Terkabulnya Do'a Wanita Teraniaya

26 Mei 2012 06:26:08 Dibaca :

Kecurigaan Isti pada keponakannya Rina, akhirnya terbukti. Akhir-akhir ini dia sering memergoki Rina mengkonsumsi rujak dari aneka buah masam. Diam-diam diperhatikannya polah tingkah Rina (anak gadis kakak perempuannya yang telah meninggal) yang rumahnya tepat berada di belakang rumahnya.  Selama ini Rina juga tergolong dekat dengan tantenya ini.



Senja yang agak temaram karena mendung menyelimuti langit, saat-saat seperti ini biasanya orang lebih suka cari yang hangat-hangat semisal bakso, mie atau minuman penghangat tubuh lain. Tapi Rina ini nyeleneh sekali. Seketika berkelebatan bayangan buruk di dalam pikiran Isti. Jangan-jangan suaminya yang berperangai suka ngincar rumput tetangga ini tega memangsa keponakannya juga.



“Duh gusti, semoga ini hanya pikiran kotorku.” Dia berusaha menenangkan diri.


Aneka rasa berkecamuk dalam benaknya. Bayangan kelam masa lalu ketika tanpa terbayang harus dipermalukan di depan wali murid teman putrinya di sekolah. Betapa tidak? Tiba-tiba ada seorang ibu teman putrinya satu kel;as yang memperkenalkan diri sebagai saudara kandung Riri anaknya. Lebih menyakitkan lagi ketika ada pengisian blanko biodata murid untuk pendataan ulang si ibu ini menulis suaminya sebagai bapak anaknya. Kontan dia tidak bisa terima, soalnya selama ini dialah satu-satunya istri syah suaminya. Pertikaian memalukan pun terjadi. Duel dua wanita memperebutkan seorang pria



Suatu pagi ketika suaminya sedang di luar rumah, Rina dipanggil ke kamarnya. Kemudian dibaringkannya di ranjang dan diraba lembut perutnya. Astaghfirullah, ada gumpalan yang bergerak-gerak lembut di perut gadis ini.



Aku harus kuat, begitu tekadnya. Bagaimanapun ini harus dicari jalan keluarnya. Marah dan kasihan pada keponakannya saling berperang mempengaruhi nuraninya. Campur aduk seperti rujak serut yang dikonsumsi keponakannya.



“Sudah berapa bulan kamu telat haidh”



“Empat bulan. “ Jawab gadis 19 tahun ini. Dari mulut mungilnya kemudian dituturkan kronologi kejadian lengkap dengan pelakunya. Segera diboncengkannya Rina ke bidan di luar kota menghindari cemoohan tetangga untuk memeriksakan kandungan Rina. Dia sendiri baru dua bulan melahirkan putra keduanya.



Mungkin tidak ada yang percaya kalau kemudian Isti sendirilah yang mengantarkan suami dan keponakannya menuju pelaminan demi nasib janin di perut Rina. Masa bodoh dengan jeritan pemberontakan sudut hatinya yang lain. Aku harus bisa, begitu tekadnya.



Pengorbanan luar biasa demi seorang pria yang dicintainya? Lagi-lagi dia menjawab mantab, ini memang sudah garis hidup saya, ini untuk dijalalni bukan diratapi. Isti  jualah yang rajin memeriksakan kandungannya ke bidan sekaligus membiayai seluruh proses kelahiran dan biaya hidup si jabang bayi. Sampai akhirnya tumbuh besar menjadi sepasang kakak beradik yang sehat dan cerdas. Tentu saja ini juga berkat kerja keras Isti menanamkan kasih sayang dan nilai-nilai moral terhadap kedua si kecil. Biarlah yang sudah terjadi, aku tidak ingin kejadian yang lalu terus menghantui dan berpengaruh terhadap tumbuh kembang mereka berdua. Biarlah hanya ayah mereka saja yang berkelakuan tidak senonoh, aku tak akan berhenti memohon agar kedua jagoan cilik ini kelak menjadi permata yang membanggakan.



Ajaibnya do’a itu benar-benar terkabul. Si Mirza (anak Isti) yang sekarang duduk di klas VII dan Firman (anak Rina) klas VI, sama-sama membanggakan, keduanya selalu juara kelas dan santun . Setiap datang waktu sholat keduanya berlomba mendatangi surau untuk mengumandangkan adzan dengan suara emasnya. Subhanallah, keduanya benar-benar luar biasa. Semoga lambat laun bapaknya ikut tergugah melihat kecerdasan spiritual keduanya.



Kekuatan do’a memang luar biasa, ditambah pola pengasuhan yang ideal oleh seorang wanita berhati baja. Keikhlasan menerima takdir yang pahit berbuah manis pada akhirnya.



Berkat Isti juga keponakannya (Rina ) mendapatkan pasangan hidup yang setia dan bertanggung jawab setelah dibiarkan selama bertahun-tahun oleh suaminya. Semoga kita semua bisa belajar dari ketabahan wanita ini.



Kisah ini benar-benar nyata dan sehari-hari saya menyaksikan sendiri keberadaan mereka karena kebetulan kami bertetangga dan ketiga putra –putrinya adalah murid saya.

Icha Nors

/icha_nors

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Berhenti melihat jam/waktu dan mulai melihat dengan mata

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?