Mohon tunggu...
indrawan miga
indrawan miga Mohon Tunggu... Jurnalis - penulis, pendidik, petani

Pernah wartawan di beberapa media cetak nasional. Kini penulis dengan peminatan topik pendidikan, pertanian, dan lingkungan hidup.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Salah Persepsi tentang Sekolah Inklusi

24 Agustus 2019   13:37 Diperbarui: 24 Agustus 2019   13:50 921
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Siswa inklusi di Gunung Kidul, nyaman belajar bersama teman-teman di kelas reguler.  Foto: TEMPO 

Untuk kenyamanan belajar, sebaiknya mengikuti perbandingan (rasio) jumlah siswa ABK terhadap siswa reguler yang proporsional. Rasio yang terbaik, dalam sebuah kelas reguler berisikan sekitar 25-30 anak, dapat menerima 2-3 orang siswa ABK dengan guru pendamping.

Meski pun permintaan orangtua yang begitu tinggi untuk menyekolahkan anaknya, pihak sekolah sebaiknya membatasi rasio ini agar suasana belajar tetap kondusif bagi siswa reguler. 

Beberapa orangtua terkadang sampai menangis menghadapi kenyataan penolakan dari sekolah, karena anaknya sudah tidak dapat diterima lantaran kapasitas sekolah untuk siswa ABK telah penuh. Sekolah terpaksa menutup pendaftaran siswa ABK lantaran mematuhi rasio tersebut. Sudah saatnya makin banyak sekolah di Indonesia menjadi sekolah yang inklusif, betapapun sulit memulainya.  

12. Sekolah Inklusif dapat mengelola siswa inklusi sebanyak-banyaknya tanpa kuota.

Dengan mengelompokkan siswa pada lokal khusus, maka seolah sekolah dapat menerima sejumlah siswa ABK dalam jumlah daya tampung lokal tersebut. Kegiatan lebih terfokus pada terapi.

Kurang tepat, karena program inklusif bukanlah memisahkan siswa dari kegiatan reguler sekolah.

Ini terjadi karena juga ada ketidak-pahaman tentang program inklusif. Dan lebih banyak didorong alasan ekonomi menambah income sekolah (swasta).

13. Tujuan belajar siswa ABK adalah agar anak jadi pintar atau meningkatkan kecerdasannya. 

Umumnya siswa ABK memiliki kecerdasan rerata di bawah rata-rata, dengan berbagai kesulitan belajarnya. 

Karena itu, lebih bijaksana andai orangtua untuk secara bertahap mengevaluasi perkembangan siswa, dan menetapkan harapan yang sesuai dengan kondisi anak.

Sekecil apapun peningkatan pencapaian anak ABK, sesuatu yang harus disyukuri. Sebab, untuk mendapatkan pencapaian itu, seorang siswa ABK harus melalui berbagai proses terapi dan sosialisasi yang panjang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun