Maaf, Aku hanya ingin pulang.

29 April 2013 01:17:43 Dibaca :

Tak terasa waktu begitu cepat berputar. Matahari terbit dan terbenam setiap hari. Rembulan pun selalu siap menggantikan tugasnya di malam hari. Angin malam yang dingin cepat terbang dan menghilang ketika kehangatan mentari pagi memeluknya. Daun-daun pohon yang sudah gugur terasa cepat untuk bersemi kembali. Dan sang musim memang telah berubah, tak kenal lelah. Ya. Sudah hampir tiga tahun Aku ada di negeri ini.

Semenjak datang di Semanjung Korea, negera yang terkenal dengan sebutan negeri ginseng ini menjadi macan asia baru setelah Jepang dan juga china. Negeri ini maju karena industri dan produk teknologi yang dimilikinya. Hampir semua produk negeri ini sudah beredar di berbagai belahan dunia. Aku pun memilih untuk mengadu nasib di negeri ini. Aku pergi sendiri tanpa ada saudara dan teman yang Aku kenali. Aku dan kesendirian ini membuat diri semakin mandiri karena sendiri adalah hal yang tak bisa terelakan lagi bagi siapapun yang pergi dalam perantauan. Dan sekarang, Aku baru sadar akan kehidupan yang monoton jika terus dijalani dalam sebuah kesendirian.

***



Ketika mulai mengenalmu dan merasakan Kau adalah satu cahaya yang muncul dari sekian banyak wanita yang datang di kehidupan ini. Kau tiba-tiba mencuri hati yang lama tak merasakan sebuah kehangatan cinta. Tanpa kusadari diam-diam Aku perhatikan setiap gerakan tubuhmu. Setiap Kau melangkah dan mendekat kepadaku, tiba-tiba debaran jantung ini berdetak tak karuan. Suara langkah kakimu sudah tertancap dalam memori otak yang tiba-tiba terbuka dan tertuju untuk melihat bayangmu layaknya autorun dalam sistem komputer yang membuat diriku terpana dengan senyum manismu.

Selama ini Aku dan Kamu bekerja bersama dalam proyek yang tidak ada habisnya. Satu proyek selesai dan beberapa proyek di depan sudah ada dalam antrian yang harus segera dikerjakan. Aku ada di posisiku dan kamu ada di posisimu membuat kita ada dalam posisi kita masing-masing. Menjaga tanggung jawab dan kewajiban untuk menyelesaikan proyek bersama-sama. Susah bersama, Lelah bersama, Stress bersama dan kadang-kadang kita senyum-senyum sendiri bersama, berdua tanpa ada rasa. ^-^

Sore ini, di hari terakhir kerja dalam minggu ini, Aku berhenti dan tak ingin langsung kembali ke apartemen. Aku ingin memanjakan mata ini untuk melihat keindahan bunga Cherry di danau Daejeon. Danau yang tak jauh dari pusat kota ini akan selalu ramai di saat musim semi mulai tiba yang ditandai dengan mekarnya bunga Cherry, bunga yang biasa orang Jepang menyebutnya bunga sakura. Bunga ini tak lama memberikan keindahan, pada saatnya akan saling berguguran sendiri.

Saat Aku pandangi satu per satu bunga itu berguguran. Tiba-tiba kau muncul disampingku dengan senyuman manis itu. Dan tiba-tiba juga Aku tak bisa bicara seakan-akan ada lem yang menempel dan melekat dengan kuatnya. Aku hanya mendengar setiap kata yang terucap darimu tapi Aku malah tidak mendengarkan apa yang telah Kau ceritakan tentang cerita bunga ini yang identik dengan perempuan.

"Hey..!! You don't listen me." , ucapanmu yang menghentak dan tiba-tiba membuatku salah tingkah.

Dan Aku pun menjawab: "I'm sorry, I see the flowers. So beautiful.", sebuah alasan agar Kau tak curiga. Karena Kaulah bunga indah itu, bunga yang selalu ku pandangi dari tadi.

"Ok.. See You next week." , Kau tiba-tiba pamit dan mengakhiri kebersamaan sore ini dengan kata: "I miss you and I love You" , dan Kau pun melambaikan tangan dan meninggalkanku. Suara langkah kakimu semakin jauh semakin menghilang dan bayangmu juga sudah tak bisa ku lihat lagi. Yang tak hilang hanyalah kata-kata terakhir di danau Daejeon ini.

***



Saat tiba di kamar apartemen, Aku bergegas untuk mandi dan membersihkan semua badan agar kelelahan ini segera menghilang dan berganti dengan kesegaran yang muncul ketika air mulai membasahi tubuhku. Entah sugesti atau emang sudah ada kepastian ilmiah bahwa air bisa menetralisir dari berbagai stress dan kelelahan akibat aktifitas seharian menjadi segar bugar. Yang jelas kondisi tubuh dan fikiran sudah fresh kembali. Dan seperti biasanya, setelah kondisi tubuh fresh, saatnya menyapa para teman dan sahabat lama lewat dunia maya. Facebook, Yahoo Messanger, Gtalk dan Skype sudah online semua, di sinilah Aku bisa menikmati surganya bandwith. Negeri ini memang jagonya dalam memberikan layanan internet, kecepatanya memang tertinggi di dunia.

Tak lama kemudian muncul  "My Mom's Calling" pada aplikasi Skype. Langsung saja tekan tombol answer.

"Haloo..!!" , Ku dengar suaranya dengan jelas.

Aku pun menjawab: "Iya ma."

"Gimana kabarmu disana??" , pertanyaan yang selalu ditanyakan ketika jarak jauh telah memisahkan ibu dengan buah hatinya.

"Baik ma, seger banget, baru kelar mandi" , ucapku.

Mama tak begitu menghiraukan ucapanku dan langsung berbicara: "Kamu sudah lama tinggal di Korea, dan sudah saatnya Kamu pulang. Papamu sakit dan sudah harus digantikan tugasnya"

Dan Aku pun mengelak: "Tapi Ma.."

"Gak ada tapi, yang ada hanyalah Kamu sudah tiba di tanah air, minggu ini juga" , jawabnya tegas.

Dan tiba-tiba komunikasi putus. Padahal Aku belum menceritakan tentang senyuman manis yang akhir-akhir ini muncul di depanku. Mama memang tak pernah memberikan ruang untuk melakukan negosiasi. Setiap keputusanya tak boleh ditolak oleh anak-anaknya, layaknya sang diktator yang memimpin sebuah bangsa, rakyat harus ikut dengan petuah dan perintahnya. Walau Mama keras dan tegas tapi beliau lembut hatinya dan tahu akan kebutuhan anaknya. Pergi negeri ini juga salah satu keputusanya yang memang menyuruh Aku untuk mengambil ilmu dari para Chaebol, sebutan untuk konglomerat negeri ini. Dan benar juga, saat ini, sudah saatnya Aku kembali. Negeriku sudah menanti kiprahku.

***



Hari ini, adalah hari terakhir. Saat berat untuk berpamitan dengan rekan kerja yang sudah seperti keluarga sendiri. Saat-saat indah menjalankan proyek, dan saat-saat berat ketika proyek harus segera kelar sesuai jadwal yang di nanti. Dan saat ini, saat terberat meninggalkan senyuman itu, senyuman manis yang sudah datang walau di saat Aku akan segera pulang. Kadang dunia ini memang tak pernah memberikan arti keindahan disaat harus berpisah. Mau tidak mau Aku harus menemuinya untuk melihat senyumanya.

Aku mendahului pembicaraan untuk segera pamit, "Hi.. I ask for leave, Thanks for cooperation in our job." , ungkapku.

"Really.. You will not go back again??" , jawabnya. Sungguh tak percaya.

Dengan suara pelan dan lirih, Aku menjawab: "Right.. Just, I want to go home."

"But your job and your position is great in your career." , dengan mata berkaca-kaca ingin segera menjatuhkan air matanya.

"I will stay in my country." , kata terakhir di saat aku melihat senyuman yang tak seperti biasanya, senyuman yang menyembunyikan manis dan tangis.

Dan aku bergegas untuk segera meninggalkan ruangan ini, karena siang ini pesawat akan berangkat dan akan membawaku pulang. Berat rasanya untuk meninggalkan negeri ini. Apalagi di saat ini Aku telah menemukan cahaya yang memberiku senyuman manis. Senyuman yang sulit untuk ditinggalkan dan juga dilupakan. Disaat kita bersama, disaat kita sudah saling membutuhkan, disaat itu pula Kau harus kutinggalkan. Yang ada hanyalah kata Maaf, Aku hanya ingin pulang.

Hanya bayangmu dan lagu Souljah ini yang menemaniku dalam perjalanan pulang.
seindah-indahnya mimpiku
dan lautan di depan mataku
mengapa ku rasa sendiri
rindu yang terus menghantui
hatiku tertinggal disana
terpisah pulau yang berbeda
dan rindu hati ini ku ingin kembali


tak seperti anganku
tak seperti inginku
semua yang terjadi sakiti hatiku


reff:
lebih dari yang ku mau dan dari yang ku rasa
ku hanya ingin pulang
lebih dari yang ku mau dan dari yang ku rasa
ku hanya ingin pulang

Fatkur Roji

/fatkur.roji

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Belum begitu produktif dalam menulis, masih kalah dengan sikap konsumtif dalam melahap tulisan-tulisan di kompasiana.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?