Mohon tunggu...
Fahrul Rizal bin Iskandar
Fahrul Rizal bin Iskandar Mohon Tunggu... Administrasi - Peminat Sejarah Kuno

Dilahirkan dan menyelesaikan pendidikan sampai lulus SMA di Banda Aceh, melanjutkan pendidikan S1 Teknik Perminyakan di Yogyakarta kemudian memperoleh kesempatan kembali ke Banda Aceh untuk menyelesaikan S2 Ilmu Ekonomi dengan beasiswa Bappenas. Peminat sejarah peradaban manusia, memiliki perhatian khusus pada sejarah peradaban Islam dan Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara, antara Kekinian dan Kenangan Kejayaan Kebudayaan Kita

8 Agustus 2019   07:27 Diperbarui: 8 Agustus 2019   07:35 262
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lambang dan Bendera Negara ASEAN (sumber: rappler.com)

8 Agustus merupakan hari dimana tokoh-tokoh besar Asia Tenggara yaitu: Adam Malik (Indonesia), Narsisco Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand) menandatangani sebuah deklarasi pendirian Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara di Bangkok yang isinya bertujuan untuk:

  • Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara;
  • Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional;
  • Meningkatkan kerja sama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi;
  • Memelihara kerja sama yang erat di tengah-tengah organisasi regional dan internasional yang ada;
  • Meningkatkan kerja sama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara.

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara kemudian lebih dikenal sebagai ASEAN (Association of Southeast Asian Nations)

Mungkin saja sedikit menjadi perhatian kita saat ini, anak cucu dari segenap suku bangsa yang telah mendiami sudut paling tenggara dari benua Asia, bahwa nenek moyang kita memang sudah pernah bersama-sama berusaha menyatukan segala kekuatan di Asia Tenggara dalam sebuah entitas geo-politik dan ekonomi jauh sebelum Perang Dunia terjadi.

Syahdan, para sejarawan telah berhasil mengungkap fakta masa silam bahwa para tetua bangsa Melayu kuno sepakat menyatukan diri dalam satu perserikatan kerajaan-kerajaan, yang tujuannya adalah untuk bertahan dari ancaman invasi bangsa asing pada tahun 536 Masehi. Hal ini tak terlepas dari meletusnya Gunung Krakatau pada tahun sebelumnya, letusan yang berlangsung beberapa hari telah membuat langit dunia menjadi gelap. Bahkan awan hitam dari Krakatau saat itu diperkirakan menjangkau Timur Tengah, selama 18 bulan pada tahun 535-536 matahari hanya terlihat samar-samar selama empat jam.

Perserikatan kerajaan-kerajaan yang dimaksud itulah yang kemudian kita kenal dengan Sriwijaya, dimana sistem politik yang berlaku adalah sistem kedatuan. Sebenarnya dalam sistem kedatuan, Penguasa Sriwijaya bukan diposisikan layaknya seorang kaisar atau maharaja, namun sebagai pemimpin kolasi dari wilayah-wilayah (mandala) yang dipimpin oleh para raja atau tetua atau pun pemuka agama yang otonom dan memiliki privasi.

Seluruh pemimpin mandala mengakui keberadaan penguasa Sriwijaya sebagai saudara tertua (kedatuan) mereka, tempat dimana segala perselisihan dimintai keputusannya, dan dimintai persetujuannya ketika hendak menobatkan raja atau tetua ataupun pemuka agama sebagai pemimpin baru bagi sebuah mandala. Pengakuan akan kedatuannya mencakup wilayah Ligor (Thailand), Semenanjung Melayu (Malaysia-Singapura), Kota Kapur (Bangka), Jambi, dan Lampung.

Selama 500 tahun lebih kedatuan Sriwijaya bertahan memimpin pelayaran dan perdagangan, yang kemudian mewariskan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu suku bangsa di Asia Tenggara. Bahkan penjelajah Eropa pada abad ke 15 bersusah payah mempelajari bahasa Melayu agar dapat mudah mendapatkan rempah-rempah di Kepulauan Banda, Maluku.

Hilangnya Sriwijaya pada tahun 1200an tidak lantas menjadikan sistem politik kedatuan turut sirna, namun tetap bertahan setidaknya hingga abad ke 19. Paska keruntuhannya akibat kekalahan menghadapi serbuan India, para pembesar dan pewaris tahta Sriwijaya yang selamat bermukim di Malaka, sebuah kota pelabuhan di Malaysia sekarang. Disana mereka berhasil membangun kembali kebesaran pelayarannya hingga menjadikan Malaka sebagai pusat grosir rempah-rempah dari Maluku sebelum dikapalkan ke Teluk Persia melalui India menuju Turki kemudian Venesia.

