Amoy Singkawang Amboy [1]

05 Agustus 2011 05:57:40 Dibaca :

Lima belas tahun sudah kutinggalkan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, mengikuti orangtua yang merantau ke Jakarta. Selama lima belas tahun itu pula aku tak pernah lagi menginjakkan kaki ke kota kelahiranku itu.Singkawang termasuk kota yang cukup maju dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Kalbar selain Pontianak sebagai ibukota.

Selain kota yang indah dan memiliki pemandangan yang sejuk di Taman Rindu Alam, ada tempat wisata Pasir Panjang yang merupakan tempat favorit bagi warga Singkawang untuk berlibur.

Di Singkawang begitu mudahnya menemukan kelenteng tempat sembahyang bagi kebanyakan etnis Tionghoa yang banyak bermukim di Singkawang. Karena itu Singkawang mendapat julukan sebagai Kota Seribu Kelenteng.

Satu lagi Singkawang terkenal dengan amoy-amoy-nya yang cantik dan memikat serta membawa nikmat. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan Amoy Singkawang yang aduhai itu? Tak heran Singkawang juga dijuluki sebagai Kota Amoy.

Keadaan kota memang sudah banyak berubah, tak ubahnya dengan keadaan kota-kota lainnya yang terus berkembang. Kehidupan modern tak dapat ditolak lagi kehadirannya.

Hidup di Kota Singkawang, tak lengkap kalau tidak mencicipi makanan khasnya, apalagi kalau bukan mie tiaw atau mie goreng. Hampir semua warga menyukainya. Itu juga yang menjadi makanan favoritku sejak kecil.

Berjalan sendirian menikmati gemerlap Kota Singkawang pada malam hari memang asyik. Tentu saja yang menjadi perhatianku adalah amoy-amoy Singkawang yang cantik-cantik itu.

Malam itu aku ada janji dengan seorang kawan, Aliong untuk bertemu di sebuah kedai kopi. Saat datang, Aliong sudah berada di tempat bersama seorang amoy. Wow cantik dan seksi. Sesama orang hakka, kami sudah terbiasa bicara dalam bahasa sehari-hari warga Singkawang.

"Jong pan ngin ngi? Ho mo?" Itulah kalimat yang diucapkan Aliong saat aku berada di hadapannya.(Apa kabarmu? Baikkah?)

"Ngi khon liau! Khon ngi se, ng si mon tu ngai ti ngi cin cin ho ah, Liong!" Sahut saya tertawa lepas sambil melirik amoy yang di samping Aliong yang tidak henti-hentinya tersenyum. Amboy! ( Lihat sendirilah! Lihat kamu sih, tidak usah tanya juga saya tahu kamu dalam keadaan yang sangat baik, Liong!)

Saat duduk saya bertanya lagi sambil berbisa di telinga Aliong,"He lai sa, Liong? Nya oil ngin ah?" (Siapa, Liong? Pacar kamu?)

Aliong hanya senyum-senyum dan memperkenalkan amoy cantik itu.

"Ngai Alan, Ko!" Ia menyodorkan tangan dan menyebutkan namanya. (Saya Alan, Kak)

"Ngai si Akhun!" Aku membalas. (Kalau saya, Akhun).

Lalu, Aliong berbisik padaku,"Khun, Alan kim pu ja pun ngi tai oi mo?" (Khun, Alan malam ini kamu bawa, mau?"

"Oil to mai?" Tanya saya kelabakan. (Buat apa?)

"Ngi ng moi ca ca lah ka ng moi siau li, Khun! Sit ka ngin." Aliong menepuk-nepuk bahuku sambil mengedipkan mata ke Alan. (Kamu jangan berpura-puralah dan tidak usah malu, Khun! Orang sendiri.) Belakangan aku baru tahu ternyata Alan adalah amoy yang bisa dibawa-bawa untuk menemani menghabiskan malam.

Aliong dengan alasan ada urusan lalu meninggalkan aku dan Alan berduaan. Dengan sedikit tegang aku menyeruput kopi hangat khas Singkawang yang masih berbulir.

Dari dekat dapat kulihat Alan memang sungguh cantik dengan matanya yang sipit. Bibirnya merah merekah. Kulitnya putih dan rambut panjang terurai.

Aku menjadi gugup tak harus harus berkata apa-apa. Untung Alan lincah dan pintar mencairkan suasana. Dalam sekejab kami menjadi akrab. Namun aku semakin gugup ketika Alan mendekat dan duduk di sampingku.

Keramaian di kedai kopi tidak membuatnya sungkan. Tubuhnya yang wangi sungguh menyegarkan.

Malam itu bersama Alan aku melewati waktu. Ia banyak bercerita mengapa sampai mau menjadi wanita malam. Padahal dalam usianya yang baru 25, ia sudah memiliki anak satu.

Seperti umumnya yang menjadi biang masalah adalah kemiskinan. Dimana kedua orangtua Alan hanyalah petani yang memiliki sebidang tanah saja.

Selain menjadi wanita panggilan untuk menghidupi keluarga banyak teman-teman Alan sesama orang Tionghoa yang berkerja ke Taiwan atau menikah di Taiwan.

Ternyata memang tidak semua orang Tionghoa di Indonesia itu kaya-kaya seperti anggapan sebagian orang. Tidak sedikit juga yang harus menjual tubuhnya dalam linangan airmata dan menahan pedih di hatinya.

K. RajaWen

/katedrarajawen

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis"
______________________________
Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu....
[Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?