Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@Volkshochschule,a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", a Tripadvisor level 6

Selanjutnya

Tutup

Media highlight headline

Tips Supaya Naskah Diterima Penerbit Elexmedia

12 September 2017   15:50 Diperbarui: 14 September 2017   20:23 1826 14 12
Tips Supaya Naskah Diterima Penerbit Elexmedia
Yang dapat tips hari itu (dok.Gana)

*Khusus dibaca penulis pemula, bukan kaliber.

Semarang, 13 Agustus 2017.

Pukul 13.00. Keluar dari Grab, saya sudah berada di dalam toko buku Gramedia Pandanaran bersama tamu agung saya, dik Riza Hardiani. Ai-ai ... siapa dia? Dia adalah editor Elexmedia yang imut dan baik hati. RH itu editor buku Kompasianer Weedy Koshino untuk Unbelievable Japan I dan II. Selama ini sudah ada dua buku saya juga yang dibidaninya "Exploring Germany" dan "Exploring Hungary". Konon, yang ketiga akan lahir September ini "Unbelievable Germany." Deg deg duerrrrrrrr ... excited.

Naah, dik Riza khusus saya datangkan dalam acara bedah buku "Exploring Hungary" yang akan digelar hari itu. Menurut saya, jauh-jauh dari Jerman, ada baiknya nggak cuma promo dan jualan buku tetapi juga untuk berbagi ilmu, rahasia dari dapur Elexmedia. Nggak hanya dari saya selaku salah satu penulis penerbit tersebut, tetapi juga editornya langsung. Dari sumbernya, lebih joss.

Tapinya, wait, olalaaaaa. Backdrop acara belum dipasang. Halaman untuk acara juga belum dirapikan. Kursi-kursi belum pada nangkring. OMG! Lontongggggg! Berbeda dengan talkshow "Exploring Germany" tahun lalu, yang sudah siap jam segitu. Ini maaah, adem ajeh.

Yaaaaah sutra, kami berdua mengontak staff dan disuruh menunggu. Pokoknya pukul 14.00 siap. "Masih lama, masih ada satu jam." Katanya.

Bingung. Tengak-tengok cari MC, belum datang juga. Kan janjian jam satu buat briefing bertiga? Heyyy, lupa. Ini Indonesia, bukan Jerman. Telat semenit saja, orang Jerman merasa bersalahnya kayak nabrak kucing, sedih kwadrat. Di tempat kita, beda.

Kami pun ngabur ke mall, minum juice alpokat. Mumpung cuma Rp 15.000. Kalau di Jerman, beli alpokat sak upil saja harganya Rp 30.000. Yang gedhe harganya lebih. Apalagi kalau di-juice? Bisa Rp 75.000!

Tari Merak oleh Gana (dok-Gana)
Tari Merak oleh Gana (dok-Gana)

Puisi dibawakan Kompasianer Wahyu (dok.Gana)
Puisi dibawakan Kompasianer Wahyu (dok.Gana)

Geguritannya Kompasianer Dinda (dok.Gana)
Geguritannya Kompasianer Dinda (dok.Gana)

Talkshow "Exploring Hungary"

Setengah jam kemudian, kami balik ke toko. Peralatan sudah siap. Saya ganti baju tari merak warna ijo, sama dengan warna cover buku.

Belagu nari, euy. Iya, dooong, biar nggak garing acaranya. Intinya, senang menjamu teman-teman jaman sekolah, Semarkutigakom, FB-ers dan umum dengan entertainment seperti tarian, puisi dari mbak Wahyu, geguritan dari mbak Dinda dan Taj Abbad Warung Pasinaon, serta informasi tentang ngeblog di Kompasiana oleh Wang Eddy. Terima kasih, semuanya. You're rock!

Sayangnya, acara molor. Seharusnya pukul 14.00 sudah dimulai tapi masih banyak kursi yang kosong.  Nunggu. Ya, ampun, ke mana peserta yang ada di dalam daftar? Saya usul MC membaca daftar peserta, semacam panggilan lah. Barangkali, dengan pengeras suara, mereka segera merapat. Siapa tahu nyangkut di ruang buku atau di bagian tas dan alat tulis di lantai bawah.

Akhirnya, bersyukur pada ngumpul. Paling nggak 31 peserta jadi saksi obrolan santai MC dengan kami. Lega. Saatnya berbagi. Kalimat demi kalimat mengalir.

Saya (kiri) dan dik Riza (kanan) (dok.Gana)
Saya (kiri) dan dik Riza (kanan) (dok.Gana)

(dok-Gana)
(dok-Gana)

Nggak dijamin kaya tapi kalau begini, nyesss! (dok.Gana)
Nggak dijamin kaya tapi kalau begini, nyesss! (dok.Gana)
Tips dari Elexmedia

Pertama, saya yang mulai cuap-cuap. MC, mantan penyiar TVRI Pucanggading Semarang yang mandu.

Begitulah, mulai buka-bukaan. Tak kenal maka tak sayang. Sebelum menulis buku, sumpah, saya nggak kenal seorang editorpun di Elexmedia. Baru kenalan dan ketemu, justru setelah buku lahir. Artinya, saya berani jemput bola!

Selain memilih indie label, saya sudah menembus Gramedia Pustaka Utama tahun 2014, meski dengan proses yang lama dan rumit.

Waktu itu, entah mengapa ada kekuatan untuk mencoba cari pengalaman, melamarkan naskah ke Elexmedia. Kira-kira tahun 2014, dan ... ditolak, saudara-saudara. Ditolak bukan pertama kalinya, GPU juga awalnya menolak naskah, hingga naskah digodog lagi dan jadi buku setelah 4 tahun.

Sama dengan di Elexmedia. Sepertinya, saya ini memang punya bakat ditolak. Spesialis ditolak, maksudnya tapi mukanya kulit badak.

Ya, gitu. Naskah tolakan "Serabi Jerman" hasil tulisan di Kompasiana tadi kemudian diubah total judul dan isinya menjadi "Exploring Germany" dan terbit Februari 2016. Berikutnya, rilis Desember 2016 "Exploring Hungary." Seru kan? Lagi mikir nulis "Exploring..." apa lagi, ya?

Eh. Yang lebih menarik lagi dari perbincangan kami adalah, tips Riza Hardiani tentang supaya  naskah diterima  penerbit, khususnya di Elexmedia. Apakah itu?

Pertama, sebagai penulis harus pandai menempatkan diri, tulisan cocok di penerbit mana? Kalau suka menulis novel jangan mengirim ke penerbit anak-anak tetapi ke penerbit yang menerbitkan buku fiksi. Selain menerbitkan buku motivasi dan travel, Elexmedia punya banyak komik dan fiksi, lho.

Kedua, observasi buku yang terbit di penerbit yang dipilih. Tuangkan tulisan yang sejenis. Biasanya, para editor memiliki insting ketika menerima naskah. Penulis mana yang sudah melakukan observasi, mana yang belum atau asal, pasti akan kelihatan. Ada kepekaan dari editor. Bahkan tahu, kalau naskah itu hanya copy paste, lho.

Ketiga, kalau naskah dikirim, sebaiknya ditujukan ke editor yang tepat. Misalnya, di Elexmedia, dik Riza Hardiani untuk naskah fiksi dan travel dan (dulu) dik Rena Widyawinata di bagian Management. Elexmedia itu banyak editornya, sarannya, lebih baik kontak dulu sebelum mengirim. Dengan begitu, akan tahu, naskah ditujukan secara personal kepada yang bersangkutan. Tepat sasaran. Jika tidak tahu, tanya bagian resepsionis karena naskah tidak langsung ke redaksi. Kalau nggak salah mbak Nana namanya. Di sana akan dikasih tahu, jenis naskahmu akan cocok ditujukan ke siapa dan alamat (email) yang mana.

Keempat, jadikan naskah kamu unik aka berbeda. Riza menekankan bahwa naskah "Exploring Hungary" dan "Exploring Germany" itu berbeda dan selalu diterima karena selalu menyisipkan pengalaman pribadi di dalamnya. Cieeeee (helmmmm ... pinjem helmmmm).

Kelima, ada pertimbangan editor untuk membuat sequel. Itu hubungan antara satu buku dengan satu buku lainnya yang ditulis oleh penulis yang sama. Kalau punya buku A, sebaiknya pembaca disarankan (bahkan bisa jadi, tertarik sendiri) untuk memiliki buku B, C, D dan seterusnya dari penulis yang sama. Itu sudah dibuktikan oleh dua kompasianer; mbak Weedy Koshino yang tinggal di Jepang dan saya yang tinggal di Jerman. Uhukk ... jangan lempar tomat, ya. Terusin nulisnya.

Em... Kalau sudah mencoba kelima resep tapi tetep nggak berhasil, jangan patah arang. Maju teroooos. Kata pepatah asing, "Event a snail will eventually reach its destination." Biar lambat asal dapat. Asyik.

***

Baiklah, semoga tips yang justru baru saya dengar dan dapatkan setelah menulis buku di Elexmedia dan bikin talkshow itu, bermanfaat buat Anda, penulis junior yang ingin naskahnya dibukukan oleh Elexmedia. Bagi yang masih penasaran dan ingin tahu pengalaman saya menulis buku "Exploring Hungary", bisa menyimak di sini. 

Di sana, ada banyak foto selama acara berlangsung, sekaligus motivasi buat penulis pemula seperti saya. Simak perbincangan seru tentang "Exploring Hungary" di radio. 

Sekarang? Kumpulkan semua artikel, sortir, edit kalimatnya, baca lagi (kalau bisa kasih teman), print, kirim dan tunggu keajaiban yang akan terjadi. Siapa tahu naskah Anda terpilih. Dan ... meskipun nggak semua penulis Indonesia itu bisa sekaya JK Rowling ... semangattttt!(G76).