Mohon tunggu...
吳明源 (Jonathan Calvin)
吳明源 (Jonathan Calvin) Mohon Tunggu... Administrasi - Pencerita berdasar fakta

Cerita berdasar fakta dan fenomena yang masih hangat diperbincangkan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

(Bagian 1) Kilas Balik Dunia Pendidikan 2019

30 Desember 2019   13:44 Diperbarui: 1 Januari 2020   15:19 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Infografis kekerasan Factory School | globuswarwick.com

Tidak terasa tahun 2019 akan segera berakhir dalam hitungan hari dan berbagai peristiwa telah dilalui. Berbicara mengenai bidang pendidikan, tahun 2019 membawa kisah bangga dan merana bagi dunia pendidikan. 

Jika disandingkan dengan delapan mandat penting universitas  sebagai salah satu instansi pendidikan di samping sekolah menurut Guzman-Valenzuela sebagaimana diungkapkan Budi Widianarko dalam artikelnya "Menanti Kuda Troya Nadiem" di Kompas nyatanya apa yang terjadi sepanjang 2019 semakin jauh dari mandat yang diberikan.

Beberapa isi mandat yaitu memberi peluang kepada siapa saja untuk mendapatkan pendidikan tinggi tanpa pembedaan, pengecualian, dan perseteruan serta memberi akses kepada siapa saja untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang terbaik. 

Namun, sebagaimana diungkapkan Survival International (organisasi yang mengkampanyekan hak dari suku asli setempat dan suku terasing) dalam laporannya mengungkapkan bahwa sekolah sebagai "pabrik" penghasil ilmu pengetahuan tak lebih sebagai tempat penyiksaan bagi anak-anak suku asli.

Infografis kekerasan Factory School | globuswarwick.com
Infografis kekerasan Factory School | globuswarwick.com
Memang, fenomena tersebut cenderung lebih banyak terjadi di beberapa sekolah yang memiliki sistem pendidikan yang spesifik seperti boarding school atau residential school. Dalam sejarahnya, boarding school atau residential school dimulai dari sekitar abad 19 dan 20 di Kanada, Australia, Amerika Serikat. 

Di masa itu, setidaknya ada 6000 siswa meninggal berarti 1 diantara 25 anak-anak yang menjadi siswa di masa itu. Sedangkan, di masa ini, tidak jauh berbeda sebanyak 1500 anak-anak suku asli di Maharastra India meninggal sepanjang 2001 hingga 2016. Jumlah tersebut juga termasuk jumlah anak yang bunuh diri sebanyak 30

Banyaknya siswa yang bunuh diri atau mati mayoritas disebabkan tingkat depresi yang tinggi akibat trauma terhadap perlakuan dari pihak boarding school. Salah satu contohnya Norieen Yaakob, salah satu anak dari Orang Asli, suku asli Malaysia yang kabur dengan selamat dari sekolahnya setelah mengalami penyiksaan dari gurunya. Norieen ditemukan setelah 47 hari kabur dari sekolahnya bersama dengan 6 orang temannya. Hanya saja, 5 orang temannya meninggal akibat kelaparan sedangkan Norieen dan 1 orang temannya ditemukan selamat namun dalam kondisi kelaparan yang cukup parah.

Dalam pembelajaran, sistem boarding school melucuti identitas anak-anak suku asli dan tak jarang hingga nama, agama, hingga bahasa asli mereka. Salah satu residential school terbesar di India yang menyebut dirinya sebagai “rumah” bagi 27,000 anak-anak suku asli memberikan pernyataan publik hendak mengubah anak-anak suku asli dari hutang menjadi “aset” dan dari penikmat pajak menjadi pembayar pajak. Orangtua dari para siswa juga menganggap boarding school layaknya kandang ayam dimana anaknya diperlakukan seperti tahanan.

Berdasarkan penelusuran Survival International, perusahaan yang mengambil bahan dari alam seperti perusahaan tambang dan organisasi keagamaan fundamental berada di balik pendirian beberapa boarding school.  

Perusahaan tersebut mencoba merebut tanah adat milik para suku asli melalui pemahaman yang diberikan dalam boarding school bahwa kegiatan tambang dan konsumerisme merupakan hal yang baik sedangkan budaya setempat suku asli merupakan sesuatu yang buruk sebagaimana diceritakan oleh salah satu ahli Adivasi educationUntuk itu, Survivor International mendesak adanya perubahan sistem karena apabila dibiarkan akan memusnahkan suku-suku asli beserta kebudayaannya di masa mendatang.

Peringatan dari PBB

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun