"40 Hari" Ustad Jefri Al Buchori

04 Juni 2013 08:53:16 Dibaca :

"Ustad, Ada apa lagi, mau tanya-tanya tentang 40 hari setelah kematian. Saya tekankan lagi ya...itu memang tidak diajarkan oleh Nabi SAW. Acara itu khas yang dimiliki oleh orang-orang yang menghuni Nusantara jauh sebelum Islam datang. Sebuah budaya lokal yang tidak harus dipertentangkan dengan Islam, sejauh tidak memunculkan unsur-unsur kemusyrikan. "Ustad, Islam merangkul bukan menentang. Itulah bijaknya para penyebar Islam jaman dahulu. Mereka bisa memilah mana yang berhubungan dengan budaya dan mana yang berhubungan dengan ibadah dan aqidah. Peringatan 40 hari setelah kematian yang diselenggarakan itu lebih banyak unsur hubungan hidup bertetangga, hubungan muamalah. Para tetangga bersimpati terhadap musibah yang sedang dialami keluarga almarhum, menguatkan keluarga yang ditinggal, bahwa mereka tidak sendirian dalam kedukaan, masih ada saudara, tetangga yang siap membantu bila suatu saat dibutuhkan. "Ustad, Budaya yang baik tidak harus ditentang dan dihapuskan. Islam sekali lagi bisa mewarnai budaya lokal. Sebagai contoh Nabi SAW tidak memberikan  pernah mencontohkan sholat dengan memakai sarung atau celana panjang seperti yang ada sekarang. Apa lantas orang muslim yang sholat menggunakan sarung dan atau celana dikatakan bid'ah, karena tidak sesuai dengan sunnah. Orang mendengarkan syiar da'wah melalui radio maupun melihat di TV, apa itu juga dikelompokkan sebagai perbuatan bid'ah. Yang lebih utama adalah spirit dan nilai Islam yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat pemeluknya. Islam memiliki keluwesan dan kemampuan untuk tumbuh dalam budaya setempat dimana Islam dianut. "Ustad, 40 hari itu hanyalah  semacam peringatan, pengingat keluarga kepada seseorang yang telah meninggal dunia. Bahwa keluarga itu lantas memperingatinya dengan mengundang saudara dan tetangga untuk membaca dzikir-tahlil dan mendoakan orang yang meninggal, meminta ampun kepada Tuhan atas segala dosanya, apa itu salah. Barangkali yang harus disesali adalah ada orang yang memaksakan diri untuk menyelenggarakan peringatan 40 hari dengan cara pinjam sana, pinjam sini. Tapi kalau keluarga itu mampu, dan sebagai ucapan terima kasih memberikan sekotak kue, apa itu juga dibid'ahkan "Ustad, Kadang kita terlalu meributkan hal-hal yang sepele. Banyak pekerjaan ummat Islam yang harus dilakukan daripada sekedar meributkan dan membid'ahkan peringatan 3 hari, 7 hari dan 40 hari. Bagaimana ummat Islam mampu menghimpun potensi zakat yang sedemikian besar dan dikelola dengan baik, betapa banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan potensi ekonomi dan kesejahteraan ummat. Bagaimana memberikan pemahaman kepada mereka yang mampu untuk tidak berkali-kali menunaikan ibadah haji dan umroh, agar dana dan biaya itu bisa sekali-kali disalurkan untuk membantu mereka yang tertinggal. Dan masih banyak pekerjaan rumah yang lain yang harus dikerjakan. "Ustad, Allhummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.... Jakarta, 04 Juni 2013 sumber gambar: student-brains.blogspot.com

Ismail Solichin

/ismailsudar

"...pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan-nya..."

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?