HIGHLIGHT

Pak Mendikbud, Mengapa Dunia Pendidikan Kian Karut-Marut?

22 September 2012 07:39:44 Dibaca :
Pak Mendikbud, Mengapa Dunia Pendidikan Kian Karut-Marut?
Sangat tampak bahwa pendidikan kita kian kehilangan arah (Foto: KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI)

Sebuah bangunan nan besar, megah, dan tinggi berasal dari tatanan bata merah. Pada awalnya, sebuah pondasi nan kuat disiapkan. Selanjutnya, satu demi satu bata merah itu ditata, diplester, dicat, diplafon, dan dikeramik. Maka, betapa megahnya gedung besar itu. Tak pernah terbayangkan betapa jeleknya ketika kita menengok sejarah pembangunan. Mungkin bangunan itu terletak di tanah rawa atau bukit yang teramat sulit diwujudkan menjadi sebuah bangunan. Namun, berkat kemahiran dan keuletan tukang batu, tanah gersang tak layak dibangun itu berubah 180 derajat menjadi sebuah bangunan nan mahal lagi perkasa. Lalu, mengapa bangunan itu dapat terwujud sedemikian indahnya?

Bangunan nan megah itu terwujud karena tukang batu yang membangun itu adalah tukang batu jempolan, berpengalaman, dan memiliki jam kerja lumayan tinggi. Belajar dari pengalaman tukang batu yang pernah membantuku, tukang batu itu tidak memiliki piranti pekerjaan yang mahal, lengkap, dan modern. Justru tukang batu itu menggunakan piranti sederhana. Karena kemahirannya itulah, bangunan nan megah terwujudkan. Apalah guna alat modern dan mahal jika tukang batunya tak becus bekerja. Justru bisa jadi alat bantu itu dapat mengganggu pekerjaan tukang batu karena mungkin mudah rusak dan tak mengetahui cara memerbaikinya.

Analogi pembangunan di atas dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi pembangunan dunia pendidikan. Berkali-kali saya menuliskan pengalamanku ketika mengetahui dunia pendidikan. Kian hari, saya memerhatikan bahwa dunia pendidikan kita seakan melangkah mundur. Jauh dari kesan maju, apalagi pendidikan ideal. Mungkin tulisan ini terkesan basi dan mengada-ada. Namun, marilah kita menengok ke belakang tentang dunia pendidikan kita.

Dahulu, para guru mengajar kita dengan peralatan dan media sederhana. Guru-guru itu begitu menguasai bahan ajar dan teknik menyampaikannya. Ketika menerangkan bahan ajar, guru itu sangat sabar tetapi juga tegas dan keras. Banyak guru menghukum muridnya karena tidak mengerjakan PR, tidak mampu menghafal pelajaran yang diwajibkan, atau mendapat nilai merah. Meskipun sering dimarahi oleh guru-gurunya, tak pernah terdengar protes dari mantan-mantan murid saat ini. Justru para murid sekarang merasa bersyukur karena gurunya pernah menghukumnya.

Kondisi itu berbalik 180 derajat. Konon, saat ini pemerintah berusaha memberikan pendidikan berkualitas. Kebijakan ini dimulai dari pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS), penyaluran bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK), dan pemberian tunjangan profesi guru. Beratus triliun uang telah digelontorkan kepada dunia pendidikan. Namun, apakah dunia pendidikan sudah berubah menjadi lebih baik? Saya menilainya bahwa dunia pendidikan justru berjalan mundur. Apa dasar pendapat ini?

Pertama, cobalah kita perhatikan kualitas guru dan dosen. Baru-baru saja, guru yang tersertifikasi telah mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Namun, sungguh hasilnya teramat mengagumkan. Bukan hasilnya menggembirakan melainkan menyedihkan karena 95% guru dinyatakan tidak lulus. Begitu dinyatakan tidak lulus, sontak protes bermunculan dan menyalahkan soal-soal UKG. Entah soalnya memang salah, tetapi itu justru menjadi jawaban. Jika soalnya memang salah, bukti itu menunjukkan bahwa pejabat dan staf Kemendikbud dihuni oleh orang-orang yang tidak profesional secara keilmuan sehingga tidak dapat menyusun soal dengan benar. Jika soalnya benar dan guru tidak dapat menjawab, bukti itu menunjukkan bahwa guru itu semestinya tidak menjadi guru karena tidak menguasai disiplin ilmunya.

