KATANYA, ORANG CHINA ITU PENIPU! (OLEH-OLEH DARI GUANGZHOU) CHINA.

16 Oktober 2011 14:43:11 Dibaca :

KATANYA, ORANG CHINA ITU PENIPU! Bayu Insani. Melanjutkan perjalanan kami. Sebelumnya, kami pergi ke Makam Saad Bin Waqqas, di Guangzhou, China. Waktu itu, saya pernah bilang, rombongan kami kena tipu oleh orang China. Tahukah Anda, penipuan apa? Nah, ikuti kisah selanjutnya. Setelah rombongan kembali ke dalam bis masing-masing, akhirnya kami diberitahukan oleh Asin (A Chin, pemandu bis pariwisata) akan melanjutkan perjalanan. Dalam bis, dia bilang, sebelum kami pulang ke Hong Kong, kami akan dibawa ke toko oleh-oleh. Beli souvenir dari Guangzhou gitu, loh! Tentu saja kami senang. Terbayang oleh saya, banyak barang-barang murah nanti. Bisa mborong, nih buat kenang-kenangan. Batin saya. Maklum, jarang-jarang lho, kami ke luar negeri. Dalam perjalanan menuju toko souvenir tersebut, kembali yang namanya Asin, mengocok perut kami. Kali ini dia menceritakan tentang peraturan kebersihan di Guangzhou. Mau tahu? Begini. Dia cerita. “Ibu-ibu, Bapak-bapak kalau ke Gouangzhou itu kita halus membawa tisu. Maklum, WC-WC di Guangzhou itu tak sepelti WC di Hong Kong. Belsih, lengkap, plus ada tisu-nya. Di Chaine itu tidak. Kita halus membawa tisu sendiri. Ini juga ada celita, ya. Ada turis dari Taiwan, mereka sangat kepepet ingin buang air di dalam bis. Akhirnya, mereka ditulunkan di tepi jalan. Ckckkckc…! Kami tertawa. Kok bisa?? Tanya kami. Lha itu dia. Kalena di Chaine itu jalang ada WC, jadi bisa diturunkan di tepi jalan. Yang bapak-bapak, enak, bisa berdili sambil kencing. Tapi kalau yang pelempuan, itu sangat susah. Makanya, untuk menyelamatkan harga diri, meleka harus pakai payung. Tapi jangan salah, mereka pakai payung, bukan untuk nutupin tubuh itu pelempuan” Kami semua bingung. Lalu, payung itu untuk apa? Tanya kami. Sambil tertawa. “Ya, untuk menutupi muka itu pelempuan” ckckkckc…..! kembali kami tertawa. Ah, dasar Asin. Parah ya, orang China. Muka lebih utama daripada tubuh. Ssssttt…! Ini hanya guruan Asin lho, jangan di masukin ke hati. Masukin aja ke kantong saku. Hik hik…! Nah, ada cerita yang lain, nih… “Jika Anda, ya. Pigi ke Chaine, jangan buang sampah sembarangan. Karena nanti bisa kena denda. Ya, jika di Hong Kong kita akan terkena denda sebanyak $1500, beda dengan di Chaine. Di Chaine kita hanya kena denda 200 yen saja. Nah, kalau kita tak punya uang, ya, kita bisa kasi ini dompet pada pak polisi. Tunjukkan kalau kita tak ada uang. Setelah pak polisi tahu kita tak ada uang, dia hanya akan menghukum kita, berdiri dua jam di tengah jalan, sambil kepalanya diikat dengan kain merah. Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, kita tak perlu takut yah, kalau di Chaine, dendanya tak banyak. Kalau perlu bantuan, kita boleh sama-sama nyoba buang sampah sembarangan, biar kita bisa bergantian berdiri di tengah jalan, dan mendapatkan kain merah di kepala” ckckckck…! Kembali kami tertawa. Ternyata di Guangzhou murah ta dendanya. “Maaf, Asin tak bisa cakap ‘R’ jadi gak bisa bilang ‘buru-buru’ karena nantinya jadi belubah jadi ‘bulu-bulu’. Lebih parah lagi kalau bilang yang lain, malah nanti kedengaran aneh” katanya lagi. Kami faham, sebab orang China memang agak susah mengucapkan huruf R. Nah, dalam bis, dia menceritakan, kalau nanti akan membawa kami ke toko giok. Dia bilang, orang yang masih muda seperti dirinya, paling tidak memakai giok yang berwarna agak putih. Kalau sudah tau, baru memakai giok yang berwarna hijau. Lebih hijau, itu lebih bagus untuk orangtua. Dia juga bilang, menurut kepercayaan orang-orang China, giok itu bagus. Selain untuk perhiasan, giok juga bisa menyembuhkan penyakit. Mengangkat bau keringat, dan lain-lain. Lupa J. Makanya, biar lebih jelasnya lagi, nanti kami langsung dibawa ke tokonya. Di sana, akan diberitahukan mana asli, dan mana palsu. Tibalah kami di sebuah toko giok tersebut. Turunlah semua rombongan yang berada dalam bus nomer dua ini. Setelah turun, kami digiring untuk masuk ke dalamnya. Memasuki ruang yang lumayan besar dan cantik ini, kami disambut oleh pelayannya, dan diberikan kalung kartu yang bertuliskan ‘VIP’. Ceillee….! VIP, lho man teman. Setelah mengalungi kartu VIP tersebut, kembali kami digiring ke dalam sebuah ruangan khusus. Kami disuruh duduk di sofa yang empuk dan ruangan yang menarik. Saya dan Yuli duduk di sofa itu. Namun melihat The Pipiet Senja (Penulis senior dari tanah air) datang, dan tak mendapatkan tempat duduk, akhirnya saya serahkan tempat duduk saya untuk beliau. Masuklah pelayan cantik. Sayang sekali, setelah dia masuk ke dalam ruangan, dia menyapa kami dengan bahasa mandarin. Kami hanya melongo. Maklum, kebanyakan dari kami hanya bisa berbahasa kantonis dan ingrris. Sedangkan pelayan cantik itu, sama sekali tak bisa berbahasa inggris dan kantonis. Akhirnya, lagi-lagi harus menculik kalimat Bang Jay, ‘Jaka Sembung naik ojek. Gak nyambung Jek!!’ Kami melongo. Hanya sedikit orang yang bisa memahami kata-katanya. Duh, cantik-cantik gak bisa ngomong inggris. Teman-teman ngedumel, ketika melihat dia berlalu dari ruangan. Akhirnya, datanglah Boss giok! Katanya, lho. Saya kurang tahu, apakah benar-benar boss-nya, apakah hanya tipuan belaka. Maklum, orang china itu suka nipu! Ini faktanya lho, walau gak semua. Buktinya?? Lanjutkan cerita ini. Lagi-lagi boss giok ini juga tak bisa berbasa kantonis, ataupun inggris. Dia menyapa kami dengan bahasa China, dan mandarin. Duh, ngusap keringat dulu! Hik hik…..bingung! Dengan semangatnya, dia bercerita. Ini setelah ditranslate oleh salah satu teman kami, yang bisa berbahasa mandarin. Katanya, hari ini boss giok sedang bahagia banget. Istrinya baru melahirkan anak lelaki, setelah ketiga anaknya perempuan. Sungguh, dia sedang dalam kebahagiaan luar biasa. Apalagi saat dia menyampaikan kabar berita ini, wajahnya memancarkan kebahagian yang amat sangat. Mendengar itu, kami semua mengucapkan selamat. “Kunghe lei. Selamat. Congratulations”. Pokoknya, kami semua ikut merasakan kebahagiaannya. Ruangan riuh dengan ucapan-ucapan kami. Maka dari itu, dia pun berbagi kebahagiaan dengan kami semua, dengan cara, memberikan kami hadiah. “Horee….!” Kami bersorak. Senang. Seorang pelayan cantik, membagikan bungkusan kain blusdru berwarna merah kecil pada kami. Merata ke 37 orang. Hebat, batin saya. Bungkusan itu isinya adalah sebuah liontin giok, yang ada talinya. Jadi bisa dipakai sebagai kalung. Talinya berwarna merah juga. Kami semua mengucapkan terima kasih. Duh, culun banget ya, kayaknya. Bisa mbayangkan, kan. Maklum, ini pengalaman pertama bagi kami, khususnya saya. Nah, setelah kami diberi hadiah itu, tiba-tiba boss giok itu bangun dari duduk, dan mengajak kami ke ruangan yang satunya lagi. Kami pun menurut. Berdesak-desakkan kami memasuki ruangan tersebut. Ternyata, dalam ruangan tersebut, dia dan tiga pelayannya yang cantik-cantik, memberitahukan pada kami, bagaimana cara mengetahui batu giok asli dan palsu. Ruangan yang penuh dengan emas dan giok-giok cantik itu, segera dimatikan lampunya. Gelap. Seorang pelayan disuruh menyorot batu yang berwarna merah. Wow…..! Kami berdecak kagum. Batu itu menyala-nyala cantik. Ini darimata telanjang kami, lho. Karena kami tak tahu apa-apa tentang batu giok dan batu-batu yang lain. Pokonya kami hanya melihat batu itu cantik. Setelah itu, dia menyarankan kami untuk membeli emas-emas dan batu-batu giok tersebut. Karena boss giok sedang bahagia, maka hari itu mereka akan memberikan harga khusus. Diskon besar-besaran. Wow…! Lagi-lagi kami senang dan berdecak kagum. Dengan senang, kami melihat-lihat emas dan giok. Katanya, yang harga 500 yen, jadi 300. Yang 300 jadi harga 150, bahkan setelah ditawar lagi, jadi 100 yen. Kami pun memborongnya. Saya ketar-ketir. Ingin rasanya membeli seperti teman-teman. Tapi sayang, ada kebutuhan lain yang harus didulukan. Akhirnya, dengan sangat menyesal saya tak membelinya. Teman-teman yang lain, ada yang membeli cincin, kalung, gelang, giok, dan lain-lain. Bahkan ada yang memborong. Katanya, untuk kenang-kenangan. Saya dan Yuli, beserta yang lain, yang tak membeli barang-barang tersebut, keluar terlebih dahulu. Melihat Asin, saya bertanya. Sejujurnya, emas ini bagus apa ngga? Tanya saya padanya. Lalu dengan jujur, dia berbisik. “Mamate” Tahukah Anda, apakah itu mamate? Setengah. Sedikit. Tak begitu bagus. Pokoknya, tak bagus banget, soalnya hanya emas 18 karat. Katanya. Akhirnya, saya lega. Lebih baik tak membeli. PikIr saya lagi, menghibur diri, dengan berkeliling ruangan yang dihiasi dengan batu-batu giok itu. Cantik-cantik, dan berwarna-warni. Setelah selesai, sebagian rombongan telah kembali ke bis. Termasuk saya dan Yuli. Saya sapa Teh Pipiet yang telah dahulu sampai di dalam bis. Nah di sini, ada teman-teman yang sedang ngrasani boss giok tadi. “Aku udah pernah ketemu sama boss giok tadi. Kan udah pernah ke sini, dulu. Kira-kira setahun yang lalu. Dulu dia bilang, katanya hari itu ibunya sedang ulang tahun, jadi bahagia, makanya dia bagi-bagi hadiah dengan kami” Katanya. Kasusnya sama, dibawa ke ruangan dan disuruh beli emas dan giok. “Iya, dulu dia juga bilang kaya gini, kok. Katanya, hari itu istrinya melahirkan anak laki-laki. Senang, lalu bagi-bagi hadiah. Ya, kaya tadi, disuruh masuk ke ruangan, dan disuruh membeli emas serta gioknya. “Glodaaaaaakkkkkk….!!” Seorang teman yang telah membeli barang tersebut kaget. Bukan hanya dia, tapi saya, Yuli, dan semua teman-teman yang mendengarnya. “Haaaaaaaaaa……! Berati kita kena tipu dunk!!” ucap teman yang lain. “Iya, berarti itu boss, anak lelakinya sudah banyak donk! Kan setiap ada rombongan yang datang, dia cerita dengn cerita yang sama, ‘YAITU, ISTRINYA MELAHIRKAN ANAK LELAKI, SETELAH KETIGA ANAKNYA PERMPUAN’. Geram kami dibuatnya. Apalagi, teman-teman yang pada beli emas dan giok. Mereka menyesal. Padahal, emas imitasi di pasar-pasar Hong Kong seperti Pasar Mongkok, Nort Pointh, Central, dan lain-lain, yang harganya hanya $10 itu lebih bagus dari emas yang baru saja dibeli. Saya menatap Yuli. “Oh, ternyata kita selamat, ya Yul” Hik hik…..dasar orang tailok (China) ini suka nipu! Demi uang, mereka tega menipu! UUD. (UJUNG-UJUNGNYA DUWIT) ternyata di mana-mana sama. UUD itu penting! Besok mau di lanjut lagi gak ceritanya??

Bayu Insani

/insani

Mantan BMI HK. Ibu rumah tangga yang tak mau diam. aktif apa saja.....:)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?