Aku Harus Naik Haji

18 Januari 2012 14:44:02 Dibaca :
Aku Harus Naik Haji
Lautan tenda yang akan penuh di Musim Haji

Saat tinggal pertama kali di Cikarang, aku langsung berbaur dengan teman-teman di kompleks. Akibatnya rumahku jadi salah satu tempat ngumpul warga Cikarang. Mulai dari para blogger, para pesepeda, maupun para tetangga kanan kiri. Yang paling berkesan adalah ketika aku ikut Magic Meeting alias Kelompok Master Mind Cikarang 1. Kenapa jadi berkesan? Karena kita semua, anggota kelompok MMC1, bertekad untuk pergi ke tanah suci pada tahun 2012. Rasanya seperti mimpi saja waktu tekad itu kita canangkan. Bagaimana tidak, usaha belum punya kok sudah punya tekad yang mengawang-awang. Ternyata alhamdulillah, Tuhan memang selalu mengabulkan keinginan hambaNya. Tak terasa akhirnya hari untuk Umroh itu datang juga. Prosesnya cukup panjang dan menegangkan, karena banyaknya kendala yang tidak biasa dialami oleh mereka yang bepergian ke luar negeri. Semua kendala yang menyulitkan itu akhirnya hilang satu demi satu dan akupun sudah di Tanah Suci Mekah. Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Masih ingat dalam pikiranku ketika mas Erry, ketua TDA Bekasi waktu itu menyampaikan betapa hebatnya tekad Kelompok MMC 1 untuk pergi ke tanah suci bersama-sama. Waktu itu dalam hati aku merasa malu. Tekad itu terlalu mengawang-awang. Belum lagi kita sudah menyebut angka 2012. Ini takabur atau mencoba membuat mimpi di siang bolong? Alhamdulillah aku akhirnya bisa ke tanah suci, melalui rejeki yang tidak disangka-sangka. Inilah Umroh pertamaku. Hari pertama Umroh aku langsung dibimbing oleh ustadz Yusron Lubis, mulai dari mengenakan pakaian Ikhrom sampai ke segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah ini. Meskipun pembawaannya serius, tapi ustadz ini suka bercanda juga dan sangat disukai oleh teman-temanku, sehingga direkomendasikan untuk menemaniku berjalan-jalan di Kabah dan sekitarnya. Umroh bersama Rudi Purnomo Owner Kupu-kupu Malam Setelah lebih dari sepuluh tahun bermukin di Mekah, maka pengetahuan pak Ustadz sudah sangat memadai untuk jadi guide urusan Umroh maupun guide urusan City Touring. Hari pertama Umroh, pak Ustadz menempel terus di samping kananku, sementara di samping kanan pak Ustadz menempel pak Rudi, owner Kupu-kupu malam. Bertiga kami berjalan mengelilingi Kabah maupun berlari-lari kecil antara Shafwa dan Marwah, Ritual ibadah ini diakhiri dengan tahalul (potong rambut). Tak ada satupun gadget yang menemaniku melakukan Umroh ini dan dunia seperti begitu merdeka buatku. Tak ada lagi pesan masuk dan tak ada lagi foursquare yang menjadi candu bagi para traveller. Malamnya atau tepatnya menjelang subuh, akupun mengajak istriku untuk Umroh dan tuntas sudah impian kita di hari itu. Besoknya aku kembali Thawaf, dan melakukan sholat jamaah di masjidil Haram. Kali ini aku membawa ponselku untuk mengabarkan suasana masjidil Haram ke teman-temanku. Kulihat memang lebih dari separuh jamaah yang hadir di Masjidil Haram memanfaatkan gadget mereka masing-masing. Entah untuk berfoto ria ataupun mengetikkan sesuatu, bahkan aku sempat melihat ibu-ibu yang asyik memainkan Ipad-nya. Tak lengkap rasanyake Mekah kalau tidak berkunjung ke Arafah. Inilah padang luas yang nantinya akan penuh sesak pada musim haji. Saat ini lokasi ini terlihat kosong melompong. Masjid yang ada juga terlihat tidak dirawat secara rutin, Hal ini sangat dimungkinkan karena memang masjid ini hanya dipakai satu kali dalam setahun. Bus-bus haji juga terlihat mangkrak di parkiran pemilik bis. Maklum semua bis ini baru akan beroperasi saat musim haji tiba, Sebanyak itu bis yang akan masuk ke Arafah, maka bisa dibayangkan betapa sibuknya arus lalu lintas di Arafah. Masih mending jalan kaki daripada naik bus. Namun bila kondisi cuaca sangat panas, maka naik bis kelihatannya lebih manfaat, Aku sempat juga berkunjung ke perkampungan orang-orang Arab yang terlihat begitu keras. Rumah-rumahnya model kotak sabun dan warnanya sama, seragam ! Antar tetangga kurang dekat hubungan emosionalnya. Kalau ada yang meninggal baru bisa diketahui setelah meninggal. Tandanya, di tempat orang meninggal, kursinya dikeluarkan di halaman rumahnya. Cerita pak Ustadz yang setia menemani kemana kita pergi membuatku punya kesimpulan, bahwa hidup di Mekah tidak gampang. Cuaca yang kadang tidak bersahabat, gotong royong ala Indonesia yang tidak terlihat, semuanya membuatku punya kesimpulan bahwa sulit hidup di Mekah kalau kita pernah hidup di Indonesia. "Kenapa ustadz tahan hidup bertahun-tahun di sini kalau kondisinya seperti ini?" Dengan tersenyum pak Ustadz Yusron menjawab, "Ada Kabah yang membuat semua kesulitan itu jadi berkah. Tiap hari bisa sholat di depan Kabah, bukankah itu suatu hal yang sangat istimewa?" Kalimat sederhana itu baru kusadari setelah aku berada di Indonesia. Betapa nikmatnya bisa sholat setiap saat di Masjid yang luar biasa dan langsung melihat Kabah secara utuh. Setiap saat kita bisa merasakan kenikmatan itu saat di Mekah dan sekarang semua itu kembali jauh. Setiap saat kitapun bisa minum air zam-zam tanpa pernah merasa sulitnya mendapatkan air itu di Indonesia. Kenikmatan memang sering terasa indahnya ketika sudah jauh dari diri kita. Maha Suci Allah dengan segala kepunyaanNya. Subhanallah. Umroh itu akhirnya datang juga dan semoga aku segera bisa kembali kesana untuk menunaikan ibadah Haji. Insya Allah, Amin. Pasutri Umroh

Eko Sutrisno Hp

/eshape

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Blogger Goweser Jogja, owner Mie Sehati (http://miesehati.com).|.
Anggota komunitas TDA, |.
Blog pribadi http://ekoshp.com info seputar Gadget.|.
http://eeshape.com/ |
eko.eshape@gmail.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?