Komunitas Jerami
Komunitas Jerami karyawan swasta

Jemaat Rahmatan lil Alamin Indonesia ~ http://agamauniversal.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Andai Jokowi Admin Kompasiana

16 April 2012   20:25 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:32 1878 16 16

Alhamdulillah. Semalam kami berhasil mewawancarai Jokowi di sela2 kesibukan beliau. Berhasil pula kami memancing pandangan beliau tentang Kompasiana.

Jerami: Apa kebijakan Anda kalau Anda menjadi Admin Kompasiana?

Jokowi: Akan saya tegakkan dua prinsip. Kejujuran dan kerakyatan.

Jerami: Apakah slogan "Sharing.Connecting" akan Anda ubah pula?

Jokowi: Ya, harus itu. Orang2 mudah berbohong melalui "Sharing.Connecting".

Jerami: Bukankah ada prosedur verifikasi terhadap akun kita?

Jokowi: Kita lebih membutuhkan verifikasi informasi. Selama ini, Admin Kompasiana lebih disibukkan oleh verifikasi akun. Itu pun cuma administratif, bukan faktual. Setiap bos akan bisa dengan mudah memanfaatkan KTP karyawan2nya untuk verifikasi. Lalu ia dapat membuat akun abal2 sebanyak jumlah karyawannya untuk mendongkrak popularitasnya di Kompasiana. Apakah dengan begini, kita didorong untuk menegakkan kejujuran?

Jerami: Lantas, bagaimana cara menegakkan kejujuran di Kompasiana?

Jokowi: Kita bisa pakai banyak cara. Verifikasi akun masih kita butuhkan, tapi kita perlu pula cara2 lain yang lebih efektif. Salah satunya yang terpenting, ciptakan suasana yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya kejujuran. Kita harus menghargai kejujuran, jangan justru mencelanya! Bukankah kalau orangtua suka mencela anak2nya ketika mereka jujur, maka itu berarti mendorong mereka untuk berbohong di waktu2 mendatang?

Jerami: Bisa kasih contoh kasus di Kompasiana?

Jokowi: Lihat artikel mas Waris Darmadi tadi pagi, "Wartawan dan Penulis Kondang Jangan Nulis di Kompasiana, Dong!". Itulah contoh artikel yang berisi kejujuran penulisnya. Tapi perhatikan komentar2 di bawah artikel itu. Berapa persen yang menghargai kejujurannya? Berapa persen yang mencela usulannya?

Jerami: Oh, iya. Tadi Anda bilang, kita lebih membutuhkan verifikasi informasi. Nah, verifikasi informasi terhadap artikel tersebut bagaimana caranya?

Jokowi: Caranya, pada kasus ini, jangan mengkhotbahi atau menggurui si penulis yang jujur itu! Lebih baik kita memperbanyak pertanyaan yang bernada rendah-hati, bukan pertanyaan yang menyudutkan. Dengan demikian, kita akan mendapat tambahan informasi yang lebih dalam dan lebih jujur.

Jerami: Sepertinya kasus tadi relevan pula dengan masalah prinsip kerakyatan, karena penulisnya seorang wong cilik.

Jokowi: Betul. Slogan "Sharing.Connecting" itu mengasumsikan setiap orang punya kesempatan akses yang sama terhadap sumber & media informasi. Nyatanya, kesempatan kita tidak sama. Contohnya ya mas Waris Darmadi itu.

Beliau itu 'kan wong cilik yang lantaran pekerjaannya, dia jarang punya kesempatan ngakses internet. Jarang pula punya kesempatan untuk ngakses sumber2 informasi. Lain dengan para penulis profesional atau kompasianer makmur yang punya banyak waktu buat itu.

Wong cilik seperti beliau itu perlu lingkungan yang kondusif untuk memperbesar harapannya.

Jerami: Harapan untuk menjadi penulis profesional?

Jokowi: Ya, itu salah satunya.

Jerami: Bukankah di Kompasiana, kita punya kesempatan yang sama untuk sukses sebagai penulis?

Jokowi: Hahaha.... Apakah pedagang pasar tradisional punya kesempatan yang sama dengan pengusaha supermarket? Apa jadinya kalau supermarket dan pasar tradisional itu berada di lokasi yang sama? Apa kalian belum pernah mengunjungi desa2 di seantero Nusantara & menyaksikan betapa pasar2 tradisional berguguran ketika minimarket2 merambah kota2 kecamatan?

Jerami: Baiklah. Kami mengerti maksud Anda. Lalu apa solusinya? Apakah kalau Anda menjadi Admin Kompasiana, Anda melarang wartawan dan penulis kondang untuk nulis di Kompasiana?

Jokowi: Kita tidak harus pakai cara ekstrem begitu. Lebih baik kita terapkan strategi lokalisasi.

Jerami: Bagaimana cara melakukan lokalisasi "wartawan dan penulis kondang" di Kompasiana?

Jokowi: Silakan dimusyawarahkan dengan Admin dan kompasianer lainnya. Tidak perlu saya campur tangan sampai sejauh itu.*

*Demikianlah rangkuman wawancara kami dengan Jokowi alias Joko Wiyono, seorang pemilik warnet di dekat rumah kami.