PILIHAN HEADLINE

Kisah Pungli yang Masih Terjadi dan Prahara Hukuman Mati

16 Maret 2017 21:36:18 Diperbarui: 17 Maret 2017 11:11:57 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Kisah Pungli yang Masih Terjadi dan Prahara Hukuman Mati
smaitishom.sch.id

Kami kembali menyuguhkan beberapa artikel headline pilihan untuk Anda baca. Berikut lima artikel pilihan Kompasiana yang sayang untuk dilewatkan. 

1. Hari Gini, Legalisasi Surat Kok Bayar, Tanpa Kuitansi Lagi

Sumber gambar: KOMPAS.com
Sumber gambar: KOMPAS.com

Kompasianer Susy Haryawan menyampaikan mengenai sebuah lembaga negara yang masih belum banyak berubah. Kondisi mengantre tidak teratur, mempersulit masyarakat, atau bagian informasi tidak jelas karena tidak adanya petugas.

Susy bercerita mengenai pengalamannya pergi ke pengadilan. Ia menuturkan bahwa di era yang sudah digital dan serba elektronik seperti sekarang ini, pelayanan di sana masih sangat tidak teratur, fasilitas seperti meja untuk mengisi berkasnya pun minim sehingga pengunjung tidak nyaman.

Ada ketika ia ingin fotokopi dan legalisir berkas, ternyata diminta sebuah "bayaran" sebesar 50 ribu. Selain itu, ia menemukan bahwa di Catatan Sipil, berkas penting seperti KTP dan akte kelahiran dengan santainya distaples. Menurutnya, seharusnya berkas penting seperti ini tidak diperlakukan seenaknya. Seharusnya birokrasi perlu dibetulkan terlebih dahulu demi tercipta masyarakat yang baik.

(Selengkapnya)

2. Bertemu 'Perfect Stranger' Saat Traveling, Apa Untungnya?

Sumber gambar: insight.looloo.com
Sumber gambar: insight.looloo.com

Berwisata merupakan hal yang menyenangkan. Selain bisa menemukan pemandangan yang indah, teman seperjalanan yang kita temukan di tengah aktivitas berwisata juga bisa jadi mengasyikkan. Menurut Kompasianer Muhammad Syarif mungkin tanpa sengaja kita pernah bertemu orang yang tidak dikenal, merasa cocok, kemudian lanjut menghabiskan sisa perjalanan dengannya. Inilah yang disebut sebagai perfect stranger.

Menurut Syarif, kemungkinan bertemu dengan perfect strangers adalah ketika kita melakukan solo traveling.Ini bisa terjadi karena kesempatan kita untuk berinteraksi dengan orang lain lebih besar dibandingkan pergi beramai-ramai dengan teman-teman.

Beberapa tips yang Syarif berikan untuk menemukan perfect strangers selama berwisata diantaranya adalah mencoba ramah pada siapapun yang kita temui selama perjalanan dan mencoba menawarkan bantuan sekecil apapun itu seperti memberikan petunjuk jalan.

(Selengkapnya)

3. Seru, Berkeliling ke Studio Film Terbesar di Indonesia

Infinite Studios Batam yang dijadikan lokasi shooting film nasional dan internasional. | Dokumentasi Cucum Sumilar
Infinite Studios Batam yang dijadikan lokasi shooting film nasional dan internasional. | Dokumentasi Cucum Sumilar

Kompasianer Cucum Suminar bercerita tentang kunjungannya ke studio film terbesar di Indonesia. Tempat tersebut adalah Infinite Studios Batam di Kepulauan Riau. Di tempat ini terdapat sisa-sisa shootingberagam film, dari Serangoon Road, Dead Mine, Headshot, Joker Game, hingga serial Halfworlds.

Cucum bercerita tentang properti film yang ditemuinya ketika pertama kali masuk ruang serba guna di Infinite studios. Terdapat lonceng besar terbuat dari styrofoam namun terlihat sangat nyata ini ternyata telah digunakan untuk shooting Joker Game, film thriller Jepang yang diadaptasi dari novel karya Koji Yanagi.

Menurut laporan Cucum lebih lanjut, dituturkan bahwa beberapa properti sengaja tidak dihancurkan karena berfungsi sebagai hiasan yang siapa tahu nantinya akan digunakan lagi untuk film sequel. Atau sebagai pemancing inspirasi ketika kru melihat-lihat lokasi shooting di Infinite Studios. Studio animasi di sini pernah memproduksi film Garfield. Walaupun studio animasinya sangat tertutup untuk dikunjungi, Infinite Studios sangat terbuka merekrut animator lokal.

(Selengkapnya)

4. Hukuman Mati dan Jalan-jalan Kematian Lainnya

Sumber: health.KOMPAS.com
Sumber: health.KOMPAS.com

Pemberian hukuman mati bagi seorang pelaku kejahatan terus menjadi polemik, ada negara yang pro dengan pemberlakuan hukuman tersebut ada juga yang tidak. Indonesia sendiri mengakui adanya hukuman mati bagi para napi.

Kompasianer bernama Rinsan Tobing menangkap fenomena ini, ia mengkritisi tulisan Frans Magnis Suseno dan Daoed Joesoef. Frans Magnis Suseno menolak hukuman mati karena tidak etis dan melanggar hak asasi manusia serta pencabutan nyawa melampaui kehendak manusia.

Rinsan pun mempertanyakan pemikiran Frans mengenai kematian yang ditentukan oleh Tuhan. Sehingga Kompasianer satu ini menganggap semuanya adalah milik Tuhan termasuk cara kematiannya. Lalu bagaimana menurut Anda? Simak ulasan lengkapnya pada tautan di bawah ini.

(Selengkapnya)

5. Ustadz dan Poligami

Ilustrasi: xpats.com
Ilustrasi: xpats.com

Kehidupan ustadz, da’i, atau kyai seakan lekat dengan nuansa poligami. Banyak yang bisa dijadikan contoh, umumnya mereka malakukan praktik ini mengikuti kajian-kajian sumber otoritas hukum Islam yang seringkali menjadi “pembenaran” terhadap praktik poligami yang dilakukan tokoh-tokoh agama. Pembenaran ini terkadang didukung sejarah Islam awal  dijalankan oleh Nabi Muhammad, bahwa beliau sebagai Nabi juga melakukannya.

Melihat fenomena ini, kompasianer bernama Syahirul Alim berdalih bahwa poligami bukanlah syariat yang ditetapkan oleh hukum islam, tetapi hanya sebatas “darurat kemanusiaan”. Pemikiran ini muncul berlandaskan Al-Quran Surat Anisa ayat 3.

Lalu bagimana sebenarnya menyikapi isu poligami ini menurut pandangan Agama Islam? Silahkan baca tautan di bawah ini.

(Selengkapnya)


(FIA/LUK)

Kompasiana News

/kompasiananews

TERVERIFIKASI

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article