Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Penulis - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kamu bintang besar! Apa yang akan menjadi keberuntungan Anda jika Anda tidak memiliki sesuatu yang membuat Anda bersinar? -Friedrich Nietzsche-

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Revolusi Pendidikan sebagai Wadah Cendekiawan

12 April 2019   09:54 Diperbarui: 15 April 2019   12:03 492
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Pendidikan mahal (Foto: qureta.com)

Yang pasti menjadi cendekiawan tidaklah sesulit yang orang-orang kebanyakan anggap. Orang yang tidak bersekolah memang sangat kecil kemungkinannya untuk berserikat dengan orang lain yang mempunyai minat dan bakat yang sama termasuk berbakat menjadi cendikiawan.

Akan tetapi orang yang bersekolah maupun yang tidak bersekolah sama-sama memiliki kesempatan yang setara dalam hal menimba ilmu. Memang yang tidak bersekolah tidak akan mendapat pengakuan dengan berbagai sertifikat. Tetapi alam semesta sebagai sekolah bagi yang tidak masuk ruang kelas lebih banyak materi pengetahuaannya dari pada yang belajar dari ruang kelas.  

Terkapitalisasinya segala aspek pembelajaran dalam ruang kelas di masa dewasa ini membuat seseorang harus memutar otaknya, bagaimana bersikap bijak dalam bereaksi atas hal-hal yang menyakut tentang diri dan berbagai pembelajarannya, dalam hal ini menjadi seorang cendekiawan tanpa sekolah?

Tidak semua bentuk pembelajaran untuk manusia terjangkau oleh kemampuan dirinya sendiri. Buku merupakan salah satu media untuk belajar Manusia. Harga buku yang tidak begitu mahal menjadi suatu bukti bahwa buku adalah guru pembelajaran yang paling terjangkau harganya. Kalau tidak mampu membeli buku, koran-koran atau buku-buku bekas dapat dijadikan sandaran akan supaya kita berpengetahuan.

Revolusi pendidikan kita

Ilustrasi Pendidikan mahal (Foto: qureta.com)
Ilustrasi Pendidikan mahal (Foto: qureta.com)

Bicara mengenai pendidikan tidak bisa lepas dari Institusi atau lembaga pendidikan dan negara selaku pemegang otoritas pendidikan. Terkadang dalam hati saya bertanya orientasi pendidikan itu sebenarnya apa? Pendidikan untuk kognitif dan pemahaman disiplin ilmu? Atau untuk kompetensi dan kompetisi suatu keilmuan berdasarkan sertifikat?

Pendidikan untuk kognitif dan pemahaman, tetapi yang terjadi banyak orang yang tahu, sedikit sekali orang yang paham. Begitupun antara kompetensi dan kompetisi, banyak orang yang punya kompetensi tetapi tidak banyak yang mampu berkompetisi.

Masyarakat tahu arti pentingnya Pendidikan untuk pengembangan diri, tetapi mereka tidak paham mengenai apa saja yang bisa di hasilkan dari pengembangan diri tersebut. 

Pemahaman pendidikan hanya disempitkan pada ijazah untuk mencari pekerjaan yang selama ini sangat di butuhkan ketika akan melamar pekerjaan. Lembaga pendidikan banyak mereproduksi orang punya kompetensi, tetapi apa yang bisa mereka sumbangkan? Tanpa modal yang cukup, para manusia bergelar akan menjadi para pencari kerja, bahkan mereka memperbanyak manusia pengangguran karena semakin surplusnya manusia yang sama-sama bergelar.

Apa mungkin kompetensi hanyalah kebohongan belaka dari dalam ruang sekolah yang initinya memperjaul-belikan Sertifikat/ijazah? Pada kenyataannya masyarakat kita belum mampu berkompetisi di lapangan masyarakat global. Itu terbukti dari mandegnya inovasi teknologi yang bisa para intelektual Kampus ciptakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun