Mohon tunggu...
Ekriyani
Ekriyani Mohon Tunggu... Guru - Guru

Pembelajar di universitas kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Kalau "Lockdown" Diberlakukan, Bagaimana Nasib Kami, Pak?

16 Maret 2020   11:28 Diperbarui: 16 Maret 2020   19:51 958
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
pinterest.com/carmendomenack

Jadi bagi yang miskin, sepertinya tak boleh sakit. Kalau mau mati, mati saja. Padahal Undang Undang Dasar telah mengatur. Fakir miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Negara yang mana?

Jangankan akan dipelihara, untuk berjualan di pinggir jalan saja setiap hari harus main petak umpet dengan petugas ketertiban umum. Tak sekali dua lapak, rombong dagangan diangkut tak berperikemanusiaan. Malah sepertinya lebih hina dari sampah. Sampah saja boleh berserakan di jalan tak dibersihkan. Sementara kami tak mengemis, kami hanya mencari sesuap nasi untuk anak istri. Bagaimana ini?

Lalu kalau lockdown diberlakukan seperti apa jalan keluarnya? Haruskah kami meminta-minta ke tetangga agar bisa makan? Dalam batas waktu yang tidak ditentukan.

Orang kaya dengan mudah menganggap kami tak peduli wabah corona. Kami semua tak ada yang memakai masker, karena memang tak sanggup membeli masker. Mereka memandang sambil mencibir, padahal kami bukan penyebab datangnya corona di negeri ini. Kelompok orang kayalah yang pelesiran enak-enakan. Sementara kami menanggung akibatnya.

Sementara aparat pemerintahan meyakinkan akan menyediakan ruang isolasi bagi penderita corona? Memangnya jika virus corona menyebar pada kami, masyarakat miskin ini akan dideteksi?

Mendeteksinya dari mana? Jangankan hanya deman dan batuk, yang lebih parah dari itu kami dibiarkan saja. Banyak tetangga yang lumpuh lemas karena penyakit tumor, kanker, kurang gizi, tergeletak kesana kemari mencari donasi.

Saya tak benci pada mereka yang kaya. Nasib baik telah mengelilinginya secara turun temurun. Kami juga miskin, nasib jelek menjadi sahabat kami secara turun temurun.

Demikian juga kami yakin, pemerintah memiliki orang pintar. Negarawan yang peduli keselamatan rakyat ini. Menyejahterakan rakyat bekerja hampir 24 jam dalam sehari. Tolong kali ini perhatikan kami.

Kami rakyat negeri ini juga punya hak atas sekehatan, atas keselamatan, atas kesekahteraan. Jika ada yang mengatakan kami miskin karena kurang pendidikan, kami akui. Bagaimana akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, jika akses terbatas untuk kami.

Jika ada yang mengatakan kami miskin karena malas. Kami tidak malas. Bahkan sebelum orang kaya terbangun, kami telah bertarung melawan dinginnya malam. Melawan panasnya terik matahari.

Lalu apa yang kami dapatkan? Yang kaya terus saja semakin kaya dan menikmati seluruh fasilitas yang ada. Sementara kami yang miskin hanya melongo melihat mereka. Semakin hari himpitan hidup semakin membuat kami susah bernapas lega.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun