HIGHLIGHT

Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis

17 Juni 2012 17:25:20 Dibaca :

Miris sekali, Saya baru saja menyaksikan tayangan berita  infotainment fokus Selebritis di stasiun Global TV. Tayangan itu mengupas tentang kontroversi tarif dakwah para ustadz selebriti yang mematok harga tinggi, serta fenomena gaya hidup mereka yang terlihat hedonis dan demonstatif dengan kehidupan mewahnya.


Awalnya dipicu oleh sebuah kabar yang mengungkap tentang adanya seorang da'i/ustadz yang diundang oleh jama'ah pengajian mematok harga yang sangat tinggi bahkan harus memberi DP yang Jutaan agar dapat mengundang ustadz tersebut berceramah. Masalah itu ditayangkan oleh salah satu media cetak nasional dan mendapatkan tanggapan dari MUI.


Dalam focus selebritis tersebut ditayangkan beberapa sosok da'i dan ustadz selebritis yang sering muncul di televisi, diantaranya Ust. Jeffry Al Buchori (Uje), Ust. Guntur Bumi, Ust. Soleh Mahmud (Solmed) lengkap dengan tayangan aktifitas hobby mereka yang suka mengendarai mobil mewah, motor gede, hingga hobby lainnya yang mencerminkan kehidupan mewah. Ditayangkan pula komentar Ketua MUI KH. Amidhan, lalu Ust. Yusuf Mansyur, Aa Gym, dan beberapa da'i lainnya.


Saya melihat konten dan hikmah dari tayangan tersebut dua hal :


Pertama, Munculnya fenomena Ustadz selebriti dengan dua gaya hidupnya. Ada ustadz selebriti yang meskipun sering nongol dan berceramah di televisi, tapi mereka terlihat masih biasa saja, hidupnya sederhana, dan jarang sekali mengumbar kehidupan pribadinya. Sementara ada juga ustadz yang memang populer dan dipopulerkan oleh televisi dengan gaya hidupnya yang mewah dan sering muncul pemberitaan menyangkut kehidupan pribadinya. Berbagai aktifitasnya mengendarai motor gede, menembak, penampilan dan gaya hidupnya memang benar-benar mencerminkan selebritis.


Kedua, Munculnya pertanyaan dan gugatan dari publik, bagaimana sepatutnya seorang da'i itu menjalankan tugas dakwahnya, termasuk menjalani kehidupannya. Dan itu muncul dari komentar yang disampaikan MUI, FPI dan juga beberapa da'i serta masyarakat umum. Termasuk dalam hal tarif dakwahnya. Jika menyaksikan tayangan aktifitas beberapa ustadz selebritis itu, kita memang prihatin dan miris.


Tugas dakwah adalah tugas suci nan mulia. Seorang Da'i, Ustadz, ulama merupakan pewaris nabi yang dibebankan tugas untuk menyebarkan ajaran agama, yang menjadi tuntunan moral kehoidupan ummat agar hasanah fiddunyaa, hasanah fil akhirat. Seorang da'i atau ustadz tentu merupakan orang yang sedikit banyak memiliki pemahaman keagamaan, hafal dan mengerti ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist Rasul. Selain itu tentu mereka juga menjadi sosok pribadi yang menjadi panutan, tauladan akan segala sikap dan tingkah lakunya. Apa yang mereka ucapkan dan lakukan tentu harus Nyunnah pada baginda Rasulullah SAW.


Rasul menjalankan misi dakwah dengan penuh pengabdian dan keikhlasan sebagai tugas suci dari Tuhan. Rasul menjalankan misi dakwah dengan uswatun hasanah. Satunya kata dengan perbuatan. Apa yang dikatakan dan didakwahkan oleh Rasul sebagai sebuah kebaikan, beliau merupakan orang pertama yang menjalankannya pun sebaliknya. Rasul mendakwahkan hidup sederhana, beliau merupakan orang yang paling pertama menjalaninya, bahkan rela mengikat batu diperutnya untuk berpuasa hingga tiga hari, karena roti yang seharusnya beliau makan diberikan pada orang yang kelaparan dan lebih membutuhkannya.


Alangkah lebih baiknya, jika para da'i/ustadz/kiai/ulama/habib dalam berdakwah tak melulu mengukur dari hitungan materi. Sangatlah na'if jika seorang da'i mematok tarif tinggi dalam aktifitas dakwahnya. Alangkah indahnya jika mereka juga memberikan contoh dan emphaty pada ummat akan hidup yang sederhana, tidak hedonis dan demonstratif dengan gaya hidup mewahnya. Apalagi mereka sering di ekspose oleh media televisi. Karena ummat di bawah masih begitu banyak yang hidup dalam kubangan kemiskinan. Dan alangkah eloknya mereka juga tidak selalu mengumbar remeh temeh kehidupan pribadinya di layar kaca, dalam berita infotainment yang notabene secara hukum juga pernah difatwakan haram. Karena banyak mengumbar gosip dan isu seseorang yang tidak pantas.


Semoga tayangan di fokus selebritis itu bisa mengingatkan mereka. Bahwa sebagai seorang pendakwah mereka sebenarnya dituntut untuk memberi contoh, menjadi suri tauladan akan kehidupan yang lebih wajar dan mencerminkan kebarokahan. Bukan keberlimpahan, bukan berlebihan. Bukankah ada ayat Al-Qur'an yang menyatakan " Kabura Maktan Indallaah An taquuluuna maa laa taf'aluun" Sungguh besar murka Allah Tatkala engkau mengatakan sesuatu yang Engkau Sendiri tidak melakukannya. Naudzubillah...

Usman Kusmana

/kusmanausman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?