Doni Swadarma
Doni Swadarma

Menghabiskan masa kecil sampai SMA-nya di seputaran terminal Blok M, setelah menyelesaikan pendidikannya di Teknik Sipil UI, mendedikasikan diri di dunia pendidikan sambil mengamati banyak hal yang dituangkan dalam bentuk tulisan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Potret

25 Oktober 2015   20:12 Diperbarui: 25 Oktober 2015   22:20 34 1 1

Ada janjian wawancara dengan Pak Adrian C.Ht. Beliau adalah pakar hipnotis yang menjadi narasumber buku saya: “Dahsyatnya Hypnoparenting”, rumahnya di Jalan Intan, Cilandak, Jakarta Selatan.  Bukan perkara mudah menembus kepadatan kota Jakarta. Apalagi menempuh perjalanan jauh, saat ini saya ada di Gang H. Sarmah, Perigi Pondok Aren Tangerang Selatan. Saya pilih naik sepeda, selain karena sehat, saya juga hafal betul betapa semrawutnya jalanan di Jakarta. Bisa bikin orang waras jadi sakit jiwa.

Jam menunjukkan pukul  satu siang, saat saya mulai jalan.  Namun belum apa-apa perjalanan sudah menemui hambatan. Gang H. Sarmah yang lebarnya hanya tiga meteran ini ternyata ditutup lantaran ada hajatan Maulidan. Di Kampung Parigi ini memang kampungnya Nahdiyin, basisnya NU. Tak mengherankan bila dalam setiap acara maulid bisa ada tiga-empat kali acara dengan panitia yang berbeda.

Ada panitia bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan terakhir gabungan semuanya. Luar biasa.  Di satu sisi saya bangga dan bersyukur dengan semangat syiar agama mereka, namun di sisi lain saya menyayangkan penutupan jalan tanpa pemberitahuan. Saya hanya kasihan melihat semua kendaraan yang kadung  lewat harus putar berbalik arah. Termasuk saya tentunya……

Perjalanan saya lanjutkan. Kubelokkan sepeda ke kanan bersiap untuk memasuki kawasan Bintaro sektor sembilan. Namun belum sampai dua ratus meteran arus lalu lintas kembali memadat. Ternyata jalan yang seharusnya digunakan untuk lalu larang kendaraan, telah diubah menjadi area parkiran. Ada sebuah Sekolah Islam Terpadu yang konon  pemiliknya anggota dewan itu. Walaupun sekolah mahal, lantaran bayarannya seharga rumah, tapi sayang  parkirannya ternyata masih luber ke tengah jalan. Banyak mobil mewah yang menyesaki bahu jalan, bahkan hingga dua baris. Kendaraan yang lewat kini harus bersusah payah, karena jatah jalan hilang setengah.  Tapi buat Sekolah Islam Terpadu masyarakat jadi seperti harus mengalah. Hmmmm… apakah memang harus seperti itu…?

Selepas Bintaro, saya memasuki jalan Pondok Pinang. Sepeda kukayuh dengan cukup kencang karena arus lalu lintas lumayan lenggang. Namun tiba-tiba saya dikagetkan dengan iring-iringan motor yang riuh ramai. Mereka berboncengan dengan membawa bendera yang dikibas-kibaskan.  Seakan ingin menghalau pengendara lainnya untuk menepi ke pinggiran jalan.  Sebagian lagi bersholawat dengan menggunakan toa. Saya menepi agar rombongan tersebut bisa jalan duluan. Saya perhatikan pakaian mereka, ada yang menggunakan celana pangsi, kopiah hitam-putih, ada juga yang sekedar sarungan. Sebagian lagi memakai rompi yang seragam. Saya baca tulisan di punggungnya : “Majlis zikir Al Habib” . Oww rombongan orang yang mau berzikir ternyata, baguslah. Mungkin karena mereka tak bisa membayar aparat agar perjalanan menjadi lancar, akhirnya mereka menggunakan caranya sendiri.

Perjalanan saya lanjutkan, memasuki jalan arteri Simatupang Raya. Semakin siang arus lalu  lintas semakin ramai. Hiruk pikuk kendaraan yang berseliweran saling sodok saling berebutan, tak sabaran berebut spes jalan yang hanya sepuluh sentia-an. Semua orang jadi mudah marah, semua orang jadi sok jagoan. Dinginnya pendingin udara, tak bisa mendinginkan kepala. Di saat seperti ini kesalahan sedikit saja, urusan bisa panjang. 

Dan terbukti, ketika sebuah mobil mewah terus menerus membunyikan klaksonnya tepat di belakang saya. Mungkin ia sedang terburu-buru karena ada urusan penting. Namun di saat lalu lintas padat tak bergerak seperti ini percuma saja membunyikan klakson. Takkan berpengaruh apa-apa. Tapi sepertinya orang itu tak mengerti, terus saja membunyikan klaksonnya. Tentu saja, saya yang tepat di depannya merasa terganggu. 

“Mas berisik!” percuma aja lagi macet!” teriak saya mengingatkan pengemudi yang tepat di belakang saya. Rupanya ucapan saya barusan malah membuat orang tersebut marah dan kontan turun dari kendaraan. “Eh jangan macam-macam kau, naik sepeda saja belagu kau! mau aku hajar , hah!!“ . Loh inikan si…..aduh siapa yah, saya lupa namanya.  Pokoknya dia itu dulu tokoh pembela HAM yang kini menjadi panglima laskar salah satu ormas Islam terkenal. Tapi kok galak amat, katanya pembela Islam….Ya sudahlah saya mengalah. Ternyata beda yah, antara pemberitaan di media dengan orang yang sebenarnya……..

Tepat di samping Citos, kemacetan bertambah parah, saya putuskan untuk istirahat sejenak. Kugotong sepeda ke atas trotoar masuk ke sebuah warung kopi. Aneh juga yah kok bisa ada warung kopi di atas trotoar gini? tanya saya dalam hati. Ahh sudahlah bukan urusan saya, lebih baik menenangkan diri melupakan peristiwa menjengkelkan barusan sambil minum kopi. Gang sempit di samping Citos ini agak aneh. Pedagang kaki lima berhimpitan di kiri kanan gang,  menyatu dengan lingkungan rumah penduduk. Terkesan kumuh dan berantakan. Sungguh kebalikan dengan suasana  Citos yang aman dan nyaman, walau lokasinya tepat bersebelahan. Mungkin ini hasil pembangunan, hanya berbuah ketimpangan yang makin melebar.

“ Kerupuk ikannya berapaan tuh pak?” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita cantik berhijab membuyarkan lamunan. Ia duduk di jok belakang supir. Mobilnya, sebuah Alphard keluaran terbaru yang tengah terjebak kemacetan. Jilbabnya panjang, rapi, trendi namun tetap syar’i. Tipikal muslim mapan perkotaan.  “Sebungkusnya sepuluh  ribu, Bu”,  jawab si pedagang kerupuk, lelaki tua 60-an. “Wah mahal amat pak, empat ribu aja yah, saya beli dua bungkus deh. Jadi delapan ribu. yah boleh yah….Si ibu jibab syar’i menawar setengah memaksa.  “Wah belum bisa bu, saya palingan cuma untung seribu perak bu, gak dimahalin kok”. Transaksi belum deal namun mobil sudah mulai bergerak menjauh. Saya lihat si Bapak tua pedagang kerupuk harus berlari pontang panting di sisi kiri Alphard, sambil terus melakukan tawar menawar. Entah si ibu berjibab syar’i tadi akhirnya jadi beli atau tidak, saya tak tahu pasti….

Ahhhh…. nikmatnya nyeruput kopi di siang siang menjelang sore seperti ini. Saya sudah hampir sampai di tujuan, rumah Pak Adrian ada di seberang jalan, tepatnya di belakang pom bensin Jalan Intan. Perjalanan yang membuat lelah tapi penuh hikmah.

Kurenungi perjalanan tadi. Mungkin inilah potret umat Islam. Gemar dengan simbol dan perayaan, namun kering dalam substansi dan pengamalan. Tak heran bila kerap merugikan orang. Saya teringat Gus Dur almarhum yang pernah berkata : “Tidak penting apa suku atau agamamu kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agama dan sukumu”. Namun sebaliknya bila kita melakukan kesalahan saat masih mengunakan simbol agama, maka orang akan menilai : itulah agamamu.

Suara adzan Ashar mulai bersahutan, berbarengan dengan  tegukan kopi terakhir. Di tengah hingar bingar suasana Jakarta,  kudatangi sumber suara….

 

22 Oktober 2015

Doni Swadarma