Pacu Jawi Sekadar Alek Fotografer?

06 April 2012 11:34:09 Dibaca :
Pacu Jawi Sekadar Alek Fotografer?
foto randi azhari

Di sebuah sawah yang terletak di tepi jalan Padangpanjang-Batusangkar, tepatnya di Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Tanahdatar, ratusan fotografer berbaris rapi dengan kamera siap membidik objeknya. Mereka menanti sapi (jawi, red) berlari ke arah mereka untuk diambil fotonya.

Sementara, di sawah yang di bawahnya, sapi (jawi, red) ditunggangi oleh joki dan berlari dari ujung sawah, ke arah fotografer yang membidik jawi yang lari bergandengan itu. Lumpur pun menyibak, joki bergantung di ekor jawi tersebut. Saat ada salah satu jawi yang larinya melambat, maka joki akan menggigit ekornya. Jawi kemudian akan berlari lebih kencang lagi.

Ketika jawi hampir sampai di sawah dimana para fotografer berdiri, maka fotogtrafer-fotografer itu akan berlari menghindari terjangan jawi. “Sangat seru dan memacu adrenalin. Saya suka suasana di sini dan acara ini,” ujar Randi, salah seorang fotografer asal Bukittinggi yang sengaja datang untuk mengambil gambar pacu jawi.

Ya, tanpa disadari, beberapa tahun belakangan pacu jawi seakan menjadi ikon bagi fotografer. Tidak hanya fotografer Sumbar dan Indonesia, fotografer dunia pun berdatangan untuk mengabadikan kegiatan yang diberi tajuk “Alek Nagari Tanahdatar Pacu Jawi,” ini.

Berbagai lomba fotografer tingkat dunia dimenangkan oleh karya yang mengangkat tema pacu jawi ini. Kemudian, diiringi dengan berlomba-lombanya komunitas fotografer di dunia menyelenggarakan lomba foto dengan tema pacu jawi. Dalam alek nagari yang diselenggarakan Sabtu (11/2) yang lalu itu, fotografer datang dari Jerman, Singapura, Malaysia, Jepang, dan negara lainnya.

Bahkan untuk tahun ini, karya para fotografer akan dipamerkan pada Pameran Photo Pacu Jawi dan  Pesona Wisata Tanah Datar yang akan dilaksanakan di Gedung Bentara Budaya Kompas, Jalan Palmerah Selatan No17 Jakarta Pusat, 8-10 September 2012.

“Saya datang ke sini setelah melihat karya guru fotografer saya. Sebelumnya dia juga sudah pernah ke sini. Melihat karyanya, saya sungguh ingin datang ke sini (batusangkar, red),” ujar Pingki, salah seorang fotografer asal Singapura dengan bahasa Melayu bercampur Inggris.

Menurut Pingki, yang menarik dari foto pacu jawi adalah aksi joki dengan dua sapi yang bergelimang Lumpur di sawah. “Saya sangat suka aksinya. Sangat unik dan menarik. Saya pikir di dunia hanya ada perlombaan seperti ini (pacu jawi, red) hanya ada di sini. Pemandangan menuju ke sini juga indah, tidak ada di Singapura,” ujar Pingki, takjub.

Di bagian lain, di dekat jalan masuk untuk menuju areal persawahan, ada sebuah tanah kosong yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk berjualan. Ada yang berjualan nasi, kawa daun, sate, makanan ringan, serta permainan anak-anak. Menjelang pacu jawi dimulai, masyarakat yang berdatangan ke lokasi ini akan bersantai untuk menyantap hidangan khas kampung di sana.

Sementara, di sisi lainnya ada permainan rakyat seperti buayan kaliang yang berputar masih menggunakan tenaga manusia. Tempat itu menjadi favorit anak-anak. Bahkan, ketika pacu jawi sedang berlangsung, buayan kaliang terus berputar dan selalu berisi penuh oleh penumpang yang ingin menikmati sensasi dan memacu adrenalin di udara.

Memang, pada acara pacu jawi tidak sekadar jawi yang berpacu yang disuguhkan. Namun, kesenian tradisional lainnya juga dipertontonkan pada alek nagari itu. Dari anak-anak SD hingga kakek-kakek tak bergigi lagi memperagakan kebolehan mereka dalam berbagai atraksi yang menarik perhatian pengunjung.

Misalnya, ada yang bersilat, ada yang menarikan tari piring. Ada juga yang memainkan saluang, dan kesenian lainnya. Semuanya larut dalam suka cita, karena acara ini digelar setelah padi yang ditanam di sawah selesai di panen. Hal tersebut tentu saja menjadi hiburan tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang hadir.

Namun, sangat disayangkan, mereka hanya seakan datang, mengambil foto, kemudian balik lagi ke penginapan mereka. Berdasarkan pengamatan Padang Ekspres mereka diantar oleh bus pariwisata. Menjelang pacu jawi dimulai mereka berjalan-jalan dan mencari posisi membidik yang pas.

Saat jam makan siang datang, mereka diberi makan oleh agen perjalanan yang membawa mereka ke sana. Makan wisatawan asing ini berupa nasi kotak yang telah disiapkan sebelumnya. Artinya, boleh dikatakan tidak ada kontribusi langsung mereka terhadap perekonomian di daerah itu.

“Kalau hanya datang dan pergi sama saja bohong. Saya lihat mereka hanya membeli minuman mineral atau minuman soda. Memang ada satu dua orang yang belanja atau membeli topi dari pedagang asongan. Sementara yang memenuhi kedai-kedai makanan di daerah ini hanya wisatawan lokal yang umumnya fotografer dari Sumbar,” ujar Ridwan, salah seorang warga Batusangkar yang mengajak istri dan anaknya untuk menonton pacu jawi ini.

Katanya, selain foto nyaris tidak ada apa-apa yang dibawa oleh wisatawan dari alek nagari pacu jawi. Padahal, dia menilai pada arena pacu jawi ini juga kita berkesempatan mempromosikan dan menjual produk lainnya yang menjadi ciri khas Tanahdatar. “Saya pikir tadinya akan ada orang yang berjualan souvenir khas Sumbar, atau kuliner khas Sumbar seperti rendang, keripik balado, dan lainnya. Saya heran, kenapa tidak ada inisiatif dari pemerintah untuk memanfaatkan ini untuk mendirikan stand promosi dan kuliner,” ujar pegawai BUMN ini. Salah seorang tokoh masyarakat setempat yang meminta namanya tidak dituliskan menyebutkan, alek nagari pacu jawi ini sepenuhnya adalah hasil kerja keras masyarakat di Nagari. Sementara sepengetahuannya pemerintah hanya menyediakan bantuan dana senilai Rp10 juta pada setiap acara pacu jawi. “Memang pemerintah yang harus turun tangan,” ujarnya. Pernah Diterbitkan di Harian Pagi Padang Ekspres Minggu 19 Februari 2012

HijrAH Adi Sukrial

/hijrahsel

Seorang mahasiswa gagal yang sedang berusaha sukses m enjadi seorang jurnalis, walau masih jurnalis lokal....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?