Kedua, sistem karier di pusat. Semestinya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dihuni oleh mantan-mantan guru hebat dan tidak dijabat profesor atau doktor-doktor perguruan tinggi. Mestinya pejabat eselon 2 ke bawah merupakan guru yang memiliki prestasi di bidangnya sehingga semua kebijakannya dapat diterapkan di level bawah. Bukankah setiap tahun Kemendikbud mengadakan pemilihan guru berprestasi, lomba kreativitas guru, sayembara menulis naskah buku, lomba media pembelajaran dan lain-lain. Karena lomba dan sayembara itu diikuti oleh semua guru dari seluruh jenjang, mestinya peraih juara diberi kesempatan untuk ikut mewarnai kebijakan Kemendikbud. Namun, justru guru-guru yang berprestasi itu hanya diberi selembar piagam dan uang. Setelah itu, guru itu pun disuruh pulang. Sayang dan teramat disayangkan. Guru yang memiliki segudang prestasi tetapi tak digunakan negaranya.

Ketiga, lakukan seleksi ketat terhadap mutu bahan ajar. Belum lama dunia pendidikan dihebohkan oleh buku yang berisi materi porno. Kasus itu belum selesai, lagi-lagi dunia pendidikan dihebohkan dengan bahan ajar yang cenderung menentang Pancasila. Kasus itu belum selesai lagi, kita dikagetkan oleh LKS bahasa Inggris di Jawa Timur yang berisi tokoh porno tetapi dijadikan bahan pelajaran. Mengapa Kemendikbud sering kecolongan masalah bahan ajar? Karena saya tak melihat keseriusan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud untuk menindak dan menindaklanjuti semua temuan itu. Sangat terkesan bahwa mereka membiarkan kasus itu agar menguap begitu saja. Tak terlihat keseriusan untuk menanggapi kasus itu agar tidak terjadi lagi.

Keempat, pergantian kurikulum. Saya mendapat kabar bahwa tahun 2013 kurikulum akan diganti. Jam pelajaran akan ditambah. Mendengar dan mendapat kabar ini, saya tertawa dalam hati. Apa maunya Kemendikbud menambah jumlah pelajaran? Mengapa Kemendikbud mengutamakan kuantitas daripada kualitas pelajaran? Dahulu Kemendikbud mengkritisi jumlah pelajaran yang mencapai 12 buah karena dianggap terlalu banyak dan tidak memberikan kesempatan anak-anak untuk istirahat. Lalu, jumlah itu dipangkas agar pelajaran yang ada dapat terlaksana efektif. Tahu-tahu, justru sekarang Kemendikbud menambah pelajaran lagi dengan alasan agar guru-guru tersertifikasi mudah mendapatkan 24 jam per minggunya.

Pak Mendikbud, belajarlah Bapak kepada model pendidikan luar negeri. Saya yakin bahwa Bapak sering bepergian ke luar negeri. Di sana, pelajaran dasar hanya diberikan di jenjang SD (elementary school) yang mencakup bahasa dasar, matematika dasar, dan budaya dasar. Setelah masuk ke jenjang SMP, semua siswa mulai dibebaskan mendapatkan pelajaran berdasarkan cita-citanya. Pengetahuan lebih spesifik mulai diterapkan ketika anak duduk di bangku SMA. Maka, tak heran jika seorang mantan murid SMA yang baru berusia 18 tahun di Amerika Serikat sudah menjadi pengacara hebat. Bukankah demikian model pendidikan di luar sana, Pak?

Sebagai guru, saya sering dibuat bingung ketika mengikuti irama pendidikan di sini. Guru tidak memerlukan piranti canggih nan mahal. Guru tidak memerlukan kurikulum baru. Guru tidak memerlukan gedung baru nan megah. Guru tidak berharap agar pendidikan gratis karena toh itu hanya akal-akalan. Namun, guru memerlukan motivasi dan apresiasi dari Bapak. Mengapa Kemendikbud cepat sekali mengubah kebijakan dan tidak menindaklanjuti beragam kesalahan dan kekeliruan di masa silam.

Mestinya kesalahan dan kekurangan di masa silam cukup dianalisis dan diperbaiki. Jika hanya kuku yang sakit, tentunya kita tak perlu memotong tangan. Ini bukannya sekadar memotong tangan, melainkan memotong leher. Mau diapakan dunia pendidikan bangsa ini? Jika kesalahan terus dibiarkan dan kebijakan baru terus diberlakukan, saya justru teramat khawatir bahwa dunia pendidikan kita berjalan tanpa arah. Mudah-mudahan sih tidak!

Teriring salam,

Johan Wahyudi

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?