Febroni Purba
Febroni Purba Jurnalis

Warga negara biasa, asli dari Kota Medan, Sumatera Utara. Sekarang tinggal di Jakarta. Pegiat media. Penjelajah lokasi peternakan: Padang, Balaraja, Bogor, Sukabumi, Karawang, Lembang, Bandung Barat, Yogyakarta, Bantul, Sidoarjo, Lombok Timur, Perak, Selangor. Alamat surel: febroni_purba@yahoo.com. Facebok: https://www.facebook.com/febroni.purba. Blog: https://febronipurba.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Agribisnis Bertentangan dengan Pancasila?

7 Maret 2016   21:41 Diperbarui: 7 Maret 2016   23:28 209 3 2

PAGI tadi, dalam sebuah diskusi mengenai perunggasan, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada Prof. Ali Agus menyampaikan pandangannya mengenai masalah perunggasan nasional. Satu hal yg menarik dari presentasinya adalah ketika ia mengatakan bahwa sistem agribisnis bertentang dengan sila kelima Pancasila.

***

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sedang melakukan proses persidangan terhadap 12 perusahaan yang diduga melakukan kartel. Pasalnya, harga komoditi ayam saat ini berfluktuasi. Sejak minggu lalu harga ayam di tingkat peternak anjlok di bawah harga pokok produksi, yakni di kisaran Rp 10.000- Rp 12.000. Padahal sekitar sebulan lalu, harga ayam meroket mencapai Rp Rp 29.000 per kg ayam hidup. KPPU menduga, fenomena tersebut karena persengkokolan di antara perusahaan.

***

Menurutnya, sistem pendekatan agribisnis merupakan suatu usaha yang tidak sehat. Sistem agribisnis dicirikan dengan pelaku usaha modal kuat melakukan segala upaya (konglomerasi) untuk menguasai dari hulu hingga hilir. Dalam konteks usaha perunggasan, pemodal kuat ini menguasai dari mulai pembibitan, pakan, budidaya, obat, distribusi, dsb.

"Sistem pendekatan agribisnis ini saya kira tidak sesuai dgn jiwa pancasila sila kelima. Ini menurut saya. Mungkin boleh diperdebatkan. Karena semua bisnis (sistem agribisnis) menyebakan ketidakadilan ekonomi," ungkapnya.

Mendengar penjelasan Prof Ali tersebut, saya kembali membuka bahan kuliah Manajemen Agribisnis waktu saya kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, empat tahun silam. Agribisnis merupakan mata kuliah wajib (tiga sks).

Berikut ini penjelasan mengenai Agribisnis

Agribisnis menurut Drillon adalah sejumlah total dari seluruh kegiatan yang menyangkut manufaktur dan distribusi dari sarana produksi pertanian, kegiatan yang dilakukan usahatani, serta penyimpanan, pengolahan dan distribusi dari produk pertanian dan produk-produk lain yang dihasilkan dari produk pertanian.

Agribisnis menurut Cramer and Jensen adalah suatu kegiatan yang sangat kompleks, meliputi : industri pertanian, industri pemasaran hasil pertanian dan hasil olahan produk pertanian, industri manufaktur dan distribusi bagi bahan pangan dan serat-seratan kepada pengguna/konsumen

Kegiatan agribisnis dapat dibagi menjadi tiga subsistem. Pertama: Kegiatan ekonomi yang mengubah hasil pertanian primer menjadi produk olahan baik yang siap saji maupun siap konsumsi disebut subsistem agribisnis hilir. Kedua: Subsistem agribisnis hulu adalah kegiatan ekonomi yang menghasilkan dan memperdagangkan sarana produksi pertanian. Ketiga: Subsistem usaha tani adalah proses produksi tanaman pangan, peternakan, perikanan, tanaman perkebunan dan hortikultura

Secara sederhana, sistem agribisnis ingin mengejar efisiensi. Bagi peternak rakyat--modal lemah--sistem agribisnis memang mustahil dilakukan. Bagi mereka memelihara ternak (berbudi daya) saja sudah cukup. Sementara itu, korporasi tidak hanya melakukan budidaya. Lebih dari itu, ia memproduksi bibit, pakan, obat, pengolahan lanjutan, dan dsitribusi. Jika harga ayam sedang berfluktuasi, peternak rakyat teriak. Kalau perusahaan besar bisa menyiasatinya dgn melakukan efisiensi di hulu ataupun di hilir.

Jika pandangan Prof Ali tadi--bahwa sistem agribisnis bertentangan dengan sila kelima Pancasila--mengandung kebenaran. Lantas apakah fakultas peternakan atau fakultas pertanian di semua perguruan tinggi di Indonesia perlu mengkaji ulang untuk membuat mata kuliah mengenai agribisnis. Atau adakah sistem agribisnis yang dapat berlaku adil terhadap konteks usaha peternakan rakyat (Indonesia).

Sadarkah kita bahwa Sistem Agribisnis itu diperkenalkan oleh pakar ekonomi dari Barat. Sistem agribisnis itu hanya cocok dilakukan di negera-negara yg sudah maju. Namun belum tepat dipraktikkan secara utuh di negara berkembang. Kasus perunggasan di Indonesia menandakan bahwa memang agribisnis kerap memukul pelaku usaha kecil.

Saya jadi berpikir, mengapa kita tidak mengembangkan sistem koperasi--sebuah konsep bisnis membangun ekonomi kerakyatan yang digagas Mohammad Hatta. Mengapa tidak ada mata kuliah Koperasi Usaha Pertanian atau Koperasi Usaha Peternakan? Sepeetinya pemikiran Mohammad Hatta itu masih relevan dlm menjawab tantangan ekonomi di Indonesia. Sayangnya, akademisi di Indonesia tak banyak mengadopsi dan mengembangkan konsep koperasi. Rupanya inilah salah satu yang menjadi penyakit bangsa, para akademisi di Indonesia lebih senang mengadopsi sistem Barat yg banyak tidak cocok dengan konteks Indonesia.