HIGHLIGHT

Gubuk Bambu di Seberang Hutan

25 Agustus 2013 03:08:49 Dibaca :
Gubuk Bambu di Seberang Hutan

bunda, lihatlah langit-lemangit yang tiba-tiba berubah menjadi gelap padahal aku masih sibuk dengan mainanku tapi kau malah memanggilku untuk pulang menyuruhku belajar, dan membaca semua buku-buku pelajaranku hari ini hari apa bunda? kenapa kau tidak pergi bekerja? apa pepasir itu sudah tak ada lagi untuk di saring? namun, kau malah menyuruhku pergi bermain lagi, dan jangan mengganggumu ah..bunda, semua mainanku sudah tidak menarik lagi aku ingin menemanimu saja, biar kan aku duduk di hadapanmu kan ku buka sebelah jendela rumah kita kan ku ambil secangkir air untuk kau minum dan aku pun duduk kembali di hadapanmu kau pasti tahu, aku menginginkan dongeng dari kisahmu tentang telaga tua di pojok rumah, atau tentang gubuk bambu di seberang hutan bunda, ceritakan lagi padaku, siapa penghuni gubuk bambu itu? dongeng pun usai kau dendangkan kala senja berganti malam dan bayang-bayang hujan mulai turun menutup langit mendung menggantung mulai mendekap malam yang kelam langit pun mulai koyak di cakar jari-jemari halilintar yang datang menyambar bumipun kacau dalam kegaduhan semua yang ada terasa di kepung hujan dan badai dan seperti biasa, aku ketakutan di pojok rumah peluk aku bunda, pintaku selalu berbilang jam, hujan turun tanpa reda menampar daun-daun bambu di halaman belakang rumah kita dan jendela depan rumah kita pun berayun-ayun mengikuti alun aku tlah di kamarku kini, tlah kau tinggal sendirian kala itu namun, dirimu bunda, selalu duduk datang kembali menemaniku bunda, apa sekarang aku sudah sebesar ayah? sekarang, apa aku boleh bermain ke gubuk bambu di seberang hutan itu? aku akan ke sana, ke seberang hutan, seberang sungai bahkan ke padang rumput yang kata mu banyak binatang buas seperti titah mu dulu, tunggu nanti aku sebesar ayah kan ku cari semua dongeng kisah-kisahmu seperti hari ini, bunda ah... aku ada dimana bunda? kemana perginya semua pagar penanda sawah dan ladang kemana hilangnya jalan setapak untuk para nelayan pulang atau untuk para perempuan-perempuan yang mencari kayu di hutan dulu ada petak-petak gubuk di seberang sungai ada pohon asam jawa tua tumbuh di sana tempat riuh gagak bernyanyi menunggu pagi oh... bunda, aku ada dimana? kemana padang rumput dengan binatang buasnya gubuk bambu di seberang hutan kisahmu dulu tak juga ku temui hutannya juga tak ada sama sekali tak bisa kubayangkan tempat aku kini berdiri terbayang masa kecilku dulu, bunda ketika hari nyaris gelap semua musafir mencari tempat tuk menginap tak ada lagi para pejalan kaki yang masuk kampung ke luar kampung padang rumput segera lengang, ditinggal pulang oleh para bocah gembala sawah dan ladang pun berubah menjadi cekam ditinggal para lelaki yang pulang menuju istri-istri lalu, dari ujung langit yang paling jauh, hujan kabut turun dengan suara yang maha ribut halilintar menyambar, menggelegar bagai singa-singa yang terluka inilah saat-saat aku kan mencari pangkuanmu, bunda lalu seperti biasa, kita kan duduk saling berhadapan bertikarkan alas roban, di rumah kita yang berdinding rotan dan kau pun mulai bercerita, kisah telaga tua di pojok rumah atau kisah gubuk bambu di seberang hutan usai kisah, kau kembali menyuruhku belajar, dan membaca semua buku-buku pelajaranku tapi sebelumnya, aku kan selalu bertanya kepadamu “siapa penghuni gubuk bambu itu, bunda?” *** sumber gambar dari http://picture-with-quotes.blogspot.com

Furqan Al Ghifary

/keken

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Furqan Al Ghifary (_keken_),
Banda Aceh.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?