GURU PAK DALAM MASYARAKAT

08 Desember 2011 03:46:30 Dibaca :

Salah satu tujuan Pendidikan Nasional Indonesia adalah mencerdasakan kehidupan bangsa dan membangun manusia Indonesia seutuhnya , hal tersebut tertuang dalam UU R.I No.2 Thn 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 4, adalah, “mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”Ini berarti, pendidikan nasional menyangkut seluruh unsur pertumbuhan dan perkembangan manusia, yaitu aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial, serta mental-spiritual. Pendidikan juga bertugas untuk membangun kualitas manusia seutuhnya, serta segi-segi kehidupan fisik, intelek, moral, spiritual, dan sosio-kultural individu dan kelompok1. Oleh sebab itu, maka proses belajar dan mengajar yang dilakukan di sekolah harus mampu memberikan kontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan manusia.

Atas  dasar itu, maka gereja-gereja melaksanakan pendidikan agama Kristen atau PAK 2. Di samping sebagai pelajaran rohani agar mencapai pertumbuhan dan perkembangan rohani,sehingga mereka bertumbuh secara intelektual, pengalaman keagamaan, serta memiliki sikap hidup yang baik3, PAK yang dilakukan oleh Gereja juga sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh sebab itu, PAK menyangkut seluruh unsur pertumbuhan dan perkembangan manusia, yaitu aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial, serta mental-spiritual, dan lain-lain; serta menyangkut iman kepada Tuhan Allah dalam Yesus Kristus.

PAK sebagai bagian tujuan pendidikan nasional, maka harus menyangkut seluruh unsur pertumbuhan dan perkembangan manusia, yaitu aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial, serta mental-spiritual, dan lain-lain; serta menyangkut iman kepada Tuhan Allah dalam Yesus Kristus. Karena itu, guru PAK harus mengalami proses pendidikan teologi, dengan spesifikasi pendidikan agama kristen. Ini berarti, harus ada institusi pendidikan atau perguruan tinggi -khususnya perguruan tinggi Teologi Kristen- yang khusus mendidik serta mempersiapkan orang-orang untuk menjadi guru agama Kristen secara profesional di sekolah-sekolah. Karena konteks masyarakat terus mengalami perkembangan, maka tidak semua orang bisa mengajar PAK dengan sekedar pengetahuan Alkitab yang terbatas. Ia harus mengalami proses persiapan yang matang serta kompetensi untuk mengajar yang ditandai dengan pengetahuan umum, teologi, serta mampu menjadi teladan iman.

I

NILAI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI GURU

Masyarakat mengalami perkembangan pada semua aspek hidup dan kehidupannya, juga menyangkut perubahan nilai-nilai hidup (value) menjadikan masyarakat cenderung mengutamakan mendapat hal-hal yang bersifat materi. Sehingga kesuksesan seseorang diukur dari apa atau berapa banyak yang dipunyai seseorang, bukan dari ketentraman serta damai sejahtera dalam hidup. Masyarakat dan lingkungan telah mengalami kerusakan pada hampir semua aspek hidup dan kehidupan. Karena itu, perlu perubahan besar dalam masyarakat, terutama  dalam diri mereka yang memegang kekuasaan, dan hanya bisa terjadi melaui pendidikan, khusus moral dan agama. Dengan  demikian ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka memperbaiki keadaan masyarakat:

  • perubahan terjadi jika muncul karena keinginan kuat dari dalam lubuk hati manusia
  • sadar bahwa Tuhan Allah lah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak dan abadi
  • masyarakat harus mencapai kemajuan serta modern,  tetapi penuh tanggung jawab terhadap  sesamanya dan lingkungan. Jika  ingin mempunyai hubungan baik dengan sesamanya  dan lingkungan,  maka ia harus memperbaiki hampir semua cara  hidupnya.  Hubungan  dengan sesama harus  penuh  dengan landasan  solidaritas  sebagai sama-sama insan  ciptaan  Tuhan Allah
  • tatanan serta konsep-konsep atau  nilai-nilai  dalam masyarakat, juga harus mengalami perubahan

Karena perkembangan  pemikiran, intelektual, kemajuan kehidupan,  bahkan perubahan  dalam tatanan sosial manusia, berpengaruh  atau  berdampak pada  penilaiannya terhadap banyak hal. Karena semua aspek hidup dan kehidupan manusia mengalami perkembangan yang cepat, juga menyangkut perubahan nilai-nilai hidup (value) menjadikan masyarakat cenderung mengutamakan mendapat hal-hal yang bersifat materi. Sehingga kesuksesan seseorang diukur dari apa atau berapa banyak yang dipunyai seseorang, bukan dari ketentraman serta damai sejahtera dalam hidup. Akibatnya, Orang tua -terutama di kota-kota metropolitan- tidak menyarankan anak-anaknya agar berprofesi sebagai guru, karena tidak mempunyai prospek masa depan4.

Dengan alasan hampir sama, orang tua atau warga gereja pada umunya tidak tertarik dan menyarankan anak-anaknya agar menjadi atau berprofesi sebagai guru PAK. Guru PAK menjadi suatu dilema, dibutuhkan tetapi hampir tidak atau hanya segelintir orang yang terpanggil menjadi guru PAK. Termasuk ana-anak muda warga Gereja, profesi sebagai guru PAK bukan merupakan cita-cita. Konteks  pendidikan dalam masyarakat  kota dan modern,  guru berhadapan dengan tantang pelayanan masyarakat kota dan modern  yang kompleks. Kompleksitas kehidupan masyarakat perkotaan dan modern yang penuh  dengan  intrik, penyalahgunaan kekuasaan,  nepotisme,  kolusi, klik politik, sentimen SARA, egoistis, materialistis,  ketidakadilan, dan lain-lain, merupakan konteks pelayanannya. Dalam konteks  inilah, seorang  guru -terutama guru PAK- harus mampu untuk menyampaikan  Sabda  Tuhan  Allah yang konteksnya sangat berbeda dengan suasana kekinikan- agar penerima -murid-muridnya- Sabda tersebut bisa berubah.

II

GURU PAK SEBAGAI PROFESI

Profesi -Latin, profesus- artinya mengakui iman atau orang yang melakukan peengakuan iman secara terbuka di hadapan publik. Istilah ini pada mulanya dipakai dalam konteks kekristenan mula-mula sampai abad ke 4 Masehi. Dengan demikian pejabat gerejawi dipandang sebagai profesi yang mula-mula. Profesi adalah pekerjaan -tertentu- yang menjadi panggilan hidup seseorang; dan sekaligus kemandirian serta kemitraan melaksanakan panggilan; nilai terminal atau tujuan dan hidup yang bermakna5. Seseorang melaksanakan profesinya dengan baik-benar-konsisten-kontinyu, disebut professional. Seorang profesional mempunyai ciri-ciri keahlian yang diperoleh dari pendidikan terstruktur dan baku; serta keahlian tersebut menjadi sumber nafkah utama pengemban profesi: yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dalam masyarakat; yang dipilih sebagai panggilan hidup 6

Adanya sejumlah nilai yang disepakati bersama oleh pengemban profesi sebagai kode etik. Pada umunya keterikatan profesi seseorang dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain:

  • input yang diterima dari lembaga yang mendidiknya
  • ketaatan-kesetiaan pada kode etik kelompok profesinya
  • kemampuan dan adaptasi-serta tidak terpengaruh lingkungan
  • komitmen pada panggilan profesi yang dipilihnya

Demikian juga guru PAK, ia juga mempunyai keterikatan tertentu dan khas sebagai kode etik dalam profesinya. Hal-hal tersebut adalah :

1. Input yang diterima dari lembaga yang mendidiknya. Input ini berupa kelengkapan penge tahuan teologis, keguruan, dan trampil mengajar, serta mempunyai spiritualitas atau kerohanian yang baik dan berasal atau bersumber dari Tuhan Allah. Dan juga terus menerus belajar untuk meningkatkan diri, termasuk kemampuan memahami Firman Tuhan melalui perbuatan dan perkataan. Terus menerus meningkatkan kerohaniannya di bawah bimbingan Tuhan Allah. Dengan demikian, ia mampu mengelola proses belajar-mengajar serta memberikan layanan yang terbaik untuk orang lain atau kepada peserta didik.

2. Ketaatan-kesetiaan pada kode etik kelompok profesinya. Hampir semua profesi mempunyai kode etik yang tertulis, terstruktur dan harus diatati oleh mereka yang terikat di dalamnya, misalnya kode etik kedokteran, kode etik pengacara, dan lain-lain. Namun, secara khusus pada profesi guru PAK, hal tersebut tidak atau belum ada. Walaupun demikian, bukan berarti guru PAK mengajar atau bekerja tanpa kode etik. Ada kode etik yang tidak tertulis di atas kertas tetapi di hatinya, yaitu hati yang melayani Tuhan Allah, nyata melalui panggilan pelayanan kepada semua orang, terutama murid-muridnya.

3. Kemampuan adaptasi serta tidak terpengaruh lingkungan. Guru PAK mempunyai kepekaan terhadap lingkungan di mana ia berada. Mampu beradaptsi dengan lingkungan sosio-kultural di tempat ia mengajar atau bertugas. Tetapi bukan berarti -karena adaptasi salah kaprah- ia terjerumus dalam lingkungan sosial dan masyarakat yang kacau. Ia harus menjadi garam dan terang bagi semua yang ada di sekitarnya. Kemampuan adaptasi menjadikan guru PAK mampu memberikan jawaban teologis terhadap persoalan serta pertanyaan-pertenyaan kontemporer yang datang pada muridnya; serta memberikan jawaban etis kristiani serta landasan teologis terhadap peran-peran muridnya atau orang percaya pada umumnya. Melalui adaptasi yang baik, guru PAK juga mampu menemukan inovasi baru dalam proses belajar-mengajar PAK.

4. Komitmen pada panggilan profesi yang dipilihnya. Mungkin saja guru PAK akan mendapat pandangan dari orang lain -karena konsepnya tentang kesuksesan- bahwa profesinya tidak menjanjikan atau menghasilkan materi yang banyak. Namun, jika seseorang -dengan alasan-alasan tertentu- sudah memilih berprofesi sebagai guru PAK, maka ia harus memiliki komitmen tinggi terhadap pilihan yang sudah diambil dan dijalaninya.

Komitmen guru PAK bukan saja urusan pekerjaan atau nafkah, tetapi karena ia harus mengerjakan panggilan pelayanan yang datang dari TUHAN Allah kepadanya. Dengan demikan, upahnya bukan hanya dari bumi tetapi juga di surga, karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia, I Korintus 15:58.

III

GURU PAK SEBAGAI SALAH SATU PEMBENTUK MANUSIA BARU

1. Terbentuknya Manusia Lama

Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik, Kej 1:1 - 2:7, kemudian Ia menciptakan manusia pertama di bumi. Bumi terbentuk, diisi “Manusia Baru/Pertama” yang baru saja Ia ciptakan. Di Taman Eden, Tuhan Allah menyediakan semua kebutuhan hidup Adam dan Hawa sehingga mereka dapat hidup dengan nyaman. Akan tetapi, semuanya itu, menjadi rusak dan hilang. Hal itu terjadi bukan semata-mata akibat godaan iblis, tetapi juga karena keinginan manusia untuk menjadi sama seperti Tuhan Allah. Keinginan yang membawa maut tersebut, membawa malapetaka bagi manusia dan hasil ciptaan lainnya. Setelah kejatuhan dalam dosa, manu­sia menyadari keadaannya yang tidak aman, ketakutan dan rasa sakit atau mengalami penderitaan serta penyakit, Kej 3:16-17. Akibat dosa Adam dan Hawa, mereka dan seluruh ciptaan mengalami penghukuman dari Tuhan Allah. Akibat lain dari dosa Adam dan Hawa adalah semua manusia berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah serta hubungan dengan Tuhan Allah, mereka menjadi tidak dapat tidak berdosa, mereka harus mengalami maut dan penghukuman. Oleh karena kelakukan dan pelanggarannya, mereka berubah menjadi “manusia lama”.

2. Terbentuknya Manusia Baru

Tuhan Allah tetap mengasihi manusia yang berdosa Ia memilih bagi DiriNya umat yang harus menyampaikan rencana keselamatan untuk manusia. Namun umat pilihanNya gagal. Karena kegagalan itu, Ia hadir dalam budaya serta hidup dan kehidupan manusia untuk menebus mereka dari dosa dan maut. Kehadiran-Nya yang sesaat -dan kemudian kembali ke Surga- menjadikan serta membawa perubahan bagi banyak orang. Dari Surga Ia mencurahkan Roh Kudus untuk bagi penerus-penerus misiNya di dunia. Semuanya itu dengan tujuan menjadikan manusia lama menjadi manusia baru.

Manusia lama telah lama mati, dengan sendirinya manusia wajib untuk mematikan segala sesuatu dalam dirinya yang masih berhubungan dengan kehidupan yang lama yang mendatangkan murka Allah. Tuhan Allah melalui karya Roh Kudus dalam setiap pribadi yang -menyerahkan diri dan percaya kepadaNya- menjadikan manusia lama berubah menjadi baru. Perubahan menyangkut seluruh eksistensi dari manusiawi, tubuh-jiwa-roh yang diperbaharui oleh Tuhan Allah. Manusia baru yang dipilih oleh Tuhan Allah, dan dikuduskan dan dikasihiNya, “ ... hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” , Kol 3:3, mewajibkan orang Kristen untuk “menggenakan manusia baru yang telah disiapkan oleh Tuhan Allah untuk dipakai oleh manusia yang telah ditebusNya”, Kol 3:10, yang terus menerus diperbaharui oleh oleh Tuhan Allah dalam Yesus Kristus.

Bangsa dan rakyat Indonesia yang merupakan bagian masyarakat dunia mengalami perubahan dan perkembangan dalam hampir semua aspek hidup dan kehidupan. Perubahan dan perkembangan tersebut, bukan semata-mata karena akibat dari pengaruh globalisasi yang universal, tetapi juga melalui pendidikan. Akan tetapi, tidak bisa dibantah, di sana-sini, masiha ada kemelut yang bekepanjangan dan tidak tercapainya perubahan radikal dalam bidang ekmonomi, hukum, sosial, politik, hak azasi manusia, hubungan antar umat beragama, dan lain-lain.

3. Peran Guru PAK

Dalam kondisi seperti itu, warga gereja -khususnya guru PAK- setuju bahwa bangsa ini harus ditata ulang dalam banyak hal. Guru PAK menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan bangsa Indonesia, terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam penataan bangsa agar lebih baik dalam semua aspek hidup dan kehidupan. Oleh sebab itu, guru PAK terpanggil untuk menyampaikan suara Tuhan Allah kepada bangsa Indonesia, melalui kesaksian hidup yang benar, menjadi garam dan terang. Keterpanggilan tersebut, merupakan suatu bentuk kepedulian terhadap pertumbuhan dan perkembangan sumber daya insani/manusia Indonesia.

Karena itu, guru PAK membuat terobosan dalam banyak hal sehingga menghasilkan warga gereja berubah menjadi “Manusia Baru”. Manusia Baru yang mampu mengambail bagian serta ikut berperan aktif dalam memecahkan berbagai pergumulan, permasalahan pendidikan, sosial, budaya, hukum, politik dan keamanan bangsa Indonesia. Dan untuk mendapat warga gereja yang demikian, guru PAK wajib dan harus mempersiapkan-membina-membimbing murid-muridnya dengan berbagai program serta kegiatan belajar-mengajar.

KEPUSTAKAAN TERPILIH

  • Milne, Bruce., Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen., Jakarta: BPK-GM., 1993
  • Sidjabat, B. Samuel Sidjabat., Strategi Pendidikan Kristen:Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis (Edisi Revisi), Yogyakarta:Yayasan ANDI
  • _______________________., Profesi Keguruan Dalam Pendidikan Agama Kristen., Program Pasca Sarjana PAK FKIP-UKI Jakarta, 2004
  • Pullias, Earl V, James D. Young., Guru Adalah Segala-galanya., Bandung: Tarate, 1983
  • Ten Napel, Henk., Jalan Yang Lebih Utama Lagi, Jakarta: BPK-GM., 1991
  • Usman, M Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung; Remaja Rosda Karya, 1995
  • Van Niftrik, G.C dan B.J. Boland., Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK-GM., 1977
  • www.biblesoft.com
  • www.christianity.com
  • www.emerald-library.com
  • www.sttjakarta.ac.id
  1. 1 Bandingkan B. Samuel Sidjabat., Strategi Pendidikan Kristen:Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis (Edisi Revisi), Yogyakarta:Yayasan ANDI, hal 212
  2. 2Selanjutnya dalam tulisan digunakan kata PAK
  3. 3 H.H Meyer dalam International Standard Bible Encyclopaedia,(c)1996, www.biblesoft.com., 2005
  4. 4 Jappy Pellokila, Prospek Guru Pada abad 21, (Makalah, ceramah di UNJ)., 2000
  5. 5 Jappy Pellokila, Etika Pelayanan., (bahan kuliah teologi praktika untuk mahasiswa STBI-Jakarta)., 2002
  6. 6 Band. W. I.M. Poli, Etika Organisasi:Masalah dan Pemecahannya, [makalah}, hal 6
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?