Mohon tunggu...
Herri Mulyono
Herri Mulyono Mohon Tunggu... Dosen - Dosen di Perguruan Tinggi Swasta Jakarta

Bercita-cita menjadi pribadi sejati yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Website: http://www.pojokbahasa.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mudahkah Kita Terpengaruh Kurikulum Hoax Masyarakat?

13 Februari 2016   06:19 Diperbarui: 13 Februari 2016   12:49 581
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Masih mau menelan berita hoax mentah-mentah? Sumber gambar: gettyimages.com / venturebeat.com"][/caption]Kita sepakat, bahwa belajar adalah aktivitas sepanjang hayat. Dengan kata lain, aktivitas yang kita jalani setiap hari, pada hakekatnya adalah proses belajar dan pembelajaran. Pada sebuah sisi kita belajar tentang sesuatu dari apa yang terjadi pada diri kita dan orang lain. Dan pada sisi lain, kita membelajarkan orang lain dari pengalaman keseharian kita. 

Istilah kurikulum pendidikan hoax seperti pada judul diatas bukan tentang kurikulum pendidikan nasional kita, bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Karena memang, kurikulum pendidikan hoax ini diciptakan secara alamiah oleh masyarakat kita sendiri, mungkin termasuk saya dan Anda.

Seperti pada nama kurikulumnya, sekolahnya juga bernama sekolah hoax. Yaitu sekolah yang kita bangun untuk diri kita, kemudian kita ajak teman-teman kita untuk ikut belajar tentang hoax, menjadi ahli-hoax, dan menyebarkan hoax. Target pencapaian kurikulum di sekolah ini adalah menjadi penebar fitnah yang handal.

Syaratnya mengikuti pendidikannya hanya dua: 1) tutup kemampuan kritis kita, dan 2) jadilah emosional. 

Proses belajarnya pun mudah, tidak perlu ribet. Pertama, ketika kita mendapatkan berita yang menyentuh SARA, jangan mencari pembanding, tidak usah cross-check. Tidak usah peduli pada berita sepotong-sepotong yang diterima itu benar atau salah.

Kedua, biarkan diri kita hanyut dalam emosi, serta empati terhadap berita itu. Rasa empati itu kita internalisasi seakan-akan kita merasakan, atau bagian dari kejadian yang ada pada berita itu. Tumbuhkan perasaan itu dalam-dalam, dan biarkan kita hanyut di dalamnya.

Dan ketiga, gunakan jempol sakti kita untuk men-share berita hoax itu. Jangan lupa tambahkan kata-kata yang mendramatisir perasaan kita seperti: "Tahukan bahwa bla bla bla", "Ternyata bla bla bla", "Selama ini kita telah di bohongi bla bla bla", "Parah, ternyata bla bla bla", "Mohon perhatian, bla bla bla", "Apa komentar teman-teman tentang bla bla bla", "Miris, ternyata bla bla bla", "Entah harus berbicara apa lagi, bla bla bla". 

 

Untuk lebih jelas, saya ilustrasikan salah satu aktivitas saya di sekolah hoax.

[caption caption="Salah satu bagian buku yang disinyalir berisi muatan isu LGBT"]

[/caption]

Gambar di atas, pada awal artikel ini sudah pasti kita kenal. Gambar di atas telah di-share ribuan orang, termasuk di timeline/lininasa punya saya. Juga di group-group WA yang saya ikuti. Capture-nya sangat jelas: Miris, buku-buku LGBT telah masuk ke Indonesia. Dan beberapa capture yang senada seirama dengannya banyak. Gambarnya yang disajikan hanya sepotong-sepotong. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun