Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa

31 Juli 2011 04:07:33 Dibaca :
Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa
-

Semakin mendekati bulan suci banner ucapan terkait Ramadhan semakin semarak di persimpangan jalan. Perusahaan, pemerintah, ormas, parpol dan komunitas seperti berebut kapling memanfaatkan momentum. Tak ketinggalan perorangan yang hendak mencalonkan diri menjadi kepala daerah, turut serta meramaikan suasana. Sekadar mengucap Marhaban Ya Ramadhan Mubarak, Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan sampai Hormatilah Bulan Puasa atau Hormatilah Orang yang Berpuasa. Tapi ada pula yang bernada agak keras memberikan larangan berbuat sesuatu di hadapan orang berpuasa.

Lambang organisasi di ilustrasi  ini sengaja saya tutup.

Pesan itu jelas ditujukan kepada orang yang tidak berpuasa. Dalam pikiran saya –atau mungkin juga anda- kenapa sih bahasa yang digunakan harus segalak itu? Masih banyak kalimat yang lebih santun nan damai untuk menyampaikan pesan seperti itu. Alih-alih menghormati, penerima pesan yang dituju bisa-bisa justru tersinggung. Bisa juga si penerima pesan berkesimpulan bahwa orang yang berpuasa adalah orang yang manja, gila hormat dan imannya terlampau kerdil sehingga tak dapat menahan diri untuk ikut makan bila melihat orang lain makan, minum atau merokok.

Salah satu esensi puasa adalah melatih dan menguji kesabaran. Melihat orang makan dengan lahap di hadapan kita saat kita berpuasa hanyalah ujian kecil. Jika kita tidak bisa melampaui itu, layakkah kita menghadapi ujian yg lebih besar? Enjoy saja lah melihat pemandangan seperti itu, agar kita lebih siap menerima ujian yang akan menguras energi kesabaran.

Beberapa tahun silam saya serumah kebetulan beda hari raya dengan kerabat lainnya. Hari terakhir Ramadhan saya, adalah hari Raya Ied buat mereka. Tak ayal di hari terakhir puasa saya itu mereka berbondong-bondong silaturrahim ke rumah. Mereka kaget karena orang-orang di rumah saya masih berpuasa. Setelah bersalamaan kerabat-kerabat saya itu segera pamit untuk tidak berlama-lama. Tapi ibu saya memaksanya untuk tinggal sebentar. Mereka pun menurut tapi dengan syarat jangan mengeluarkan hidangan.

Ibu memaksa kerabat-kerabat saya yang tinggal di lingkungan pesantren itu untuk masuk dan menikmati suguhan. Menurut ibu, sebagai tuan rumah yang baik “gupuh”, “lungguh” dan “suguh” mesti dilakukan dalam menerima tamu. Berampun-ampun mereka menolak. Tapi ketika ibu mengatakan bahwa ia ingin menghormati tamu sebaik-baiknya sebagaimana amanat agama, mereka pun tak kuasa menolak. Tersajilah pemandangan di hadapan kami, kerabat-kerabat yang menikmati kue lebaran, air putih yang menyegarkan dan kepulan asap rokok. Canda tawa kami pun pecah saat ada salah seorang yang demonstratif menikmati kesegaran air putih.

Jadi, janganlah mentang-mentang kita berpuasa seenaknya menghardik orang lain yang tidak berpuasa untuk menghormati kita. Nasihatilah baik-baik dengan penuh kesabaran. Barangkali dia tidak tahu atau alpa. Siapa tahu itu justru menambah pundi-pundi pahala Ramadhan kita.

Meminjam sebuah komentar EA Setan yang saya alami juga: “Saya belum pernah puasa dalam arti yang sebenarnya. Cuma baru menahan makan dan minum menjelang waktu berbuka”, saya menyarankan -terutama untuk diri sendiri- untuk MENGHORMATI ORANG YANG TIDAK BERPUASA, sehingga puasa kita tidak sekadar menahan lapar dan dahaga tanpa ujian.

Wallahu a’lam bisshawab

Mohon maaf dari lubuk hati terdalam.  Selamat Menunaikan Ibadah-ibadah Ramadhan.

1312084858677312982

Al-Fakir, Hamzet (penyair kenthir berdarah)

31072011 (sehari menjelang Ramadhan)

Hamzet

/hamzet

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Lelaki penadah ilmu, pemulung pengetahuan dan (semoga bisa) mengamalkan serta menebarkannya kembali. Kelahiran Kota Probolinggo yang dalam bahasa gaul lazim disebut "Prolink". Kota ini disebut juga Bayuangga (angin, anggur dan mangga).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?