HIGHLIGHT

Copet Korban Motivator

20 Januari 2011 05:24:29 Dibaca :
Copet Korban Motivator

Meskipun sering ke Jakarta, namun baru kali ini merasakan naik Trans Jakarta. Bagi penduduk Jakarta mungkin biasa saja, tapi bagi saya seperti ada yang aneh. Bermula dari berpapasan orang di tangga halte busway yang mengenakan tas back packnya di depan. Jadi tas itu menjadi lebih pantas disebut front pack. Awalnya hanya bertemu satu orang, saya masih berpikir, mungkin orang ini suka yg hal-hal berbeda, alias nyleneh. Tapi dugaan itu segera luntur setelah melihat antrian para penumpang didalam halte yang panjangnya lebih dari 12 meter. Ternyata semua back pack disandang di bagian depan. Saya bertambah heran, kenapa bisa begitu?. Apakah ini trend baru warga Jakarta menirukan rekaman cctv pengebom ritz calton kala itu?. Tapi sudahlah, saya tidak mau ambil pusing dengan hal itu, saya juga ikut merubah posisi backpack saya ke depan, sekedar biar tidak terlihat orang asing saja. Misteri itu mulai terkuak, ketika bus datang berhenti di halte, serta merta antrian merangsek ke depan. Tiba-saya rasakan ada jari yang masuk di kantung celana bagian belakang. Rupanya orang yang ikut antri dibelakang saya adalah penumpang jadi-jadian. Kerjanya memang mencari makan dengan memanfaatkan antrian dan desak-desakan di halte bus way. Dia adalah copet ha..ha.. Untung dulu pernah belajar nyopet he..he.., jadi dompet bisa selamat. Eh...ternyata tidak berhenti disitu, teman satu profesinya malah menggerayangi kantong depan, dia tau disitu ada hp android yang baru saja saya keluarkan untuk membalas SMS. Mulai pasang detektor gerak siaga satu nih...awas waspada. Akhirnya selamat sampai ke dalam bus. Bisa dibayangkan, kalau tadi tas backpack saya sandang dibelakang, mungkin notebook beserta charger dan mousenya bisa ludes digasak copet yang tak punya sopan santun itu. Saya melihat copet ini termasuk copet yang tidak biasa. Ia copet-copet luar biasa, mungkin sering ikut seminar Tung Desm Waringin "Bagaimana meningkatkan omzet 1.000 % dalam waktu kurang dari 3 detik". Atau ikut seminar Andrie Wongso "Success is my right", sehingga mereka begitu berani. Padahal kalau mereka tertangkap, pasti tidak akan bisa lari, karena antrian sangat padat. Apakah petugas halte tidak tahu? Sepertinya mustahil petugas yang setiap hari disitu tidak tahu mana copet, mana penumpang. Dugaan saya yang terjadi hanya ada 2 opsi, mungkin ia tak peduli, merasa bukan tanggungjawabnya, atau peduli tapi tak berdaya. Kalau opsi kedua yang terjadi, alangkah lucunya negeri ini, petugas takut sama copet. Pada akhirnya rasa aman para penumpang terampas begitu saja. Setelah letih bekerja seharian, pulang senja, masih harus berdiri sekitar satu jam di dalam antrian penumpang Trans Jakarta dengan  konsentrasi tinggi penuh kewaspadaan dan kecurigaan. Wah..betapa capeknya warga Jakarta.

Iwan Setiawan

/iwans

Hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?