HEADLINE HIGHLIGHT

Cerita-cerita Sebelum kematian Rinra (praja Ipdn dan Putra Bungsu Gubernur Sulsel)

01 Februari 2011 13:15:59 Dibaca :
Cerita-cerita Sebelum kematian Rinra (praja Ipdn dan Putra Bungsu Gubernur Sulsel)

 

Jumat, 28 Januari 2011, Rinra pulang ke Makassar. Dia meminta izin pulang di luar jadwal kampusnya, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), karena sakit. Saat akan pulang, dia sempat ditanya oleh kekasihnya, Yani, "Kenapa buru-buru?" Rinra hanya menjawab, "Ada urusan keluarga."

Selama di Makassar, Rinra berubah menjadi sangat manja. Kepada bapaknya, Syahrul, Rinra memeluk dari belakang dan berkata, “Bapak jangan banyak marah nanti cepat tua.” Begitu pula kepada kakak perempuannya, Thita, dia juga sering memeluknya. Kepada ibunya, Uli, Rinra berulang kali minta maaf.

Dia kemudian menyampaikan niatnya untuk menikahi gadis pujaan hatinya, Yani, praja putri IPDN asal Semarang setamat pendidikan nanti yang tinggal 6 bulan lagi. Dia juga memperlihatkan kepada Uli Nomor Induk Pegawai atau NIP-nya yang menandakan bahwa dia sudah berhak untuk terima gaji meskipun hanya Rp 800 ribu sebulan.

Yang ‘tak lazim, pada Jumat malam, Rinra tidur melingkar dengan memeluk erat bapaknya. Ibunya membiarkan saja karena ‘tak tega.

Sabtu, 29 Januari 2011, Rinra tampak ceria dan sehat di kantor Gubernur tempat bapaknya bekerja. Bahkan, dia sempat bercanda dengan beberapa wartawan yang sedang posko. Tapi memang, menurut pengakuan ibunya, selama di Makassar Rinra mengalami gangguan pencernaan yang membuatnya harus berulang kali buang air.

Minggu, 30 Januari 2011, Rinra bertolak kembali ke kampusnya. Dia memang harus berada di Bandung minggu malam karena senin besoknya akan menjalani ujian. Saat itu keadaan tubuhnya sehat-sehat saja, tanpa keluhan apapun. Saat ditanya sang ayah, Syahrul, mengenai sakit perutnya, Rinra hanya menjawab, “Ini hal biasa di STPDN.”

Setiba di Jakarta, sebelum menuju kampusnya di Bandung, Rinra mengeluh sakit perut dan sempat buang air. Oleh dokter keluarga, dr. Rahmat Latief, yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Rinra diperiksa. Hasilnya, gangguan pencernaannya kembali kambuh. Namun Rinra tetap berangkat ke Bandung.

Minggu malam, saat semua Praja IPDN sedang belajar untuk ujian, Rinra muntah-muntah hebat di kamar kosnya. Karena sakitnya semakin keras, Rinra akhirnya dibawa ke rumah sakit Annisa Medical Centre (AMC) Bandung oleh William, ajudan ayahnya.

Senin, 31 Januari 2011, sekira pukul 05.00 subuh, Rinra meninggal dunia. Kabar duka diterima keluarga kemudian melalui telepon dari pihak IPDN setelah pihak IPDN sendiri mendapat laporan dari pihak rumah sakit AMC.  Hasil pemeriksaan rumah sakit AMC menjelaskan bahwa Rinra meninggal murni karena gangguan pencernaan di perut. Tubuh Rinra bersih dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Oleh keluarga, jenazah Rinra ditolak untuk di-autopsy.

Senin malam, 31 Januari 2011, jenazah Rinra tiba di rumah jabatan Gubernur di jalan Dr. Ratulangi Makassar. Bapak, ibu, saudara, dan beberapa keluarga dan teman menyambutnya dengan duka.

Senin pagi, sekira pukul 10.00, jenazah Rinra dimakamkan di Tempat Pemakaman Panaikang, Makassar. Ratusan orang mengantar jenazahnya, dari keluarga, kekasih, teman, dan bahkan masyarakat umum. Selamat jalan Rinra!

*****

Rinra Sujiwa Syahrul Putra, putra bungsu dari Dr. Syahrul Yasin Limpo, SH, MH (Gubernur Sulawesi Selatan) dan drg. Ayunsri Harahap. Memiliki dua kakak: Indira Chunda Thita dan Kemal Redindo.

Rinra tumbuh dan besar di Sungguminasa, Gowa. Rinra bersekolah di SMP 2 Sungguminasa lalu kemudian melanjutkan jenjang pendidikan di SMA 2 Makassar. Setamat SMA, Rinra sempat menempuh pendidikan di Singapura sebelum kemudian dipanggil pulang oleh bapak-ibunya untuk dimasukkan ke IPDN.

Rinra masuk IPDN pada angkatan 2007-2008. Terakhir menjalani pendidikan tingkat III dengan status Nindya Praja. Artinya, 6 bulan lagi dia akan menyelesaikan pendidikannya. Dia juga telah memiliki NIP sebagai pegawai negeri sipil: 1988 1023 2810 10 A1001.

Setamat dari pendidikan di IPDN, Rinra berencana menikahi kekasih hatinya asal Kendal, Jawa Tengah: Aprilia Hendriyani. Keluarga kedua belah pihak bahkan sudah saling setuju dan memberi restu. Cincin yang melingkar di jari Yani menjadi penandanya.

Rinra meninggal dunia pada Senin, 31 Januari 2011, karena gangguan pencernaan. Dia meninggal pada umur yang masih sangat muda: 21 tahun.

Sumber: Surat Kabar Harian Fajar, edisi Selasa 1 Februari 2011; www.fajar.co.id; www.tribuntimur.com.

Fachrul Khairuddin

/fachrulkhairuddin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Terus Menulis!!!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?