HIGHLIGHT

Lan Fang: Lelakon Wajah yang Terbelah

22 Juni 2012 11:39:20 Dibaca :
Lan Fang: Lelakon Wajah yang Terbelah

Lakon apa yang sedang engkau mainkan dihadapan manusia di sekeliling agar mereka terkesan kepadamu ? Atau orang engkau berharap meninggalkan kesan tertentu dan mendapatkan sesuatu dari mereka ? Orang disekelilingmu ikut menilaimu, entah benar entah tidak. Kebenaran menjadi relatif ketika seluruhnya bersandar pada kepentingan dan selera pribadi, yang menilai maupun yang dinilai. Setiap orang yang menilai maupun yang dinilai semuanya sama saja. Wajahnya terbelah diantara wajah malaikati dan setan yang bergantian saling menunggangi, selama engkau masih berwujud manusia. Dalam interaksi sosial, seseorang akan menjadi cermin bagi yang lainnya.

Tak ada yang mampu menilai seseorang secara utuh, bahkan menilai dirinya sendiri kecuali ada satu yang pasti, bahwa engkau harus memainkan lakon yang dalam panggung sandiwara kehidupan yang sarat dengan tanda tanya. Di panggung ini, manusia saling mengkhianati, entah itu mengkhianati orang lain atau mengkhianati nuraninya sendiri. Citra diri di dunia ini seluruhnya semu adanya.

Lelakon

Novel Lelakon karya Lan Fang memberikan sebuah gambaran tentang manusia sebagai makhluk paradoks. Tokoh-tokoh yang dimunculkan tak ada satu pun yang protogonis sebagaimana halnya drama-drama dalam telenovela. Sedikit sisi baik dan sisi buruk terus bersalin rupa, yang mencuatkan pada kesimpulan utama, tak ada satu pun yang bebas dari cacat moral dan motif tersembunyi.

Novel yang dirilis pada tahun 2007 dan di terbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama ini menampilkan tokoh-tokoh dengan nama-nama yang tidak lazim didengar oleh telinga kita dan alur ceritanya juga tak biasa. Tokoh Mon, tukang pengocok kartu yang berkenalan dengan debt collector-nya Pak Lolok, Untung, yang hidupnya tak beruntung, anak hasil perselingkuhan antara Mintul dan pacarnya dan mengkhianati suaminya yang tua renta bernama Kisun. Sementara Kisun sendiri dimasa lalu sempat mengkhianati istrinya, sampai hartanya habis diporotin istri muda. Sementara sang istri muda berselingkuh dengan mandor. Pak Kisun yang merana lalu menikahi Mintul miskin untuk mengurusnya dan 8 anaknya. Mintul berharap Kisun cepat mati agar bisa menikah dengan ayahnya Untung, tapi Kisun tua renta itu tak jua mati.

Sementara Mon, memimpikan rumah kontrakan dibelakang tembok komplek perumahan agar menjadi miliknya suatu saat nanti, dan ia menamai rumah kontrakannya dengan nama Tanda Tanya. Ia membuat lubang untuk mengintip kehidupan mewah Nyonya besar dan Tuan dirumah tersebut. Sang Tuan berselingkuh dengan pembantunya, Tumini yang senang memakai baju dan perhiasan majikan perempuannya kala Nyonya besar sedang tak ada dirumah. Sementara itu, Mon jatuh cinta pada laki-laki yang senang menembak kucing dari kegelapan bernama Buang, mereka hidup bersama. Tetapi Buang memanfaatkan dirinya, dan mereka berkelahi hingga tiga jari Mon mrotol, sementara Buang dibuat Mon menjadi buta dan lidahnya putus.

Untuk mendapatkan impiannya, Mon kemudian menjadi penjual polis asuransi. Ia selalu mendatangi Bulan, perempuan perfeksionionis yang menikah dengan Angin Puyuh. Angin Puyuh adalah robot hidup yang baik hati yang takut istri. Angin Puyuh tak memiliki waktu untuk bercengkrama, dan satu-satunya hiburan baginya adalah adegan konyol di televisi yang dilarang ditonton oleh Bulan. Disisi lain, Bulan selalu asyik dengan bola kristalnya. Dan ia melihat pantulan Fantasi. Bola kristal itu pecah, Fantasi kemudian bersalin rupa menjadi Bulan. Dan Bulan kemudian tinggal di rumah Mon, perempuan penjual polis yang sering dikasarinya.

Angin Puyuh tahu, bahwa Fantasi bukan Bulan, sekali pun serupa dengan istrinya. Dan ini menjadi kesempatan bagi Angin Puyuh menjadi dirinya sendiri. Bulan maupun Fantasi harus dimusnahkan. Dan ia pun segera membuang topengnya dirinya, yang aslinya memang setan.

Fantasi kemudian meninggalkan Angin Puyuh dan hidup bersama Marbuat, seorang lelaki pekerja halus yang tidak berdaya seperti bayi, dan ia menginginkan Fantasi selalu didekatnya. Ia begitu bergantung kepada Fantasi yang memiliki karakter kuat sekaligus pembosan. Sementara Marbuat sendiri memiliki istri, Ratu Demit yang autis sosial, sinis, sombong dan tak suka bergaul dengan seorang manusia pun. Diam-diam, dalam kesan ketidakberdayaan, sesungguhnya Marbuat orang yang sangat menjaga harga dirinya. Ia selalu memakai topeng untuk menutupi ketidakberdayaannya.

Mon berkenalan denganTongki di depot mi ayam, Untung, yang sudah berhenti menjadi debt collector. Tongki seorang usahawan kaya, segera saja Mon menjadi muridnya agar bisa kaya tanpa bekerja, seperti Tongki. Akhirnya Mon sadar, ternyata hanya pandai memanfaatkan orang dan berhitung untung. Istri Tongki, Likilik dan istri Marbuat, Ratu Demit berteman. Keduanya tak memilki teman lain,dan tak punya orang lain lagi. Karenanya mereka bisa akur. Likilik pun merasa, bahwa Tongki hanya memanfaatkan Mon, dan dia tidak pusing dengan perselingkuhan Tongki dengan Mon.

Novel Lelakon & Filsafat

Kepiawaian menulis Lan Fang memang luar biasa. Ia meracik novel ini dengan bahasa yang lincah, liar, kasar dan mengejutkan. Sekali pun sarat dengan aroma perselingkuhan, tak ada suguhan fantasi romantisme disini. Dengan berani Lan Fang mengungkap sisi gelap manusia, dan wajah manusia dengan rupa sesuai dengan kepentingannya. Terkadang ia menulis dengan lembut, namun sebuah kelembutan yang jujur.

Membaca novel ini, saya serasa sedang membaca filsafat Arthur Schopenhauer dalam bentuk prosa, bahwa esensi manusia adalah kehendak buta. Tabiat manusia adalah homo homini lupus. Novel ini juga menguatkan postulat Horace Walpole, bahwa, “ dunia ini, komedi bagi orang yang berpikir, tetapi tragedi bagi orang yang hanya menggunakan perasaan.”

Saya membayangkan, dalam dunia nyata, jika berteman dengan orang-orang dalam Lelakon seperti ini dan ada dalam lingkaran ini, alangkah capeknya. Penuh siasat, pengkhianatan, dan saling mengelabui untuk kepentingan kepentingan sesaat pada hidup yang fana, dalam panggung yang bernama dunia. Lalu, manusia akan selalu bersikap skeptis terhadap adanya ketulusan dan pengorbanan.

Dan saya pun akan menulis, seperti Lan Fang menulis dalam epilog tulisannya,

“Kalau dunia ini panggung sandiwara…., biarkan aku jadi penontonnya saja…., aku cape, Tuhan!”

______

Bandung, 25 Mei 2012

Sumber Gambar : Dokumen Pribadi.

Erna Suminar

/ernasu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku ingin.....
melihat hidup sebagai perayaan,
bukannya beban.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?