Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Ketika Umat Katolik dan Islam di Larantuka Saling Berbagi Cerita

18 April 2017   11:09 Diperbarui: 18 April 2017   12:02 1348 10 4
Ketika Umat Katolik dan Islam di Larantuka Saling Berbagi Cerita
Para peziarah prosesi laut (Dokumentasi Kompasiana)

"Teng, teng, teng!" terdengar suara lonceng sebuah gereja yang asal suaranya berasal dari belakang rumah Mama Yuli, seorang warga yang rumahnya kami jadikan tempat menginap selama di Larantuka. Setelah gema lonceng itu berhenti, suara seseorang terdengar lewat pengeras suara dari arah yang sama.

Ternyata orang yang berbicara di balik pengeras suara tersebut hendak mengingatkan warga pemeluk agama Katolik untuk bersiap mengikuti prosesi Adorasi Umum Sakramen Maha Kudus dan Ziarah Cium Tuan Ma dan Tuan Ana. Prosesi ini dilangsungkan pada hari Kamis Putih (13/4) sebelum acara puncak Semana Santa.

Namun hal paling mengagetkan adalah kata-kata yang terlontar dari mulut orang di balik pengeras suara tersebut. Dia mengingatkan juga pada kaum muslimin untuk bersiap sholat magrib karena waktu telah menunjukan pukul 17.40 WITA.

Akhirnya matahari pun kembali ke peraduan tapi tak terdengar suara adzan maghrib, karena masyarakat Larantuka umumnya memeluk agama Katolik. Rangkaian acara sebelum Jumat Agung masih berlangsung keesokan harinya, ada dua prosesi yang digelar yaitu prosesi darat dan laut.

2 Prosesi laut membawa patung Tuan Ana di dalam kapal dengan penutup diatasnya melintasi masjid (Dokumentasi Kompasiana)
2 Prosesi laut membawa patung Tuan Ana di dalam kapal dengan penutup diatasnya melintasi masjid (Dokumentasi Kompasiana)
Pada prosesi darat, patung Tuan Ma (Patung Bunda Maria) dan Patung Tuan Meninu (Patung Yesus) diarak menuju Gereja Katedral untuk persiapan acara Jumat Agung pada malam harinya. Sedangkan patung Tuan Ana (patung kanak-kanak Yesus) diarak lewat jalur laut.

Saat kedua prosesi ini berlangsung, warga dan para peziarah mengenakan baju hitam atau gelap sebagai lambang berduka akibat kematian Yesus. Namun ada satu hal menarik dari prosesi ini yaitu warga yang berjaga dan pengarak ada yang mengenakan beberapa atribut seperti sorban karena mereka beragama Islam.

Toleransi antar umat beragama di Larantuka tidak hanya terlihat pada Semana Santa, karena ketika umat muslim menjalanankan ibadah sholat Idul Fitri maupun Idul Adha warga yang beragama di luar Islam akan mengamankan jalannnya ibadah. Salah satu warga bernama Felix membenarkan hal tersebut, ia mengatakan bahwa tak pernah ada gesekan antara umat beragama di Larantuka.

"Di Flores itu ada keluarga yang kakak dan adik berbeda agama, bahkan ada yang satu keluarga ada yang haji, ada yang pastur. Jadi bebas memeluk agama. Sudah kebiasan sejak dulu saling membantu walau berbeda agama, ada Lebaran umat Islam, sholat Idul Fitri atau Idul Adha, anak muda Katolik yang mempersiapkan tempat lalu mengamankannya," kata Felix.

Bahkan Felix melihat beberapa kebiasaan yang janggal di Larantuka, menurutnya banyak orang yang merantau ke luar daerah tapi ketika kembali ke sana menjadi orang yang terlampau fanatik terhadap agama. Namun setelah beberapa hari menetap di Larantuka, kebiasaan bertoleransi akan kembali dengan sendirinya mengikuti kebiasaan di sana.

Berbeda dengan beberapa kota seperti Jakarta yang pernah dipimpin oleh orang yang beragama minoritas, Kabupaten Flores Timur belum pernah merasakan hal tersebut. Namun menurut Felix banyak umat Islam yang diberikan tempat-tempat strategis seperti Kepala Keuangan.

"Ini cara kami untuk memberi kesempatan kepada orang Islam, sekaligus menjaga toleransi beragama di sini," tambahnya.

Berbeda dengan agama Katolik yang disebarkan oleh Portugis di Flores, ajaran Islam dibawa oleh pedagang dari India, Turki, dan Gowa pada medio 1600-an. Walau beragama Islam, mereka masih memegang teguh prosesi adat semisal memelihara anjing untuk berburu dan ritual syukuran kepada tanah berkat hasil panen yang berlimpah.

Iklim toleransi antar umat di Larantuka berbanding terbalik dengan kenyataan di Jakarta. Saat Pilkada berlangsung, isu SARA terus didengungkan.

Agaknya warga Jakarta harus belajar bertoleransi dari Timur Indonesia agar saling menghargai satu sama lain sehingga peristiwa pelabelan pribumi, isu SARA, dan kasus pelarangan memandikan jenazah bagi warga yang mendukung calon petahana tidak terulang dan ketika hari pencoblosan tidak ada keributan dan kecurangan.

Felix berpesan pada seluruh masyarakat Indonesia khususnya warga Jakarta untuk saling menghargai di tengah perbedaan yang ada. "Di Flores bisa saya katakan sebagai ensiklopedia toleransi di Indonesia kalian ingin belajar toleransi, belajarlah di Flores," tutupnya.

(LUK)