Rezha Nata Suhandi
Rezha Nata Suhandi

Mencintai senja kala biru, kegaduhan imajinasi lambang superioritas intelektual.

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

Anak Semua Bangsa, Anak Kata-kata

17 Februari 2017   13:32 Diperbarui: 17 Februari 2017   13:44 102 0 0

"Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Dimana pun, ada yang mulia dan jahat… Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu.” Pramoedya Ananta Toer dalam novel Anak Semua Bangsa, ditulis tahun 1975.

Baru saja saya menamatkan cerita novel karya Pram yang kedua dari tetralogi karyanya yang ditulis semasa pengasingan di Pulau Buru, Anak Semua Bangsa. Entah sebab apa seorang jenius berkata-kata seperti Pram diasingkan, mungkin karena menyinggung peradaban, kekuasaan, rezim atau apapun itu. Tapi yang pasti Pram telah menggunakan kata-kata sebagai senjata perlawanan terhadap penindasan.

Saya tak ingin lebih jauh membahas soal Pram dan kisahnya, bisa kita bahas lain waktu. Pemikiran saya malah jauh terhenyak tentang sejarah silam dan masa depan yang kelam, hari ini pun tak cukup mendalam. Kita tak pernah mengenal bangsa kita sendiri.

Pram menulis jauh diatas kesadaran seorang anak bangsa dalam menjalani melankolia sekat gelap labirin berfikirnya. Ada cerita tentang penindasan, perampasan, penumpasan dan semua dikemas dalam satu terminologi, “penjajahan”. Saya pun tak memahami sejak kapan kata penjajahan diperkenalkan kepada saya, ketika mengenyam pendidikan di sekolah formal kah, atau mendengarnya dari lingkungan yang jauh bersandar pada buku bacaan mengenai kesejarahan. Toh, istilah penjajahan masih juga saya temui ketika memasuki bangku perkuliahan.

Tak ada yang berubah, penjajahan adalah soal kepedihan dan drama yang tragis dari satu bangsa kepada bangsa lain. Saya mengenal penjajahan adalah perlawanan fisik, perang yang tak berimbang ataupun pendudukan wilayah yang dilakukan militer suatu bangsa terhadap bangsa lainnya. Negara dunia ketiga seringkali mengalami hal ini karena dianggap terbelakang dalam segala aspek kehidupan.

Luka fisik dan berjatuhnya korban barangkali tidak seberapa dibanding penanaman pakem dalam benak maupun daya fikir pribumi mengenai paradigma budaya bangsa pasca lepas dari era penjajahan. Memandang kulit putih sebagai ras unggulan dan bangsanya sendiri dianggap sebagai ras sampah yang sama rupa dengannya. Keterkucilan menjadi paradigma sesat atas trauma penjajahan mental ratusan tahun itu.

Sejak membaca buku sejarah pula, yang saya pahami dari sejarah penjajahan adalah perang demi perang yang dikobarkan pribumi terhadap bangsa asing, Belanda saat itu. Jauh mengenai latar belakang peristiwa adalah soal pertanyaan dikemudian hari, dan saat kita tersadar, kita merasa sudah jauh untuk kembali pada dasar kebangsaan kita yang dirobek dan dicabik sedemikian rupa oleh penjajahan yang tak kunjung mereda.

Memanglah tak ada bangsa yang mampu memahami bangsanya sendiri kecuali negeri timur jauh menurut Eropa, yaitu, Jepang dan Cina. Prancis dengan kebanggaannya mengibarkan semboyan Revolusi Prancis tentang kebebasan, persamaan dan persaudaraan, hingga kini saja harus jatuh tersungkur kala melakukan pembatasan tak beradab pada kemanusiaan dalam menghadapi muslim di negerinya.

Tak ada sejarah penjajahan bagi negeri yang memiliki keengganan bersimpuh di hadapan Eropa maupun Amerika. Jepang melaknat siapa saja yang berkhianat terhadap bangsanya, apalagi sampai menghamba pada Eropa dan Amerika. Zaman dulu, mereka rela melakukan harakiri (bunuh diri) jika terjadi.

Cina apalagi, mereka bangsa yang memiliki dasar kuat terhadap kebudayaan dan kebangsaan. Sejarahnya diisi oleh dinasti peradaban yang gemilang dalam berbagai bidang, pun seringkali mengalami perang saudara, mereka tak ubahnya Pasundan kala bersatu dengan Jawa, bersatu dengan gengsi dan keengganan akibat masa lalu.

Mengutip apa yang pernah dikatakan Indra. J Piliang, negeri timur (Jepang dan Cina) melindungi dasar kebangsaan dengan aksara. Butuh waktu banyak memahami aksara negeri-negeri itu, apalagi mempelajari dan bahkan mencoba lakukan invasi kebudayaan pada mereka. Mereka menutup bangsa asing dengan perlindungan berlapis pada keinginan belajar terhadap bangsa mereka. Justru sebaliknya, bangsa timur itu yang belajar ilmu pengetahuan tanpa keinginan untuk menghamba, namun keinginan mensejajarkan bangsanya dengan ras yang dianggap unggul di dunia.

Sementara kita, terlalu jauh menghamba dan buram akan kemauan diri untuk bangkit bersaing dengan keunggulan yang dimiliki Eropa, Amerika, Jepang ataupun Cina. Kita sudah menjadi kerdil sejak dalam fikiran, bagi terpelajar apalagi mereka yang tak pernah belajar.

Kembali pada soal penjajahan. Belanda datang ke Indonesia, yang dikenal dengan nama Hindia saat itu untuk tujuan mencari rempah-rempah. Pada fase selanjutnya Belanda mengibarkan perusahaan dagang karena memiliki modal produksi di Hindia, kita kenal dengan nama VOC.

Belanda beralih dari mencari rempah-rempah lantas memutuskan Hindia sebagai ladang perkebunan, gula dan kopi dijadikan komoditas utama, karena memang sedang menjadi primadona saat itu. Kerajaan Belanda rela menggelontorkan modal besar untuk menghidupi VOC dan bisnisnya di Hindia ini. Sementara keuntungan yang didapatdigunakan sebagai penyokong modal perang untuk Belanda kala itu.

Dibangunlah berbagai infrastruktur pendukung untuk mendistribusikan tebu-tebu dari perkebunan hingga sampai ke kapal dagang dan dilayarkan ke Eropa jauh. Membuka perkebunan tentu butuh, pembukaan lahan, jalan aspal sebagai infrastruktur pendukung dokar pengangkut tebu, rel kereta yang membawa tebu dan gula dalam jumlah banyak menuju pelabuhan, sekolah guna menyokong kebutuhan tenaga administrasi untuk perkebunan, rumah sakit dan tenaga medis yang diperuntukkan bagi buruh perkebunan, dan segala macam infrastruktur. Infrastruktur itu dibuat untuk kelangsungan usaha perkebunan, bukan untuk rakyat. Sekali lagi bukan untuk rakyat.

Mungkin ini mirip dengan pola pembangunan yang dilakukan pemerintah suatu daerah. Entah membangun untuk siapa dan dengan cara apa, rakyat kembali harus berkorban, tergusur dan tersingkir. Atas lahannya dibangunlah keindahan yang menyejukkan mata jika dilihat dari apartemen mewah nan menjulang di tengah kota. Pembangunan semu yang hanya mampu menjangkau kemewahan tapi melupakan kemanusiaan.

Dalam melangsungkan usahanya, VOC juga menggunakan kekerasan, intimidasi, bahkan perampasan terhadap lahan yang hendak dijadikan perkebunan. Hal ini mengingatkan saya akan peristiwa petani di Rembang, Jawa Tengah yang diambil paksa hak kepemilikan lahannya guna memuluskan usaha pembuatan pabrik semen disana. Bukan hanya Rembang, barangkali ratusan petani pemilik lahan dan pribumi di bumi Indonesia, masih merasakan pola penjajahan ini berlangsung hingga sekarang, gawatnya itu dilakukan oleh bangsa sendiri.

Memanglah sejarah selalu berulang menurut idiom yang berlaku, kala itu pihak kerajaan penguasa wilayah di Nusantara ini pun mengamini masuknya asing. Bahkan bekerjasama dalam perdagangan. Sementara rakyat lah yang tetap menanggung derita. Kaum priyayi dan bangsawan tak pernah mengenal sejauh apa penderitaan dirasakan. Mereka hanya menghamba pada kekuasaan. Tembok tebal kerajaan juga bagaikan pemisah yang tak pernah roboh, pun kala rakyat berlinangan air mata dan berlumuran darah.

Bangsa ini terlalu naif jika menyadari bahwa kita pernah lepas dari penjajahan, pribumi tetap sebagai pekerja yang mendatangkan berlipat kekayaan sementara bangsa asing yang menguasai lahan dan modal lah pemilik kejayaan. Memang Indonesia tak pernah menjadi negara yang berdaulat, karena sesungguhnya Indonesia hanya didaulat sebagai sebuah negara. Diambil saripatinya, dihisap dalam-dalam, lantas dimuntahkan jika sudah tak menyajikan kenikmatan. Karena dunia internasional telah mengutuk penjajahan, tak boleh ada lagi invasi secara fisik yangmenggelayuti sebuah bangsa, semua merupakan dalih ataskemerdekaan dan kemanusiaan.

Tak boleh ada bukannya tak pernah terjadi. Kita mungkin sedang merasakan itu, dalam kamuflase kemerdekaan dan kebebasan. Bangsa-bangsa asing sudah menjadi srigala sedari lama, Indonesia masih menjadi bayi domba yang hangat mencari susu induknya. Dipermainkan sejak dalam kandungan, diharapkan besar untuk menjadi santapan.

Kembali pada dasar dan melaknati semua kemungkinan gejolak cemoohan asing adalah keniscayaan. Berabad lampau kita selalu ditakuti dan lekat dalam stigma jika Indonesia adalah bangsa kelas ketiga, terbelakang. Dalam ilmu pengetahuan tak ada sejarah keunggulan bangsa ini mengecap pioneer pemikiran dan penemuan. Jikapun ada, sesama bangsa akan mengutuk itu sebagai mitos dari kehidupan. Begitu cara hidup bangsa kita pasca kemerdekaan. Padahal ilmu pengetahuan adalah elemen mendasar manusia mampu membentuk bahkan menjangkau peradaban.

Demikian tulisan ini saya akhiri dengan penuh penyesalan. Indonesia dan manusianya tak pernah berubah bahkan dalam kata-kata. Anak semua bangsa dan anak kata-kata. Menjadi Indonesia adalah jalan memahami cara bangsa sendiri hidup, bukan terhanyut dalam godaan materialism apalagi modernism. Meskipun begitu, jika hendak waktu yang menggeliat mendorong kearah timbunan jerami padi menunjuk kesyukuran, Indonesia akan menjadi mercusuar dunia. Kehendak itu masih ada.

Rezha Nata Suhandi
Kamis, 16 Februari 2017