Surau Tua, Cerpen: Sri Wintala Achmad

29 Juli 2013 19:12:45 Dibaca :

SURAU TUA
Cerpen: Sri Wintala Achmad


Meski bukan santri atau sarjana, Abah Musyafie yang baru setahun tinggal di Desa Waringinsungsang adalah jagonya bila bicara soal agama, pengetahuan umum, dan politik. Namun lelaki berumur enampuluhan yang semasa mudanya tak bercita-cita menjadi kyai, dosen, atau politikus kini memilih hidup sebagai tukang sapu surau tua di tepian desa itu.
Abah Musyafie prihatin atas keadaan surau tua yang ditelantarkan karena jemaah lebih memilih masjid baru di tengah Desa Waringinsungsang sebagai tempat ibadahnya. Dalam hati, Abah Musyafie merasa bahwa surau itu senasib dirinya. Selalu dikunjungi semasih megah. Ditinggalkan sesudah tua tak terurus.
Sekian lama Abah Musyafie merenungi nasibnya yang tak ubah surau tua itu. Namun kian merenungi surau itu, Abah Musyafie kian mencintainya. Kian mencintai surau itu, Abah Musyafie kian menyatu dengannya. Bangunan yang harus dijaga kesuciannya dari najis, kata jorok, dan perilaku iblis yang amat dibenci Allah.
Karena cintanya pada surau tua itu, Abah Musyafie tidak segan-segan menggunakan uang dari penjualan tanah warisan untuk membangunnya. Mengecat dindingnya. Memasang keramik pada lantainya. Mengganti gentingnya. Melengkapinya dengan sepasang loudspeaker. Sejak terbangunnya surau itu, Abah Musyafie tak hanya sebagai tukang sapu. Tapi tukang pengisi padasan dan muadzin.
***

Dengan suara serak-serak, Abah Musyafie mengumandangkan adzan awal di ambang subuh. Orang-orang Desa Waringinsungsang tersentak manakala mendengar adzan yang digemakan melalui loudspeaker dari arah surau tua itu. Lantaran sudah limapuluh tahun, surau itu telah sepi dari jemaah.
Lewat kabar dari mulut ke mulut, orang-orang Waringinsungsang mengetahui bahwa surau tua di tepian desa itu telah hidup kembali berkat Abah Musyafie. Abah Musyafie berbangga hati. Saat Ramadhan tiba, surau itu kembali diramaikan oleh jamaah. Mengingat masjid baru di tengah desa tidak mampu menampung jumlah jamaah yang selalu membludak di malam Ramadhan pertama.
Pada malam Ramadhan minggu pertama, jamaah yang memenuhi surau tua itu mencapai tiga saf. Pada minggu ke dua, jamaah tinggal satu saf. Pada minggu ke tiga, jamaah tinggal dua orang. Abah Musyafie, dan seorang lelaki berjenggot putih hingga ke dada yang memperkenalkan dirinya bernama Mbah Haji Bustamie. Salah seorang sesepuh yang dihormati di Desa Waringinsungsang.
“Maaf Mbah Haji, Bustamie!” Abah Musyafie memecah kesunyian di dalam surau tua sesudah usai pelaksanaan sholat tarwih. “Apakah setiap tempat suci di desa ini hanya diramaikan para jamaah pada malam Ramadhan minggu pertama?”
“Tak hanya tempat suci di desa ini saja, Abah Musyafie. Tapi hampir seluruh tempat suci di desa-desa lain mulai sepi dikunjungi para jamaah sejak malam Ramadhan minggu ke tiga. Namun nanti pada minggu terakhir, tempat-tempat suci itu akan kembali diramaikan para jamaah. Mereka ingin mendapatkan anugerah Allah dari malam seribu bulan.”
“Oh…. Begitu ya Mbah Haji.”
“Lha iya. Masak kamu tak tahu?” Mbah Haji Bustamie tertawa lepas hingga gigi-giginya yang meranggas hitam tampak kelihatan di mata Abah Musyafie. “Tapi, sudahlah! Apa yang telah kamu lakukan untuk menghidupkan surau ini pasti dicatat oleh Allah, Musyafie. Kata orang Jawa, ‘Gusti ora sare.’”
“Mbah Haji….” Abah Musyafie menghela napas. “Aku tidak berharap Allah akan mencatat atau tidak atas apa yang aku lakukan. Satu yang aku harapkan, semoga apa yang aku lakukan ini dapat menghapus dosa-dosaku di masa silam. Hidup sebagai pengembara yang mabuk ilmu agama, pengetahuan umum, dan politik. Hingga aku lupa kewajibanku sebagai kepala rumah tangga yang harus menghidupi istri dan anak-anak dengan upah kerja. Hingga aku bercerai dengan istriku. Hingga aku berpisah dengan anak-anakku. Hingga aku seperti surau tua ini.”
Mbah Haji Bustamie yang tak melontarkan komentar atas penuturan Abah Musyafie lenyap serupa segumpal asap tersapu angin. Jantung Abah Musyafie berdegup kencang. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Dengan langkah bergetar, Abah Musyafie meninggalkan surau itu sesudah menutup pintunya.
***

Benar kata Mbah Haji Bustamie. Pada malam Ramadhan minggu terakhir, surau tua itu kembali dikunjungi banyak jamaah. Namun anehnya, Abah Musyafie tak melihat Mbah Haji Bustamie datang ke surau itu. Sesudah ditanyakan pada beberapa jamaah, Abah Musyafie mengetahui bahwa Mbah Haji Bustamie adalah pendiri surau itu yang telah meninggal limapuluh tahun silam. Karena sering menampakkan diri di surau itu membuat para jamaah yang ketakutan lebih memilih masjid baru di tengah desa sebagai tempat ibadah.
Mendengar penuturan dari para jamaah, Abah Musyafie semakin tahu rahasia besar di balik surau tua itu. Namun sebagai seorang yang baru setahun tinggal di Desa Waringinsungsang, Abah Musyafie tidak akan berencana mengundang dukun pengusir roh. Lantaran Abah Musyafie berpikir, “Berkat kecintaannya dengan surau tua itu membuat arwah Mbah Haji Bustamie sering hadir. Bukan untuk menyapu dan mengisi padasan. Namun untuk selalu membersihkan dosa dan memenuhi jiwanya dengan kalimat-kalimat taubat. Kalimat-kalimat arif bagi setiap orang mati yang belum merasa suci, sekalipun sudah mengenakan jubah haji.”
Sekian lama Abah Musyafie hanyut dalam pemikirannya sendiri, hingga tak sadar bila para jamaah yang menyelesaikan sholat tarwih malam itu telah kembali ke rumah masing-masing. Abah Musyafie baru sadar, manakala menangkap suara semirip suara Mbah Haji Bustamie. “Musyafie, aku titipkan surau tua ini kepadamu. Jadikan tempatmu untuk belajar mencintai Tuhan-mu. Hanya dengan mencintai-Nya, kamu akan hidup tenang di usia senjamu.”
Selepas suara itu, Abah Musyafie menyaksikan seluruh ruangan surau tua dengan cahaya neon duapuluh watt itu seterang langit dengan seribu bulan. Serupa Bima yang baru saja mendapatkan petuah dari guru Ruci, Abah Musyafie merasa dilahirkan kembali dari rahim kegelapan. Sebagaimana matahari baru yang menyembul dari balik bentang bukit timur. Di hari fitri yang sebentar lagi akan tiba.

Cilacap, 10072013

Catatan:
Naskah ini sudah dimuat di Mingguan Minggu Pagi, Edisi Juli (Kamis, 25 Juli 2013)


Sri Wintala Achmad

/eswaacmad

SRI WINTALA ACHMAD, pernah kuliah di Fak. Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia, dan Jawa). Karya-karyanya dipublikasikan: Kompas, Republika, Suara Karya, Suara Pembaruan, Lampung Pos, Solo Pos, Surabaya Pos, Bangka Pos, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Merapi, Bernas, Majalah Gong, Suara Muhammadiyah Artista, Jayabaya, Mekarsari, Jaka Lodhang, Sempulur, Adiluhung, dll.
Buku-buku antologi sastra dan esai kolektifnya yang telah terbit: Antologi Puisi ‘Pelangi’ (Karta Pustaka/Rasialima, 1988); Antologi Puisi ‘Nirmana’ (Wirofens Group, 1990); Antologi Puisi ‘Alif-Lam-Mim’ (Teater Eska/SAS, 1990); Antologi Puisi ‘Zamrud Katulistiwa’ (Balai Bahasa Yogyakarta/Taman Budaya Yogyakarta, 1997); Antologi Puisi Sastra Kepulauan (Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, 1999); Antologi Puisi ‘Pasar Kembang’ (Komunitas Sastra Indonesia, 2000); Antologi Puisi Yogyakarta dan Singapura ‘Embun Tajali’ (FKY 2000); Antologi Puisi dan Geguritan ‘Lirik Lereng Merapi’ (Dewan Kesenian Sleman, 2000); Antologi Naskah Lakon ‘Bilah Belati di Depan Cermin’ (Dewan Kesenian Sleman, 2002); Antologi Puisi dan Geguritan ‘Di Batas Jogja’ (FKY, 2002); Antologi Geguritan, Macapat, dan Cerkak ‘Code’ (FKY, 2005); Antologi Esai Musik Puisi Nasional (LKiS, 2006); Antologi Puisi ‘Malioboro’ (Balai Bahasa Yogyakarta, 2008); Antologi Cerpen ‘Perempuan Bermulut Api’ (Balai Bahasa Yogyakarta, 2010); Antologi Cerpen ‘Tiga Peluru’ (Kumpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi, 2010); Antologi Geguritan dan Cerkak Kongres Sastra Jawa III - Bojonegoro ‘Pasewakan’ (2011), Antologi Puisi ‘Kembali Jogja Membaca Sastra’ (Rumah Budaya Tembi, 2011); Antologi Puisi ‘Suluk Mataram’ (Great Publisher, 2011); Antologi Puisi ‘Jejak Sajak’ (2012); Antologi Puisi 127 Penyair ‘Dari Sragen Memandang Indonesia’ (Dewan Kesenian Sragen, 2012); Antologi Puisi PPN VI: Pertemuan Penyair Indonesia dan beberapa Negara Asia Tenggara di Jambi - ‘Sauk Seloko’ (Dewan Kesenian Jambi, 2012); Antologi puisi: ‘Indonesia di Titik 13’ (Dewan Kesenian Pekalongan, 2013); dan Antologi puisi dwi-bahasa 63 penyair Indonesia, Malaysia, Singapura, Hongkong, Pakistan, India, Libia, Arozona, dan Serbia: ‘Spring Fiesta [Pesta Musim Semi]’ (Indonesian & English Poetry Grup & Araska Publisher, 2013).
Karya-karya novelnya: Centhini: Malam Ketika Hujan (Diva Press Yogyakarta, 2011); Dharma Cinta (Laksana, 2011); Jaman Gemblung (Diva Press Yogyakarta, 2011), Sabdapalon (Araska, 2011), Dharma Gandul: Sabda Pamungkas dari Guru Sabdajati (Araska, 2012), Ratu Kalinyamat: Tapa Wuda Asinjang Rikma (Araska, 2012), Kiamat: Petaka di Negeri Madyantara (In AzNa Books, 2012); Centhini: Kupu-Kupu Putih di Langit Jurang Jangkung (Araska, 2012), Gatoloco Gugat (Araska, 2012), dan Ranggawarsita: Suluk Sungsang Bawana Balik (Araska, 2012). Antologi sastra pribadinya yang telah terbit: Antologi Cerpen Perempuan Batu (Evolitera 2010); Antologi Puisi Berbahasa Inggris Students Unlike The Formula of X + X = 2X; (Evolitera 2010); dan Antologi Puisi Long Massage Service dari Orang-Orang Tercinta (Evolitera 2010). Buku-buku lainnya yang telah terbit: Membuka Gerbang Dunia Anak (Annora Media, 2009), Suyudana Lengser Keprabon (In AzNa Books, 2011), Kisah Jagad Pakeliran Jawa (Araska, 2011), Wisdom Van Java (In AzNa Books, 2012), Falsafah Kepemimpinan Jawa: Soeharto, Sri Sultan HB IX & Jokowi (Araska, 2013), Singhasari &. Kitab Para Datu (Araska, 2013), Babad Tanah Jawa: Dari Nabi Adam Hingga Mataram Islam (Araska, 2013), Sejarah Raja-Raja Jawa dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam (Araska, 2013), Mendadak Satriya Piningit [Menyingkap Tabir Falsafah Kepemimpinan Ratu Adil] - (Araska, 2013), dan Sejarah Kerajaan Jawa Pasca Mataram Islam (Araska, 2013).
Nama kesastrawanannya telah dicatat dalam: Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Direktori Budayawan Jawa (Kongres Bahasa Jawa III, Yogyakarta), dan Direktori Sastrawan, Seniman, dan Budayawan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Sekarang tinggal di Cilacap Utara, Jawa Tengah, Indonesia.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?