Mohon tunggu...
YEREMIAS JENA
YEREMIAS JENA Mohon Tunggu... Dosen - ut est scribere

Akademisi dan penulis. Dosen purna waktu di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perilaku Agresif dan Solusi Terbaik untuk Mengatasinya

17 Agustus 2018   20:22 Diperbarui: 21 Agustus 2018   08:14 1682
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tekanan di tempat kerja dapat menjadi penyebab perilaku agresif. Sumber: alert.psychnews.org

Demikianlah, alasan mengapa perilaku agresif harus dihindari adalah karena perilaku tersebut, pada level yang lembut atau kasar, sama-sama menyebabkan orang lain terluka dan menderita. 

Pada level tertentu, korban perilaku agresif, seperti halnya juga perilaku kekerasan pada umumnya, berpotensi mengambil sikap yang merugikan dirinya sendiri, misalnya perilaku membunuh diri. Jika ini terjadi, umumnya orang (baik pelaku maupun korban) harus mengikuti program terapi dan penyembuhan secara psikis-medis.

Mengatasi Perilaku Agresif

Beberapa solusi berikut ini dapat bermanfaat dan dipraktikkan dalam kehidupan kita untuk mencegah dari perilaku agresif. Pertama-tama harus ditemukan akar terdalam dari perilaku agresif tersebut. 

Ada berbagai alasan yang tersembunyi, misalnya stress karena tekanan kerja, tekanan kelompok, penggunaan zat adiktif, atau hubungan yang tidak sehat dalam keluarga. 

Jika semua faktor ini menciptakan situasi yang menjengkelkan dan Anda mengalami rasa frustrasi, yang harus segera dilakukan adalah mengubah situasi frustrasi ini menjadi situasi yang nyaman. 

Sebagai contoh, jika perilaku agresif itu disebabkan oleh tekanan di tempat kerja dan Anda mengalami ini secara berulang, umumnya solusi yang bisa diberikan adalah Anda dapat mencari pekerjaan lain yang lebih baik situasinya.

Komunikasi yang intim dapat menjadi jalan keluar memerbaiki diri dan membebaskan diri dari perilaku agresif. Sumber: Liputan6.com
Komunikasi yang intim dapat menjadi jalan keluar memerbaiki diri dan membebaskan diri dari perilaku agresif. Sumber: Liputan6.com
Demikian pula, jika perilaku agresif itu disebabkan oleh relasi atau hubungan yang tidak sehat, segera mengubahnya menjadi hubungan yang sehat. Contoh relasi cinta yang kami kemukakan di atas memperlihatkan sifat Anda yang posesif dan ingin menguasai. 

Ini relasi yang tidak sehat dan merugikan, tidak hanya pasangan Anda, tetapi juga Anda sendiri. Memberi ruang bagi kebebasan dan otonomi orang lain (pasangan hidup) adalah cara memperbaiki relasi yang tidak sehat itu.

Agar hidup Anda dapat berjalan damai dan tentram, tentunya perilaku agresif dapat dikurangi, misalnya dengan membangun komunikasi yang cukup, memberi ruang dialog dan diskusi yang intens, serta memberi kesempatan kepada orang untuk menyatakan pikiran, sikap dan perasaannya. Dengan begitu, diharapkan perilaku agresif dapat berkurang menjadi perilaku-perilaku yang menyenangkan untuk kedua belah pihak.

Jika perilaku agresif bersifat parah dan ekstrem, Anda sebaiknya berkonsultasi pada psikolog dan psikiatri. Dalam dunia psikiatri dikenal sebuah terapi bernama Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini sudah terbukti andal dalam membantu mereka yang berperilaku agresif untuk mengenal dan belajar bagaimana mengontrol sifat agresifnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun