"Save Our Kalumpang" 03: Warisan Dunia yang Harus Kita Jaga

10 Januari 2012 14:17:37 Dibaca :

“Seusai penelitian yang dilakukan oleh Heekeren tersebut, Situs Minanga Sipakko menjadi salah satu situs terpenting di Indonesia yang kaya dengan tinggalan-tinggalan budaya prasejarahnya… Hal yang tidak kalah pentingnya adalah upaya publikasi data temuan ekskavasi yang terbaru mengingat keterancaman hilangnya Situs Minanga Sipakko di masa depan akibat erosi dan banjir karena letak situs yang berada di tepi Sungai Karama”.


Di atas adalah kutipan salah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia, Ricky Meinson Binsar Simanjuntak (2009) dalam bagian pengatar skripsinya tentang Kalumpang. Artinya, situs Kalumpang mau tidak mau harus dijaga, dilestarikan. Sebab, bila situs tersebut dimusnahkan dengan cara menenggelamkannya, maka, satu-satunya peradaban tertua yang pernah ditemukan di Sulawesi Barat hilang dalam hitungan hari.


Agar kita, masyarakat Sulawesi Barat, lebih menyadari akan arti penting Kalumpang, edisi hari ini dan esok, isinya dalah saduran dari penelitian mahasiswa Universitas Indonesia di atas. Tujuannya, agar kita, khususnya warga Sulawesi Barat, sama-sama bertanggung jawab atas kelestarian situs Kalumpang. Jika situs itu tetap ada, itu karena kita; jika situs itu musnah, itu karena kita juga.


Kalumpang pada awalnya merupakan sebuah nama yang ditujukan untuk menyebut Situs Kamassi, tempat P .V . van Stein-Callenfels melakukan penggalian pertama kalinya pada tahun 1933. Van Stein-Callenfels memperkenalkan Situs Kamassi dengan nama Kalumpang berdasarkan keletakan desa Situs Kamassi berada, namun seiring dengan perkembangan penelitian yang dilakukan saat ini Kalumpang mengacu pada sebuah kawasan situs yang terdiri dari beberapa situs prasejarah termasuk Situs Kamassi dan Minanga Sipakko.


Minanga Sipakko terletak di Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, sekitar 3 km di sebelah barat Kalumpang. Menurut bahasa lokal, Minanga Sipakko memiliki arti “cabang sungai” (minanga atau binanga = sungai, sipakko atau sipakka = cabang).


Minanga Sipakko muncul dalam dunia prasejarah Indonesia berkat penelitian yang dilakukan oleh Heekeren pada tahun 1949, berlatarbelakang pada serangkaian penemuan situs-situs Neolitik di tepi Sungai Karama. Awalnya Heekeren melakukan penggalian di Kamassi melanjutkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh van Stein-Callenfels, namun pada saat yang bersamaan ditemukan temuan yang sejenis di Minanga Sipakko yang terletak tidak jauh dari Kamassi sekitar 1 km ke arah barat.


Penelitian yang dilakukan di Situs Minanga Sipakko terbilang jarang. Sepeninggal Heekeren tidak ada penelitian lebih lanjut di tempat ini, yang ada hanya sebatas survei permukaan dan peninjauan lapangan. Pada tahun 1994 dan 1995 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) yang bekerjasama dengan Balai Arkeologi Makassar melakukan ekskavasi dengan membuka kotak uji (test pit) di Situs Minanga Sipakko dan survei di Situs Kamassi.


Baru pada tahun 2004, 2005, dan 2007 penelitian di Situs Minanga Sipakko mulai intensif dilakukan oleh Puslitbang Arkenas bersama Balar Makassar. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Situs Minanga Sipakko merupakan situs Neolitik murni.


Penelitian yang dilakukan di Situs Minanga Sipakko tersebut menemukan berbagai alat-alat litik, alat tulang, sisa fauna, sisa-sisa pembakaran, dan pecahan tembikar. Khususnya tembikar ditemukan dalam jumlah yang sangat banyak dan secara kuantitas maupun kualitas memperlihatkan keberagaman motif hias yang dihasilkan.


Pada tahun 1933 penelitian dilanjutkan oleh Stein-Callenfels di Situs Kamassi. Penggalian yang dilakukan berhasil menemukan alat-alat batu Hoabinhian, kapak, beliung, mata panah, dan tembikar.


Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan oleh Stein-Callenfels pada Kongres Prasejarah Asia Timur di Manila tahun 1951 yang menjadikan Kalumpang dikenal di dunia internasional.


Sepeninggal Stein-Callenfels penelitian dilanjutkan oleh H.R. van Heekeren pada tahun 1949 di Situs Kamassi. Ketika melakukan penggalian, Heekeren mendapatkan laporan dari penduduk setempat yang menemukan temuan yang serupa di Minanga Sipakko. Kemudian pada saat perjalanan pulang ke Kalumpang, Heekeren mencoba melakukan peninjauan langsung ke Minanga Sipakko yang hanya sebatas survei permukaan. Hasilnya ditemukan pecahan- pecahan tembikar polos dan berhias, beliung persegi, kapak lonjong, mata tombak, mata panah, pahat batu, batu asah, batu pipisan, dan alat pemukul kulit kayu.


Pada tahun 1969 R.P. Soejono dan D.J. Mulvaney mengadakan penelitian berupa peninjauan lapangan di gua-gua Maros di Sulawesi Selatan, tepatnya di Gua Batu Ejaya, Gua Ulu Leang 2, dan Gua Ulu Wao. Dari hasil peninjauan tersebut ditemukan beberapa pecahan tembikar yang jika dilihat dari motif dan teknik hiasnya memperlihatkan kesamaan dengan tembikar Kalumpang.


Dari perbandingan tersebut disimpulkan bahwa tembikar dari situs-situs tersebut merupakan bagian dari perkembangan tembikar Kalumpang yang selanjutnya disebut sebagai kompleks tembikar Kalumpang.


Pada tahun 1970 penelitian dilanjutkan oleh Uka Tjandrasasmita dan Abu Ridho yang menyatakan bahwa tembikar Kalumpang memiliki persebaran yang cukup luas di Sulawesi Selatan, yaitu hingga ke daerah Maros (Ulu Wae, Ulu Leang, Leang Burung, dan Batu Ejaya, dekat Bantaeng) dan juga ke arah selatan Makassar, tepatnya di Desa Takalar.


Pada tahun 1981 pembahasan tembikar Kalumpang dilakukan oleh Nurhadi dalam skripsinya yang berjudul Gerabah Prasejarah Kalumpang. Dalam penelitiannya Nurhadi menggunakan data himpunan tembikar koleksi Museum Nasional yang merupakan hasil temuan ekskavasi Stein-Callenfels tahun 1933, Heekeren tahun 1949, dan himpunan tembikar dari pemerintah daerah setempat


Secara keseluruhan total pecahan tembikar yang digunakan sebanyak 601 buah yang terdiri dari 351 tembikar berhias dan 250 tembikar polos. Dari hasil penelitiannya tersebut, Nurhadi berhasil mengenali bentuk-bentuk tembikar Kalumpang yang terdiri dari jenis cawan, kendi, periuk, buyung, tempayan, buli- buli, jambangan, tutup, dan tungku. Nurhadi juga berpendapat bahwa tembikar Kalumpang tidak dibuat di Kalumpang dengan alasan tidak ditemukannya alat- alat pembuatan tembikar di Kalumpang.


Pada tahun 1988 Tim Ikatan Mahasiswa Arkeologi Indonesia (IMAI) Universitas Hasanuddin melakukan survei di Kalumpang, disusul oleh R.P. Soejono dari Puslitbang Arkenas tahun 1990. Kemudian pada tahun 1993 Tim Ekspedisi Kalumpang II Universitas Hasanuddin melakukan survei lanjutan yang kedua di Situs Kamassi dan Minanga Sipakko.


Di Situs Kamassi ditemukan kapak lonjong, batu pelontar, batu gandik, batu inti, batu asah, dan pecahan tembikar; sedangkan di Situs Minanga Sipakko ditemukan kapak lonjong, calon kapak lonjong (yang baru mengalami pengerjaan primer atau belum terupam), batu gandik, batu asah, batu inti, kapak persegi, beliung persegi, calon pahat, dan pecahan tembikar.


Penelitian eksploratif di Kalumpang dimulai tahun 1994 dan 1995 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama-sama dengan Balai Arkeologi Makassar. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui sebaran wilayah tinggalan arkeologis di Situs Kamassi dan Minanga Sipakko, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, serta karakteristik kedua situs. Serangkaian penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Kalumpang merupakan situs berciri Neolitik-Paleometalik dengan tinggalan pokok berupa pecahan tembikar, beliung persegi, kapak batu, sisa fauna, dan benda-benda yang terbuat dari logam.


Pada tahun 1995 tembikar Kalumpang diteliti oleh St. Fatimah. Dalam penelitian skripsinya yang berjudul Unsur Tradisi Sahuynh-Kalanay Pada Tembikar di Kalumpang: Tinjauan Berdasarkan Analisis Teknologis Dan Tipologis” Fatimah menggunakan data hasil ekspedisi Kalumpang II dan survei yang dilakukannya di Situs Kamassi dan Minanga Sipakko. Data tersebut terdiri dari 897 tembikar polos dan 42 tembikar berhias.


Hasil penelitiannya menyebutkan bentuk-bentuk tembikar dari Kalumpang adalah cawan, buli-buli, tempayan, kendi, pinggan, periuk, dupa, dan tutup. Bahan baku tembikar terbuat dari tanah liat (lempung) yang ditambahkan dengan bahan campuran (temper) dari pasir dan hancuran cangkang binatang laut. Hasil lainnya juga diketahui adanya penggunaan roda putar dan tatap pelandas pada pembuatan tembikar di Kalumpang, sedangkan jika dilihat dari motif dan pola hiasnya menunjukkan adanya kesamaan dengan tradisi Sahuynh-Kalanay.


Pada tahun 1998 penelitian tentang tembikar Kalumpang juga dilakukan oleh Ning Suryati. Dalam skripsinya yang berjudul Tradisi Gerabah Sa Huynh- Kalanay Pada Gerabah Kalumpang, Sulawesi Selatan, Suryati memfokuskan pada komposisi kandungan mineral tembikar Kalumpang dan menjelaskan proses persebaran tradisi Sa Huynh-Kalanay di Kalumpang.


Data yang digunakan adalah data yang sama dipakai oleh Fatimah pada tahun 1995. Berdasarkan hasil analisis laboratorium, diketahui bahwa komposisi bahan baku tembikar Kalumpang menunjukkan kesamaan dengan komposisi sedimen yang ditemukan di Kalumpang sehingga menurut Suryati tembikar Kalumpang dibuat di Kalumpang. Kemudian untuk proses persebaran tradisi Sa Huynh-Kalanay di Kalumpang disebabkan oleh proses stimulus diffusion, yaitu kebudayaan Sa Huynh-Kalanay yang dibawa ke dalam kebudayaan Kalumpang.


Dari hasil penelitian mahasiswa UI tersebut, didapati bahwa keanekaragaman tinggalan arkeologis di Kalumpang menempatkan kawasan situs ini penting dalam pengkerangkaan kehidupan manusia prasejarah di Indonesia. Berbagai tinggalan arkeologis seperti alat-alat litik, alat tulang, sisa- sisa fauna, dan tembikar ditemukan di Kalumpang.


Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tembikar merupakan tinggalan budaya yang paling banyak ditemukan di Kalumpang. Tinggalan-tinggalan budaya di Kalumpang secara umum mencerminkan budaya Neolitik yang terdapat di Sulawesi.


Secara geografis Sulawesi merupakan salah satu pulau yang memegang peranan penting dalam persebaran manusia petutur Austronesia di Indonesia. Letaknya yang strategis di antara persilangan jalur pelayaran Asia bagian tenggara menjadikan Sulawesi sebagai titik terjadinya persilangan kebudayaan (melting pot) di Indonesia, baik dari arah barat maupun timur. Dari perspektif arkeologis keberadaan situs-situs Neolitik di Sulawesi adalah kunci untuk menjelaskan sifat alami penyebaran dan asal-usul penutur Austronesia di Indonesia.


Tinggalan-tinggalan arkeologis di Minanga Sipakko merupakan bukti hadirnya budaya Neolitik di Sulawesi. Budaya Neolitik tersebut dibawa oleh petutur Austronesia hingga Indonesia bahkan lebih luas ke kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Salah satu artefak yang mencirikan budaya Neolitik Austronesia tersebut adalah tembikar. Ditinjau dari aspek motif hiasnya, tembikar Minanga Sipakko memperlihatkan kemiripan dengan tembikar tradisi Sa Huynh- Kalanay. Menurut Solheim II tembikar tradisi Sa Huynh-Kalanay dapat dijumpai pada tembikar-tembikar di situs-situs Neolitik di Indonesia, termasuk di Situs Minanga Sipakko.


Kehadiran tembikar di Situs Minanga Sipakko menarik untuk diamati sebagai suatu usaha untuk mengungkapkan salah satu aspek kehidupan yang berlangsung di situs tersebut. Pengamatan terhadap motif hias menjadi penting dengan pertimbangan bahwa dari segi inilah dapat diungkapkan salah satu aspek teknologi pembuatan tembikar di samping adanya unsur-unsur kesamaan dengan motif dan teknik hias tembikar dari situs-situs lainnya di Indonesia maupun luar Indonesia.


Dari serangkaian penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) di Situs Minanga Sipakko tahun 2004, 2005, dan 2007 menghasilkan banyak temuan tembikar. Temuan tersebut saat ini disimpan di Puslitbang Arkenas, Jakarta dan belum dianalisis lebih lanjut.


Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, oleh penelitia mengajukan pertanyaan, motif dan teknik apa saja yang digunakan untuk menghias tembikar Minanga Sipakko? Motif hias tembikar Minanga Sipakko apa saja yang memperlihatkan kemiripan dengan motif hias tembikar tradisi Sa Huynh-Kalanay?


Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut dapat dijelaskan berbagai jenis motif hias yang diterapkan di Situs Minanga Sipakko serta bagaimana teknik pembuatannya. Selain itu juga dapat diketahui motif-motif apa saja di Situs Minanga Sipakko yang juga dihasilkan oleh tembikar tradisi Sa Huynh-Kalanay. Tujuan lainnya dari penelitian tersebut adalah untuk melengkapi informasi dari hasil penelitian sebelumnya sehingga dapat menambah pengetahuan tentang masa prasejarah di Situs Minanga Sipakko dan Indonesia umumnya.


Sebab, Minanga Sipakko merupakan salah satu situs prasejarah yang sangat penting di Indonesia. Berdasarkan laporan dari banyak penelitian, dalam konteks mikro Situs Minanga Sipakko merupakan bukti adanya hunian manusia masa lalu dengan rentang waktu 3.600-2.500 BP, yang dicirikan oleh pengembangan teknologi tembikar; beliung dan kapak batu serta adanya eksploitasi sumber daya fauna dan flora.


Dalam konteks makro, Sungai Karama menjadi jalur lalu lintas perdagangan antar komunitas hulu dan hilir, bahkan dengan dunia luar. Secara geografis ada dua hal yang menonjol berkaitan dengan kehidupan manusia yang berlangsung di tempat ini, yaitu keterisolasian di pedalaman dengan lingkungan yang bergunung-gunung dan keberadaan Sungai Karama sebagai pembuka keterisolasian. Faktor geografis tersebut merupakan faktor yang berperan penting dalam memberi kekhasan pada kehidupan dan kebudayaan yang berlangsung di Situs Minanga Sipakko.


Dalam periode tertentu sejak situs Minanga Sipakko dihuni hingga kondisi situs saat ini Sungai Karama telah mengalami perubahan aliran sungai. Perubahan tersebut erat kaitannya dengan keletakan Situs Minanga Sipakko yang saat ini berada dalam kondisi yang terancam longsor dan hilangnya situs Minanga Sipakko di masa depan, apalagi dengan adanya rencana pembangunan PLTA Karama.


Bersambung

Muhammad Ridwan Alimuddin

/iwanmandar

Kuliah di UGM 1997-2006, menulis buku "Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?" (Ombak 2004), "Orang Mandar Orang Laut" (KPG 2005), "Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara" (Ombak 2009), "Mandar Nol Kilometer" (Koran Mandar, 2011)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?