Bulan Puasa, Bulan Pemborosan

11 Agustus 2012 19:50:27 Dibaca :

Beberapa saat yang lalu, sewaktu melintas di depan sebuah mall besar di Bogor, saya terhenyak. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 00.30 dini hari, namun mall itu masih buka serta pengunjung masih sangat ramai. Saya ingat, ini malam minggu, esoknya libur dan orang-orang berusaha untuk tidak tidur sebelum sahur. Tidak itu saja, saya melihat promo midnight sale. Sepertinya pengunjung mall menunggu hal tersebut.

Pada malam minggu selain ramadhan atau bulan puasa, mall besar tersebut paling lambat tutup jam 22.30 malam. Biasanya itu pun hanya penonton bioskop yang menonton film midnight yang ada. Sebagian besar toko sudah tutup dan pulangnya pun cukup mengerikan karena sangat sepi.

Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku selama puasa, apalagi kalau sudah mendekati lebaran. Mulai siang hari, jalanan di depan mall tersebut sudah macet. Banyak mobil yang tidak mendapat tempat parkir harus terima berada di luar mall. Pengunjung mall sedemikian banyaknya. Toko pakaian penuh, antri sewaktu berbelanja. Saya berpikir, ternyata puasa tak jua mengajarkan kita untuk lebih berhemat.

Mungkin agak berlebihan, tetapi kita bisa melihat sendiri sedemikian banyak persiapan selama bulan puasa dan menjelang lebaran yang dilakukan manusia. Selama puasa lebih suka berbuka di mall sesering mungkin. Lebih banyak membeli makanan, padahal makan hanya dua kali sehari, yaitu di kala sahur dan berbuka.

Belum lagi sewaktu lebaran. Sekian banyak kue yang harus dibuat atau dibeli. Baju baru, mukena baru, sajadah baru. Ketupat untuk tamu yang akan berkunjung, jalan-jalan selama libur lebaran. Wah betapa kita, setelah diajar berpuasa sekian tahun, tidak juga paham bahwa puasa untuk berhemat. Agar kita bisa merasakan kondisi mereka yang kekurangan.

Puasa bagi kita cenderung sebuah budaya tahunan. Dalam arti puasa kita laksanakan karena memang begitu adanya, karena memang jadwalnya. Saya sendiri merasa sekian tahun berpuasa, hampir tidak juga mengetahui bahwa berpuasa seharusnya mengajarkan kita menahan hawa nafsu. Tidak hanya menahan nafsu makan minum, tetapi juga nafsu berbelanja. Nafus pamer seketika lebaran, nafsu pamer mampu mengundang sekian banyak orang berbuka. Kita masihlah cukup bangga dengan apa yang diperlihatkan. Kita cenderung sedih jika tidak foya-foya selama puasa dan lebaran.

Akibatnya kita pun menjadi manusia boros. Bukan tidak aneh, selama berpuasa dan lebaran menggadaikan barang-barang berharga dulu untuk menghadapinya. Puasa bukannya bisa menghemat, minimal sekali makan siang, malah sebaliknya, pengeluaran lebih besar dari hari-hari biasa. Ada yang berkomentar, biarlah, sekali setahun ini. Wah, sekali setahun? Kalu sudah puasa selam 35 tahun, berarti hal tersebut sudah dilakukan selama 35 tahun. Betapa lamanya, betapa borosnya.

Tentu kita bertanya, sebenarnya berakibat positifkah atau negatifkah puasa tersebut? Banyak sekali hal-hal positif dari berpuasa ramadhan. Secara kesehatan, usus kita yang selama 11 bulan sebelumnya terus-terusan bekerja setiap detik, dengan berpuasa mereka akan beristirahat. Tidak itu saja, jika kita benar-benar menjalankan puasa dengan baik, pengeluaran rumah tangga bisa ditekan sedemikian banyak.

Ini karena sebenarnya kita tak perlu bermewah-mewah ketika berbuka dan makan sahur. Dengan demikian kelebihan uang karena tidak berbelanja di siang hari hari dapat ditabung. Namun aneh, makan siang yang absen tersebut kita ganti dengan makan lebih banyak di waktu berbuka. Akibatnya tentu bukannya hemat, malah lebih boros. Belum lagi mempersiapkan lebaran. Baju baru mungkin lagu lama. Kita tidak hanya butuh satu pasang baju celana, kadang ada yang tiga pasang untuk berbagai kondisi.

Bulan puasa ternyata bulan yang boros. Kita cenderung lebih banyak mengeluarkan uang dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Mungkin memang begitu seharusnya karena kita tidak pernah bisa menyerap makna hakiki berpuasa.

Kimi Raikko

/kimi_raikko78

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Just Another Days In Paradise



Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?