendapat siksa terus menerus. Na’udzubillah!

Usiaku kini menginjak 16 tahun. masa indah remaja hanyalah tinggal impian belaka. Namun aku kini telah menyimpan seorang bayi di rahimku, hasil perbuatan biadab ayah yang telah menghancurkan masa depanku. Aku berharap bayi ini lahir sempurna, meski yang melakukan adalah ayahku. Ayah tidak pernah tahu dengan perilaku yang sudah dilakukan padaku. Dia menghilang tanpa jejak dan kabar. Bagiku sudah beruntung dia tidak pernah kembali ke rumah, sebab biasanya kalau berada di rumah, dia memaksa aku untuk melayani nafsu iblis yang sudah merasuk dalam jiwanya.

Aku tak bisa berbuat banyak, kalau ayah sudah memperkosa; aku hanya bisa menangis sekeras-kerasnya dan memohon agar aku segera saja mati di dunia ini, sebab aku tak kuasa menahan malu yang harus aku tanggung. Ayah benar-benar setan berwujud manusia, kepada anaknya sendiri tega berbuat nista. Otaknya disimpan dimana? Ia benar-benar binatang jalang! Seringkali aku mengutuk atas perbuatan ayah itu, namun dipikir-pikir aku jadi capai sendiri, malah dendam membara seakan berkobar dalam dadaku. Aku ingin sekali membunuh ayah, namun bagaimana kalau aku masuk penjara? Ih, ngeri bertahun-tahun harus mendekam di jeruji besi, siapa yang senang dan enak hidup dalam penjara.

Hidup bersama nenek dengan segala kekurangan dan keterbatasan telah mengawali semangat kami yang sudah rapuh. Ibu belum boleh banyak kerjaan di rumah oleh nenek. Dia dibiarkan saja bekerja sesukanya. Secara bertahap sakit jiwanya berangsur-angsur sembuh, boleh jadi semua itu karena upaya yang dilakukan nenek. Kesababarannya menghadapi ibuku, telah membuahkan hasil. Ibu yang sudah ada 5 tahun sakit jiwa mulai terlihat ada perubahan. Dia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Ibupun mulai mau belajar kembali membuat jahitan. Bahkan waktu dihabiskan untuk membuat baju kecil menyambut bayiku. Aku bahagia ternyata ibu sudah bisa diajak komunikasi meski harus lama, sebab terkadang ibu masih melamun dan mencucurkan air mata. Boleh jadi luka lama tergugah kembali. Untung saja nenek bisa memberi nasihat dan mengajak ibu untuk mengaji Al-Quran setiap hari.

“Insya Allah, dengan mengaji Al-Quran setiap hari…kamu akan sembuh dengan sendirinya. Serahkan seluruh hidup dan mati kepada Allah. Kita adalah makhluk lemah dan tidak berdaya kecuali hanya berharap pertolongan Allah semata,” kata nenek.

Ibu sangat menurut terhadap apa yang dikatakan nenek, terbukti sekarang tidak ada waktu kosong kecuali selalu membaca Al-Quran.. Meski agak terbata-bata, karena sudah lama tidak dibaca, namun terbukti telah memberi perubahan yang sangat berarti bagi ibuku. Aku dan adik pun oleh nenek diperintahkan untuk selalu membaca Al-Quran. “Jangan biarkan waktu berlalu tanpa membaca Al-Quran. Wahyu Allah itu adalah mujizat terbesar di dunia yang akan membawa keselamatan bagi siapa saja yang mau mengamalkan,” katanya.

Nenek Ngatiyem selalu menyempatkan waktu membaca Al-Quran. Selesai sholat 5 waktu, 30 menit dia duduk dan membaca beberapa ayat yang sudah dihapal. Ia sangat fasih dan kuat selama berjam-jam untuk sekedar membaca Al-Quran. Kami pun bangga dan kagum dengan pribadi nenek yang begitu sangat mencintai Al-Quran. Nyaris tidak ada waktu yang terbuang.

Dia hampir tiap hari menanyakan kondisi badanku, termasuk juga perasaan yang ada dalam hatiku. Bila ditanya demikian, aku tak bisa berkata banyak selain menundukkan kepala,sebab yang terpikirkan olehku adalah bayi yang ada dalam kandungan. Aku memikirkan bagaimana memelihara bayi serta apa reaksi warga bila aku ternyata sudah hamil diluar pernikahan. Aku hanya pasrah saja terhadap semua kepedihan yang pasti akan aku alami.

“Jangan terlalu membayangkan keadaan buruk yang akan dialami kelak, tetap bermohon yang terbaik. Kamu sekarang mengandung bayi suci, adapaun ayah kamu tidak perlu dipikirkan sedetik pun, sebab akan membuat kamu menyimpan dendam berkepanjangan. Serahkan semua kepada Allah,!’ ujar nenek ketika melihat beberapa hari terakhir ini wajahku muram dan tidak bergairah. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Bayiku dalam kandungan. Bagaimana kalau suatu ketika dia menanyakan bapaknya? Apa yang harus aku jawab?” ucapku dengan suara agak gemeter menahan rasa pedih yang kembali bangkit dalam ingatanku.

Nenek seperti tersentak mendengar itu, sesaat dia hanya menarik napas dalam-dalam. Wajahnya pun terlihat sayu.Sementara ibu yang tengah membereskan baju milik Ridwan hanya melirik, lalu berkata:

“Katakan saja kalau bapak sedang pergi jauh,”

“Bagaimana kalau dia ingin mencari bapaknya?”

Nenek yang dari tadi hanya terdiam saja, tiba-tiba berkata,”Segala sesuatu yang terjadi di belahan muka bumi ini, telah direncanakan dan diatur oleh yang Maha Kuasa yaitu Allah Swt. Mengapa kita mesti bingung memikirkan masa yang akan datang?”

“Bukan begitu Nek! Tetapi aku ingin ada persiapan terhadap pertanyaan yang kelak akan diajukan oleh anakku. Tidak hanya itu, tetapi aku juga ingin bisa menjelaskan kepada warga kampung status anakku ini. Bagaimana mencatat di akta kelahiran serta bagaimana menutupi aib yang terjadi pada kita?”

Pertanyaan itu membuat ibu dan nenekku tidak bisa berkata apa-apa. Mereka sendiri terlihat kebingungan, terutama lagi bagaimana menjelaskan kepada warga kampung di sini. Siapa bapaknya?

“Sudahlah, biar nenek saja nanti yang akan menjelaskan kepada warga kampung kalau ada yang bertanya. Berdoa saja kalian, agar selama berada di sini, tidak ada sesuatu yang membuat kalian menjadi malu. Apalagi selama ini, warga sudah tahu kalau ibu kamu sudah kembali pulang ke rumah, meski beberapa warga ada saja yang masih curiga. Khawatir kalau-kalau Nurul kambuh lagi sakit gilanya,”

“Aku kasihan saja sama nenek, banyak masalah yang harus diatasi, aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa, apalagi nanti saat akan melahirkan. Aku mau melahirkan dimana?”

“Sudahlah, kita hadapi semua masalah ini. Insya Allah, semua ini adalah ujian dari Allah Swt, kita harus bisa mengatasi semua itu. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkin akan membiarkan kita terus menerus direlung duka!”

Beberapa kali aku menarik napas panjang, seakan menumpahkan semua masalah yang membelengu dalam jiwaku. Kurasakan perutku bergerak-gerak pelan, ya usia kandungan sudah 4 bulan, berarti 5 bulan lagi bayiku akan lahir ke dunia. Dalam hati kecilku, aku tidak berharap sekali anak ini lahir, sebab akan membawa aib bagi keluarga kami. Terlebih bagi bayinya sendiri, sebab dia adalah darah daging bapakku, yang juga kakeknya. Ah, rasanya kalau sudah ingat semua kebiadaban ayah, aku ingin segera saja mati, agar semua masalah yang kuhadapi berakhir. Aku tak kuat menghadapi kepedihan batin ini.

Berdiam diri di rumah seraya memikirkan bayi dalam kandungan adalah kepedihan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Aku menutup diri dari ingkungan warga, sebab takut kalau kandunganku semakin membesar, warga akan curiga dan menanyakan keberadaanku. Ibuku yang kerapkali memberikan nasihat menghadapi semua itu,

“Kalau kamu terus saja dilanda kesedihan, kasihan bayi dalam kandungan. Sekarang belajarlah menerima apa yang telah terjadi pada kita!” katanya seraya menatap wajahku. Kata-kata seakan nasehat untuk dirinya sendiri, sebab ibu pernah mengalami goncangan hidup yang bertubi-tubi menerpa dirinya. Rasanya aku baru mendengar ucapan itu. Mungkin selama ini, ibu tengah berjuang melawan kedukaan yang mencabik-cabik hatinya. Ia yang sudah pernah sakit jiwa serta hidup menyendiri di gubuk terpencil telah memberikan pelajaran yang sangat berharga.

“Tidak mudah untuk menerima takdir yang sudah ditetapkan Allah Swt. Aku terkadang protes terhadap Allah, apa dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan, sampai aku harus menderita begini?” ucapku lirih.

“Ibu merasakan apa yang kamu rasakan. Jadi ibu hanya mencucurkan air mata menghadapi semua ini. Habis apa lagi? Semua ini bukan kehendak kita! Makanya kesabaran harus menjadi pegangan kuat dalam jiwa kita. Apa yang penah ibu alami, semua karena ibu tidak sabar dan tabah menghadapi semua itu. Mudah-mudahan, kamu tidak mengalami apa yang pernah ibu alami dan rasakan. Makanya ibu setiap hari hanya bisa berdoa dan mencucurkan air mata, memohon kebaikan pada Allah!”

Aku terdiam. Ya sering aku lihat ibu selalu mencucurkan air mata, seakan menyesali terhadap apa yang telah terjadi. Untung nenek yang selalu mengingatkan kami. Kami sudah rapuh dan tak berdaya, tetapi kami sering bahagia bila mendengar adikku Ridwan ternyata memiliki prestasi yang sangat membahagiakan kami.

Ridwan ternyata di sekolahnya memiliki kelebihan yang luar biasa, bahkan terbilang anak jenius. Guru-guru di sekolahnya pun merasa heran dan kaget melihat kemampuannya mengerjakan soal matematika secara cepat dan benar. Sementara anak-anak yang lain, jauh dibawah kecerdasan Ridwan.

Aku sendiri kaget setiap kali ulanga, ia selalu mendapat nilai 10, semua benar apa yang dikerjakan. Tidak hanya matematika, tetapi seua mata pelaajaran di sekolah, dikuasai dengan baik. Padahal di rumah dia biasa-biasa saja, bahkan yang kami perhatikn dia hanya belajar 1 atau 2 jam per hari, lalu sehari-hari banyak menghabiskan waktu di kebun bersama kami. Dia senang naik pohon jambu dan bernyanyi sendirian. Teriakannya sangat keras dan terdengar sampai jarak beberapa meter.

Dia menjadi kebanggaan kami dan harapan masa depan. Terlebih sekarang kami mendapat kabar kalau Ridwan diikutsertakan dalam Olympiade Fisikat tingkat SD nasional. Guru IPA, Pak Sobirin telah datang ke rumah dan meminta agar Ridwan mengikuti pelatihan selama sebulan untuk mengikuti olympiade tersebut.

Tentu saja kami mengizinkan dan memberi dorongan kepadanya agar memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan itu.

“Insya Allah, Ridwan ini anak jenius dan luar biasa prestasi ke sekolah. Nilai semua rata-rata 10, jadi kami percaya penuh kalau nanti iktu latihan olympiade di Jakarta, dia akan menjadi juara yang hebat,” ujar Pa Sobirin yang mengenakan kaca mata tebal.

“Alhamdulillah, teryata kamu memberi kebanggaan pada kami. Semoga ilmu kamu bermanfaat bagi kebanyakan orang,” ujar ibu seraya mengusap-usap kepala Ridwan, ada secercah kebahagiaan dibalik duka yang terus menerpa kami.

“Tapi bagaimana dengan pelatihan itu, apakah sekolah tidak akan terganggu?” tanya nenek.

“Kepala sekolah sudah memberikan jaminan. Pokoknya Ridwan ditanggung segalanya, termasuk untuk keperluan sehari-hari…pokoknya ikuti saja satu bulan di Jakarta!”

Kami hanya mendoakan saja, tatkala Ridwan hari itu juga harus bersiap-siap untuk keberangkatan ke Jakarta. Kami sedih tatkala dia akan meninggalkan kami, bahkan nenek berlinang air mata akan ditinggal cucunnya selama sebulan.

“Sudahlah nek, kita doakan saja. Semoga Ridwan bisa mengharumkan sekolah kita!” ucap ibuku ketika melihat nenek sangat berat ditinggal cucunya. Bahkan berkali-kali ia mencucurkan air mata tatkala Ridwa sudah keluar rumah.

Ridwan melambaikan tangan kepada kami, terlihat matanya berkaca-kaca. Pak Sobirin bersama Ridwa berjalan kaki sampai menghilang di belokan. Kami masih berdiri di halaman rumah, dan kulihat wajah nenek sudah basah dengan air mata. Kalau ibuku,biasa-biasa saja. Sementara aku hanya menarik napas panjang; keharuan bercampur baur dalam dadaku. Selama ini aku sering bercanda dengan dia, namun sebulan aku kehilangan dia. Tetapi kami berharap kepulangan Ridwan membawa kebahagiaan bagi kami, paling tidak Ridwan menjadi siswa yang dibanggakan di sekolah.

Kepergian Ridwan ke Jakarta telah membuat hati kami sedih, karena di rumah yang biasanya ramai menjadi sepi. Biasanya, anak itu akan bicara lantang dan terkadang membuat kami tertawa kalau sudah bercanda. Dia selalu membuat suasana menjadi ceria, bahkan terkadang aku tertawa terpingkal-pingkal ketika menceriterakan gurunya yang sengaja dipermainkan oleh beberapa siswa nakal.

Meski sedih dan berat hati, tetapi apa boleh buat, toh itu adalah jalan terbaik bagi Ridwan. Siapa tahu dengan kepergiannya ke Jakarta membawa perubahan bagi kami? Paling tidak kami mempunyai harapan besar terhadap Ridwan yang bisa mengangkat keluarga kami. Kami memang keluarga yang dibebani aib yang luar biasa berat, apalagi bila aku mengingat nasibku sekarang, kemudian ibu yang sudah agak sembuh dari penyakit jiwanya.

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, selain mendekatkan diri kepada Allah dan bersabar terhadap semua yang kami alami. Kami keluarga yang sangat lemah, miskin dan tidak mempunyai pendapatan yang jelas setiap bulannya. Kami selalu dirundung duka karena banyak kekurangan. Tak terbayangkan dalam benak kami, bagaimana nanti bayi yang lahir harus dirawat dan berapa biaya yang harus kami keluarkan?

Bila ingat semua itu, rasanya bumi ini berputar kencang dan tak dapat menahan goncangan yang hebat dalam dadaku. Aku ragu menghadapi masa depan dan bingung, apa yang harus kulakukan? Bagaimana nanti kalau aku akan melahirkan, darimana biaya persalinan? Pertanyaan itu membuat aku melelehkan air mata. Sekarang saja, kami kerapkali makan seadanya. Untung masih bisa makan hasil nenek menjual sayuran ke pasar. Bagaimana kalau nenek sudah tidak ada?

Ibuku belum bisa berbuat banyak. Dia masih mengalami trauma dalam hidupnya. Aktivitas di rumah pun dibatasi, sebab masih terasa ada yang sakit dalam tubuhnya. Dia terkadang seharian berada di kasur sambil memegang tasbih atau duduk di kursi seraya menjahit baju aku dan adikku. Tidak banyak yang dapat dikerjakan, sebab terkadang terasa pusing kepala atau badan yang mendadak sakit. Entah penyakit apa yang kini sedang diderita ibu. Aku khawatir ibu jatuh sakit lagi. Itu karenanya, aku selalu mengajak ibu ngobrol masa-masa saat indah dalam hidupnya. Tetapi terkadang pembicaraan tidak nyambung, aku maklum. Boleh jadi pikiran ibu sedang tak menentu.

Nenek Ngatiyem menjadi sosok wanita teladan bagi kami di saat aku dan ibuku menjadi beban berat. Kuakui ibu belum normal 100 %, masih ada sisa-sisa sakit jiwanya yang ada dalam pikirannya. Tapi beruntung tidak separah dulu yang kerapkali berteriak-teriak atau mengejar anak-anak kecil sehingga banyak warga kampung yang ketakutan. Tak dapat kubayangkan, bagaimana nenek menghadapi semua itu? Apalagi dia seorang perempuan tua. Untung saja, nenek bisa bertahan diatas tekanan penderitaan ibuku.

Sulit membayangkan keadaan nenek ketika ibu tengah sakit jiwa. Di rumah nenek menjadi bulan-bulanan dan tidak tenang ketika penyakit gilanya muncul. Nenek Ngatiyem pernah menceriterakan kisah yang sangat memilukan, terlebih ketika ibuku dalam keadaan yang sudah tidak ingat apa-apa. Dia bertindak bagaikan binatang liar. Perabot rumah tangga dihancurkan, bahkan rumah nenek hampir saja dibakar, kalau tidak segera diamankan warga kampung.

“Bila ingat masa itu, nenek tak dapat menahan air mata, sebab bingung menghadapi orang gila. Meskipun dimarah oleh kita, dia malah tertawa sendirian, bahkan nenek sendiri pernah diancam dengan pisau tajam, sehingga terpaksa nenek tinggal di rumah tetangga,” ujarnya.

Kasihan ketika ibuku harus dipasung atas desakan warga kampung yang mengkhawatirkan keadaan yang sangat membahayakan warga. Tidak ada warga yang berkeinginan membawa ibuku ke rumah sakit jiwa, apalagi lokasi rumaj sakit sangat jauh dari perkampungan. Di samping itu, siapa yang akan menanggung biaya keperluan sehari-hari selama berada di rumah sakit jiwa, sementara nenek Ngatiyem hanyalah seorang tua Bangka yang tidak jelas pekerjaannya.

Banyak warga yang menaruh belas kasihan kepada ibuku, sehingga setiap hari diberi makan secara bergiliran. Namun makanan yang enak sekalipun tidak segera dimakan, malah dilempar-lemparkan kepada orang yang lewat. Baru kalau perutnya sudah merasa lapar, maka ia akan makan lahap sekali. Ibu setiap pagi dan sore memandikan tubuh ibuku, sebab kalau tidak dibersihkan sangatlah kotor dan bau, sebab bercampur dengan kotoran. Walaupun kadang dimarahi saat memandikan, namun dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, lama-kelamaan ibuku tidak lagi bersikap kasar.

Nenek selalu berdoa setiap hari dan memohon petunjuk kepada Allah, sebab untuk tapi membawa ke rumah sakit jiwa, sangat tidak mungkin, apalagi dia hanya seorang buruh serabutan. Jangankan untuk membiayai orang yang sakit jiwa, untuk kebutuhan sehari-hari, nenek sangat kewalahan, untung saja banyak tetangga yang membantu.

Rasanta tak kuasa seringkali aku meneteskan air mata bila nenek sudah menceriterakan perjalanan hidup ibu yang datang ke sini dalam keadaan bertumpuk nestapa, duka dan derita yang berkepanjangan. Nenek banyak mengisahkan duka yang bagiku menjadi pelajaran yang sangat berharga. Aku tidak boleh hidup didera derita yang tak menentu; aku harus bangkit menghadapi semua ujian, aku tidak mengeluh dan putus asa. Justru aku harus mampu bangkit menghadapi kepedihan dan kedukaan.

Kehidupan sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari ujian, bahkan segala apa yang kita kerjakan di dunia, semuanya merupakan ujian yang harus dihadapi. Orang yang beriman adalah pasti akan mendapat cobaan yang boleh jadi sangat berat dan sulit dipecahkan, namun bila kuat menghadapi ujian itu, maka keberhasilan ada ditangan kita. Kesuksesan bukan seperti membalikkan tangan, tetapi membutuhkan pengorbanan. Aku menyadari bahwa apapun keinginan yang didampakan tidak semudah yang kita bayangkan.

Aku yang masih belia dihadapkan dengan permasalahan yang cukup berat dan yang harus kutanggung bebant adalah bayi yang ada dalam kandungan. Aku dihadapkan dalam kehidupan orang dewasa. Padahal usiaku saat sekarang ini sedang indah-indahnya menikmati masa remaja, bercanda dan tertawa riang bersama. Namun keindahan itu menjadi mimpi dan bayangan belaka, karena masa remajaku telah dibunuh oleh kebiadaban ayah kandung sendiri.

Aku harus kuat dan sabar menghadapi beban berat ini, terutama layaknya seorang wanita, aku harus siap-siap menghadapi persalinan dan mengasuh bayi. Aku sudah tak peduli dengan bayi yang kelak akan lahir dari rahimku. Meski sampai sekarang kebingungan, bagaimana kalau warga kampung tahu dan siapa bapaknya? Tak dapat dibayangkan betapa malu dan hilanglah harga diri kami karena aku melahirkan seorang bayi yang sesungguhnya bapaknya adalah sekaligus kakeknya sendiri.

Bila sudah membayangkan kearah sana, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menangis terisak-isak. Ibu hanya menatapku dan tidak bisa berbuat lain, kecuali hanya satu kata yang keluar dari mulutnya : bersabarlah. Kata itu benar-benar membuat aku terdiam, sebab telah membungkam apapun gejolak dalam hatiku. Aku hanya menahan napas yang terasa semakin sesak dan sulit untuk bernapas. Andaikan aku bisa terbang secepat burung elang ke ujung dunia, maka hari ini pun aku akan terbang menembus batas dunia,biar aku terbang di awing-awang.

Aku berharap kehadiran bayi di rumah nenek tidak menimbulkan masalah baru. Aku khawatir kalau warga desa mengusir kami sebab kami telah berbuat zinah yang tidak dibenarkan sama agama. Kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi ketika kurasakan semakin hari perutku mulai membesar. Apakah aku harus sembunyi? Berlari dari rumah ini agar tidak diketahui oleh warga desa, sebab kami khawatir ada reaksi yang tidak baik terhadap keadaanku.

Nenek Ngatiyem pun kerapkali kulihat terpenung, boleh jadi tengah memikirkan jalan keluar menghadapi perutku yang secara perlahan namun pasti terus membesar. Pernah tercetus dalam ingatanku, agar aku berada saja di gubuk yang dulu ibuku pernah tinggal disana. Tetapi nenek langsung melarangku.

“Jangan. Nenek mempunyai rencana,kamu akan dititipkan di daerah yang sangat jauh dri sini. Di rumah Nek Ijem, adik nenek yang rumahnya berada jauh dari kota. Dia sudah menjanda dan hidup sendirian. Mudah-mudahan dengan kedatangan kamu ke sana, Nek Ijem tidak kesepian. Aku ingin sekali berkunjung ke sana , sekalian dengan kamu.”

“Kalau begitu itu lebih baik, kita ke sana saja, agar aku bisa tenang hidup bersamanya. Di sini, nanti warga desa banyak yang bertanya tentang keadaan bayi dan siapa pula bapaknya!”

“Ya kita persiapkan saja untuk ke sana. Kita rencakan saja sesudah Ridwan pulang mengikuti perlombaan Olympiade Fisika!”

Aku mengangukkan kepala. Ada baiknya aku bisa tinggal bersama Nek Ijem, agar aku terjauh dari omongan yang menyakitkan terutama kepada nenek Ngatiyem. Biarlah dia memelihara ibuku yang belum sembuh benar dari sakit gilanya. ***

Memang dengan tidak adanya Ridwan mengikuti perlombaan di tingkat nasional kami merasa kehilangan. Namun demikian, kami mendapat kabar kalau Ridwan selama mengikuti perlombaan mampu memperlihatkan prestasi yang mengagumkan. Itu kami peroleh ketika ada guru yang datang ke rumah kami dan menyampaikan kabar gembira itu.

“Wah, Ibu beruntung mempunyai anak secerdas Ridwan, dia mendapat julukan sebagai anak jenius, karena mampu mengalahkan peserta dari daerah lain, bahkan sekarang sedang babak final, nah oleh bapak kepala sekolah saya disuruh menyampaikan itu,” ujar Pak Said saat datang ke rumah kami menyampaikan kabar berita itu.

“Alhamdulillah…Ridwan ternyata kamu bisa membahagiakan kami!” ujar Ibuku seraya bangkit dari tempat tidurnya, ia membetulkan rambutnya. Wajahnya ceria mendengar kabar itu. Demikian pula nenek Ngatiyem terpancar kegembiraan mendengar kabar itu. Sama sekali tidak menduga kalau Ridwan ternyata anak yang patut dibanggakan dan menjadi penghibur disaat kami tengah dirundung duka nestapa.

Baru kali ini aku melihat kegembiraan ibu. Bahkan berulangkali dia membisikkan doa agar anaknya berhasil memenangkan perlombaan tersebut.

“Mudahan-mudahan dua hari lagi, Ridwan bisa pulang. Tentu kami akan menyambut Ridwan sebagai pahlawan di sekolah karena berhasil memenangkan kejuraan tingkat nasional,” ujar Pak Said lagi.

Aku yang sejak tadi mendengarkan, tak dapat menutupi kebahagiaan itu. Bahkan beberapa kali aku mengucap syukur terutama melihat ibuku yang terlihat sangat jelas wajahnya diliputi kebahagiaan yang mendalam.

Kabar dari Pak Said tidak salah karena dua hari kemudian, Ridwan akan pulang ke rumah diantar oleh kepala sekolah, guru-guru dan siswa karena dia menjadi suara pertama olympiade fisika tingkat nasional. Tentu saja kami nyaris tidak percaya, Ridwan akan membawa perubahan pada keluarga kami.

Sehari sebelumnya, Pak Said mengabarkan kepada kami bahwa Ridwan akan diarah dari sekolah menuju rumah karena berhasil sebagai juara pertama perlombaan tingkat nasional dan mengharumkan nama sekolah. Aku seakan tak percaya dengan adikku ini, dia biasa-biasa saja selama ini, tidak memperlihatkan sebagai anak yang cerdas. Bahkan belajar pun hanya beberapa jam saja, tetapi mengapa dia memiliki prestasi yang luar biasa hebat. Kami semua bahagia, terlebih lagi bahwa ternyata warga akhirnya merasa bangga ada seorang anak jenius yang tinggal di desa itu.

Pak Kades pun ikut menyambut kedatangan anak jenius itu, sebab ternyata berita keberhasilan Ridwan memenangkan juara tingkat nasional olympiade fisika SD banyak dimuat di berbagai surat kabar dan ditayangkan pula di Televisi. Sungguh diluar dugaan kami, Ridwan yang polos, lugu dan tidak terlihat sebagai anak jenius, ternyata telah memberikan harapan yang sulit dipercaya bagi kami.

Kami semua mencucurkan air mata ketika Pak Said menyampaikan kabar yang menggembirakan itu. Apalagi kedatangan ke rumah akan diantar oleh rombongan kepala sekolah, guru-guru dan siswa. Sungguh sebuah rahmat Allah yang sama sekali tidak terlintas dalam benak kami.

Benar saja! Pagi-pagi sekali sudah ada 2 orang utusan yang datang dari sekolah dan mengabarkan bahwa jam 9, Ridwan akan tiba di rumah, yang didampingi kepala sekolah. Tentu saja kami bingung, bagaimana kami menyambutnya sedangkan keadaan rumah kami saja sangat sempit dan tidak mungkin masuk semua ke dalam rumah.

“Tidak usah ibu bingung, karena acara penyerahan akan dilaksanakan di halaman rumah. Kebetulan pak Kades juga akan ikut menyambut, jadi kursi akan disediakan oleh kelurahan,” ujarnya.

Sulit membayangkan kebahagiaa yang terpancar dalam dada kami, setelah mendengar kepastian kedatangan Ridwan yang telah mengharumkan sekolah dan warga desa. Aku sendiri meneteskan air mata, dibalik kebahagiaan itu ada duka mendalam yang tidak bisa dibohongi. Aku tidak boleh berada di luar sebab kandunganku sudah agak membesar, usianya sudah 5 bulan. Tentu akan menimbulkan kecurigaan, jadi sebaiknya aku berada di kamar saja, pura-pura sakit.

Suasana sangat ramai ketika waktu sudah tepat jam 9. Banyak warga yang berdatangan dan mengucapkan selamat kepada ibu dan nenekku. Aku mendengarkan saja apa yang sedang terjadi di halaman rumah. Benar-benar suasana yang sangat menggembirakan semua warga desa, sebab kehadiran Ridwan di desa itu telah mengharumkan desa dan sekolah. Masih kudengar ucapan bapak kepala sekolah.

“Kami merasa bangga dengan prestasi dan keberhasilan yang diraih oleh siswa SD bernama Ridwan ini, karena telah mengharumkan nama sekola. Semoga Ridwan tetap mempertahankan prestasi sebagai juara nasional, karena itu akan membawa masa depan bagi Ridwan, bahkan pihak Departemen Pendidikan Kabupaten telah memberikan beasiswa untuk sekolah di SMP, SMA sampai perguruan tinggi, asalkan dia mempertahankan prestasi itu,”

Diam-diam aku meneteskan air mata, bahagia bercampur duka mendalam. Aku tak dapat menyaksikan langsung acara tersebut. Pedih rasanya hati ini, apalagi ketika kulihat perutku yang sudah membesar. Ah, andai aku tidak begini, aku bisa melihat adikku yang bergelimang kegembiraan. Kalau aku tidak mendapat bencana ini, mungkin aku pun bisa seperti adikku. Apalalagi ketika aku mengenang masa sekolah sewaktu di SD.

Bayangan kegembiraan masa sekolah dasar seakan kembali terpancar dibenakku. Aku termasuk siswa yang memiliki prestasi yang lebih dari cukup, bahkan pernah menjuarai lomba matematka tingkat kecamatan. Di sekolah, aku selalu menjadi juara umum. Prestasiku menjulang dan melesat sehingga tidak heran bila di sekolah aku dikagumi oleh siswa yang lain.Namun aku tetap rendah hati dan menjalin hubungan dengan semua siswa. Prestasi yang gemilang itu tetap aku pertahankan sampai aku melanjutkan pendidikan di SMP.

Masa sekolah di SMP ternyata menjadi bencana yang berkepanjangan. Ah, rasanya aku ingin mati saja bila kenangan pahit itu kembali terbayang. Bagaimana tidak? Masa sekolahku hancur dan tidak menentu setelah ibu meninggalkan kami dan aku hidup terlantar, bahkan harus berjuang melawan nafsu biadab ayahku yang ternyata dia bukanlah ayah tetapi binatang jalang yang menghancurkan masa depanku. Prestasi di sekolah mendadak merosot dan jatuh seketika, karena aku menghadapi tekanan mental yang sulit kuatasi. Kepergian ibu meninggalkan kami bagaikan petir di siang bolong; aku harus hidup mandiri bersama adikku.

Sejak itulah hidupku bagaikan budak nafsu ayahku. Sejak tubuhbu tumbuh membesar ayah ternyata bagaikan binatang yang tidak tahu lagi kepada dirinya sendiri. Aku dipaksa melayani nafsu bejat moralnya, karena ternyata ibu sudah tidak mau melayani ayah sebagaimana seorang istri, ia telah berlari meninggalkan kami dalam duka dan derita berkepanjangan. Setiap sebulan sekali ayah menyuruh aku meminum pil KB, dengan tujuan agar aku tidak hamil. Aku dipaksa dan dibentak-bentak kalau tidak mau melayani, bahkan siksaan bukan lagi hal yang aneh; aku sudah terbiasa disiksa melewati batas.

Pernah suatu ketika aku melawan, namun risikonya aku dipukul bertubi-tubi dan ayah memaksaku untuk melayani nafsu iblis itu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, namun ayah terlihat puas sudah memperkosa anaknya. Aku berulang kali mengatakan; bahwa aku adalah anaknya, namun jawabannya hanya satu. “Memang kamu anakku, namun aku sudah tidak peduli, aku sudah siap menghadapi risikonya,” luar biasa nafsu iblis ayahku. Entah setan apa yang merasuki ayahku?. Dia tidak peduli dengan masa depanku kelak. Dia hanya memikirkan kenikmatan sesaat.

Aku terperanjat ketika tiba-tiba nenekku memanggil. Lamunanku buyar seketika dan bergegas aku keluar kamar, sebab suasana sudah seperti biasa. Beberapa orang masih terlihat di halaman rumah, namun sebagian sudah pulang.

“Tuh, adik kamu menanyakan?” ujar nenek ketika aku sudah berhadapan.

Aku bergegas mendekati Ridwan yang sedang duduk di lantai sambil memegang beberapa map dan bungkusan, serta piala yang besar.

“Alhamdulillah kamu ternyata anak yang cerdas,” kataku seraya merangkul dan mencium adikku.

Ridwan menatapku. “Kenapa kakak di kamar terus nggak keluar?”

Aku terpengarah mendapat pertanyaan itu, namun segera aku jawab, “Sejak tadi pagi kepalaku pusing, aku nggak enak badan,” aku berbohong untuk menutupi kegugupanku.

“Oh..begitu..istrirahatkan saja!”

“Ya..aku mau kembali ke kamar, namun ingin bertemu kamu dan ingin tahu juga apa saja yang kamu peroleh!” kataku.

“Wah, kak pokoknya aku baru pertama kali merasakan kebahagiaan seperti ini. Sebulan mengikuti pelatihan dan perlombaan tingkat nasional, aku seperti seorang raja yang dimanjakan. Tidur di hotel , makan semuanya nikmat, bermain-main ke tempat wisata. Pokoknya luar biasa!” ujarnya dengan penuh kegembiraan.

Nenek dan Ibuku Nampak wajahnya diliputi kegembiraan yang belum pernah kulihat selama ini, terlebih lagi ibu yang sejak mendengar Ridwan menjadi anak berprestasi, berangsur terlihat kesembuhan dan itu terlihat dari perilakunya yang mulai berkeinginan untuk bisa berjalan-jalan di rumah dan mengerjakan apa yang selama ini tidak dilakukan. Bahkan tadi subuh, kudengar ibu mengaji Al-Quran lama sekali.

“Hadiahnya apa saja?” tiba-tiba ibuku bertanya.

“Aku dikasih uang tunai dan buku tabungan untuk bekal aku selama sekolah!” katanya seraya memperlihatkan amplop besar dan buku tabungan Bank Mandiri.

“Coba ibu ingin tahu isi amplop itu dan tabungan,” kata Ibu

“Aku juga belum tahu berapa uangnya dan berapa uang di tabungan?. Yuk kita lihat sama-sama!” kata Ridwan.

Kami semua berkumpul di lantai, seraya membuka amplop besar. Ada perasaan gembira dan berdebar dalam hatiku, sebab selama ini kami belum pernah memegang uang dalam jumlah yang sangat besar.

Ketika ibu membuka amplop dengan disobek ujungnya, kemudian terihat uang berwarna merah, tentu saja kami terperanjat.

“Wah, uang ratusan ribu…berapa sih Bu jumlahnya?” Ridwan tak sabar.

Kulihat tangan ibuku bergetar ketika uang lembaran seratus ribu rupiah dikeluarkan dalam amplop besar itu. Kami semua menarik napas panjang, nyaris tidak percaya apa yang kami alami. Ibu membuka gepokan uang yang banyak itu.

“Alhamdulillah…ini adalah rahmat dan anugerah Allah Swt,” ucap nenek ketika melihat gepokan uang lembaran seratu ribuan.

Wajah ibu Nampak berbinar-binar memancarkan kebahagiaan. Beberapa kali ibu menarik napas panjang, masih belum percaya dengan apa yang tengah dihadapi.

“Yuk, kita hitung sama-sama!” ujar Ibu dan tangannya masih terlihat bergetar, karena selama ini baru pertama kali melihat uang yang banyak.

Hati kami berbunga dan bergembira yang sulit kami lukiskan ketika bersama-sama menghitung uang. Setelah beberapa menit kami menghitung, barulah ketahuan berapa jumlah uang seluruhnya.

Kami hampir tak percaya, sebab ternyata uang itu berjumlah dua puluh juta rupiah. Jumlah yang selama ini tidak terlintas dalam benak kami. Kami saling menatap dan tiba-tiba pecahlah tangis ibu merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah kami rasakan. Kami saling berangkulan dan mencucurkan air mata. Uang itu kami genggam erat-erat sebab selama ini kami terlalu pedih hidup dalam kekurangan.

Kami kemudian membuka buku tabungan Bank Mandiri. Betapa kami terperanjat dan sekaligus berbahagia, sebab ternyata disitu tercatat tabungan atas nama Ridwan sebesar Rp 30.000.000. Bukan main kami bergembira dan mengucap syukur.

“Sungguh tidak disangka, bahwa kepedihan ibu selama ini dapat ditebus dengan prestasi kamu!” ujar ibu seraya merangkul Ridwan dan menciumnya berkali-kali.

Kami terharu dan peristiwa itu menjadi kenangan terindah dalam hidup ini. Uang masih digenggam ibuku dengan tangan bergetar. Boleh jadi ibu selama ini belum pernah mempunyai uang sebesar itu, sekarang uang itu ada dihadapannya. Kulihat ibu berlinang air mata, sementara Ridwan asik dengan barang baru yang kini dipegangnya : Laptop. Sedikit demi sedikit ia sudah bisa mengoperasikannya, meski terkadang masih belum paham benar.

Laptop pun merupakan hadiah yang diraih saat dinobatkan sebagai juara nasional. Ridwan begitu bahagia dengan benda baru itu. Selama ini ia hanya mendengar atau melihat sajaada sebuah barang yang luar biasa hebat. Aku pun hanya menarik napas panjang, ada secercah kebahagiaan, sebab dengan adanya uang yang cukup besar, aku bisa bersalin dengan biaya dari uang itu.

“Uang ini, terserah ibu saja, mau digunakan untuk apa?” ujar Ridwan.

“Terima kasih, kalau kamu sudah mempercayakan kepada Ibu. Akan ibu manfaatkan buat kita semua serta modal untuk bisa membuka usaha…agar kita tidak kebingungan!” kataku.

Nenek Ngatiyem sejak tadi tak dapat menahan lelehan air mata yang terus membasahi wajahnya. Kebahagiaan tergambar jelas di bola matanya. Kami seperti berada dalam impian yang selama ini belum pernah kami alami. Namun berulang kali kami meyakinkan bahwa semua ini adalah kenyataan. Uang yang beberapa tahun ingin ada dihadapan kami, kini dibuktikan. Rasanya kami belum percaya, tetapi kami tak dapat menutupi kebahagiaa kami. Inilah anugerah Allah.

Kini Ridwan yang baru kelas 6 SD menjadi perbincangan dimana-mana, bahkan julukan yang sudah meluas adalah anak jenius. Dia memang cepat sekali memahami dan menghapal suatu soal IPA. Tidak hanya itu, dia pun dengan keuletannya belajar sudah terlihat bakatnya sebagai seorang pemimpin, karena semua teman-teman di sekolahnya sudah sangat bahagia bisa berkumpul dengan dirinya. Dia memang memiliki potensi sebagai seorang pemimpin. Bakat itu semakin terlihat ketika dia mampu memperlihatkan prestasi yang lebih bagus lagi.

Uang yang diperoleh hadiah kemenangan Ridwan sebagai juara nasional dimanfaatkan oleh ibu untuk membeli beberapa perabot rumah tangga yang selama ini sangat diidamkan yaitu ranjang, kasur empuk, TV dan meja belajar Ridwan.

“Meja ini buat kamu belajar agar lebih giat lagi. Pokoknya kamu harus menunjukkan prestasi lagi. Insya Allah, ibu akan mendukung kamu untuk menjadi anak yang lebih berhasil lagi,” ucapnya.

Ridwan tersenyum ketika meja sudah ada di kamarnya. Beberapa buku yang berserakan di lantai, disimpannya di meja. Lalu laptop pun disimpan disitu. Ia langsung duduk dan membuka laptop, itulah kegemaran yang sedang melanda Ridwan, asyik dengan dunia barunya. Bahkan seringkali berjam-jam berada di meja belajar seraya memperhatikan laptop.

Aku suka memperhatikan kegiatan adikku, ada rasa kagum juga, sebab selama beberapa hari ini ia asyik bermain Game catur dengan laptopnya. Ia rupanya tertarik dengan permainan itu, sehingga seringkali sampai larut malam. Aku suka mengingatkan agar jangan sampai terlena dengan laptopnya, apalagi lupa belajar.

“Aku tidak lupa belajar, bahkan belajar dari laptop pun sudah cukup!” katanya.

“Lho memangnya bisa dijadikan untuk belajar?”

“Di laptop itu komplet segala macamnya, bahkan kita bisa menjelajah dunia hanya melalui laptop ini,”

“Wah luar biasa hebat! Bagaimana kamu bisa tahu itu!”

“Maka sekali-kali kakak belajar dengan aku di sini…jangan mengeram saja di kamar!”

Aku menganggukkan kepala. Pengetahuan adikku luar biasa hebat, bahkan aku sempat kaget ketika dia akan mengikuti lomba catur tingkat kabupaten.

“Apakah kamu bisa catur?” tanyaku.

“Ya bisa dong, kan setiap hari aku berlatih di laptop. Aku jadi pandai dan bisa bermain catur!”

“Wah luar biasa kamu…Pokoknya aku mendoakan agar kamu bisa berhasil kembali menjadi juata!”

“Kakak doakan saja…aku ingin sekali membahagiakan yang ada di rumah ini!”

Aku terharu mendengar kalimat adikku itu,betul-betul seorang anak yang mulia dan berbakti kepada keluarga. Di saat kami sedang berduka, dia menjadi pahlawan menyelamatkan kami bersama.

Namun seringkali ada pertanyaan adikku, yang sampai sekarang aku tidak bisa menjawab, kecuali aku mencucurkan air mata, dia menanyakakan.

“Kakak kapan menikah? Dengan siapa? Mengapa perut kakak membesar, siapa bapak bayi itu?” aku hanya mencucurkan air mata mendapat pertanyaan bertubi-tubi itu. Pertanyaan itu pula yang selama ini aku inginkan keluar dari mulut adikku. Sebab bagaimana aku bisa menjawab semua itu.

Pernah aku menangis terisak-isak ketika adikku mendesak bertanya seperti itu. Dia Nampak kaget melihat perubahanku yang tanpa diduga sama sekali. Aku terus menangis saat pertanyaan adikku tidak bisa dijawab jelas.

“Aku mohon maaf! bila pertanyaan itu menyingung hati kakak, aku tidak bermaksud menyakiti!” ucapnyua gugup dan terlihat nada penyesalan.

“Kakak tak bisa menjawab pertanyaan kamu. Kakak hanya bisa menangis? Pertanyaan itu bagi kakak sangatlah menyakitkan hati!”

“Tapi apakah salah aku bertanya begitu?”

“Kamu tidak salah! tetapi kakak tak bisa menjawab apa yang kamu tanyakan. Jalan satu-satunya hanya menangis!”

“Kalau begitu, aku tidak akan bertanya tentang itu. Aku mohon maaf saja!” ujarnya.

Aku menarik napas panjang seakan mengeluarkan beban yang selama ini berat terpikul dalam pundakku, aku memang bingung menjawab pertanyaan adikku. Wajar dia menanyakan masalah itu, sebab jangankan dia, semua warga desa pun pasti akan bertanya seperti itu. Ah, aku bingung menjawab semua pertanyaan itu.

Semakin hari terasa perutku terus membesar yang tentu saja bukanlah sesuatu yang membahagiakan, tetapi menyakitkan hati. Hari-hari dilalui dengan kegelisahan dan ketegangan, namun untung saja adikku yang memberi kebahagiaan bagi kami. Dia menjadi kebahagiaan kami di rumah. Meski terkadang aku belum bisa menyembunyikan rasa pedih dalam hati. Aku hanya bisa menyembunyikan semua masalah yang sekarang membelengu diriku.***

Bagian Keempat

Aku Dititipkan di Nek Ijem

Kalau seandainya saja bisa memilih aku ingin segera mati saja daripada hidup menanggung malu berkepanjangan seperti sekarang ini. Apalagi ketika perutku tanpa terasa terus membesar ke depan, sehingga mulai kurasakan napas sesak dan sulit tidur. Memang tersiksa seorang ibu yang sedang hamil itu. Aku terkadang menangis sendirian di kamar; memikirkan bayi yang ada dalam kandungan; bagaimana masa depan anakku; dan bagaimana orang lain memandang kepada aku dan anakku.

Ibuku hanya bisa melelehkan air mata bila melihat keadaanku tersiksa dan harus menanggung beban berat. Meskipun secara bertahap penyakitnya sudah mulai sembuh, namun belum bisa dikatakan seratus prosen, sebab terkadang masih sering kulihat tengah malam dia menggigau dan tiba-tiba menjerit histeris, yang tentu saja membuat kami kaget dan khawatir kambuh lagi penyakit gilanya.

Seperti kejadian kemarian malam, ibuku mendadak menjerit histeris dan mengatakan kata-kata yang kotor, nenek kaget dan segera masuk ke dalam kamar ibu,

“Ada apa ini? Bangun baca istigfar?” ujar nenek seraya mendekati ibu. Aku bergegas mengikuti nenek di belakang. Ibu terbangun dengan wajah kusut dan terlihat rasa ketakutan di wajahnya.

“Ya Allah, aku bermimpi disiksa dan dipukul berkali-kali, jadi aku berteriak!” ucapnya.

“Makanya setiap kali akan tidur, banyaklah berdoa agar mimpi buruk tidak terjadi pada kamu…sudahlah sekarang minum air putih ini!” nenek memberikan segelas air minum.

Kasihan ibu harus menanggung beban hidup yang sangat berat. Trauma seringkali menyergap dalam jiwanya, sebab selama beberapa tahun berada dalam tekanan ayah yang memang kejam dan tidak berprikemanusiaan. Dendam membara yang membakar kalbu ibu kerapkalu sulit untuk dikendalikan, sehingga terkadang ibu menjerit histeris ketika teringat akan penyiksaan yang dilakukan ayah.

Derita ibu adalah deritaku juga. Tidak menutup kemungkinan ibu setiap hari menderita melihat keadaanku yang tersiksa dengan kandungan bayi dalam rahimku. Memang tidak bisa dibohongi perasaan seorang ibu melihat anaknya yang harus menanggung malu serta pertanyaan yang datang bertubi-tubi, siapakah bapaknya bayi itu?

Meskipun ditutup serapat-rapatnya aib yang terjadi padaku, namun lambat atau cepat akan menjadi buah bibir juga. Makanya, aku meminta kepada nenek agar segera aku diberangkatkan dari rumah ini untuk tinggal di Nek Ijem.

“Bukan apa-apa Nek, kalau nanti ketahuan oleh seorang warga di sini, akan jadi perbincangan yang menghebohkan.Jadi jalan satu-satunya ya aku harus segera diungsikan dari rumah ini!” kataku mendesak.

Nenek Ngatiyem menarik napas panjang. Ibu yang sedang duduk pun sudah diberitahu rencana nenekku untuk menitipkan aku pada Bibi Ijem. Ibu sudah menyetujui cara itu, sebab bisa menyelamatkan muka semuanya.

“Kita besok saja persiapkan untuk pergi ke sana. Sore sudah harus pergi dari rumah, jadi datang malam ke sana, sehingga tidak banyak diketahui orang!” ujarnya.

Maka kami pun mempersiapkan diti. Aku sendiri membawa beberapa baju yang disimpan di kantong besar. Beberapa lembar kain dan baju bayi yang sudah dibeli. Adikku sempat kaget ketika melihat kami tengah bersiap-siap,

“Memangnya ada apa? Dan mau kemana kakak?” tanyanya dengan penuh keheranan.

“Kakak mau tinggal dulu dengan Bi Ijem, di sana nenek akan melahirkan ,sebab kalau di sini tidak ada bidannya!” kataku berbohong.

“Berapa lama, kakak akan tinggal di sana”

“Ya beberapa bulan saja, nanti ke sini lagi!”

“Wah kalau begitu aku nggak ada teman!”

“Nggak apa-apa, bukankah kamu akan mengikuti perlombaan catur. Kamu harus banya berlatih agar menjadi juara lagi. Ibu pasti akan sangat bahagia, apabila kamu berhasil lagi mendapatkan hadiah!”

“Ya kalau begitu aku akan terus berlatih.”

“Tapi awas jangan lupa kamu belajar agar kelak kamu bisa memberi kebahagiaan bagi kami,”

Ridwan mengangukkan kepala seraya bibirnya tersenyum. Dia memang masih sangat kecil dan belum mengetahui masalah yang sedang kuhadapi sangatlah berat. Aku berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya, sebab seandainya saja dia mengetahui bahwa bayi dalam yang kelak akan lahir ada hasil perbuatan bapaknya, bagaimana reaksi dia? Ah, tak dapat kubayangkan bagaimana perasaan adikku.

Aku harus bisa menutupi aib keluargaku. Ridwan jangan sampai tahu, bahwa bayi dalam kandunganku adalah akibat perbuatan bejat ayah yang merusak masa depanku. Rasanya bila aku teringat akan peristiwa kebiadaban ayah di masa lalu, mendadak tubuhku menggigil dan darahku mendidih serta aku merasakan sesak napasku. Aku berusaha menahan emosi yang meletup-letup dan ingin membalas kejahatan yang dilakukan ayah.

Aku hanya bisa menangis terisak-isak dan tak bisa berbuat apa-apa. Mengapa aku memiliki ayah yang moralnya rendah dan hidupnya bagaikan binatang jalang? Dia tidak memikirkan masa depanku. Dendam seakan berkobar dalam dadaku dan rasanya aku belum bisa nyenyak tidur apabila belum bisa membalas lukaku yang terkoyak-koyak. Namun dipikir kembali, dia adalah ayahku yang menyebabkan aku hadir di dunia ini.

“Ayah mengapa engkau tega berbuat seperti itu kepada anakmu sendiri!” kalimat itu yang seringkali meluncur di bibirku seraya mataku mencucurkan air mata duka mendalam. Sulit untuk bisa kumaafkan perbuatan ayah, sebab aku tetap menyimpan dendam berkepanjangan, dendam yang tak mungkin bisa kuhapus dalam ingatan.

Aku harus menerima semua takdir yang berlaku atas diriku, aku tidak bisa menolak atas ketentuan Allah itu. Aku hanya bisa meratapi dan berontak terhadap Sang Pencipta, mengapa aku dilahirkan membawa duka dan derita berkepanjangan? Apa dosa dan kesalahanku selama ini? Tanpa sadar sering ada pikiran jelek terhadap Allah Swt, mengapa harus aku yang menjadi korban kebiadan ayahku?

Tak ingin sedetik pun terlintas wajah ayah dalam pikiranku, sebab mendadak darahku seketika mendidih dan ingin membunuh terhadap lelaki keji itu bila secara tidak sengaja membayang dalam benakku. Wajahnya yang hitam dan tubuhnya yang tinggi besar telah menggetarkan hati nuraniku. Dia memang sosok lelaki yang memiliki ilmu hitam yang dipelajari sejak beberapa tahun terakhir ini.

Aku baru mengetahui setelah aku banyak mendengar kabar dari Ibu bahwa selama ini ayah sangat menyukai ilmu hitam atau ilmu sihir, dia memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa bahkan sejak belum menikah dengan ibu, ayah sudah terbiasa masuk keluar penjara. Aparat hukum pun sudah kewalahan menghadapi ayah yang dikenal sebagai lelaki yang sering membuat keonaran di masyarakat.

Dia memiliki watak yang keras kepala dan selalu ingin menang sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati, kerapkali tangannya paling mudah melayangkan ke pipi ibu atau kepada aku dan adikku. Dia tidak menyimpan rasa kasih sayang kepada keluarganya, bahka cenderung bertindak kasar dan selalu ingin menganiayai, walau hanya masalah sepele di rumah. Aku dapat merasakan itu, ketika pernah aku datang agak sore ke rumah karena harus mengerjakan tugas-tugas, namun ayah tidak suka aku datang kesorean. Meski mengemukakan berbagai alasan, tetapi tidak ada artinya sama sekali, ayah tetap menampar wajahku sehingga aku merasa kesakitan dan panas.

Pengalaman masa lalu yang secara psikologi mempengaruhi jiwaku telah sedikit banyak aku menjadi sosok wanita yang membenci kepada laki-laki yang berusia seperti ayahku. Aku menyimpan dendam kesumat yang sulit untuk bisa dihilangkan. Aku tak bisa menerima kenyataan yang harus kutanggung. Perlakukan ayahku dari mulai penyiksaan dan perkosaan adalah tindakan brutal yang harus kuakhiri, sebab tidak menutup kemungkinan ayah akan memperlakukan wanita lain sama denganku.

Ilmu hitam yang dipelajarinya telah merusak moral ayahku. Tidak itu saja, melalui ilmu itu keadaan keluarga kami menjadi hancur berantakan. Oleh karena itu, bisa kupahami mengapa ibu sampai terserang penyakit jiwa, karena tak kuat menahan beban yang sangat membelengu dirinya, sehingga jalan satu-satunya harus segera meninggalkan rumah, meski harus meninggalkan kedua anaknya. Ibu adalah sosok wanita yang lemah dan tak berdaya, dia hanyalah wanita kampung yang hanya menitipkan diri berada di kota, sekedar untuk meringankan beban orang tua.

Namun perjalanan hidup ibu menjadi sebuah bencana yang menyeret aku menjadi budak nafsu bagi ayahku sendiri. Ayah berani melaukan perbuatan itu karena ilmu hitam yang selama ini dipelajari menghendaki untuk melakukan perkosaan kepada anaknya sendiri, kalau perlu anak dibunuh demi menguasai ilmu setan itu.

Ibu sering ceritera kalau ilmu hitam telah mengubah jalan pikiran ayah menjadi sosok yang sangat ditakuti dan dibenci warga masyarakat, karena hampir setiap orang mempunyai masalah dengannya. Ayah begitu ringan tangan kepada warga yang ridak memberikan uang kemanan yang dipegang olehnya. Tidak hanya kepada laki-laki, tetapi juga kepada perempuan akan bertindak sama. Tidak heran kalau keberadaan dia sangat dibenci di tengah masyarakat dan mereka menginginkan agar dia masuk penjara.

Walaupun dilaporkan ke polisi, namun nampaknya sikap ayah yang keras kepala dan berani melawan polisi, akhirnya kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ilmu hitam yang sudah melekat kuat dalam jiwanya, telah membuat banyak polisi yang ketakutan, terutama dia berani melakukan upaya teluh kepada siapa saja. Semua orang menjadi takut dengan perilakunya yang sangat berisiko tinggi.

Selain bermain judi, dia paling doyan melakukan minum-minuman keras dan paling mudah untuk membuat keributan atau keonaran dimanapun dia berada. Tak ada yang berani melawan kepadanya, sebab semuanya tahu kalau dia memiliki ilmu hitam yang sangat berbahaya. Dia sangat ditakuti oleh anak buahnya, sehingga tidak ada yang berani melawan setiap perintah yang diucapkan. Kemanapun pergi selalu ada anak buahnya yang mendampingi.

Profesi yang digeluti setiap hari adalah menjadi preman jalanan atau ikut terlibat dalam tawuran atau juga bergerak dalam unjuk rasa yang dibayar besar oleh kelompok tertentu. Setiap hari dia jarang mandi, sehingga badannya sangat bau apek dan bisa membuat orang muntah.Namun dia tidak peduli dengan keadaan dirinya, yang penting setiap hari harus bisa minum-minuman keras beralkohol yang kadarnya tinggi.

Bila mengingat perilaku ayahku seperti itu, aku benar-benar sangat muak dan tidak ingin bertemu dengan sosok lelaki itu. Aku ingin agar dia cepat mati saja, toh ada di dunia sama sekali tidak bermanfaat buat masyarakat.Warga banyak yang membenci dan tidak menghendaki keberadaan dia dimanapun.

Aku hanya mengelus dada kalau ayah sudah memperlakukan ibu bagaikan binatang, sebab kalau ada di rumah, ayah bagaikan seorang lelaki gila yang sangat egois dan selalu bersikap kasar kepada istrinya. Kalau diingatkan agar tidak berbuat yang memalukan keluarga, jawabannya adalah mata yang melotot dan tangan siap untuk menampar. Semua menjadi takut kalau ayah sudah mengeluarkan suara keras.

Tidak ada seorang tetangga yang tidak diganggu oleh perilaku ayah. Dia memang sangat ingin bertengkar. Kalau saja ada yang berani menegur, maka itu adalah kesempatan untuk mengajar berkelahi. Pernah ada tetangga yang merasa kesal sebab setiap lewat di depan rumahnya, maka pohon jambu miliknya selalu diambil buahnya. Ketika ditegur oleh pemilik rumah, langsung saja ayah mendekati orang itu dan tanpa pikir panjang, tangan kirinya langsung melayangkan tinju ke mukanya. Orang itu terjungkal ke belakang dengan hidung dan mulut keluar darah. dia mengeluh merasa sakit dan segera melapor kepada pengurus RW, namun urusan menjadi panjang, sebab ayah langsung saja datang lagi ke rumah orang yang melaporkan itu. Kali ini tangannya langsung menghantam kaca depan rumah sampai hancur berantakan, kemudian semua kursi dan perabot rumah tangga yang ada disitu dihancurkan seketika.

Pemilik rumah hanya melongo dan tidak berkata sepatah katapun, badannya bergetar karena dia takut melihat ayah membawa anak buahnya 10 orang. Berkali-kali dia meminta maaf dan bersumpah tidak akan memperpanjang masalah dan meminta untuk berdamai saja.

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku ayah yang benar-benar bukan tipe seorang yang patut dicontoh. Dia bergaya sebagai preman yang tidak pernah memikirkan masa depan anak-anaknya. Rasa kasih sayang sudah hilang dalam hati sanubarinya; terkubur oleh sifat ketamakan dan kerakusan. Hatinya sudah mengeras melebihi batu, sehingga sulit untuk diajak ke jalan yang benar. Tak heran kalau sesungguhnya dia adalah sosok manusia yang otak dan akalnya sudah menjadi pengikut iblis.

Pantas kalau ibuku sampai menderita sakit jiwa memiliki suami seperti itu, karena siapapun wanita akan mengalami depresi dan cenderung menjadi gila berhadapan dengan sosok suami yang keras kepala, tidak pernah memikirkan nafkah sehari-hari dan bertindak kasar. Tangan dan kakinya begitu mudah untuk bertindak kasar, sekalipun kepada anaknya. Makanya, aku pernah menjerit histeris ketika adikku Ridwan yang terus menerus menangis saat sedang sakit disiksa dan dipukuli berkali-kali. Ayah seolah tak peduli dengan tangisan Ibu yang meminta agar anaknya jangan disiksa, namun wajah ayah sudah berubah bagaikan binatang buas yang ingin memakan anaknya sendiri.

Dia baru berhenti menyiksa adikku ketika aku memburu dan mengambil Ridwan yang terlihat memar sekujur tubuhnya. Aku segera membawa adikku keluar rumah dengan menjerit histeris. Ayah tidak mengejar, tetapi dia menendang dan merusak barang-barang yang ada di rumah. Ibu hanya menangis terisak-isak tak dapat berbuat apapuun menghadapi kemarahan ayah yang sangat biadab itu.

Hampir setiap hari ayah selalu pulang ke rumah tengah malam dalam keadaan mabuk berat. Mulutnya bau alkohol dan matanya merah seraya bicara ngelantur kasar tidak menentu. Kalau sudah begitu, kami ketakutan, bahkan ibu terlihat seluruh badannya bergetar karena dalam keadaan seperti itu, ia seringkali memaksa untuk melayani nafsunya. Ibu tak bisa berbuat apa-apa, apalagi kalau sudah menampar wajahnya agar dilayani keinginan birahinya. Ibu hanya meneteskan air mata melayani suami yang mirip bagaikan setan berwujud manusia.

Aku sedih dan hampir putus asa berada di rumah, apalagi mulai terlihat sikap ibu yang mendadak beruba, dia suka menyendiri dan menangis terisak-isak tak kuat menghadapi keadaan yang terasa tertekan. Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jalan keluar menghadapi suami kasar dan bengis. Tidak hanya menangis, ibu kerapkali menghindari kami sehingga kami kebingungan. Berhari-hari ibu terlihat mulai ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, tetapi terkadang dia memeluk kami erat-erat di malam hari, membuat kami kasihan melihat ibu yang sudah stress.

Ibu terkadang bicara sendirian, atau tiba-tiba dia marah-marah kepada kami, tetapi mendadak seketika menangis sambil membelai kepala kami bersamaan, Kami kasihan melihat ibu yang terlihat gejala aneh yang mengkhawatirkan dan mencemaskan. Puncaknya kami kaget ketika dia tanpa bilang kepada kami menghilang dari rumah. Sama sekali tidak ada pemberitahuan, lenyap begitu saja. Kami kaget dan terperanjat! Malam itu ibu mendadak tidak pulang ke rumah.

Aku mencari ke tetangga dan beberapa tempat yang mungkin disinggahi ibu, namun tidak ada yang tahu kepergian ibu. Dia menghilang entah pergi kemana. Aneh, secepat itu ibu pergi meninggalkan kami yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Kepergian ibu bagi kami bagaikan ayam yang kehilangan induk semangnya. Tidak ada yang bisa membantu kami. Aku lelah kesana-kemari mencari sosok ibu, namun keringat yang bercucuran tidak terbayar. Ibu bagaikan ditelan bumi.

Sungguh tragis dan hati kami hancur, beberapa hari kami masih mempunyai harapan ibu bisa kembali ke rumah, namun semua itu sia-sia belaka. Ibu tidak mau lagi menginjakkan kaki lagi ke rumah kami. Aku dan adikku hanya menangis terisak-isak ingin agar ibu kembali ke rumah. Tetapi tangisan kami tidak didengar oleh siapapun. Ayah yang tahu kalau ibu sudah beberapa hari tidak ada di rumah, kemarahannya memuncak dan sempat menyiksa kami serta menyekap di kamar. Kami hanya menangis dan berteriak-teriak histeris. Seharian kami tidak berada di kamar, tanpa makan dan minum. Untung saja ada tetangga yang segera membantu kami melalui pentilasi jendela. Mereka memberi makan dan minum kami, sehngga kami tidak kelaparan.

Untung kami bisa keluar dari kamar, setelah seorang tetangga melaporkan kepada tetangga dan membongkar pintu rumah depan. Sementara ayah entah kemana perginya. Dia pun tidak tahu keadaan kami yang berada dalam kelaparan dan kehausan di kamar.

Ketika suatu malam, ayah pulang dalam keadaan mabuk, dia kaget ketika pintu dikunci dari dalam, sebab dia yang membawa kuncinya. Pintu didobrak dengan tendangan kaki yang sangat keras.Hanya satu kali tendangan, daun pintu itu ambruk. Aku kaget mendengar suara itu, lalu terbangun dari tidur. Aku bergegas keluar kamar. Kulihat ayah tengah berdiri dengan mata merah.

“Dasar anak goblok tidak tahu diri!. Mengapa dikunci pintu itu!” katanya seraya menatap kearahku. Aku takut melihat ayah bermuka merah dan terlihat marah. Aku diam saja, dengan perasaan hati tak menentu. Takut kalau aku didamprat dengan tangan kanannya.

“Sini kamu?” ujarnya seraya duduk di kursi.

“Ada apa?”

“Sini kamu duduk!” suaranya mengeras.

“Kemana ibu kamu hah? Mengapa tidak ada di rumah?” matanya menatap kearahku.

“A…aaku tidak pernah tahu, kemana ibu pergi, sebab tidak pernah bilang-bilang!” ucapku bergetar.

“Ibu kamu itu goblog! Tolol! Dasar perempuan kampungan, pergi begitu saja!”

Aku tak menjawab sepatah katapun, kecuali tertunduk melihat kemarahan ayah. Ia memang mudah mengucapkan kata-kata kotor yang tidak pantas didengar oleh kami. Aku ingin segera kembali ke kamar, perasaan ngantuk begitu berat di mataku. Namun ayah menyuruhku untuk menemaniku.

“Ayah ingin minum, buatkan air kopi!” katanya menyuruh.

“Tidak ada gula dan kopi. Sudah beberapa hari ini, aku pun tidak makan nasi!”

“Hah…dasar anak goblog! Mengapa kamu tidak kerja saja…besok kamu harus bekerja dimana saja yang penting ada uang untuk hidup!”

“Aku tidak mau bekerja…aku ingin sekolah!”

“Hah! Sekolah! Buat apa sekolah, makin bayak yang nganggur sekolah itu. Kamu harus kerja…cari kerjaan apa saja!”

“Aku nggak mau!”

Tiba-tiba ayah berdiri dan tanpa pikir dua kali, tangannya langsung melayang kearah pipiku.

“Plak…plak!” terasa sangat panas di kedua pipiku ketika ayah menampar.

Aku terpelanting ke kanan dan terjatuh karena tamparan yang cukup kers. Aku menangis menjerit kesakitan mendapat tamparan itu. Aku langsung merunduk memegang wajahku. Tiba-tiba kaki ayahku bergerak dan menendang pinggangku, sehingga aku merasakan sakit yang ketiga kalinya. Aku menjerit ditendang itu. Ridwan berlari dari kamar ketika mendengar aku menangis.

“Ada apa?” tanyanya dengan perasaam kaget melihat aku sudah berada di lantai. Aku segera memegang tangan Ridwan, takut kalau ayah pun akan menendang adikku. Namun ayah pergi masuk ke kamar, dan tidak pernah keluar lagi. Mungkin dia kecapaian. Aku bersyukur sebab adikku selamat, karena biasanya kalau aku dipukul pastilah, diapun akan mendapat pukulan.

Ketiadaan ibu di rumah, membuat ayah bersikap lebih kasar kepada kami. Dan puncaknya kekesalan itu ditumpahkan kepadaku,sehingga aku menjadi korban kebiadaban seorang lelaki yang sangat rendah sekali. Aku dipaksa melayani hawa nafsu iblis, padahal aku adalah anaknya, darah dagingnya, namun berulangkali disampaikan begitu, berulang kali pula dia melakukan pemerkosaan terhadap keperawananku. Aku tidak bisa melawan dan menghindari keperkasaan ayah, sebab dia memang lelaki kurang ajar, akalnya sudah ditaroh di kaki. Hati nuraninya telah dicabut sehigga dia sesungguhnya adalah iblis yang sangat berbahaya.

Aku hanya menangisi nasib yang sangat buruk menimpa kami. Siapa yang harus aku salahkan? Ibu dan ayah? Diriku sendiri? Aku hanya menangis ketika masalah yang kuhadapi semakin bertubi-tubi dan tidak ada jawaban yang memuaskan. Aku harus puas dengan keadaan seperti ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku remaja yang lemah dan polos. Hidup kujalani bagaikan air yang mengalir saja, meski terkadang airnya bergelombang besar , aku harus kuat dalam kedukaan dan kepedihan mendalam.***

Semua kenangan pahit yang menari-nari dalam benakku itu, aku buang jauh-jauh ketika aku dengan Nenek Ngatiyem sedang berjalan kaki menuju rumah Nek Ijem. Rumahnya cukup jauh dan berada di ujung desa. Kami tiba di sana menjelang malam dan sudah gelap. Kampung itu belum diterangi listrik dan masih banyak warga yang menggunakan peralatan sederhana untuk menerangi rumahnya.

Kami berjalan pelan menuju rumah Bi Ijem. Jaan sangat sepi dan tidak ada kendaraan yang lewat, kecuali beberapa sepeda motor. Jarak yang begitu jauh, akhirnya sampai juga ke sebuah rumah yang sederhana dan tidak jauh berbeda dengan rumah nenek Ngatiyem. Nenekku mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali, sambil mengucapkan salam. Di dalam rumah, terdengar suara nenek yang sudah tua membuka pintu.

“Wa alaikum salam!” ucap Nek Ijem ketika membuka pintu. Dia Nampak kaget ketika melihat kakaknya ada di situ bersama dengan aku. “Hah! Malam-malam ke sini…ayo masuk!” ucapnya.

Kedua nenek kakak beradik itu saling berangkulan karena mereka sudah lama tidak berjumpa. Aku pun segera menyalami Nen Ijem.

“Kalau ini siapa?” tanyanya kepada.

“Aku adalah cucunya!” kataku. Kulihat beberapa kali Nek Ijem melihat perutku yang sudah membesar.

“Subhanallah. Kamu sudah mempunyai cucu yang sedang mengandung. Sudah berapa bulan sekarang?” tanya.

“Tujuh bulan!” kataku pelan.

“Alhamdulillah. Bersyukurlah kepada Allah akan mendapatkan bayi sebagaimana amanat dari Allah Swt.,” ucapnya seraya menatap kearahku dengan penuh kebahagiaan. Beberapa kali aku menarik napas panjang, Nek Ijem belum tahu masalah yang sesungguhnya dihadapi oleh kami.

Nek Ijem bergegas menyediakan air hangat dan kripik pisang, sebab terlihat kami kelelahan.

“Mengapa kalian datang malam-malam begini!” tanya Nek Ijem ketika kami sudah duduk di kursi tua.

“Kalau ngobrol pasti akan panjang lebar. Sekarang suruh saja Nurul untuk istirahat di kamar, dia sangat kecapaian, waktu sudah malam..!” kata Nenek Ngatiyem.

“Tapi kalian harus makan dulu.Pasti kalian lapar menempuh perjalanan yang sangat jauh sekali,!”

Nek Ijem sendirian tinggal di rumah itu. Ada dua kamar yang tersedia dengan ukuran yang cukup besar. Dia sudah 7 tahun ditinggal mati suaminya yang terkena penyakit demam berdarah. Dia tidak mempunyai anak, hanya mempunyai anak angkat perempuan yang sudah berumah tangga dan tinggal di Sumatera.

Kedatangan kami ke rumah Nen Ijem mendapat sambutan yang sangat menggembirakan. Aku merasa ada orang yang bisa memberikan perlindungan disaat batinku tengah terpukul berat. Aku sudah frustasi menghadapi kepedihan yang terus menerpa kami. Aku mencoba untuk bisa bertahan dan kuat menahan duka derita ini. Itu sebabnya, Nek Ijem yang terbuka menerima kami, bagiku seolah cahaya matahari yang menerangi kegelapan.

Aku tidak tahu bagaimana Nenekku menceriterakan semua masalah yang kuhadapi kepada adiknya. Serta apa reaksinya ketika kujelaskan semuanya? Aku sama sekali tidak tahu pembicaraan mereka berdua, sebab ketika sudah makan dan minum, aku bergegas masuk ke kamar dan tidur di ranjang sendirian. Terasa batinku lega dan bisa menghirup udara segar. Meski malam ditemani lilin kecil di kamar, namun aku merasa berada dalam buaian seorang ibu yang sangat menyayangu. Aku tertidur pulas malam itu.

Nek Ijem pun hanya mencucurkan air mata ketika semua permasalahan sudah diketahui dan dipahami. Bahkan berulang-ulang dia mengatakan kepadaku agar tegar menghadapi semua ujian ini,

“Kamu tidak boleh putus asa. Allah sangat membenci sikap orang yang putus asa. Hadapi semua masalah ini. Bayi dalam kandunganmu meski tidak kamu inginkan dan harapkan, itu adalah rahmat Allah. Kita tidak berdosa mengandung bayi bapakmu, tetapi yang berdosa besar adalah ayahmu yang telah berbuat nista dan biadab. Pokoknya kamu bersabar tinggal bersama nenek disini. Kelak bayi yang akan lahir, nenek bertanggungjawab penuh untuk merawatnya!” ujarnya dengan suara berat.

Aku menangis terisak-isak mendengar Nek Ijem berkata begitu, sama sekali diluar dugaan dia akan berkara seperti itu. Apalagi bayi yang ada dalam kandungan akan dirawat sebaik-baiknya, meski tidak ada ayahnya. Ucapan Nek Ijem telah memompa semangat hidup, terlebih dia senantiasa mendorong aku agar tegar dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan.

“Allah Swt. Sangat menyayangi hambanya. Tidak ada kebencian Allah kepada seorang hamba yang berbuat dosa. Dia akan mencurahkan kasih dan sayangnya sepanjang hamba itu mau bertobat dan memperbaiki diri. Kamu tidak usah berkecil hati. Semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Terimalah suratan nasib yang sudah ditetapkan Allah Set. Syukuri bahwa hari ini Allah telah memberi kehidupan dan kita bisa merasakan betapa banyak nikmat Allah yang seringkali terlupakan oleh kita!”

Berkali-kali aku hanya bisa menarik napas panjang, seakan bebanku yang begitu berat membelengu diriku, sudah terpecahkan sedikit demi sedikit. Aku beruntung bisa bertemu dengan Bi Ijem, seorang nenek yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Dia sosok wanita yang patut dijadikan teladan dalam hidupku. Bahkan yang membuat aku kagum adalah ucapannya yang tidak menyimpan dendam kepada orang yang menyakiti kita.

“Dendam hanya dimiliki oleh orang yang tidak beriman. Kita selaku orang yang beriman, buang jauh-jauh perasaan dendam kesumat di dalam hati, sebab semua itu tidak memberi jalan keluar bagi kita, tetapi sebalikna malah kita tersiksa dengan sikap dendam itu,” ujarnya. Aku terperangah mendengar ucapan itu, padahal selama ini yang membelengu diriku adalah sifat dendam terhadap perbuatan ayah yang telah menghamili diriku dan menghancurkan masa depanku. Sudah kurencanakan kalau aku bertemu dengan ayah, aku akan berontak dan melawan kalau perlu aku lebih suka mati ditangan ayah, biar dia merasa puas menyakskan anaknya dalam keadaan sudah menjadi mayat.

Nek Ijem bagaikan pelita bagiku. Dia dengan kesungguhan dan keikhlasan bersedia untuk merawatku sampai aku melahirkan di sini. “Pokoknya jangan khawatir, segala biaya persalinan bayi dalam kandungan kamu, nenek sudah persiapkan. Nenek merasa mendapat anugerah yang besar. Bayi yang kelak akan lahir adalah bayi yang suci dan anugerah, makanya nenek setiap hari mengaji ayat-ayat suci Al-Quran, agar anak yang lahir ini membawa berkah bagi kita semua…!”

Kembali aku menarik napas panjang lega. Rasanya aku bertemu dengan manusia berhati malaikat, yang selama ini kubayangkan adalah kebencian setiap orang memandang kepadaku karena aku mengandung bayi tanpa pernikahan dan dilakukan oleh ayahku sendiri. Betapa aib itu besar bagiku. Namun Nek Ijem seakan tak mempermasalahkan semua itu, bahkan ia menyambutku dengan tangan terbuka.

Tak dapat kulukiskan kebahagiaanku mendengar Nek Ijem mau menerima aku apa adanya. Beberapa kali aku menangis seraya merangkul kepadanya, merasa hati ini terbuka dan dendam kesumat yang selama ini terpendam hati terbuang angin. Nenek Ngatiyem pun nampak bersinar bahagia mendengar pengakuan adiknya yang bersedia merawataku di rumah ini.

“Nggak usah khawatir kalau ada warga yang bertanya tentang kamu, nenek yang akan menjawab dan bertanggungjawab sepenuhnya di rumah ini. Nenek akan melindungi kamu. Rejeki janganlah khawatir, sebab warisan kakek masih banyak dan masih ada satu hektar sawah untuk ditanami padi dan dimanfaatkan sehari-hari,” ujarnya.

Semakin berlipat kegembiraan diwajahku, ketika nenek menceriterakan semuanya. Aku bersyukur, Allah telah memperlihatkan keagungannya. Semua ini adalah balasan kepedihan dan sakit hati yang selama ini kurasakan saat mendapat sisaan oleh ayahku. Aku memeluk Nek Ijem erat sekali, apalagi saat kuceriterakan bagaimana aku diperlakukan bagaikan binatang ketika hidup bersama ayahku. Siksaan ayahku yang kurasakan sangatlag menyakitkan sekali. Ayah begitu tega berbuat begitu, menyiksa aku dan adikku secara berlebihan. Mas

Bagian Kelima

Aku Gelisah dan Resah

Rumah Nek Ijem bagiku bagaikan di surga. Memang sederhana keadaan rumahnya, namun sangat luas dan mempunyai halaman yang ditumbuhi berbagai pepohonan yang bisa melindungi dari sengatan matahari. Nek Ijem sejak ditinggal mati suaminya, hidup menyendiri namun banyak kegiatan yang dilakukan, termasuk ia masuk suka mengawasi para pekerja di sawah miliknya. Ia dikenal di desa itu sebagai janda kaya yang sangat baik hati dan disegani warga karena bisa membangun desa dan menghimpun kelompok petani sehingga banyak warga yang sangat mencintainya.

Meski sendiri hidup di rumah,namun setiap hari rumah itu selalu ramai oleh para pekerja atau kelompok tani yang dipimpin oleh Nek Ijem. Ia memiliki jiwa kepemimpinan yang bisa membawa masyarakat kearah yang lebih baik. Bahkan dia yang selalu mendorong masyarakat untuk membangun desa dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan banyak menanam pohon-pohon yang bermanfaat.

Kemampuannya memimpin kelompok petani wanita membuat Nek Ijem dikenal luas di tengah masyarakat serta semua orang menghormati akan jasa yang telah dilakukan selama ini. Tubuhnya yang agak gemuk dan wajah yang selalu ceria telah membuat banyak orang tertarik untuk ngobrol, apalagi dia pun dikenal suka humor dan bisa membuat orang lain tertawa bila sudah berceritera.

Dia pun pernah mendapat penghargaan dari Presiden sebagai sosok wanita yang bisa melakukan perubahan di desa, yaitu wanita pelestari lingkungan. Dulu sewaktu masih muda, dia bisa membangun desa menjadi desa yang bisa dialiri air, padahal sebelumnya desa itu sangat kering. Bersama suaminya dia berusaha untuk bisa menyuburkan sawah dan tanah di desa Lingga yang selama ini sangat kering dan banyak warga yang mengungsi ke desa lain sebab tidak ada yang bisa diharapkan dengan daerah yang sangat kering.

Selama sepuluh tahun, Nek Ijem bersama suaminya menggali perbukitan untuk mendapatkan air dari sungai Cikundul, sebab jalan satu-satunya hanyalah dengan cara membuat saluran air dari perbukitan yang nantinya air akan mengaliri sawah penduduk. Kesabaran dan semangat suami istri itu sungguh sangat mengagumkan, mereka berdua tak kenal lelah terus bekerja siang malam untuk bisa membuka saluran air ke desa Lingga, meski beberapa warga ada yang melecehkan pekerjaan mereka, karena pekerjaan itu mustahil dikerjakan. Tetapi keyakinan suami istri itu mengalahkan cemoohan beberapa warga.

Warga penduduk baru merasa kaget dan terkejut ketika menyaksikan perjuangan suami istri itu teryata membuahkan hasil. Air bisa mengalir dari sungai Cigendul ke area tanah pesawahan yang selama ini kekeringan berpukuh-puluh tahun. Penduduk gembira dan kagum dengan perjuangan yang dilakukan Nek Ijem. Manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh penduduk yang memang sangat mendambakan ada air yang bisa menyuburka tanah di area desa itu.

Nek Ijem sempat hendak dicalonkan menjadi kepala desa, namun dengan rendah hati dia mengatakan sama sekali tidak berminat menjadi kepala desa , karena masih banyak kesibukan lain yang harus dikerjakan. Ia lebih senang menjadi seorang petani yang tangan dan kakinya penuh kotoran namun dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

“Pokoknya dimanapun kita berada, jadilah manusia yang bermanfaat dan dibutuhkan orang lain. Itulah kebahagiaan hidup…yaitu bisa berbuat baik untuk kepentingan umum,” ucap Nek Ijem saat kami berbincang-bincang di rumah. Aku seringkali mendapat nasihat yang sangat berharga, itu karenanya setiap ucapannya selalu kuperhatikan dan kuingat berulang-ulang.

Nek Ijem selalu menanyakan keadaan kesehatanku setiap hari, terlebih ketika usia bayi sudah menginjak 8 bulan. Dia menyediakan berbagai makanan yang sangat penting dimakan bagi seorang wanita yang sedang hamil. Entah, aku tidak tahu Nek Ijem selalu saja ada uang untuk membeli buah-buahan yang kusukai atau makan sayuran. Kehadiranku di rumahnya, benar-benar sangat membahagiakan. Itu sama sekali tidak kuduga, sebab dengan keadaanku hamil diluar nikah akan dicemoh dan diusir oleh warga desa. NamunNek Ijem memberi jaminan keselamatan aku dan bayiku, bahkan hingga bayi itu tumbuh dewasa.

“Selama kita tidak berbuat kejelekan dengan siapapun mengapa mesti takut? Kamu saat sekarang tengah terkena musibah, tidak perlu kecewa berlebihan, bersabar dan serahkan sepenuhnya kepada Allah yang menciptakan kita, insya Allah dibalik semua musibah ada hikmah yang tersembunyi,” ucapnya. Ya, memang benar apa yang dikatakannya, semua yang musibah ada hikmahnya. Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi di masa depan. Semua itu masih misteri dan kita hanya menduga-duga.

Perutku tepat berusia 8 bulan, berarti bulan depan aku akan melahirkan seorang bayi. Benar kata Nek Ijem, bayi yang kelak akan lahir adalah suci dan bersih tidak ada dosa dan cacat kejelekan dalam dirinya. Maka harus dijaga dan dipelihara bayi yang suci itu. Kehadirannya adaah anugerah yang tidak ternilai harganya.

“Terus terang, nenek sudah sewaktu dulu perna datang ke dokter ahli kandungan untuk menanyaka masalah ketidakhamilan perutku. Dokter mengatakan bahwa aku tidak akan mendapatkan anak karena ada penyempitan di rahimku, sehingga sampai kapan pun tidak akan tumbuh bayi dalam rahim. Segala dukun dan paranormal yang bisa memberi jalan keluar agar aku bisa hamil, ternyata tidak ada hasinya. Allah telah mennakdirkan nenek tidak mempunyai anak. Tetapi nenek sama sekali tidak menyesali atas kehendak Allah, terima semua apa yang telah digariskan. Jadi sekarang kamu harus belajar mensyukuri bahwa kamu bisa hamil!” katanya.

“Tapi Nek! Aku mengandung bukan berdasarkan resmi aku menikah dengan seorang lelaki, tetapi semua ini akibat ulah ayahku, apa yang harus aku syukuri!” tanyaku protes karena aku masih belum bisa menerima keadaanku sekarang ini.

“Subhanallah! Nah kalau begitu sekarang nenek tanya kepada kamu. Apakah semua kejadian yang menimpa kamu adalah keinginan kamu? Apakah kamu lahir ke dunia adalah keinginan kamu? “

Aku menggelengkan kepala. Benar juga, aku sebenarnya tidak pernah meminta untuk lahir ke dunia. Kalau saja boleh memilih sewaktu aku masih di alam lain, aku minta saja sebagai malaikat atau menjadi manusia yang serba kecukupan dan hidup penuh kesenangan. Tapi semua itu bukanlah keinginan kita. Semua sudah ditakdirkan Allah Swt.

“Kalau begitu, coba kamu pahami, bahwa hidup ini adalah sebuah ujian yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Tidak ada manusia yang diciptakan langsung bebas dari ujian, bahkan tingkatan nabi dan rasul yang bertugas untuk menyampaikan risalah kebenaran, ujiannya sangat berat, harus melalui tekanan dan cobaan yang bisa saja mengancam keselamatan dirinya. Tetapi mereka mampu melaluinya dengan pertolongan Allah.”

Meski aku belum begitu memahami tentang makna kehidupan, apalagi usiaku belum menginjak dewasa, namun sedikit demi sedikit makna hidup sudah dapat kutangkap seiring degan perbincangan nek Ijem yang bisa meyakinkan diriku. Aku merasa mendapat pelajaran yang sangat berharga melalui pengalaman nenek. Ia seakan ingin meyakinkan aku bahwa hidup di dunia, adalah amanah yang harus dijalankan sesuai perintah Allah. Tidak perlu kecewa, menyesali nasib atau menyalahkan orang lain. Belajarlah dari alam yang setiap hari kita lihat. Belajarlah hidup dari lebah, semut atau burung yang setiap hari harus merawat anaknya, tetapi tidak ada anak burung yang mati kelaparan atau ikan yang hidup di lautan.

Tinggal di Nek Ijem selama sebulan sudah kurasakan beberapa perubahan yang terjadi pada diriku. Aku sekarang harus belajar ikhlas terhadap apa yang telah terjadi pada diriku. Aku tidak boleh membenci dan menyimpan dendam kesumat terhadap ayah sendiri yang telah menghancurkan masa depan. Aku pun tidak boleh membenci kepada bayi yang akan lahir ke dunia; bayi adalah makhluk suci dan telah membawa takdir sendiri-sendiri. Aku pun tidak boleh menyesali nasib jelek atas musibah pahit yang menimpa diriku. Biarlah semua peristiwa yang pernah kualami adalah kasih sayang Allah yang terkadang berat untuk diterima oleh akal sehat.

Kekejaman ayahku menyiksa dan memperkosa aku adalah ujian dan musibah yang menyimpan hikmah. “Nenek yakin, ada hikmah yang besar dari peristiwa semua ini. Kamu harus sabar dan tawakal menghadapinya. Kelak kamu akan menemukan kebahagiaan yang tidak pernah terlintas sedetik dalam pikiranmu. Jadi tetaplah untuk terus bersabar….!” ujarnya.

Ah, sabar. Kata itu yang kini menjadi peganganku. Memang tidak mudah menjadi orang sabar, sebab kesabaran seringkali diiringi deriaian air mata yang berkepanjangan atau luka mendalam yang sulit untuk disembuhkan, namun sabar memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bahkan boleh jadi, menahan kesabaran berakhir dengan kematian, maka itulah sebaik-baiknya kehidupan. Ucapan Nek Ijem kembali menggema di telingaku.

Sabar ketika aku harus menghadapi saat-saat yang pasti akan terjadi kelahiran bayi pertamaku. Tak kubayangan betapa sakitnya menahan perut mengeluarkan seeorang bayi, padahal usiaku bulum cukup dewasa. Aku masih muda belia dan belum saatnya melahirkan. Ah, bila teringat demikian, aku terkadang ingin segera saja mati. Aku tak ingin hidup menanggung malu. Ya, apa yang dikatakan Nek Ijem tidak ada yang salah, namun aku yang menjalaninya sangat berat dan sulit sekali untuk bisa menahan kesabaran.

Kulewati hari-hari di rumah dengan persiapan matang. Bahkan Nek Ijem menyuruh salah seorang paraji di kampung untuk terus mengontrol dan mengawasi bayi yang kelak akan lahir ke dunia. Paraji yang berusia 60 tahun dan tinggal agak jauh dari rumah kami, rutin seminggu sekali datang ke rumah untuk memeriksa keadaan kandungan. Meski paraji yang bernama Nginem itu hanya lulusan SD, tetapi pengalaman yang sangat dalam mengenai kelahiran ia menguasai proses kelahiran. Nginem berkulit agak hitam , namun dia sangat ramah dan bicaranya pelan. Terkesan tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.

Setiap pagi aku berjalan-jalan di halaman rumah seraya menikmati keindahan alam pedesaan. Aku pun membantu pekerjaan nenek, baik mencuci piring atau menyiram tanaman yang tumbuh di halaman rumah. Meskipun nenek Ijem melarang agar mencuci atau menyiram tanaman, namun kukatakan kalau itu kukerjakan sekedar mengisi kejenuhan saja. Bila melihat tndiarahkan saat, meski keadaanku pada saat itu benar-benar goncang, sekolah pun aku sudah jarang masuk karena aku harus mencari nafkah sendiri, ditambah lagi aku mulai merasakan mual yang sangat menganggu sekali terhadap aktivitas sehari-hari.

Ibu Hanifah mengetahui apa yang terjadi dengan diriku. Dialah yang selalu memberi motivasi agar tetap sekolah dan mendapatkan ijazah karena penting bagi masa depanku. Tadinya aku sudah tidak berharap bisa melanjutkan sekolah, perjalanan meraih ijazah terseok-seok dan hampir-hampir dinyatakan drop out, sekolah pun sangat jarang dan banyak kegitan sekolah yang tidak bisa diikuti, namun beruntung bisa dinyatakan lulus, disebabkan prestasi yang selalu cermerlang sejak kelas satu.

Rasanya aku ingin menangis melihat teman-teman melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi mereka diantar oleh orangtuanya untuk mendaftar, hatiku luka melihat semua itu, sebab kedua orangtuaku tidak peduli sama sekali keberadaanku, bahkan yang menyakitkan hati aku mendapat perlakuan kasar dari ayahku. Seorang ayah pemabok, gila seks, penjudi, menguasai ilmu hitam adalah ciri yang melekat dalam pribadinya, sehingga orang memandang dengan hina dan sama sekali tidak ada penghargaan.

Masa kelam suram yang pernah kujalani, meski telah berusaha untuk tidk diingat-ingat kembali, namun tanpa diundang kerapkali menari-nari dalam benakku. Aku ingin bersembunyi dari bayangan hitam itu, tetapi semakin aku berlari, dia semakin mengejar dan membuat aku lelah dan menambah luka mendalam. Sosok ayah yang seharusnya menjadi idola, memberi inspirasi serta mendorong aku untuk meraih kehidupan yang lebih baik, ternyata hanya mimpi belaka. Semua itu jauh dari angan-anganku. Aku terbelengu dengan masa remaja yang sudah hancur dan tidak ada harapan lagi.

Siapa lelaki yang mau menjadikan aku sebagai istrinya? Pikiran itu kini membelengu dalam ingatanku, yang membuat aku semakin ragu menghadapi masa depan. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Hanya penyesalahan yang seringkali menghantui pikiranku. Aku merasa sudah menjadi wanita tercemar dan ternoda, karena ayahku yang telah menghancurkan masa depanku. Trauma dan stress seringkali hadir di saat-saat aku sedang menyendiri. Aku tak dapat menahan air mata bila semua kenangan pahit membayangi diriku.

Menjadi seorang wanita muda yang hamil, ternyata sangat menyakitkan hati. Di saat masa remaja dihabiskan dengan mengejar ilmu dan dihiasi cita-cita yang indah, justru aku harus berhadapan dengan bencana yang sama sekali menyakitkan hati. Kalau tiba-tiba tanpa sengaja wajah ayah terlintas dalam benakku, maka mendadak wajahku pucat pasi dan badanku menggigil ketakutan, karena perilaku ayah benar-benar bagaikan binatang liar yang hendak membunuh musuhnya. Aku tak bisa menghindar atau melawan keinginan nafsu ayah kalau sudah datang pada dirinya. Ia bagaikan setan yang tidak ada sedikit pun rasa penyesalahan telah memperkosa anaknya.

Bahkan tidak hanya itu, tangannya entah sudah berapa kali mendarat di wajahku yang membuat aku merasa sakit dan pedih. Pukulan dan tendangan ke tubuhku seolah aku dianggap sebagai binatang jahat saja. Apalagi kalau aku menolak keinginannya, maka aku akan mendapat perlakuan yang kasar. Bekas-bekas penyiksaan masih tersisa di tubuhku, bahkan di punggungku bekas pukulan yang memakai kayu, masih terlihat. Aku hanya menangis bila sudah menghadapi kekerasan fisik yang dilakukan ayah. Dia benar-benar seperti iblis yang tidak ada rasa belas kasihan sama sekali.

Belakangan aku tahu, kalau ilmu hitam yang dikuasai oleh ayahku memang tidak lagi mengenal rasa kasihan kepada orang lain, bahkan siapapun yang ada dihadapannya adalah musuh yang harus mendapat siksaan, kecuali kalau teman-temannya menjadi pengikut dirinya, maka dia akan memperlakukan bagaikan anak kandungnya sendiri. Nyaris rasa kasih sayang kepada keluarganya tertutup oleh nafsu setan. Maka tak aneh kalau ayahku sejak menguasai ilmu hitam hampir tidak pernah memperhatikan keadaan keluarga. Dia lebih sibuk dengan urusan perkelahian, minuman keras, perjudian atau wanita. Keseharian sibuk membuat keonaran, entah di terminal di café atau di jalanan.

Aku tak habis pikir mengapa jalan hidup ayah seperti itu. Ayah menjadi manusia yang angkuh, sombong dan tidak merasa bersalah terhadap perilakunya yang jahat dan kejam. Dia sangat dibenci tetangga dan warga desa, tetapi sama sekali tak peduli dengan omongan banyak orang. Malah dia berani menentang kepada siapapun. Berurusan dengan kepolisian bukan satu dua kali, tetapi sudah sangat sering, namun aneh kelakukannya tidak pernah berubah.

Wajar kalau ibu tidak tahan dan menderita gangguan jiwa diperlakukan ayah seperti binatang. Ibu sudah terlalu sakit hati dan nampaknya sulit untuk memaafkan tindakan suaminya bagaikan setan. Rasa kasih sayang, kelembutan dan belaian dari seorang suami tidak pernah ibu rasakan, justru yang diterima adalah kekerasan fisik dan tekanan mental, sehingga ibu tak dapat menahan gejolak emosinya. Ia tak dapat mengungkapkan kepedihan dan rasa sakit hatinya, sehingga jalan satu-satunya hanya menangis sendirian dan menyembunyikan diri di kamar.

Aku hanya mengelus dada serasa pedih menyaksikan semua kejadian yang menimpa keluarga kami. Ayah adalah sosok monster yang sangat menakutkan dan mengerikan di hadapan kami. Dia lahir bagaikan seorang manusia berhati iblis yang tidak peduli dengan keadaan kami yang setiap hari harus makan. Dia tidak pernah memikirkan nasi, lauk pauk atau kebutuhan rumah tangga. Selama ini hanya ibulah yang selalu berusaha kesana kemari, atau ibu berjualan makanan ringan yang bisa dibawa-bawa ke tetangga. Aku dan Adikku seringkali dibawa untuk menemani ibu berjualan.

Walaupun hasil dari berjualan keliling tak seberapa sekedar cukup untuk makan sehari, namun bagi kami merasa bahagia, sebab kami masih bisa makan seadanya. Namun kami sakit hati kalau uang yang ibu peroleh direbut oleh ayah untuk minum atau berjudi, dia tak peduli dengan keadaan kami yang kelaparan. Maka tak heran, kalau kami kadang-kadang tidak makan karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Untung saja, suka ada tetangga yang kasihan melihat penderitaan kami. Kami diberi makan ala kadarnya.

Bila kenangan pahit itu secara tak sengaja terlintas dalam pikiranku, aku hanya bisa meneteskan air mata. Betapa nasib kami benar-benar sangat menyedihkan penuh dihiasi derita dan air mata yang entah sampai kapan akan berakhir. Kini aku harus menanggung beban berat yang kupikul; bayi yang tinggal dua mingguan lagi akan melahirkan. Bayi pertama yang sama sekali tidak kudambakan, sebab dia lahir dari buah tangan nafsu biadab ayahku. Aku tak berharap bayi itu akan terus berumur panjang, karena dia akan membawa malu diriku dan keluarga kami.

Ketika bayi itu bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri serta kakinya sering menendang-nendang, aku hanya menarik napas panjang. Rasa penasaran sangat kuat dalam kalbuku, aku ingin mengetahui bagaimana wajahnya? Apakah anak itu akan lahir normal sebagaimana bayi yang lain? Bukankah dia hasil kebiadaban ayahku? Keraguan tentang keadaan bayi yang kelak akan lahir sangatlah menganggu pikiranku. Bagaimana kalau bayi itu cacat atau tidak sempurna? Ah, tak dapat kubayangkan bagaimana aku harus mengurus seorang bayi, sementara aku masih sangat awam dan belum tahu apa-apa.

Kerapkali kuelus-elus dan kuusap-usap tatkala bayi itu bergerak-gerak di dalam rahimku. Aku terkadang berguman sendiri; “Kasihan engkau bayiku, engkau lahir ke dunia hanya membawa kedukaan belaka. Aku bukan tidak menghendaki kehadiran engkau di bumi, namun engkau lahir melalui nafsu bejad ayahku. Namun aku ikhlas dan ridha terhadap guratan nasib yang harus aku jalani. Aku tidak menyesali apa yang telah terjadi pada diriku, aku hanya pasrah bahwa semua ini adalah takdir yang harus kuhadapi,”

Segala persiapan persalinan bayiku sudah Nek Ijem persiapkan, bahkan baju bayi, popok dan kayu putih serta berbagai kebutuhan bayi sudah ada di kamarku. Aku bersyukur sekali, keperluan untuk bayi sudah tersedia. Padahal tiga bulan yang lalu sama sekali tidak terpikirkan. Di sinilah aku baru menyadari bahwa setiap bayi yang lahir ke dunia membawa rejeki masing-masing. Tak terlintas pula dalam pikiranku bahwa aku harus berada di sebuah perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Suasana di desa ini sangat tenteram dan nyaris tidak pernah lagi telingaku mendengar suara mobil atau motor.

Desa tempat aku bersama Nek Ijem sangat subur dan dekat pegunungan. Sejauh mata memandang adalah pesawahan yang membentang luas dan pepohonan dan rumput liar yang berjejer di sepanjang jalan. Gunung terlihat jelas menjulang tinggi dari kejauhan. Air yang mengalir dari pegunungan sangatlah jernih, sehingga anak-anak yang sedang mandi atau ibu-ibu yang mencuci pakaian Nampak diliputi kegembiraan.

Aku bisa menghirup udara segar di desa ini. Bahkan setelah beberapa bulan tinggal di sini, aku seperti lahir kembali ke dunia yang baru. Meski aku merasakan duka yang mendalam terhadap peristiwa yang telah kualami, namun setidaknya di sini aku merasakan ada yang memberi harapan masa depan yang lebih baik. Aku baru menemukan seorang nenek yang begitu sangat mencintaiku, padahal sama sekali tidak terbayangkan. Semua ini adalah anugerah Allah, meski aku harus tabah menghadapi kelahiran bayi.

Nenek Ngatiyem hampir dua minggu sekali menengok aku di sini. Pagi-pagi mereka sudah tiba di rumah. Aku sangat bahagia kedatangan mereka, terlebih ketika adikku mengabarkan kalau lomba catur yang diikutinya meraih juara pertama dan mendapat hadiah uang yang lumayan besar.

“Makanya aku ingin ke sini, ingin memberi uang kepada kakak, untuk keperluan sehari-hari,” ujarnya seraya menatap kearahku dan perutku yang sudah membesar. Aku terharu mendengar ucapannya. Dia memang seorang adik yang sangat menyayangiku, sebab selama di Bandung, kami hidup berdua dalam keadaan duka dan merana yang berkepanjangan, apalagi ketika kami pernah disekap di kamar oleh ayahku.

“Luar biasa kamu bisa menjadi juara catur. Kalau sekarang sekolahnya bagaimana? Bukankah kamu akan melanjutkan ke SMP tahun sekarang?” tanyaku.

“Aku langsung diterima di SMP negeri dan mendapat beasiswa langsung dari kepala sekolah dan sebulan lagi akan diikutsertakan dalam lomba olympiade fisika tingkat internasional.”ujar Ridwan yang kini terlihat agak gemuk dibandingkan saat pertama kami datang ke nenek.

“Syukurlah. Kakak selalu mendoakan kamu agar tabah menghadapi semua tantangan.. Masa depan kamu ditentukan dari mulai sekarang,”

Ridwan menganggukkan kepala. Sementara ibu dan nenek banyak menanyakan tentang bayi dalam kandungan, sebab masih ada kecemasan dan kekhawatiran diwajah mereka, apalagi bayi yang akan lahir merupakan hasil perbuatan ayah. Beban malu tak bisa disembunyikan dari wajah-wajah mereka, yang kelihatan kebingungan bila saja ada yang menanyakan tentang ayah sang bayi tersebut.

“Kalau ada yang menanyakan siapakah bapak bayi yang akan lahir. Kita katakan saja, kalau bapaknya sudah meniggal dunia karena kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan nyawanya tidak dapat tertolong!” ucar Nek Ijem.

“Apakah dibolehkan dengan berbohong seperti itu?” tanyaku.

“Tidak ada jalan lain. Kita harus sepakat, bapaknya sudah meninggal dunia saat kandungan masih berusia 2 bulan,”

“Ya kalau memang itu adalah kesepakatan yang terbaik. Kita katakana saja, kalau bapaknya sang bayi sudah meninggal dunia di Bandung,” ujar Nenek Ngatiyem seolah ada jalan keluar menghadapi beban yang selama ini ditanggung olehku.

“Tapi apakah bapak kamu sekarang masih ada?” tanya nenek Nek Ijem.

“Sudahlah Nek! Aku sama sekali tidak ingin mengingat kembali kenangan pahit yang pernah terjadi pada kami. Biarkan saja, syukur kalau dia sudah mati!”

“Is jangan begitu. Sekejam-kejamnya ayah, mungkin suatu ketika dia sadar dan sudah bertobat dan ingin bertemu dengan kalian!”

Ibu yang sejak tadi diam saja, ketika disebut-sebut nama suaminya, maka seketika ia langsung berkata :”Sudahlah, tidak pantas dia disebut-sebut lagi di sini. Tak ada sedikit pun manfaatnya!”

Semua terdiam ketika ibu angkat bicara. Ya memang benar, tidak ada manfaat sama sekali membicarakan seseorang yang telah menghancurkan keluarga dan nama baiknya. Ayah telah membuat malapetaka terhadap istri dan keduanya anaknya. Untung saja aku masih bisa bertahan hidup karena hidayah Allah, sebab tanpa karunia-Nya, boleh jadi aku sudah masuk kealam kubur bersatu dengan tanah. Entah bagaimana pula nasibku di alam barzah; sementara aku mengandung bayi yang suci. Ih, ngeri membayangkan semua itu. Padahal aku masih ingat ketika itu aku telah memasang tambang plastic untuk melakukan bunuh diri, tekadku sudah bulat, bunuh diri adalah jalan terbaik dan menyelesaikan semua permasalahan yang tengah kudahadapi, tapi untung …kalau saja adikku tidak masuk ke ruangan dapur, dan berteriak histeris melihat rencana aku, mungkin aku sudah terjerat oleh tali plastik.

Merinding bulu kudukku, ketika kubayangan tali plastik menjerat leherku, dan aku tak bisa lagi bernapas. Betapa luar biasa sakitnya. “Astaghfirullah…..” berulang kali aku mengucapkan istighfar mengingat sikap dan tindakanku yang bodoh duku. Baru aku sadar, bahwa Allah masih sangat menyayangi dan memperhatikan aku, karena kalau saja bukan atas kehendak Allah, mungkin aku pun sudah menjadi mayit yang hina dina. Mayit yang hanya sekedar bau bangkai dan harus mempertanggungjawabkan perbuatanku dihadapan Allah.

Aku menarik napas dalam-dalam dan tak ingin terulang kembali semua kepahitan hidup yang pernah kualami, cukup aku saja yang tragis mengahadapi semua ini. Biarlah aku sebagai saksi hidup yang harus menderita seumur hidup, karena trauma pemerkosaan itu selalu menghantui pikiran dan terkadang aku tak mampu mengendalikan emosi, sehingga terkadang tanpa kusadari aku suka menjerit histeris di malam hari, yang sudah barang tentu Nek Ijem merasa cemas dan khawatir. Namun untung saja, Nek Ijem sangat tabah dan sabar serta memahamo kondisi psikologis yang terjadi pada diriku, sehingga dengan kesabaran dan ketawakalannya, ia kuat menghadapi semua itu. ***

Bagian Keenam

Aku Melahirkan Bayi Perempuan

Malam jumat seperti biasanya kami mengadakan pengajian bersama di rumah. Semuanya berkumpul termasuk adikku, ibuku dan nenek Ngatiyem. Kami membaca surat Al-Quran secara bergiliran, kemudian ditutup dengan doa memohon agar saat kelahiranku berjalan lancar dan dikarunianya keberkahan. Aku tidak tahu kapan akan melahirkan bayiku, tetapi paraji desa sudah menghitungnya, kalau kelahiranku hanya tinggal menghitung hari saja. “Jadi kamu mesti banyak berdoa kepada Allah agar selama persalinan diberi kelancaran dan kekuatan,” ujar Ibu Fatimah, paraji desa yang sudah sangat dekat denganku dan selalu memberi bimbingan kepadak tentang merawat bayi.

Ibu Fatimah tidak pernah diberitahu masalah ayah sang bayi tersebut, hanya yang dikabarkan adalah ayahnya telah meninggal dunia dalam kecelakaan lalu litas sehingga meninggal dunia. Diberi kabar seperti itu, dia nampak kaget, tetapi kemudian dia berkata, “Semua ada takdir yang sudah ditetapkan Allah Swt. Kita harus sabar dan tabah menjalani takdir itu. Siapa tahu bayi itu membawa keberkahan bagi kita dan menjadikan kita terbawa rahmatnya,” ucap Ibu Fatimah yang kulitnya agak kecoklatan. Tubuhnya kecil namun sangat cekatan dalam bekerja. Jarang bicara banyak, tetapi tangannya terus bekerja. Kalau tidak menolong persalinan, biasanya ia suka membantu di sawah Nek Ijem kalau sedang panen.

Aku menganggukkan kepala, memahami apa yang dikatakan olehnya. Memang tidak salah segala sesuatu telah ada garis takdir yang harus dijalani, tidak perlu menyesali diri atau bertindak bodoh bunuh diri, namun dihadapi semua yang terjadi. Allah tidak mungkin membiarkan hambanya dalam keadaan terus menerus dalam derita dan duka berkepanjangan.

Harapan sepenuhnya digantungkan kepada Allah, termasuk bayi yang akan lahir ini, semuanya aku pasrahkan kepada Allah dengan keikhlasa. “Ya Allah, Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, Engkau maha mengetahui apa yang terjadi dengan diriku. Ya Rahman, tutuplah aib yang terjadi pada diriku ini, aku tak kuasa seandainya aib ini diketahui oleh semua orang, mau dikemakan harga diri keluarga kami. Berilah jalan kebaikan terhadap musibah yang terjadi. Engkau menyimpan misteri yang sama sekali tidak aku pahami, namun aku memohon agar Engkau membimbing dan memberi petunjuk agar aku berada di jalan yang Engkau ridhai,” itulah sepenggal doa yang kini seringkali aku panjatkan di saat-saat aku tengah sendirian di kamar. Ah, tak dapat kubayangan betapa aib yang menimpaku ini benar-benar malapetaka bagi keluarga kami.

Aku hanya bisa pasrah menghadapi bayi yang kelak akan lahir ke bumi. Bagaimana pun bayi itu adalah anak kandungku sendiri, dia adalah belahan jiwaku, aku tidak boleh menelantarkan dan membiarkan dia dalam kedukaan dan merana, hanya karena janinnya adalah dari ayahku. Kebiadaban ayah yang ditujukan kepadaku merupakan musibah yang tidak bisa aku hindari. Siapa wanita yang berkeinginan sepertiku ini? Aku yakin tidak ada yang mau, apalagi bayi yang kukandung adalah janin ayahku sendiri. Sungguh memalukan!. Aku takut ada bencana yang terjadi pada keluarga kami akibat perbuatan ayah yang sudah bejat moralnya.

Malam itu selesai mengaji bersama, aku masuk ke kamarku karena merasakan kantuk yang sangat kuat di kedua bola mataku. Aku ingin tidur. Kupanjatkan doa yang biasa kubacakan disaat aku akan tertidur. Semenit kemudian, aku terlelap tidur. Di luar rumah semilir angin menerpa pohon-pohon yang ada di halaman rumah. Binatang malam bernyanyi dari kejauhan, Suasana perkampunga sangat terasa sekali. Bulan terang seakan bernyanyi di tengah malam sunyi. Bintang-bintang yang bertebaran pun seolah ikut menari dan saling berkejaran.

Malam itu tiba-tiba aku merasakan ada sesosok bayangan yang mirip dengan ayahku. Mendadak wajahku pucat pasi dan badanku menggigil sebab aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan sosok lelaki yang menghancurkan masa depanku. Namun kehadiran lelaki yang kubenci sulit sekali kuhindari, terlebih ketika dia datang dalam keadaan penuh nafsu dan ingin memperkosa kembali.

“Ayah sadarlah, apa yang ayah lakukan selama ini adalah perbuatan binatang dan ayah akan mendapat azab keras dari Allah,” ucapku dengan suara terbata-bata karena rasa takutku yang mendalam.

“Aku sudah tidak peduli lagi. Apapun yang aku lakukan dan inginkan, tidak seorang pun yang bisa membantah, pokoknya kamu harus melayani aku!” suaranya lantang dan sangat bernafsu sekali.

“Aku tidak mau, ayah telah menghancurkan masa depanku. Ayah pergi dari sini, saya sudah merasa tentram ada di sini, mengapa ayah datang ke sini? Siapa yang memberitahu keberadaan kami di sini?”

“Kamu tidak perlu tahu. Pokoknya aku datang ke sini untuk menyempurnakan ilmu sihirku, sebab kalau aku melakukan zinah dengan anakku, maka segala keinginanku akan tercapai!”

Badanku sudah mengeluarkan keringan dingin, karena diliputi rasa takut yang berlebihan.

“Apa sesungguhnya yang arah inginkan di dunia ini” tanyaku dengan lantang.

“Pokoknya aku ingin menjadi hebat di dunia ini dan tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan…dan juga aku ingin bisa meraih kejayaan dan banyak rejeki!”

“Tapi bukan dengan cara mengorbankan anakmu menjadi budak nafsu. Ingat ayah, aku tidak rela dengan perbuatan ayah yang telah menghancurkan aku…aku akan menuntut balas terhadap ayah yang sangat biadab!”

Kudengar ayah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. Ia sama sekali tidak memperlihatkan sosok seorang bapak kepada anaknya, tetapi dianggapnya adalah wanita yang harus melayani nafsu binatang.

“Catat oleh kamu, bapak tidak akan bisa menjadi jaya dan keperkasaan yang hebat sebagai seorang lelaki, bila syaratnya adalah harus melakukan perbuatan zinah dengan anaknya. Syarat itu harus dilaksanakan demi mengejar kekayaan dunia!” ucap ayahku lantang.

Beberapa kali aku hanya membisu.

“Siapa yang mensyaratkan seperti itu. Itu adalah syarat yang akan mencelakakan ayah, pasti datangnya dari iblis….!”

“Diam kamu jangan bilang-bilang iblis, itu adalah nenek moyangku yang telah memerintahkan aku untuk melakukan zina dengan 100 wanita termasuk seorang anakku. Kalau aku sudah sampau ke seratus, maka aku akan berhasil dan sukses menguasai dunia ini…!”

Aku terperangah mendengar pengakuan itu. Kalau demikian, jiwa raga ayah sudah dikendalikan oleh setan. Wujud fisiknya adalah manusia, tetapi sebenarnya yang mengendalikan adalah setan.

Aku semakin ketakutan melihat ayah yang badannya besar, tinggi dan berkulit hitam. Jauh sekali dari apa yang selama ini aku lihat di rumah. Aneh, mengapa ayah menjadi seperti itu. Betulkan itu ayahku? Aku bertanya-tanya dalam hatiku.

Tiba-tiba ayah mendekat dan memegang kedua bahuku seraya matanya melotot dan hendak membuka baju yang kukenakan. Badanku bergetar ketakutan dan berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya yang kuat mencengkram bahuku.

“Lepaskah ayah…aku tak ingin lagi melihat …aku benci dengan ayah yang telah menghancurkan jalan hidupku..!”teriakku. Tetapi sekeras apapun suara jeritan yang aku keluarkan dari mulut, tidak mengubah sedetik pun kebiadaban yang akan dilakukan oleh ayah. Aku menutup muka ketika ayah telah membuka seluruh pakaianku…hancur sudah jiwa ragaku, aku hanya menangis dan tak dapat berbuat apa-apa lagi.

Tetapi aku tidak boleh tinggal diam, aku harus berontak melawan dan berusaha untuk tidak diperlakukan senonoh oleh ayahku. Maka tiba-tiba terpikir untuk menendang kemaluannya, maka di saat aku sudah terpepet, maka kaki kananku sekuat tenaga menendang kemaluannya. Dia berteriak kesakitan dan wajahnya meringgis menahan sakit , maka aku segera bergegas untuk berlari, namun kakiku dipegangnya kuat-kuat.

“Tolong….tolong.” aku berteriak meminta tolong seraya ingin melepaskan kakiku dari cengkereaan tangan ayahku.

“Bruk…..!” tubuhku terjatuh dari ranjang. Aku terkejut dan baru sadar bahwa semua yang terjadi adalah mimpi. “Astagfirullahal adhiim!’ seruku sesaat menyadari kalau peristiwa yang sangat kutakutkan itu adalah kembang tidur.

Aku bersyukur kejadian yang mendebarkan itu hanyalah mimpi belaka, namun telah membuat tubuhku berkeringat. Napasku tersengal-sengal.

Nek Ijem masuk ke dalam kamar dan menghampiri aku yang masih terbaring di lantai.

“Lho kamu ini kenapa?” tanyanya dengan heran.

“Aku bermimpi buruk Nek…aku terjatuh!” ucapku seraya duduk di lantai.

“Subhanallah....nenek kaget kamu beteriak minta tolong, nenek kira ada apa!” ucapnya seraya mendekatiku dan membantu aku untuk berdiri dan duduk di bibir ranjang. “Kamu sampai berkeringat begini…memangnya kamu mimpi apa?”

“Aku bertemu dengan ayah….dia akan melakukan perbuatan biadab kembali…sebab kalau tidak melakukan dengan anaknya, maka ilmu hitam yang dia pelajari tidak akan berguna!”

“Dasar orang kurang ajar…dia benar-benar sudah kafir dan murtad, sebab ilmu yang dipelajari tidak boleh untuk dipelajari,”

“Apakah mimpi itu firasat jelek?”

“Jangan berprasangka begitu, lebih baik kamu berdoa saja kepada Allah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi masa yang akan datang, jadi jalan satu-satunya adalah memperbanyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah. Itulah langkah terbaik!”

Aku terdiam sesaat, ada kekhawatiran dalam lubuk hati yang terdalam,kalau ayah akan mencari aku ke kampung ini. Benarkan ucapan ayah itu seperti dalam impiannya bahwa syarat untuk bisa menguasai ilmu hitam adalah dengan jalan harus menggauli anaknya sendiri. Kalau memang benar, betapa rusaknya moral ayah. Dan siapa pula yang menyuruh untuk berbuat begitu?

Kuharap impian yang terjadi beberapa waktu lalu hanyalah sekedar bunga tidur. Aku tidak ingin kembali terulang masa lalu yang pahit. Apalagi aku harus melayani nafsu binatang ayah yang tidak terkendali. Perilaku ayah adalah binatang jalang yang menghalalkan segala cara. Itu adalah perbuatan iblis yang ingin menyesatkan manusia.

Kulupakan semua mimpi buruk itu dan aku tidak ingin lagi datang bayangan ayah yang hanya sekedar mengungkap lagi luka lama yang sampai sekarang belum juga sembuh. Ayah ingin kukubur dalam ingatan dan menghilang dari pikiranku. Memang dia adalah ayah yang menyebabkan aku terlahir ke dunia, namun kalau kehadiran ayah bagiku hanya sekedar meluapkan nafsu iblis, untuk apa kami bertemu?.

Meski nenek selalu menasihati agar tidak menyimpan dendam, namun hatiku bergolak bila teringat semua tragedy yang menimpaku. Aku rasanya ingin menuntut balas dan melakukan perhitungan atas tindakan biadab ayah yang telah dilakukan. Memang tidak mudah untuk melupakan semua peristiwa pahit itu. Mimpi itu seakan menggugah kembali ingatanku ke masa lalu, yang sebenarnya sudah aku melupakan.

Beberapa kali aku hanya menghela napas, apakah mungkin ayah akan mencari aku dan memperlakukan aku sebagai budak nafsu lagi untuk memenuhi syarat menguasai ilmu hitam? Aku tak habis pikir dengan perilaku ayahku yang sudah jelas-jelas melanggar agama dan norma hukum yang berlaku di masyarakat. Aku tidak habis pikir, apa sesungguhnya yang sedang ayah kejar di dunia? Mengapa dia rela mengorbankan jiwa hanya sekedar untuk menguasai ilmu hitam? Aku hanya menggelengkan kepala bila mengingat kebiadaban ayah yang sudah diluar batas perikemanusiaan.

Seringkali aku mengusap-usap perutku yang sudah tinggal beberapa hari lagi melahirkan. Aku tidak ingin bayi yang lahir adalah seorang bayi yang membawa malapetaka di kampung kami hanya karena perbuatan zinah yang dilakukan ayah. Kami berusaha untuk menutupi aib keluarga, sebab tidak ada jalan lain yang harus kami lakukan kecuali menutup rapat-rapat aib itu.

Doa terus kami panjatkan agar bayi yang akan lahir membawa berkah bagi semuanya. Aku pun tidak henti-hentinya memanjatkan doa agar pikiran buruk yang selama ini menguasi hati kami, dijauhkan. Kami berkeinginan anak yang lahir adalah anak yang memberikan kerahmatan dan keberkahan.

Ada saja terlintas dalam pikiran kami, bila bayi yang akan lahir memilii kelainan fisik dan mental, itu yang sangat tidak kuharapkan. Betapa keluarga kami harus menanggung beban berat menghadapi semua itu. Tetapi aku mencoba menepis pikiran jelek itu, toh wanita kerapkali bayangan jeleknya terlalu jauh, sehingga membuatku jadi tidak tenang.

Seiring waktu berjalan, hari berganti, yang dinanti-nanti akhirnya tiba pula waktunya. Malam itu aku merasakan mulas yang luar biasa sakit dalam perutku. Seperti hendak mengeluarkan kotoran,namun tidak jelas. Aku meringgis kesakitan menahan sakit. Bayiku terus bergerak-gerak seolah meminta untuk segera keluar dari rahim.

Semua terbangun ketika aku meringgis kesakitan seraya memegang perutku. Ibu Fatimah, paraji yang selama ini merawatku sudah disusul untuk segera datang ke rumah. Suasana di rumah agak tegang, terlebih lagi ketika aku terus menerus menahan sakit dalam perutku. Cairan sudah keluar dari mulut rahim disusul darah, aku gugup dan bingung menghadapi semua ini, karena baru pertama kali aku mengalami hal semacam ini.

Mendadak Ibu Fatimah lama sekali tiba di rumah. Aneh, ada apa gerangan dengan paraji desa itu? Semua mejadi kebingungan dan cemas terbayang di wajah semua orang yang ada di situ. Nek Ijem yang ada di dekatku selalu mengingatkan agar terus menerus menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya.

Di luar kamar, ibuku gelisah dan kebingungan mendengar suaraku yang merintih kesakitan. Nenek Ngatiyem berulangkali keluar masuk rumah untuk menanti Ibu Fatimah, tetapi belum juga datang. “Kenapa ya dia lama sekali datang,!” ujarnya seraya memperlihatkan kecemmasan di wajahnya.

Malam memang sepi dan waktu menunjukkan jam 01.00 saatnya orang tertidur nyenyak. Angin malam berhembus cukup kencang menerpa pepohonan di halaman rumah.

Aku berusaha untuk menahan rasa sakit dalam perutku. Tuban telah pecah yang berarti bayiku ingin segera keluar dari rahim. Nek Ijem tegang saat melihat wajahku yang pucat pasi dan menahan rasa sakit yang teramat dalam.

Tiba-tiba terdengar suara Ibu Fatimah mengucapkan salam seraya masuk ke dalam kamarku.

Kulihat Ibu Fatimah kaget melihat di kasur telah berceceran darah.

“Subhanallah…maaf terlambat. Baru tidur jam 11, tadi jam 8 menolong yang melahirkan. Jadi beberapa kali dibangunkan…tidak kuat menahan kantuk!” ujarnya.

“Sudahkah…sekarang tolong saja agar cucuku ini bisa segera melahirkan bayinya!” ujar Nek Ijem.

Ibu Fatimah cekatan dalam menangangiku. Ia tampak tenang dan tidak gugup saat semua yang ada di rumah kegelisahan menanti kelahiran bayiku.

“Neng, pasrahkan jiwa kita kepada Allah.Melahirkan bayi adalah jihad di jalan Allah, maka mohonlah diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi detik-detik ini. Perbanyaklah berdoa!”

Aku sekuat tenaga berusaha mengeluarkan bayi dalam kandungan dengan rasa sakit yang luar biasa. Seluruh kemampuan dalam tubuhku kutumpahkan. Aku ingin segera melewati masa-masa kritis ini. Rasa takut dan khawatir membelengu dalam pikiranku; takut kalau bayi ini ada sesuatu yang janggal, karena benihnya bukan berasal dari lelaki sebagai suamiku, tetapi ayahku.

Di saat seperti itu, aku hanya bisa pasrah! Semua ini bukanlah atas kehendakku sendiri. Ini adalah suratan takdir yang tidak bisa dibantah.

Ibu Fatimah telah menyiapkan semua peralatan untuk persalinan bayiku, termasuk gunting untuk memotong tali ari bayi serta air hangat dalam baskom untuk memandikan.

“Ayo dorong terus sekuat tenaga…tuh sudah keluar kepalanya!” ujar Ibu Fatimah serata memegang pahaku.

Napasku turun naik, sebab kurasakan sakit dan perih pada perutku. Apalagi ketika kurasakan kepala bayi sudah mulai keluar sedikit demi sedikit. Keringat di wajahku sudah bercucuran, bahkan punggungku sudah basah. Seluruh daya kekuatan sudah aku lakukan untuk mengeluarkan bayi.

“Sedikit lagi Neng! Terus keluarkan tenaganya….bayinya sudah ingin keluar…sedikit lagi!” ucapnya. Aku menjerit karena rasa sakitku yang luar biasa di perutku. Tak terbayangkan sesakit ini, dan baru pertama kalinya aku mengalami peristiwa yang mendebarkan jantung ini. Benar-benar luar biasa sakitnya. Namun aku teringat kalau Ibuku pernah menasihati bahwa wanita yang sedang melahirkan sama dengan orang yang sedang berjihad di Allah. Maka aku pasrahkan kepada Allah semua kejadian yang menyakitkan ini.

Ingat akan ayah yang telah menghancurkan jalan hidupku, aku hanya menangis. Ayah anak ini adalah juga ayahku, Astaghfirulah mengapa semua ini mesti terjadi kepada diriku? Aku menggelengkan kepala dan tak ingin terlintas dalam benakku, sosok seorang ayah yang menjadi binatang jalang.

Semua yang ada di rumah wajahnya tegang dan gelisah sebab proses kelahiranku cukup lama. Kelahiranku sangat dicemaskan mengingat bahwa janjin asal bayiku tidaklah normal, karena perbuatan ayahku. Aku sendiri masih dihantui kegelisahan yang sangat mendalam; takut bayi ini tidak normal,

Sulit kubayangkan bagaimana seandainya bayi yang akan lahir ini membawa cacat bawaan yang tentu saja membuat mental kami terpukul. Hancur sudah perasaan kami kalau seandainya saja bayi ini mempunyai kelainan. Siapa yang mau mengurusnya? Ah, aku memalingkan wajah bila itu terjadi.

Sungguh berat perjuangan seorang ibu melahirkan bayi. Kini baru kurasakan betapa mulia dan agungnya ibu dalam jiwaku setelah kini kurasakan sendiri detik-detik persalinan. Segalanya kutaruhkan untuk kelahiran bayiku. Aku mencucurka air mata, terlebih bila ingat bahwa bayi ini adalah bayi yang tidak normal! Bayi yang membawa duka mendalam. Ia tidak akan pernah tahu siapa ayah sesungguhnya, sebab kalau suatu ketika kukabarkan ayah yang sebenarnya, tentu akan bingung.! Di samping itu bagaimana pula waris anak tersebut? Ah, aku tak mau mengada-ada dan membayangkan di masa nanti.

Sakitku sudah tidak dapat kutahan lagi. Mungkin pengaruh usiaku yang masih remaja dan tidak layak untuk melahirka secepat itu. Kini aku hanya bisa pasrah. Aku menjerit histeris ketika kurasakan perutku mengeluarkan bayi. “Allahu Akbar…!” ucapku menahan rasa sakit yang pedih.

Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Semua tersentak dan gembira. Inilah detik-detik mendebarkan jantung yang sangat dinantikan seisi rumah.

“Alhamdulillah…bayi telah lahir selamat! Bayi perempuan” ucap Ibu Fatimah seraya memegang bayi dan memotong tali arinya dengan tenang. Dibersihkan semua kotoran yang melekat ditubuhnya. Lalu bergegas memandikannya. Masih terdengar suara tangis bayi memecah kesunyian di malam hari. Wajah semua orang bergembira, terlebih lagi aku yang telah berjuang keras melawan sakit yang tiada tara.

“Subhanallah…!” ucapku mendengar suara tangi bayi yang cukup keras. Seketika mendadak rasa sakit itu menghilang saat telingaku mendengar suara tangisan bayi. Ada kebahagian yang sulit kuungkapkan. Ada rasa yang sulit dikendalikan, aku menangis terisak-isak.

Aku mengepalkan tangan, rasa bahagia mendengar tangis bayi itu seakan memudarkan semua kepedihan yang selama ini kujalani. Dia adalah anakku, meski ayahnya adalah ayahku juga. Ya Allah, tidakkah semua ini malapetaka? Aku menjerit dalam batinku seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi pada diriku. Ini bukan mimpi atau khayalan, tetapi kenyataan yang harus kuhadapi.

Masa remaja yang indah telah dirampas oleh ayahku. Aku hidup terbelengu dengan anak yang kini telah lahir ke dunia. Dia tanpa membawa dosa secuil pun, namun aku yang kini bingung bagaimana nasib anak ini kelak, terutama kalau dia menanyakan bapaknya. Kasihan, dia harus terlahir ke dunia dalam duka dan derita berkepanjangan!

Selesai dimandikan, bayi itu pun diperlihatkan kepadaku dan seisi rumah. Tak ada yang menyembunyikan kebahagiaan, semua tersenyum dan menyambut gembira kelahiran bayiku yang pertama ini.

“Subhanallah sungguh cantik sekali bayi ini!” ucap Nek Ijem seraya mencium bayi yang mungil dengan hidung yang mancung itu. Beberapa kali aki menatap wajahnya, seakan masih belum percaya bahwa aku dikarunia seorang bayi lucu, mungil dan menggemaskan.

“Mudah-mudahan bayi ini membawa berkah bagi kita semua…!” ucap ibuku seraya menatap kearaku yang tengah berbaring.

Ibu Fatimah masih terlihat membersihkan kotoran yang masih berceceran di ranjang dan kasur. Perutku dibersihkan pula. Sakit perut secara perlahan mulai menghilang, rupanya rasa sakit itu datang saat akan mengeluarkan saja. Aku beruntung selamat dan tidak terjadi sesuatu yang mencemaskan.

Suara adzab sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Aku menarik napas panjang lega. Adzan itu seakan menyambut bayiku yang baru lahir ke dunia. Kulihat mata bayi itu jernih dan menatap kearahku. Mulutnya bergerak-gerak, lalu menangis. Rupanya ia ingin menyusui.

“Stt..stt sabar ya…!” ucapku seraya menepuh-nepuk badannya yang terbungkus kain. Aku berusaha untuk duduk di ranjang. Ibu Fatimah pun segera mengambil bayi untuk diberikan kepadaku agar menyusui.

Dia sangat lahap sekali menyusui. Aku tersenyum bahagia. Inilah kebahagiaan seorang ibu yang melahirkan seorang bayi dan bisa memberinya air asi. Tak henti-hentinya aku menatap wajah bayi itu. Ada perasaan takjub yang luar biasa ketika kuamati bayi itu. Dia lahir sempurna fisiknya, inilah kegembiraanku sebab yang dikhawatirkan adalah cacat fisik.

Rumah menjadi hangat dan ramai semenjak kehadiran bayi yang diberi nama oleh Nek Ijem Mustika Sari itu. Dia memang sangat lucu dan menggemaskan. Wajar kalau semuanya menyayanginya. Para tetangga pun tahu bahwa bayi itu telah ditinggal mati oleh ayahnya jadi mereka menyambut kehadiran bayi dengan rasa bahagia. Banyak tetangga yang merasa simpati atas musibah yang menimpa suamiku, bahkan mereka mendoakan agar aku sabar dan tabah menghadapi musibah yang sangat berat itu.

Aku jadi tersenyum sendiri, kami telah membohongi tetangga, sebab tidak ada jalan lain yang harus kami lakukan untuk menutup aib ini. Wah,kalau saja mereka tahu bahwa ayah bayi adalah juga ayahku, pastilah mereka akan bereaksi keras. Mungkin saja kami diusir dari desa ini, karena telah memalukan dan mengundang malapetaka. Tapi beruntung sampai sekarang kami masih bisa menutupnya.

Kami berusaha menutup rapat aib yang terjadi pada kami. Nek Ijem pun saat syukuran atas kelahiran bayi ini, memohon kepada majlis ta’lim ibu-ibu agar mendoakan cucu yang baru lahir menjadi anak yang sholehah dan berbakti kepada Allah Swt. “Mudah-mudahan cucu ini membawa keberkahan bagi warga desa, maka kami telah memberi nama anak ini dengan Mustika Sari. Semoga bayi ini menjadi mustika yang bercahaya dan membawa keberkahan bagi semua,” ucapnya.

Usiaku yang baru menginjak 17 tahun dan telah melahirkan seorang bayi perempuan, memang tergolong sangat muda. Namun ternyata di desa itu, masalah usia muda itu bukan hal yang aneh lagi. Ada pula yang dinikahkan sejak mereka keluar dari SD. Adat sudah lama berlangsung seperti itu. Tidak sedikit ibu-ibu muda yang akhirnya terpaksa menjanda sebab ketika sudah bersuami-istri, kebanyakan mereka belum siap menghadapi perbedaan pendapat, terlebih lagi biaya untuk menafkahi keluarga.

Masa remaja yang indah tinggallah kenangan indah belaka. Aku harus mengubur dalam-dalam masa indah. Kini aku telah menjadi seorang ibu yang harus mengasuh dan membesarkan anakku. Namun dalam hatiku aku tetap ingin meraih cita-cita yang lebih tinggi. Aku tidak mau kalah dengan Nek Ijem yang telah mendapat penghargaan dari Presiden sebagai wanita perkasa yang mempertahankan lingkungan hidup. Aku pun ingin berbuat yang terbaik dalam hidup ini. Aku yakin, aku harus bisa mengubah keadaanku. Aku harus bangkit melawan tantangan hidup.

Mengurus bayi perlu kesabaran dan ketelatenan, apalagi ketika menghadapi tangisan di malam hari, aku terpaksa harus bangun dan menyusui. Sepintas agak tersiksa dengan kehadiran bayi itu. Di saat tengah tertidur nyenyak, suara bayi kerapkali menganggu tidurku. Agak kesal dan sedikit bernafsu bila bayi rewel dan terus saja menangis. Tetapi aku berusaha untuk merawat bayi itu sekampuan yang ada dalam diriku.

Ibuku memberi dorongan agar aku tetap sabar saat bayi rewel. Meski dia sempat menderita sakit jiwa, namun kulihat ada perubahan saat kehadiran seorang cucu. Kondisi ibu secara perlahan juga mulai terlihat ada perubahan. Kehadiran cucunya telah memberikan kebahagiaan. Setiap hari dia selalu menimang-nimang dan memandikan bayiku.

Tetapi terkadang ibu masih suka melamun, mungkin pikirannya masih belum bisa normal seratus persen. Masih ada kekhawatiran melihat keadaan ibu yang demikian, mungkin ada masalah yang masih menghantui pikirannya.

“Sudahlah Bu! Jangan banyak melamun…nanti sakit ibu kumat lagi!” kataku suatu hari saat kulihat ibu sedang duduk di kursi halaman rumah.

“Ibu hanya memikirkan keadaan kamu…kamu seharusnya belajar di sekolah. Tuh lihat anak-anak tengah pergi ke sekolah…sementara kamu harus mengurus bayi!”

“Benar Bu. Aku ingin sekali sekolah seperti mereka. Namun nasibku sudah begitu, mau bagaimana lagi!

“Itulah yang ibu pikirkan. Jadi ibu ingin agar kamu bisa berhasil dalam hidup ini. Tidak menyesali apa yang telah terjadi!”

Aku tersentak dengan ucapan itu. Berarti ibu sangat memperhatikan aku dan menyimpan haran besar terhadap aku di masa yang akan datang.

“Ibu yakin, kamu memiliki kesempatan yang lebih baik di masa depan. Jadi belajarlah agar hidupmu tidak seperti yang ibu alami, ibu tidak menyesali dengan kenyataan seperti ini. Namun ibu sangat berharap kamu mampu meraih masa depan yang lebih baik dan biarlah masa lalu kamu yang pahit menjadi kenangan yang harus kamu kubur dalam-dalam. Bahkan kalau bisa jangan sekali-kali kamu mengingatkan kenangan pahit itu, sebab hanya menambah luka dalam hatiku,”

Aku hanya terdiam mendengar ucapan ibu. Ada benarnya juga aku memikirkan masa depan, apalagi usiaku yang masih sangat belia. Kapan lagi aku mengembangkan diri untuk bisa mengejar mimpi. Tidak ada waktu terlambat untuk memperbaiki diri, saatnya aku harus bangkit dan berjuang melawan keadaan yang tidak menyenangkan. Aku tidak boleh terpaku dengan keadaan ini.***

Bagian Ketujuh

Bayiku Mengalami Kelainan

Sebagai seorang ibu yang harus mengurus dan membesarkan bayi, aku mempunyai amanah yang harus aku jalankan sebaik-baiknya. Semuanya ituternyata membutuhkan kesabaran. Bayi menangis di malam hari sudah terbiasa, sehingga aku harus bangun dan bergegas memberi air asi. Aku bersyukur air susu keluar lancar dan normal, bahkan berlimpah sehigga anakku mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Tidak hanya itu, bayiku senang dibawa bermain-main berkeliling.

Tetapi yang membuat aku repot kalau dia sudah menangis tidak berhenti di malam hari. Aku sibuk sendirian untuk bisa mengatasinya. Seperti malam jumat itu, entah apa Mustika terus menerus menangis tidak berhenti, yang membuat aku kewalahan.

“Mengapa menangis!...sudahlah nih menyusui!” ucapku seraya merangkul dan mendekatkan mulutnya ke payudaraku. Namun dia tidak mau, bahkan terus saja menangis. Aku bingung dan tidak mengerti ada apa terhadap Mustika.

Nek Ijem terbangun ketika suara bayi semakin keras. Dia langsung mendekatiku,

“Ke sini sama nenek…kenapa sayang! ada apa heh” ucapnya seraya memangku Mustika yang belum berhenti menangis. Nek Ijem menepuk-nepuk pantatnya pelan-pelan. Namun suara anak itu seakan tak menghiraukan sama sekali.

“Rasanya baru kali ini rewel…kenapa ya!” ucapku.

“Namanya juga bayi….kadang kita tidak pernah tahu apa keinginanya!”

Nek Ijem membawa keluar kamar seraya mulutnya tidak berhenti mengajak bayi bercakap-cakap. Rupanya bayi gerah berada di kamar, karena ketika dibawa keluar, seketika tangisnya berhenti. Hanya sesekali saja masih terdengar tangisan, namun Nek Ijem segera menepuk-nepuk pantatnya.

Memang harus sabar memiliki bayi yang masih sangat rawan. Bahwa masa usia satu tahun merupakan masa yang rawan sehingga harus hati-hati. Itu sebabnya, aku sangat tergantung kepada orang-orang yang berada di rumah. Mereka memahami bahwa aku sesungguhnya belumlah siap menghadapi kehadiran seorang bayi. Aku masih sangat remaja dan belum saatnya memiliki bayi.

Mentalku secara bertahap mulai pulih dan tidak lagi memikirkan musibah yang pernah kualami, terlebih bayangan ayahku kubuang jauh-jauh dan kuanggap peristiwa kelabu yang menimpaku adalah mimpi buruk di siang hari. Percuma aku mengenang kejadian yang sangat mengeriakn, apalagi saat-saat ayah melakukan pemerkosaan kepadaku, hal itu membuat aku trauma dan terkadang dibayangi mimpi buruk yang tidak pernah akan hilang. Sebenarnya aku ingin sekali menghilangkan kenangan pahit itu, tetapi aneh tidak semudah apa yang dikatan Nenek Ngatiyem. Trauma sekali rasanya bila secara tidak sengaja terlintas dalam benakku wajah ayah yang menghancurkan masa depanku.

Dendam terkadang berkobar dalam dadaku serta aku merasa dilecehkan oleh seorang ayah yang seharusnya melindungi anaknya. Itu sebabnya, aku sama sekali tidak mau mengingat muka ayah, sebab mendadak badanku bergetar dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Itu adalah tanda kalau aku trauma dan sangat membenci terhadap sosok lelaki yang membesarkan aku dan sekaligus merusk masa depanku.

Di satu sisi, kehadiran bayi di ruma sangatlah membahagiakan kami, namun di sisi lain, aku dirasuki perasaan yang tidak menentu; sebab suatu ketika akan terlontar pertanyaan yang pasti disampaikan oleh anakku. Siapa dan dimana bapakku? Pertanyaan itu yang akan membuat aku bingung dan stress, sebab rasanya tidak mungkin harus mengatakan sejujurnya. Ayahmu adalah juga ayahku; bagaimana hal itu bisa terjadi. Ah, rasanya bingung menjawab pertanyaan sederhana itu. Aku tidak ingin menjawabnya; aku ingin menutup telinga rapat-rapat.

Secara bertahap aku semakin banyak belajar mengurus bayi. Ya, terus terang saja, sebenarnya aku belum begitu berminat untuk mengurus dan menyusui anakku, aku ingin mencari kegiatan lain. Suatu saat ketika anakku sudah agak besar; aku ingin mencari pengalaman bekerja, meski ijazahku hanya SD. Aku ingin membahagiakan orang-orang yang kucintai di sekelilingku, terutama aku ingin agar ibuku sembuh total dari penyakitnya.

Ibuku mengakui masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, bahkan tidak hanya itu terkadang kepala sakit, dan menurut dokter itu adalah penyakit vertigo. Kini yang sangat aku khawatirkan adalah penyakit kanker yang menyerang payudaranta, disamping itu darah tinggi yang seringkali menyerang. Komplikasi penyakitnya tidak terlepas dari pengalamannya selama ini,terlebih ibu pernah sakit jiwa selama beberapa tahun lalu. Ah, kasihan bila melihat ibu. Selain badannya kurus, juga seringkali trauma terhadap tindakan keras yang pernah dialaminya. Sesekali ia terkadang melamun dan meleleh air matanya. Boleh jadi kenangan pahit yang pernah terjadi pada dirinya kembali terbayang dalam benaknya.

Memang kehadiran bayiku telah memberi gairah dan nampaknya ibu sangat bahagia sekali. Namun itu tidak berlangsung lama, sebab bila konplikasi penyakitnya sudah kumat, ia hanya mampu berbaring seraya merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa bila ibu sudah kumat penyakitnya. Nek Ijem segera membawanya ke dokter. Setelah diberi obat, agak lumayan. Hanya dokter menyarankan agar ibuku jangan terlalu banyak pikiran mengenai peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya, semua itu sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. “Sebenarnya ibu terlalu mendalam memikirkan masa pahit dulu, sehingga berpengaruh terhadap kesehatannya. Maka jalan satu-satunya adalah menghilangkan beban pikiran masa lalu,” ucap dokter.

Ya, siapa ibu yang tidak akan sakit hati melihat anak kandung sendiri diperkosa oleh ayahnya sendiri? Kemudian melahirkan bayi yang sekaligus anak dan cucunya. Semua itu adalah perbuatan binatang. Tidak pantas manusia berbuat tindakan seperti itu. Apakah ini sebagai tanda bahwa semakin dekatnya tanda-tanda kiamat? Aku hanya menggelengkan kepala. Terlalu pedih bila mengenang kepedihan yang kami alami.

Ada rasa kekhawatiran yang selama ini menghantui pikiranku; yaitu bayiku mempunyai kelainan disebabkan janinnya berasal dari seorang ayah kandungku sendiri. Inilah yang sangat menghantuiku, sehingga aku berusaha untuk berdoa memohon agar bayiku normal sebagaimana umumnya manusia. “Ya Allah, aku tak berdaya menghadapi ujian berat ini. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap takdir yang terjadi pada diriku. Namun kumohon agar bayiku ini memiliki kesempurnaan sebagaimana umumnya bayi yang lain,” itulah beberapa butir-butir doa yang kupanjatkan disaat aku tengah menyendiri.

Meski doa terus menerus kupanjatkan agar anakku tumbuh sehat dan sempurna, namun timbul keraguan dalam diriku, setelah secara perlahan kuamati, bayiku terkadang tidak merespon terhadap apa yang aku katakan. Kuharap hal itu memang wajar-wajar saja, namun kuamati setiap hari, timbul rasa penasaran, sebab dia terkadang hanya menangis saja. Dia tidak pernah memberikan reaksi terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Bola matanya tidak melihat ke arahku, tetapi kesana kemari.

Ketika kucoba aku berteriak agar keras, dia sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Kemudian aku mencoba menepuk kedua belah tengan, tetap saja diam. Disitulah aku mulai curiga. Ada apa dengan bayiku? Hatiku berdebar tidak menentu, sebab perasaan seorang ibu sangat peka. Aku gelisah dengan keadaan bayiku.

Usia sebulan, Mustika Sari semakin jelas ada kelainan dalam jiwanya. Dia sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan meski aku berteriak-teriak, dia tidak merespon, baru kalau dipegang badannya, dia menatap. Ketika hal itu kusampaikan pada Nenek Ngatiyem dan Nek Ijem, mereka tidak berkata sepatah katapun. Ibuku sudah tidak bisa diajak bicara, dia hanya berbaring saja di ranjang, karena payudaranya semakin terus digerogoti serangan kanker.

Ibu berkeinginan untuk dioperasi, tetapi biaya untuk operasi tidaklah sedikit, membutuhkan biaya yang sangat besar. Kasihan ibu, dia tidak hanya menderita penyakit batin tetapi juga fisiknya mulai terancam bahaya. Semua itu tidak terlepas dari pengalaman yang selama bertahun-tahun dalam kondisi tertekan dan siksaan yang hebat dari ayahku.

Sejak ibu berbaring di ranjang dan tidak melakukan aktivitas, maka kami tinggal bersama di rumah Nek Ijem yang lebih luas, termasuk juga adikku tinggal bersama-sama kami. Aku kasihan dengan Ridwan, dia harus belajar mandiri dan terkadang yang membuat aku menangis, dia merawat ibu di rumah serta membersihkan badan ibunya sendiri sebelum berangkat ke sekolah.

Waktu bermainnya nyaris tidak ada, sebab sehari-hari menunggu ibu di kamar sambil membaca buku atau mengerjakan PR. Bila ibu ingin makan atau minum, maka adikku bergegas menyuapinya. Dia anak yang soleh dan mencintai kepada ibunya. Aku tak kuasa menahan air mata kalau sudah melihat Ridwan tengah membersihkan badan ibu dengan lap.

“Ibu cepat sembuh ya Bu! Aku ingin sekali pergi membeli buku ditemani Ibu!” ucap Ridwan.

“Doakan saja, agar ibu cepat sembuh!” ucapnya seraya menatap wajah Ridwan.

Badannya sudah sangat kurus dan turun beberapa kilogram. Makanan yang masuk ke tubuhnya seperti tidak ada artinya. Rupanya kanker payudara telah mengakibatkan seluruh tubuhnya melorot tajam.

“Kapan kamu akan kenaikan kelas…bagaimana sekolahmu?” tanya ibu.

“Aku tetap menjadi juara kelas…makanya aku ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan ibu..”

Aku yang mendengar percakapan mereka merasa terharu sekali. Apalagi ketika adikku bercita-cita ingin menjadi dokter. Apakah bisa tercapai dalam keadaan kondisi seperti ini? Namun aku akan mendorong apa yang menjadi impiannya.

Merasa penasaran dengan keadaan kondisi bayi, maka aku ingin memeriksakan diri ke dokter. Namun aku tidak memiliki biaya. Ketika kusampaikan kepada Nek Ijem, Nampak dia sangat kaget.

“Memangnya sakit apa yang diderita oleh Mustika”, tanyanya keheranan.

“Aku penasaran dengan keadaan badannya. Meski aku berteriak-teriak, tetapi dia seperti tidak mendengar…aku jadi khawatir….ada sesuatu kelainan!”

“Yang benar? Nenek jadi khawatir juga!” ucapnya seraya memperlihatkan muka yang mencemaskan lalu mendekati Mustika. Kemudian diamati bayi itu dengan cermat. Dia sedang tertidur pulas.

“Coba nenek berteriak saja…apa dia terbangun atau tidak!” kataku.

Nenek berteriak membangunkan dengan memanggil nama Mustika, tetapi sama sekali tidak ada reaksi. Ia diam dan tertidur pulas, tidak terganggu dengan teriakan nenek. Kemudian nenek mencoba bertepuk tangan agak keras, tetapi tetap bayi itu tidak terganggu.

“Allahu Akbar!” teriak Nek Ijem, dengan perasaan tidak menentu. “Kalau begitu nanti siang kita periksakan saja…apa yang sesungguhnya terjadi dengan Mustika!”

Seisi rumah menjadi tegang dan terlihat wajahnya cemas melihat gejala pada diri Mustika Sari. Jangan-jangan bayi ini memiliki kelainan fisik. Timbul praduga negatif, biasanya kalau tidak bisa mendengar, juga tidak bisa bicara. Hatiku berdebar-debar tak menentu sebab teringat sewaktu di Bandung ada sekolah tunarungu yang khusus untuk anak-anak yang memiliki kelainan.

Tapi aku masih belum yakin, sebelum ada keterangan dokter tentang keadaan bayiku. Namun demikian, hatiku sudah mulai hancur seandainya saja bayiku memiliki kelainan, berarti timbul masalah baru yang membuat aku harus lebih tabah menghadapi kepahitan hidup, terutama bagaimana membesarkan anakku.

Kami mencoba untuk tenang dengan kenyataan yang harus kami hadapi ini. Memang menyakitkan, tetapi apa mau dikata? Semuanya adalah takdir yang tidak bisa dibantah dan siapa yang berkeinginan hidup seperti ini? Ah, rasanya dunia ini menjadi gelap gulita, bila aku membayangkan ke masa yang akan datang. Aku bukan lagi seorang gadis, aku adalah seorang ibu dari Mustika meski bapaknya adalah bapakku juga. Ya Allah, mengapa semua ini memsti terjadi pada diriku. Musibah apalagi yang akan kami hadapi.

Aku hanya menangis dan tak kuasa menahan ujian yang sangat berat ini. Aku benar-benar belum siap untuk mempunyai seorang bayi, apalagi bayi tersebut ternyata memiliki kelainan. Beberapa kali aku menarik napas panjang, seakan ingin mengeluarkan beban berat yang kini kupikul.

Siang itu, aku dan Nek Ijem bergegas pergi ke rumah sakit, yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami. Tujuan kami hanya satu ingin memeriksa keadaan fisik Mustika, apakah dia memang tidak bisa mendengar. Aku segera mendaftakan diri untuk pemeriksaan atas anakku ke dokter spesialis THT. Tidak terlalu banyak pasien yang datang hari itu, sehingga aku tidak terlalu lama menunggu pemeriksaan bayiku.

Ada perasaan berdebar tidak menentu dan aku harus siap apapun yang dikatakan dokter. Memang pahit kalau seandainya saja apa yang selama ini aku cemaskan dan khawatirkan terjadi pada bayiku. Aku harus bagaimana? Kehadiran Mustika sebenarnya menjadi malapetaka bagkami. Mengapa dulu dia tidak mati saja sekalian agar aku tidak susah-susah mengurus bayi?, apalagi aku masih sangat remaja. Pikiran negative kembali menyerang dalam otakku, bahkan timbul protes terhadap Sang Pencipta. Aku merasa lahir ke dunia diperlakukan tidak adil. Aku protes terhadap Tuhan, mengapa aku begini? Semetara orang lain hidupnya lebih baik dan bahagia dari aku.

Ketika aku sudah berhadapan dengan dokter. Perasaanku sudah tidak menentu. Wajah dokter muda yang agak hitam itu terlihat sedikit agak kaku, mungkin sudah bisa membaca bagaimana perasaanku kalau disampaikan keadaan bayi yang sesungguhnya.

“Begini Bu ya….setelah kami mengadakan pemeriksaan…bayi ibu ini ternyata tunarungu!”

Terperangah aku mendengar ucapan dokter itu. Berarti aku harus mengurus anakku dalam keadaan tidak bisa mendengar dan bicara. Ya Allah, betapa menyakitkan sekali berita ini. Mengapa ini terjadi pada diriku? Aku terdiam tidak mampu berkata sepatah katapun. Ucapan dokter itu bagaikan petir di siang hari dan aku tidak ingin mendengar lagi. Terlalu menyakitkan hatiku.

Musibah ini seakan ungkapan sudah jatu tertimpa tangga. Sangatlah menyakitkan dan pahitnya melebihi empedu. Aku hanya bisa mencucurkan air mata ketika keluar dari rumah sakit. Jalan kakiku seakan tidak sempurna dan aku ingin lari dari kenyataan ini.

“Sudahlah…ini adalah takdir Allah yang tidak bisa lawan. Kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada…semoga ada hikmah dibalik semua ini. Jangan buruk sangka kepada Allah. Kita tidak pernah tahu apa hikmah dibalik musibah ini!” ucap Nek Ijem memberi nasihat dan meneguhkan hatiku. Ya memang benar, semua ini adalah rahasia yang tidak bisa dipecahkan. Mustika adalah anugerah Allah diamanatkan kepadaku sebagai ibu kandungnya, namun dengan ketidaknormalan fisiknya telah membuat aku bimbang dan ragu menghadapi masa depan. Apalagi, dia mempunyai seorang ayah yang juga adalah ayahku sendiri. Sungguh tragis perjalanan hidupku. Mengapa semua ini mesti terjadi? Apakah kelainan Mustika adalah azab dari Allah? Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang akan terjadi pada Mustika kelak.

Aku tidak boleh menolak takdir yang telah ditetapkan Allah bagiku. Namun apakah aku kuat menghadapi semua ini? Apalagi darah daging Mustika adalah juga darah daging ayahku juga. Tak terasa bila mengingat semua itu, aku berlinang air mata dan tak kuasa untuk membendung air mata karena merasa pedih hati ini. Aku harus membesarkan Mustika adalah seorang yang tunarungu. Berarti semuanya harus dilakukan dengan isyarat, sebab dia tidak mampu berkomunikasi secara normal.

Sudah terbayang betapa beban berat menghadangku di depan mata. Aku harus membesarkan anak yang tidak normal. Ada menyelinap dalam hati kecil terdalam; aku malu dihadapkan dengan kenyataan in. Aku ingin jauh dari bayiku? Kalau bisa bayi itu harus dibuang, sebab dia membawa sial bagi keluarga kami. Pikiran setan bermunculan pada otakku, sehingga aku ingin berlari saja dari kenyataan hidup ini. Toh, buat apa mesti repot mengurus anak yang tidak normal. Apalagi aku masih remaja, lebih baik aku hidup bersenang-senang saja! Biarkan saja bayiku itu, toh ada yang mengurus oleh nenek!

Pikiran setan itu terus menghantui selama beberapa hari ini, apalagi ketika kulihat keadaan ibu yang keadaanya semakin lemah dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Fisiknya sudah menurun drastis, namun semangatnya masih terpancar di wajahnya. Berulangkali dia menasihari aku agar tabah menghadapi kehidupan yang pahit. “Biarlah semua takdir ini kita jalani dengan keikhlasan dan ketabahan. Boleh jadi Allah Swt. Menyimpan hikmah yag sama sekali tidak kita duga. !” ucap Ibuku yang sudah mengetahui kalau cucu dan sekaligus anak itu mengalami cacat bawaan.

“Bu, aku tak kuat menghadapi semua ini. Bagaimana mengurus Mustika, aku tak bisa menghadapi bayi yang tunarungu…!” ucapku seraya menangis di hadapan ibu yang sedang terbaring.

“Sudahlah, jangan menambah beban bagi ibu. Kamu harus tabah menghadapi semua ini. Jangan buruk sangka kepada Allah, semua adalah anugerah yang harus kita syukuri. Allah tidak mungkin zalim kepada hambanya. Kuatkanlah dalam menghadapi semua ini!” tangan ibu mengusap-usap kepalaku yang tertunduk.

Memang tidak mudah mengenggam luka yang menoreh dalam dadaku, aku seakan berada dalam api sekam yang terasa sangat panas membara, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya pasrah.

“Tapi Bu. Rasanya aku berat menghadapi semua ini…aku ingin mati saja!”

“Hush! Itu adalah pikiran setan. Belumlah tentu kematian adalah yang terbaik. Bagaimana kita harus mempertanggungjawabkan semua ini…hadapi semuanya!”

Aku menangis terisak-isak seakan tak kuasa menerima takdir yang sangat pahit ini. Masa remaju telah dirampas oleh ayahku, kini aku melahirkan seorang bayi tunarungu yang sama sekali tidak aku harapkan. Kini ibu sedang berbaring sakit, sudah ke berbagai pengobatan, tetapi tidak juga kunjung sembuh!

Masa remaja yang indah hanyalah sebuah kenangan belaka bagiku. Usiaku yang sekarang 17 tahun harus dihadapkan dengan persoalan orangtua. Aku harus mengurus bayi dan adikku yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Namun untung Ridwan memberi kebahagiaan bagi kami, sebab dia memiliki prestasi yang patut dibanggakan.

Nenek Ngatiyem maupun Nek Ijem memahami kegoncangan jiwaku, apalagi usiaku yang masih sangat muda; belum saatnya menghadapi masalah yang sangat sulit dan pelik. Terlebih kini status anakku yang tidak jelas. Aku pun bingung; siapa lelaki yang mau hidup bersama, sementara aku sudah melahirkan seorang bayi hasil kebiadaban ayahku.

Mereka berdua kerapkali menemaniku, terlebih akhir-akhir aku sering melamun memikirkan Mustika yang tunarungu. Aku merasa belum siap menghadapi semua ini. Aku malu dan rendah diri menghadapi bayi yang ditakdirkan lahir dari seorang lelaki yang merupakan ayahku sendiri. Rasanya aku ingin bunuh diri saja! Biar semua masalah beres.

Tetapi bunuh diri bukan menyelesaikan masalah. Bahkan aku harus mempertanggungawabkan diriku sendiri serta mengapa aku harus menghabisi nyawaku sendiri? Bagaimana aku menjawab pertanyaan malaikat kubur munkar dan nakir? Ketika dipikirkan lebih mendalam lagi, rasanya berdiri semua bulu kulitku, aku takut menghadapi alam kubur yang gelap gulita tidak ada yang menemani.

Kubuang jauh-jauh pikiran setan yang menyesatkan itu. Godaan dan bikan setan begitu kuat, “Lakukan saja…toh bunuh diri hanya beberapa menit saja…segera ambil tambang. Gantungkan lehermu…kamu akan terbebas dari masalah!” itulah bisikan yang terasa begitu halus dalam dadaku, sehingga aku sedikit terpengaruh, kalau saja aku tidak segera beristighfar memohon ampun kepada Allah atas bisikan yang akan kuikuti.

Kutarik napas dalam-dalam aku berusaha untuk tidak terpengaruh dengan bisikan dan rayuan itu. Aku terperanjat ketika kudengar suara Mustika menangis, bergegaslah aku mendekati.

“Sayang kenapa heh!” ucapku seraya memegang popk bayi yang ternyata basah. Segera saja kuganti popoknya. Ia masih terus menangis, kalau tidak saja aku pangku dan kepeluk tubuhnya.

Pertumbuhannya memang cepat, sekarang sudah naik menjadi 7 kg, padahal ketika melahirkan hanya 4,5 kg, berarti dalam sebulan naik 2,5 kg. Setiap menyusui ia begitu bernafsu sehingga menghabiskan air susu ibu yang cukup banyak. Aku sangat gembira melihat pertumbuhan badannya yang menggembirakan. Namun aku semakin berduka, sebab semakin terlihat jelas bahwa memang ia tidak mendengar dan gagap.

Meski suara keras aku bunyikan, ia sama sekali tidak mendengar hanya bola matanya saja yang menatap kearahku lalu tersenyum ketika kusentuh wajahnya. Memang bayi yang baru beberapa bulan sangatlah menggemaskan bagi setiap ibu yang baru dikarunia anak. Aku harus belajar menerima apa yang terjadi pada anakku, aku tidak boleh menolak apalagi berlari dari takdir Allah.

Pikiran yang dulu pernah terlintas aku akan meninggalkan bayiku; sebab kupikir tidak ada artinya aku harus memelihara, kubuang jauh-jauh. Aku tidak boleh menelantarkan anakku; dia bagaimanapun adalah darah dagingku sendiri. Dia lahir atas takdir Allah yang tidak bisa ditolak; aku harus sabar dan tabah menghadapi ini. Memang sangat menyakitkan dan menyedihkan sekali, namun harus bagaimana lagi?

Takdir seringkali menyakitkan hati dan membuat hancur luluh penderitaan manusia. Namun dibalik semua itu tersimpan misteri yang tidak pernah kita ketahui.Boleh jadi melalui takdir yang sangat menyakitkan itu, dikemudian hari dijumpai kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Aku pun mulai meraba-raba; apakah tragedy yang menimpaku, ada misteri yang sama sekali tidak pernah kuketahui. Aku tak tahu!

Aku berusaha untuk bisa kuat dalam menjalani roda derita kehidupan ini. Bayiku yang tunarungi adalah tragedy yang sangat menyakitkan hati. Siapa ibu yang berkeinginan mempunyai anak yang mempunyai kelainan? Aku yakin tak seorang pun yang mempunyai keinginan begitu. Semua ini atas kehendak siapa? Inilah yang menjadi renungan terdalam dalam sanubariku. Aku harus menerima semua ini. Meski memang sangat pahit dan menyakitkan hati.

Kami mencintai Mustika, meski lahir dalam keadaan cacat tunarungu, toh dia adalah bayi yang menjadi hiburan kami di rumah. Baik Nenek Ngatiyem maupun Nek Ijem, selalu memberi nasihat yang menyemangati hatiku, sehingga aku tidak merasa terus menerus dalam keadaan duka dan derita. Bahkan Nek Ijem, seakan memberikan sinar yang terus menyala dalam dadaku. “Siapa tahu anak ini akan membawa rejeki berkah bagi kita semua! Jadi tidak perlu mengeluh atau buruk sangka kepada Allah. Terimalah dengan rasa syukur,” ucapnya.

Memang tidak salah. Kita tidak permah tahu kelak seorang manusia lahir ke dunia akan menyelamatkan siapa yang memeliharanya. Kerapkali kita melihatnya hanya sepintas saja, padahal dibalik semua itu tersimpan hikmah yang sangat dalam.

Tetapi yang membuat aku terpukul adalah perkembangan penyakit ibu yang semakin hari semakin memburuk, bahkan sudah beberapa hari tidak mau makan nasi,kecuali bubur saja. Ridwan yang terus menerus menyuapi siang dan malam ibunya makan bubur. Terkadang bergantian dengan aku kalau Ridwan sekolah. Sementara Mustika diasuh oleh Nenek Ngatiyem. Adapun Nek Ijem berusaha mencari sesuai nasi menjual hasil panen ke pasar.

Aku kasihan ke Nek Ijem, setiap hari terus berusaha untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Ia tak pernah mengeluh kendati harus membanting tulang. Memang usaha yang dijalankannya lancer, bahkan kerapkali memperoleh keuntungan berlipat semenjak kehadiran sang bayi Mustika. Nek Ijem pun merasa heran, “Mungkin ini berkah dari Allah, uang yang kami peroleh tidaklah sulit.Namun Nenek ikhlas untuk keperluan kamu dan bayi serta berobat jalan Ibu kamu,” ujarnya.

Aku terharu mendengar pengakuan Nek Ijem, ia adalah sosok perempuan yang memberi penerang bagi kami, sebab tanpa adanya beliau yang membantu; sulit membayangkan bagaimana kami bisa bertahan hidup hingga sekarang ini. Itu sebabnya, kami sangat mencintai dan menyayanginya. Selama ini dia bagaikan penopang jalan hidup kami, biaya sehari-hari untuk makan,minum dan segala macamnya, Nek Ijem yang menyediakan. Dia adalah pahlawan bagi kami.

Keikhlasannya yang membuat aku terharu. Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaan kami yang semuanya menghadapi ujian berat, terlebih keadaan ibuku yang tergolek lemah di kamar; tanpa daya. Tetapi Nek Ijem selalu mendorong dan memberi semangat kepada Ibuku,

“Sabar adalah jalan keluar bagi siapa saja yang tidak menemukan jalan keluar…jadi hadapi semua dengan kesabaran, Allah sangat dekat kepada mereka yang sabar, dan tidak akan menyia-nyiapan kesabaran seorang hambanya,” ucapnya kepada ibu saat aku sedang menunggu ibu.

“Tapi Nek, aku sudah terlalu sakit dengan penyakit yang kuderita ini” kata ibuku seraya menatap kearah Nek Ijem.

“Namanya juga sedang jatuh sakit. Sabarlah dan selalulah bermohon diberi kekuatan sebab tidak ada yang memberi kekuatan di dunia ini, kecuali hanyalah Allah Swt. Sakit yang kami derita adalah penebus dosa…insya Allah kamu akan sembuh seperti sedia kala…asalkan perbanyak berdoa!’

Ibu mengangguk dengan berlinang air mata. Wajahnya sudah tinggal tulang yang terlihat. Matanya agak menyolok ke depan. Demikian pula giginya. Sudah hampir sebula tidak bisa bangun. Hanya berbaring seraya menahan sakit di payudara. Kankernya sudah stadium 2, badannya sudah sangat kurus.

Bila kulihat badan ibu, aku hanya bisa melelehka air mata. Semula ibu mempunyai badan yang agak gemuk, padat berisi. Namun setelah mengalami penyakit gila , langsung melorot dan kondisi fisiknya semakin menurun. Baik mental maupun fisik, ia mengalami derita yang berkepanjangan sehingga membuatnya tidak merasakan hidup indah dalam berumah tangga.

Bila terlintas sewaktu-waktu dalam ingatanku tentang kekejaman ayahku pada ibu, aku tak dapat menahan air mata. Rasanya sangat pedih dan terluka hati ini; ibu diperlakukan bagaikan binatang hina da tidak ada rasa belas kasihan. Kekejaman ayah sangat tidak manusiawi dan cenderung melanggar hak azasi manusia. Aku benci dan ingin rasanya membalas dendam tindakan ayah terhadap ibu, terlebih-lebih padaku yang telah merusak dan menghancurkan masa depanku.

Entah dimana ayahku seorang, dia tidak jelas rimbanya. Sampai sekarang tidak ada kabar beritanya. Syukur kalau dia sudah menyatu dengan tanah dan mendapat balasan yang setimpal di alam kubur. Cukup keluarga kami saja yang menjadi korban kekejian dan kebiadaban seorang ayah. Dia adalah iblis yang berwujud manusia. Aku muak melihat wajahnya dan seandainya boleh membunuh manusia, maka aku akan membunuhnya.

Tapi aku segera sadar; bagaimana pun juga ia adalah bapakku yang menyebabkan aku terlahir ke dunia ini. Tanpa adanya dia, mungkin yang namanya aku tidak akan pernah hidup di dunia ini. Aku ada karena Allah yang menciptakan dan mengadakan aku. Itu kusadari betul. Aku adalah manusia lemah tak berdaya yang membutuhkan tangan Allah dalam setiap langkah dan gerak.

Inilah jalan hidupku. Aku harus tetap melangkah dalam kedukaan dan kepedihan hati. Tak ada yang dapat memberi kekuatan hidup kecuali hanya Allah semata. Aku pasrah sepenuh jiwa dan mungkin itulah yang terbaik dalam hidupku.***

Bagian Kedelapan

Anakku Tunarungu

Aku tidak bisa menolak atas takdir yang telah digariskan Allah Swt. Bayiku secara perlahan namun pasti tumbuh berkembang layaknya anak-anak. Namun dengan kekurangan yang dimilikinya, sungguh membuat kami sedih. Ia tidak dapat mendengar dan berkata-kata, kecuali hanya isyarat tangan saja. Wajahnya dikarunianya kecantikan yang membuat kami merasa bangga. Ia berbeda dengan wajah kami. Selain memiliki kulit putih, ia pun mempunyai hidung yang mancung.

Wajar bila banyak tetangga yang sangat menyukai Mustika, karena ia memang lucu dan gemas saat melihat wajahnya. Meski tunarungu namun ia bisa bergaul dengan teman-teman di sekitar rumahnya, bahkan melalui isyarat tangan, ia sudah mulai mengenal beberapa teman bermainnya. Memang tidak bisa dihindari seringkali terjadi salah komunikasi atau salah pengertian diantara beberapa rekannya. Namun itu tidak menganggu hubungan diantara mereka.

Tidak jarang aku melelehkan air mata terutama bila mengingat bahwa Mustika adalah anak yang lahir dari hasil kebiadaban yang dilakukan ayahku. Aku berusaha untuk menghilangkan trauma yang selama ini kerapkali menghantui pikiranku; dirundung rasa bersalah bahwa aku ditakdirkan melahirkan bayi yang merupakan janin ayahku juga. Rasa bersalah itu membuat aku jadi bingung dan dilanda ketakutan;takut kalau ada malapetaka yang akan menimpa kami, atau kutukan yang datang tanpa diundang.

Bagaimanapun juga, tindakan ayahku memperlakukan aku tidak senonoh merupakan perbuatan aib yang sangat memalukan dan dikecam warga desa seandainya mereka mengetahui kronologis yang sebenarnya. Aib yang memalukan itu kuharap tetap tersembunyi rapat dan tidak seorang pun yang tahu, sebab kalau saja diketahui dan menyebar di masyarakat; entah apa yang akan terjadi pada kami. Aku menutup wajah dengan kedua belah tangan; takut sesuatu terjadi pada kami.

Ibu yang sekarang terbaring di ranjang, hanya bisa meratapi kepedihan yang aku alami. Ia belum bisa menerima takdir yang menimpaku; bahkan ketika berbicara pun selalu menasihatiku agar bersabar dan kuat menghadapi ujian yang sangat berat ini. “Ibu harap kamu tetap kuat dan sabar menghadapi semua ini….semoga Allah memberi jalan keluar terhadap masalah yang kita hadapi. Aku hanya kasihan kepada kamu, usia remaja kamu terampas menjadi seorang ibu, padahal seharusnya kamu sedang belajar di sekolah, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya..!”

Aku harus tegar dan kuat menghadapi semua ini. Mustika menjadi permata dalam kalbu yang mendorong aku harus bangkit dan bisa menghadapi semuanya. Ia anak semata wayang, meski ayahnya adalah ayahku juga. Ya itu memang takdir yang sangat menyakitkan hati. Aku tidak boleh menolak dan membantah terhadap kenyataan ini. Mustika meski tunarungu adalah anakku yang lahir dari rahimku. Dia suci sebagai sosok manusia yang lahir ke dunia dalam keadaan yang diberi kekurangan fisik. Tetapi aku yakin, ada hikmah besar dibalik semua itu.

Butuh kesabaran menghadapi anak yang tunarungu, bahkan aku harus kuat ketika suatu ketika Mustika rewel dan mengamuk yang membuat seisi rumah kebingungan. Ia melemparkan semua barang yang ada di dekatnya, tanpa peduli kepada siapapun. Aneh, anak itu terkadang tidak dapat mengontrol emosinya sehingga membuat aku kewalahan dan hanya bisa diam saat dia terus menangis dan menjerit-jerit.

Hari berganti hari, Mustika tumbuh fisiknya sebagaimana umumnya anak-anak. Tidak ada kekurangan gizi, sebab terpenuhi segala kebutuhannya berkat Nek Ijem yang selalu mendahulukan keperluan untuk cucu kesayangannya. Selain pemberian ASI yang rutin, dia pun diberi tambahan makanan yang banyak dijual di toko-toko dengan kualitas yang baik. Tak heran kalau pertumbuhannya sangat cepat.

Semula hanya berguling-guling di kasur, kemudian secara pelan-pelan sudah mampu duduk dan memegang benda yang ada di sekitarnya. Ia pun belajar untuk bisa berjalan, meski harus dipapah atau dipegang tangannya. Namun Nampak terlihat perubahan yang menyolok terhadap Mustika.

Suara yang keluar hanya “aaa…uuhhh….uuuhhh” itu saja. Kalau pun menangis hanya suara yang kecil dan air mata yang meleleh. Setiap hari senang bermain-main, terlebih bila menggunakan roda. Ia akan cepat bergerak ke sana kemari. Kami terkadang kewalahan menghadapi tingkahlakunya yang tidak mau diatur, terlebih Nek Ijem. Dia terkadang sulit dikendalikan dan mempunyai keinginan sendiri. Kalau tidak terpenuhi keinginan, dia akan mengamuk dan sulit dikendalikan.

Aku harus sabar menghadapi Mustika. Sifatnya agak keras dan tidak bisa diatur. Kalau sudah mencoret-coret kertas, bisa berjam-jam. Semua kertas dicoret-coret hingga habis. Tidak hanya itu, dinding rumah pun menjadi sasarannya setiap hari. Bila ditegur atau dilarang, maka dengan serta merta dia akan marah dan menangis tah henti. Tidak ada jalan lain kecuali membiarkan saja aktivitas yang dilakukan sepanjang itu tidak membahayakan dirinya.

“Siapa tahu Mustika menjadi seorang pelukis besar? Biarkan saja kemauannya seperti itu…toh kalau kita melarangnya,malah kita yang dimarah!” ujar Nenek Ngatiyem setelah lelah mengawasi cucunya yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Ia tidak bisa diatur dan tetap kuat pada keinginannya. Setiap hari ingin bermain dengan pensil berwarna dan apa yang ada didepannya dicoret-coret sesuai keinginan.

Tetapi lama-kelamaan coretannya di kertas sudah terlihat ada yang rapih. Bahkan bisa memadukan masing-masing warna, sehingga terlihat indah dipandang mata. Padahal usia anak itu baru 11 bulan, namun kemampuan yang dimiliki sungguh luar biasa. Aku hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan Mustika. Dia memang tidak mau diam. Meski Tunarungu, namun tidak kalah dengan balita seusianya.

Aku kerapkali tidak habis pikir, dia berjam-jam duduk sambil mencorat-coret yang sesuai dengan keinginannya, dia asyik dengan kegiatannya tanpa ada seorang pun yang bisa menganggu. Aku hanya memperhatikan dan sesekali memberi makan bubur. Dia sangat lahap kalau memakan bubur, itu yang membuat aku bahagia.

Kalau sudah lama duduk, lalu berbaring seraya mempermainkan pensil dan terkadang digigit-gigitnya. Aku menegur kalau pensil sudah masuk ke dalam mulutnya. Namun seringkali ia memaksa dan tidak mau dihalang-halangi. Kalau saja aku merebut pensilnya, maka seketika ia langsung menangis. Memang agak repot kalau sudah menangis, tidak akan berhenti kalau tidak segera kubawa keluar berjalan-jalan di sekitar halaman rumah.

Kali ini pun begitu, pensilnya kurebut, karena sudah digigitnya berulangkali, aku khawatir akan menjadi kebiasaan jelek. Dia menangis yang membuat aku harus menggendong dan membawanya keluar rumah.

“Sudah berhenti nangisnya… mari bermain dengan mamah.” Ujarku seraya membawa keluar. Aku berjalan menyusuri halaman rumah seraya menepuk-nepuk punggungnya agar berhenti menangis yang hampir tanpa suara. Meski agak lama tetapi lama kelamaan akhirnya berhentinya juga suara tangisnya.

Ia meminta dilepaskan dari gendongan dan berkeinginan untuk berjalan. Maka kulepaskan gendongannya. Lalu ia berlari-lari kecil di sekitar halaman rumah yang banyak tumbuh pepohonan dan bunga melati. Aku hanya memperhatikan saja dia yang tengah bermian sendirian. Ketika akan jatuh karena tersandung batu, aku bergegas mengejarnya. Namun kalau pun terjatuh, sama sekali tidak menangis, malah tertawa-tawa.

Saat sedang asyik bermain-main, tidak kukira kalau dari kejauhan ada seorang tetangga yang kerapkali memperhatikan aku bersama anaknya. Tanpa diduga, rupanya dia mendekati kearah kami dan langsung menyapa kami,

“Syukur kamu dikarunia anak secantik ini…aku sama sekali tidak mempunyai anak. Suamiku kawin lagi, jadi aku hidup sendiri di rumah!” tiba-tiba wanita yang bernama Nina itu mengajakku berbicara.

“Oh ya!” kataku agak sedikit kaget karena tanpa diduga kalau Nina yang selama ini kukenal sepintas sudah mengajakku berbicara. Ia tinggal tidak jauh dari rumah nenek Ijem. Wanita berusia tiga puluh tahun berwajah oval dan putih itu sudah lebih 3 tahun menjadi janda. Ia mengajukan gugatan cerai karena tidak mau menjadi istri tua.

“Kita sama-sama janda ya…betapa hidup kadang tidak adil!” ujarnya seraya menatap kearah anakku. Nina tahu kalau anakku tunarungu, ia pernah beberapa kali berkunjung ke rumah sekedar menengok layaknya tetangga di desa.

Aku menganggukkan kepala. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku. Selama ini warga desa mengetahui kalau suamiku kecelakaan lalu lintas dan tewas seketika. Padahal semua itu adalah rekayasa yang dibuat Nek Ijem untuk menutupi aibku.

“Kita memang harus sabar. Andai suamimu masih ada, ia pasti bangga melihat anaknya yang lahir begitu cantik!” ucapnya lagi’

“Tapi dia tunarungu…belum tentu mau menerima keadaan anaknya seperti itu!” aku menatap wajah Nina yang putih bersih dengan rambut panjang sebahu.

“Tunarungu adalah takdir Allah, kita tidak boleh menolaknya. Siapa tahu anak ini memberi berkah dan karunia kepada kita..!”

“Ya, mudah-mudahan saja…tetapi terkadang aku belum bisa menerima takdir ini….rasanya aku masih bertanya-tanya mengapa Allah memberi cobaan seberat ini!”

“Jangan khawatir. Aku pernah mengalami seperti kamu. Dulu aku dinikahkan setelah keluar SD dan tidak tahu menahu tentang makna rumah tangga. Namun kujalani dengan kesabaran…namun itulah akhirnya beberapa tahun berumah tangga aku tidak mempunyai keturunan, jadi suamiku mencari lagi yang lain. Daripada aku dimadu lebih baik hidup menjanda saja…tapi sempai sekarang suamiku masih memberiku nafkah setiap bulannya. Dan aku selalu mendoakan agar mereka bisa hidup bersama selama-lamanya. Biarlah aku seperti sekarang ini.Mungkin inilah yang terbaik aku menjalani hidup menjanda”

Aku terharu mendengar penuturannya. Hidup ini memang sebuah ujian. Rupanya tidak aku saja yang menghadapi masalah yang berat dalam keluarga, rupanya ada pula orang lain yang satu nasib dengan kami.

“Beberapa hari yang lalu ada yang datang ke rumahku mengajak untuk bekerja di Malaysia dengan gaji lima juta per bulan. Aku sangat tertarik dengan ajakan itu. Yang dibutuhkan itu sebanyak 10 orang, nah maksud aku datang ke sini, aku ingin mengajak kamu untuk ikut bersama kerja di Malaysia, lumayanlah dengan gaji lima juta per bulan!” ujarnya.

Tentu saja aku tertarik, sebab selama ini yang terlintas dalam benakku adalah bagaimana bisa meringankan beban Nenek Ngatiyem, Nek Ijem dan Ibu di rumah yang setiap hari harus makan untuk kebutuha sehari.

“Kalau kamu sendiri sekolah sampai di mana?” tanya Nina.

“Aku lulus SMP”

“Ada ijazahnya”

“Ada!”

“Syukurlah kalau begitu”

“Apa syarat yang lainnya”

“Tidak terlalu berat. Cukup foto copy KTP, izin orangtua, “

“Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku belum pernah bekerja dimanapun”

“Jangan khawatir. Itu tidak menjadi masalah. Kamu bicarakan dulu saja dengan keluargamu. Kalau mereka setuju, ya kita mencoba hidup baru di negeri orang!”

Aku menganggukkan kepala beberapa kali mengucapkan terima kasih atas kebaikannya mengajak aku untuk bekerja di Malaysia. Ya memang aku sering mendengar kabar kalau negeri Malayasia itu adalah negeri impian yang banyak diminati tenaga kerja Indonesia. Aku memang sangat berkeinginan untuk bisa bekerja di luar negeri agar terbebas dari kemiskinan. Selama ini aku sangat tergantung penuh pada Nek Ijem, padahal tenaga beliau sangat terbatas. Apalagi yang ditanggung oleh Nek Ijem tidak hanya aku tetapi juga Nenek Ngatiyem, adikku Ridwan dan Ibuku yang masih tergolek di kamar sendirian.

Ketika malam harinya kuceriterakan kepada Nek Ijem dan Nenek Ngatiyem ajakan Nina, mereka hanya terdiam sesaat. Ibuku tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, Ia hanya terdiam menahan sakit dan enggan untuk bicara.

“Gimana ya…Nenek sebenarnya sangat berat sekali kamu bekerja di Malaysia…apalagi meninggalkan Mutiara yang masih membutuhkan kasih sayang…tapi bagaimana juga keadaan di sini yang membutuhkan nafkah untuk keperluan hidup sehari-hari…kalau nenek terserah kamu saja!” ucap Nek Ijem pasrah sebab ia menyadari kalau usianya yang semakin terus bertambah dan tenaganya yang sudh mulai berkurang. Itu sebabnya, ia mengurangi beberapa kegiatan yang menguras tenaga. Ia sebenarnya ingin beristirahat untuk menjadi Ketua Kelompok Tani di desanya, tetapi warga meminta. Jabatan itu sama sekali dilihat dari segi materi tidak menguntungkan, tetapi ada kepuasan batin tersendiri.

Ibuku ketika kusampaikan maksudku akan bekerja di luar negeri. Dia hanya mencucurkan air mata, tidak berkata sepatah katapun. Namun hanya menganggukkan kepala; seperti sulit untuk berkata-kata.

“Aku ingin mengobati ibu, agar ibu dirawat di rumah sakit. Insya Allah ibu bisa sembuh kalau dirawat di rumah sakit! Au rela gaji bulananku untuk mengobati ibu…agar ibu sembuh dan bisa mengurus Mutiara,” ucapku dengan suara berat tertahan air mata yang tak kuasa meleleh di wajahku.

“Ibu…han…nya ber…doa, Nur!” ucapnya pelan sembari menyusut air mata yang membasahi pipi.

Aku menarik napas dalam-dalam. Memang tidak ada jalan lain yang harus kulakukan, selain aku harus segera bekerja dan memanfaatkan kesempatan emas bisa ke luar negeri. Mungkin aku bisa sedikit meringankan mereka yang selama ini sangat mengharapkan adanya penunjang keluarga. Aku pun sangat berharap agar Ridwan adikku bisa ikut membantu meringakan beban orangtua, namun dia masih kecil belum begitu paham tentang kehidupan. Dia harus tetap sekolah dan tekun belajar. Kalau pun dapat uang dri hasil perlombaan main catur atau ikut olympiade fisika, itu hanyalah sewaktu-waktu saja.

Beberapa kali Nina datang ke rumahku dan meyakinkan keluarga untuk bisa membawaku bekerja di Malaysia dengan gaji lima juta per bulan. Bahkan dia menjamin akan memperhatikanku selama aku berada di Malaysia.

“Pokoknya aku tidak akan membiarkan dia terlantar. Insya Allah, ibu dan nenek doakan saja agar kami bisa bekerja di Malaysia dengan lancar dan gaji setiap bulan bisa dikirim ke sini!” ujarnya meyakinkan keluargamu.

“Apakah tidak salah, baru saja bekerja sudah mendapat gaji sebesar itu?” tanya Nek Ijem penarasan.

“Tidak, soalnya perusahaan yang sudah maju yang bekerja sama dengan China,”

“Tapi ‘kan Nurul belum mempunyai pengalaman bekerja, apakah tidak akan menjadi hambatan?”

“Jangan khawatir, nanti dilatih di wisma tenaga kerja.”

Nina mendorongku terus dan memberi semangat agar aku tidak usah cemas dan khawatir. “Munggpung kami masih muda dan mempunyai masa depan, mengapa kamu sia-siakan. Kamu memiliki wajah yang cantik dan pasti akan disenangi oleh majikan kamu.”

Aku terdiam saja mendapat pujian itu, meski sesungguhnya hati kecilku bahagia dan bangga dengan pujiannya. Ya terus terang saja, selama ini aku hidup penuh derita dan kepedihan yang mendalam, siapa tahu dengan bekerja di luar negeri, aku bisa mengalami perubahan? Mudah-mudahan saja impianku yang pernah terlintas sewaktu sekolah dulu, dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Toh, kalau aku mendapat gaji besar, semua akan kuperuntukkan bagi kepentingan keluarga terutama ibuku yang kini sedang jatuh sakit. Aku ingin sekali ibu sehat dan bisa sembuh seperti sedia kala.

Nek Ijem dengan Nina sudah lama saling mengenal karena tinggal di daera yang sama, bahkan ibunya Nina adalah sahabatnya, sehingga tidak perlu diragukan lagi. Selama ini Nek Ijem tahu kalau Nina adalah seorang janda muda yang kesehariannya bekerja sebagai penjahit pakaian. Dia sangat terampil dalam mengerjakan jahitannya. Aku menjadi lebih tahu tentang Nina setelah Nek Ijem menjelaskan, kalau 5 tahun yang lalu dia pernah bekerja di luar negeri, jadi pengalamannya tidak diragukan lagi.

“Nenek sudah menitipkan kamu ke Nina…mudah-mudahan saja ada jodoh kamu bekerja di luar negeri, sehingga pulang ke kampung halaman kamu membawa kebahagiaan buat kami di sini!” ujar Nene Ngatiyem.

“Doakan saja, Nek! Aku sangat ingin sekali bisa membawa kebahagiaan bagi semua keluarga yang ada di sini,”

“Pokoknya jangan lupa dimana pun kamu berada kamu harus tetap menjalankan sholat, ingat sholat adalah tiang agama,”

“Aku akan pegang amanat itu, aku akan mengerjakan sholat!”

“Berdoalah agar selama berada di Malaysia, kamu bisa bekerja secara baik dan mendapatkan majikan yang menyayangi kamu!”

Aku tidak menjawab hanya menganggukkan kepala. Dalam hatiku bertekad aku harus bisa merubah keadaan di keluargaku. Aku ingin memberikan secercah harapan buat mereka yang sangat dahaga akan makna kebahagiaan. Aku pun harus mampu bangkit menjadi wanita yang bisa mendorong semangat hidup ibuku yang kini masih terbujur menderita sakit yang juga tidak kunjung sembuh. Aku berharap dengan bekerja keluarga negeri, ibu bisa dirawat di rumah sakit dan sembuh seperti sedia kala.

Aku kasihan pada kedua wanita tua yang selama banyak sekali membantu kami yaitu Nek Ijem dan Nenek Ngatiyem. Keduanya seakan tidak kenal lelah mengurus kami, bahkan mengasuh anakku Mustika yang sedang lucu-lucunya. Aku tak tega di usianya yang semakin bertambah tua harus dibebani dengan beban yang semakin berat. Mereka harus lebih rileks dan tidak harus mengerjakan tugas yang berat.

Seminggu lagi keberangkatan ke Malaysia, maka aku dan Nina harus berada di wisma yang sudah disediakan di perusahaan di Jakarta. Meski agak berat meninggalkan keluarga, terlebih anakku yang masih kecil, tetapi apa boleh buat tidak ada jalan lain, kecuali aku harus segera mengambil keputusan yang tegas. Aku harus menekan hati yang terkadang ragu ketika akan meninggalkan anakku, tetapi aku yakin dengan ucapan Nina, dengan bekerja di luar negeri, hidup akan berubah. Itu saja yang terlintas dalam benakku. Keindahan hidup berlimang harta telah membuat aku lupa, aku ingin bisa mengubah nasib yang lebih baik.

Perjalanan cukup melelahkan antara Malang ke Jakarta, namun karena tekadku yang sangat kuat, waktu yang membosankan selama dalam perjalanan terlupakan semuanya oleh keindahan yang kelak akan kuraih. Terbayang di kelopok mataku, kalau aku bisa memberikan sececah kehidupan bagi keluargaku, betapa aku bahagia. Aku berkeinginan ibu bisa berobat ke rumah sakit. Selama ini berada di rumah, karena biaya untuk pengobatan membutuhkan dana yang cukup besar.

Memang tidak hanya aku yang berkeinginan untuk mengubah nasib, tetapi ratusan orang yang berada di wisma ternyata mempunyai ambisi yang sama. Kami ingin merubah hidup kami. Di tempat itu, aku merasakan suasana yang sama sekali berbeda.

Banyak wanita yang seusiaku sudah berbulan-bulan berada di situ. Aku sempat kaget, kenapa begitu lama mereka berada di wisma. Ika yang mengaku berasal dari Sleman Yogyakarta

Sudah tiga bulan juga diberangkatkan pergi.

“Lho kenapa lama sekali berada di wisman ini?” tanyaku penasaran.

“Aku sedang menunggu paspor untuk bekerja di Arab. Rencana bulan kemarin, tetapi tertunda lagi, karena ada masalah!” ucap Ika yang berkulit agak sawo matang dengan memiliki wajah yang cukup mania. Usianya hanya berbeda 3 tahun denganku, dia lebih tua dan mengaku sudah mempunyai 3 orang anak yang sudah sekolah di SMA.

Wisma itu cukup luas dan menampung ratusan orang tenaga kerja. Selama berada di wisma, tidak boleh sembarangan keluar di sekitar wisma. Mereka harus mengikuti berbagai kegiatan yang sudah terjadwal, termasuk pelatihan bahasa yang sesuai dengan minatnya keluar negeri. Bahasa Arab diwajibkan bagi calon yang akan berangkat ke timur tengah. Mereka mendapat bimbingan dan pelatihan tentang bahasa percakapan sehari-hari.

Aku dan Nina berada dalam satu kamar yang berukuran 2 x 3 meter persegi dengan ranjang yang cukup enak. Wisma itu sengaja dibangun untuk menampung calon tenaga kerja dari berbagai daerah, sehingga keadannya cukup memadai. Hanya sayang, kamar mandi hanya ada 4 tempat, sehingga terpaksa harus bergiliran setiap hari. Namun secara keseluruhan wisma itu layak untuk ditempati kami.

Selama berada di Wisma, aku selalu terbayang Mustika. Sebenarnya jujur saja, aku sangat berat meninggalkan dia yang sedang tumbuh mekar dan lucu-lucunya, tetapi apa boleh buat, aku harus berani mengambil keputusan yang terbaik, demi masa depan. Tidak hanya Mustika, tetapi juga ibuku yang sama sekali tidak bisa bangun dari tempat duduknya. Kondisi fisiknya sudah sangat lemah dan hanya menanti keajaiban dari Sang Maha Kuasa.

“Kamu koq melamun terus? Sudahkah jangan terlalu memikirkan secara mendalam, nanti kamu tidak akan konsentrasi bekerja!” ujar Nina saat berada di kamar.

“Entahlah, aku selalu ingat anakku. Dia terbayang-bayang di kelopok mataku, menangis ingin dipangku olehku!” kataku seraya membetulkan dudukku di ranjang.

“Jangan terlalu memikirkan secara mendalam, nanti menganggu terhadap pekerjaan,”

“Aku ingin melupakan, tetapi sulit. Dia terus saja menangis dalam bayanganku, jadi aku tidak tenang!” aku menarik napas dalam-dalam. Terbayang bagaimana repotnya Nek Ijem harus menyediakan susu untuk minum Mustika.

“Semua itu adalah bayanganmu saja. Coba bayanganmu sekarang dialihkan kalau saat sekarang dia sedang ceria tengah bermain bersama teman-temanya, mungkin kamu tidak akan terlalu memikirkan,”

“Sudah kucoba, tetapi tidak mudah. Justru yang terlintas adalah bayangan Ibu yang memikirkan aku, sebab hati kecilnya dia agak keberatan aku bekerja, soalnya bukan apa-apa, aku masih sangat remaja. Belum pantas aku bekerja!”

Nina terdiam, tidak ada lagi yang bisa disampaikan. Ia merasakan betul, bagaimana kondisi yang dialami oleh keluargaku, terutama ibu yang sudah beberapa tahun keadaannya sangat mengkhawatirkan.

Belum juga berangkat ke luar negeri, mulai timbul ketegangan dalam jiwa, bahkan aku merasakan ada sesuatu yang janggal ketika aku berada di wisma itu. Kulihat beberapa wanita yang ada disitu, ternyata dimanfaatkan oleh karyawan disitu menjadi pemuas hawa nafsu dengan mendapat bayaran yang cukup. Tentu saja aku merasa jijik dan tidak dapat menerima keadaan seperti itu.

Pernah ada seorang pegawai berkulit hitam, mendatangi aku dan Nina, dan dia bersedia membayar lima ratus ribu rupiah semalam, asalkan aku mau melayaninya. Tentu saja aku marah dan mengusir lelaki yang belakangan kutahu namanya Leo. Dia memang disitu menjadi Satpam yang menjaga keamanan dan sangat ketat mengawasi salon tenaga kerja yang akan diberangkatkan.

Aku tidak suka melihat wajah Leo, namun dia kerapkali datang mendekatiku dan berusaha untuk mengajak ngobrol, namun aku selalu menghindar dan berusaha untuk tidak berkomunikasi, sebab kulihat gelagatnya dia menginginkan sekali terhadap diriku. Dia berasal dari Medan dan sudah lama menjadi pimpinan keamanan di wisma itu. Wajahnya sangat kasar dan mempunyai badan tinggi besar. Dia sangat ditakuti di wisma itu.

Aku sudah mulai merasakan tidak nyaman berada di Wisma itu. Apalagi keberangkatan ke Malaysia diundur-undur, sehingga membuat aku dan Nina kesal.

“Kalau begini caranya, aku malas untuk bekerja di Malaysia.” Ucapku kepada Nina karena aku merasa jenuh dan bosan berada di wisma.

“Aku juga tidak mengira kalau lama begini,” kata Nina.

“Janji tinggal janji…perusahaan ini sudah seminggu membiarkan kita di sini, sementara perbekalan kita sudah hampir habis!

Nina terdiam, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa bersalah terhadap kejadian yang tidak diduga.

“Habis bagaimana lagi….sekarang terserah kamu saja!” ucap Nina.

“Kalau diizinkan, aku ingin membatalkan saja bekerja di Malaysia. Aku ingin pulang kembali ke rumah!”

“Sabarlah sampai dua hari. Kalau tidak ada kejelasan, sudah saja pulang!”

Ya kalau memang itu adalah jalan terbaik, apa boleh buat. Aku ingin tahu saja, soalnya berada di wisma, sangatlah tidak nyaman, terlebih berulang-ulang Leo selalu datang ke tempat penginapan, sekedar untuk ngobrol atau mencari perhatian. Aku terkadang bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia sudah ada di depan pintu dengan mengenakan seragam Satpam.

Aku berusaha untuk bisa memberikan alasan, agar dia tidak panjang-panjang mengajak aku berbincang-bincang, aku sudah tidak suka melihat wajahnya yang ada goresan di dagu. Tidak ada simpati melihat lelaki itu, apalagi terkadang bahasanya kasar dan tidak sopan membuat aku muak dan tidak ingin sekali-kali melihat wajahnya.

Malam tanpa diduga kami dipanggil ke sebuah ruangan oleh kepala bagian urusan pemberangkatan, dan ada keputusan bahwa esok pagi kami harus bersiap-siap untuk berangkat. Tentu saja kami sedikit kaget, sebab tadinya sudah merencakan akan membatalkan keberangkatan untuk bekerja di Malaysia.

“Pokoknya, jam 07.00 kalian sudah harus ada di Bandara Soekarno-Hatta untuk keberangkatan ke Malaysia. Jadi sekarang kalian bersiap-siap!” ujar Pak Budi yang berusiaa 50 tahun itu.

Kami menganggukkan kepala dan terpancar raa bahagia yang tidak bisa kami sembunyikan. Aku yang tadinya sudah kecewa dan akan membatalkan kepergian ke Malaysia, mendadak berubah seketika air mukaku. Impian yang selama ini terpendam, kini mulai mekar kembali seakan menemukan sumber cahaya yang selama ini hilang. Aku berulang kali mengucap syukur, mudah-mudahan semua itu adalah jalan terbaik bagiku.

Perusahaan memberikan paspor dan visa, serta beberapa dokumen yang penting buat kami. Pak Budi juga mengingatka kami agar menjaga diri dan berhati-hati selama bekerja di Malaysia. Kontrak kerja yang harus kami tanda tangani adalah dua tahun.

“Selama dua tahun, kalian tidak boleh pulang ke Indonesia. Gaji kamu akan dipotong setiap bulan untuk membayar ke perusahaan, karena kalian saat berangkat kami tidak memungut uang kepada kalian,” ujarnya.

Kami menganggukkan kepala dan hanya menerima saja apa yang dikatakan oleh Pak Budi. Kami sudah beruntung bisa diberangkatkan ke luar negeri, karena kami tidak banyak mengeluarkan uang, kecuali sekedar ongkos ke Jakarta dan biaya selama hidup di Wisma. Jadi kami masih beruntung dibandingkan calon tenaga kerja lain yang harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah.

Malam itu juga kami bersiap-siap untuk keberangkatan esok hari. Berarti jam 5 kami harus sudah keluar dari wisma. Kami akan diantar oleh kendaraan khusus perusahaan. Malam itu kami tak bisa memejamkan mata, pikiran kami terlalu menerawang jauh ke depan dan membayangkan betapa indahnya bekerja di luar negeri dengan gaji yang akan diperoleh lima juta per bulan. Mimpi dan bayangan kami begitu menjangkau, sehingga tak ada sedikit pun rasa kantuk datang pada mata kami. Semua yang tercipta adalah keindahan yang kami rangkai bak sebuah nyanyian penyair yang dibacakan di tengah malam penuh bintang gemintang.

Hati yang ditaburi keindahan dan bayangan yang kelap-kelip di depan mata seakan melupakan kami malam, sehingga tanpa sadar kami tertidur di bawah ranjang dalam keadaan terlentang. Baru kami bangun ketika terdengar suara gemericik hujan diatas genteng wisma.

Aku terbangun dan bergegas membereskan tempat tidur. Waktu sudah jam 4, beruntung tidak kesiangan. Segera saja kami masuk ke kamar mandi. Aku membersihkan badan sepuasnya di wisma itu karena hari ini merupakan hari terakhir berada di tempat itu. Mudah-mudahan kepahitan dan kepedihan selama berada di wisma dapat segera tergantikan. Aku pun tidak mau lagi bertemu muka dengan Leo, aku sama sekali tidak suka dengan caranya yang kasar dan tidak sopan.

Pernah suatu ketika ketika aku keluar dari kamar mandi, dia sudah berdiri di dekat pintu dengan wajah yang terlihat sangat bernafsu. Aku tersentak kaget. Terlebih setelah dia mendekati dan berusaha untuk menyeret aku ke kamar. Untung saja aku melawan dan kebetulan Nina sudah datang untuk bergantian mandi. Aku berteriak keras dan menghardik lelaki hitam itu segera pergi. Beberapa orang penghuni wisma berlarian mendekati kamar mandi. Mereka langsung saja mencela perbuatan Leo.

Lelaki itu terlihat merah mukanya dan berusaha untuk segera pergi dari tempat itu. Ia disoraki kaum wanita yang bergerombolan. Mereka tahu selama ini seringkali Leo membuat ulah yang tidak sopan. Aku menarik napas lega, sebab kalau terjadi apa-apa, tentu saja aku akan menanggung malu.

Kenangan pahit ingin kulupakan dalam benakku ketika aku sudah naik ke pesawat. Rasanya masih belum percaya aku bisa berangkat kerja keluar negeri. Aku dan Nina sangat berharap berada di Malaysia merupakan awal kebangkitan hidupku kearah yang lebih baik. Aku bisa memperbaiki nasib dan membantu keluarga di kampung yang sangat berharap penuh bisa memberi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Berulangkali aku mencubit kulit tanganku sendiri, sebab aku masih belum yakin bisa berada di pesawat. Rasanya seperti mimpi berada di atas angkasa dengan kecepatan yang luar biasa. Aku sama sekali tidak merasakan perjalanan naik pesawat, karena nyaris tidak asa sesuatu yang menganggu selama di pesawat. Aku yang duduk di dekat kaca pesawat, jelas terlihat luasnya angkasa terbentang sejauh mata memandang.

Langit ini begitu luas dan besar serta tidak akan pernah terjangkau manusia untuk menembus ke langit yang lebih tinggi. Aku menarik napas dalam-dalam, baru kurasakan bahwa sebenarnya manusia sangat kecil dan tidak berdaya apa-apa ketika melihat kebesaran angkasa. Manusia sebenarnya adalah segelintir pasir yang berada di angkasa ini. Baru semua itu kutahu ketika aku berada di atas awan.

Aku menikmati perjalanan indah yang baru pertama kualami. Aku rasanya tidak bosan untuk terus mengagumi ciptaan Allah yang luar biasa hebat. Aku pun menggelengkan kepala sebab rasanya seperti berada dalam impian ketika kusaksikan dari kaca ke bawah, betapa bumi manusia dan yang ada di bumi begitu kecil. Terlontar dari bibir sebuah doa :”Rabba maa khalaqta hazdaa batilaa, subhanaka fa qiinaa adza banner” “Ya Allah tidak sia-sia engkau ciptakan semua ini, maka peliharalah aku dari siksa api neraka”

Tiba di Bandara Internasional, kulihat kesibukan manusia yang sangat pada, membuat aku sedikit gelagapan. Banyak orang berjaan cepat mengejar taksi atau membawa barang-barang untuk dimsukkan ke dalam bagasi.

“Jangan melamun terus, kita sudah sampai!” ujar Nina mengingatkan aku yang tampak masih bengong melihat keaadaan sekitar bandara.

“Rasanya seperti mimpi berada di Negara ini…aku belum percaya bisa berada di negeri ini!”

“Sudahlah..kita harus segera berada di tempat yang sudah disiapkan..” ujar Nina ketika melihat aku yang masih terpaku dengan keadaan disekelilingnya.

Tiba-tiba tidak pernah kami duga, datang seorang lelaki yang mengaku untuk menjemput kami.

“Apakah bapak dari PT Surya?” Tanya Nina

“Betul Aku mendapat tugas untuk menjemput kalian berdua,” ucap lelaki diperkirakan usianya 40 tahunan. Dia orang Malaysia yang bertugas sebagai supir perusahaan. Tanpa ragu sedikit pun kami langsung saja naik sebuah kendaraan kijang. Tidak lama, supir menancapkan gasnya untuk mengantarkan kami .

Kami tidak tahu mau dibawa kemana, kami hanya mengikuti saja apa yang dikatakan pengemudi yang masih muda itu.............................bersambung!

Kuswari Miharja

/kuswari_miharja

Senang menulis fiksi dan nonfiksi serta suka bergaul dengan siapapun.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?