Kalimat 'Aku Sayang Kamu'

07 Juni 2013 11:14:05 Dibaca :

"Aku sayang kamu, masih sayang kamu, tetap sayang kamu, masih akan tetap sayang kamu. Kamu juga gitu kan?" Hening. Hanya ada suara desau angin menyentuh telinga. Daun-daun kering beterbangan. Semburat jingga di langit kian memerah. Lelaki yg ditanyai perempuan dengan mata berbinar penuh harap itu hanya bergeming. Perempuan itu hanya tersenyum tipis. "Katakanlah. Aku tidak mampu menelisik pada setiap lekukan di wajahmu untuk menemukan arti diammu." Lanjutnya, lalu mengalihkan pandang menuju batas senja dan malam. Lelaki itu tetap bergeming. "Sebegitu sulitnyakah sekarang untuk kau sekedar mengatakan 'aku sayang kamu'?" Perempuan itu kembali menatap lelaki yg sedari tadi hanya diam mematung diberangus bisu dihadapannya. Akhirnya lelaki itu menatap perempuannya. Lalu ia tersenyum. Hanya tersenyum. Perempuan itu menunduk. Tidak lagi tersisa senyum yang biasa ia hadirkan setiap ia mendapat jawaban yang tidak layak disebut jawaban dari lelakinya. Ia tahu, seharusnya pengertian didampingi oleh penerimaan. Sudah lama ia menerapkan paham itu dalam hatinya, dan sekarang ia merasa hatinya mengering. “Aku hanya butuh satu kalimat darimu.” Ucapnya lagi. Lelaki itu berganti menatap langit, menerawang, entah memikirkan apa. Tetap bisu, tanpa pembelaan, tanpa penyangkalan, tanpa secuilpun penjelasan. “Sejauh mana kamu membutuhkanku untuk hatimu?” Suara perempuan itu kian parau. Namun lelaki itu tetap membisu, bahkan sekarang tak mampu menatap perempuannya. Berkecamuklah perasaan perempuan itu. Hatinya benar-benar kering, ia butuh air terjun Niagara untuk membasuhnya. Ia rindu air terjun itu, yang dulu mampu membuatnya jumpalitan sekian ratus kali didalamnya. Air terjun dari hati lelaki itu. “Kamu… Kamu tidak pernah benar-benar butuh aku kan? Tidak pernah benar-benar sayang aku kan?” Perempuan itu kembali bersuara, walau hanya seperti sebentuk bisikan, namun jelas terdengar. Lelakinya menatap tajam, “Apa maksudmu?” Ucapnya. “Siapa yang bicara seperti itu?” “Aku!” Perempuan itu menantang menatap. Lalu lelaki itu kembali memalingkan pandangan, kembali membisu, tanpa pembelaan, tanpa penyangkalan, tanpa secuilpun penjelasan. Lelaki itu mendengus, "Masih perlukah manusia seumur kita harus selalu mengucapkan 'aku cinta kamu' 'aku sayang kamu' setiap saat? Kamu seperti remaja ingusan saja." Ucapnya sambil menatap langit. "Kita sudah tidak remaja lagi, tidak sepantasnya kau merajuk karena hal sepele seperti ini." Ia menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya, "Kau bertanya apakah aku masih sayang kamu, ditelingaku terdengar seperti... Apakah gula itu manis?" Lelaki itu tertawa kecil. Perempuan disampingnya itu tersentak. Kini giliran perempuan itu yang membeku sempurna.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?