Akibat ketamakan para pedagang Venesia dalam mengambil keuntungan dari harga rempah-rempah, akhirnya muncul kekuatan baru yaitu Portugis yang hendak memetik langsung pala dan cengkih dari pohonnya. Pada tahun 1511, Portugis berinvasi ke Malaka dan berhasil meruntuhkan kerajaan pewaris kedatuan Sriwijaya tersebut.

 Secara milter Portugis memang berhasil namun secara ekonomi ternyata invasi tersebut merupakan punca kegagalannya dalam perdagangan rempah-rempah Asia Tenggara.

Alih-alih berdagang dengan Portugis, para pedagang Melayu, Jawa, bahkan orang Arab dan India lebih memilih memindahkan gudang-gudangnya dari Malaka ke Bandar Aceh. 

Kepindahan para pedagang ini membuat Aceh menjadi sangat kosmopolitan, berikut juga sistem politik kedatuan yang kemudian di anut oleh pemimpinnya yang digelari sebagai Sultan. 

Dalam dialek lokal orang Aceh, kedatuan dikenal sebagai indatu yang bersinonim dengan istilah leluhur alias nenek moyang. Sultan Aceh sejak abad ke 16 itu dipandang sebagai wali alias pelindung bagi kerajaan-kerajaan di Sumatera dan Semenanjung Melayu yang mengakui kedatuannya.

Oleh sebab itu pula ketika pelaut Inggris yang dipimpin oleh James Lancester tiba di Bandar Aceh pada tahun 1602, dengan cerdiknya berhasil merayu Sultan untuk memberikan restu secara tertulis bagi dirinya untuk berlayar menyusuri selatan Samudera Hindia menuju Pariaman hingga Banten. 

Ternyata ketibaan mereka di Pariaman memang mendapatkan sambutan baik dari penguasa setempat karena memang Raja Pariaman memandang Sultan Aceh sebagai abang tertuanya sekaligus sebagai walinya.

Begitu pula ketika di Banten, penguasa Banten ketika itu memandang Sultan Aceh sebagai teman baiknya sehingga mengizinkan orang Inggris membangun gudang serta menempatkan delapan orang staf permanen di pelabuhan Banten. 

Tak sampai hanya disitu bahkan penduduk lokal yang terbukti mengganggu orang Inggris atau pun kedapatan mencuri di gudang mereka akan dihukum berat oleh prajurit Banten yang ikut melindungi pedagang Inggris itu.

Berbeda halnya dengan orang Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman, akibat sikap angkuhnya dia gagal mendapatkan restu dari Sultan Aceh sehingga ditolak untuk berdagang disana. 

Begitu pun ketika de Houtman tiba di Banten, bukannya menyadari kesalahannya malah dia membombardir pelabuhan dan istana raja akibat kekesalannya pada penolakan mereka. 

Akibatnya, satu pleton jawara Tanah Jawa yang mengintainya sejak dari Banten berhasil menaiki kapalnya ketika menyusuri Selat Madura, disitu orang Belanda terkejut ketika menyadari belasan kawan mereka tewas ditetak dalam kegelapan malam.

Namun sistem kedatuan yang diteruskan oleh Kesultanan Aceh itu akhirnya mendapatkan ujian besar ketika Belanda menerapkan strategi politik pecah belah alias devide et impera. 

Ketika sosok sentral yang hendak dituakan pada kenyataannya tak memiliki kapabilitas maka pudarlah wibawa kedatuan, ditambah lagi hasutan kekuatan asing yang hendak menguasi ekonomi dan perdagangan.

Memasuki tahun 1800an, Aceh terpaksa melepaskan hak perwaliannya atas Kerajaan Pagaruyung sebagi akibat dari ketidakmampuannya meredakan konflik antar kaum adat dan kaum paderi.

 Akibatnya Belanda memperoleh momentum untuk masuk ke Sumatera, apalagi ketika adu domba antara pewaris terakhir Sriwijaya itu sukses membelah Sumatera menjadi dua identitas kedatuan yaitu Siak dan Aceh.

Oleh karenanya maka patutlah kita memuji langkah para pemimpin modern Asia Tenggara terdahulu ketika memutuskan untuk membentuk sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di satu kawasan, berdasarkan Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Sebagai organisasi ekonomi, ASEAN sudah dapat membuktikan kesuksesannya. Pada tahun 2010, kombinasi nominal GDP ASEAN berada dalam sepuluh ekonomi terbesar bersama Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, Prancis, Brasil, Inggris, dan Italia.

Kesuksesannya dalam urusan geo-politik pun tak kalah hebatnya. Bukankah nikmat terbesar yang sering dilupakan itu ada rasa aman dan ketentraman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Untuk itu ASEAN telah berhasil menangani masalah sengketa Laut China Selatan tanpa menggunakan kekerasan, padahal sebelumnya diperkirakan bahwa perselisihan antar delapan negara tersebut merupakan titik konflik Asia yang paling berpotensi bahaya. Semoga kejayaan ASEAN menjadi kejayaan bagi kita semua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun