PILIHAN HEADLINE

Sehari Menikmati Keindahan Kota Udang

19 Juni 2017 05:41:51 Diperbarui: 21 Juni 2017 01:50:52 Dibaca : 412 Komentar : 4 Nilai : 5 Durasi Baca :
Sehari Menikmati Keindahan Kota Udang

Cirebon, nama kota ini sempat beberapa kali masuk dalam bucket list travel saya untuk weekend getaway. Sayangnya hal itu belum sempat terealisasi. Dua kali saya menginjakkan kaki di kota udang ini, namun hanya transit. 

Akhirnya mimpi untuk mengeksplorasi kota di pesisir Pantura ini terwujud pada Sabtu (10/6) lalu. Saya terpilih sebagai salah satu kompasianer untuk mengikuti trip yang diadakan oleh KOTEKA dan disponsori oleh Bank Danamon. Anyway, KOTEKA adalah Komunitas Traveler Kompasiana yang menjadi wadah bagi para kompasianer petualang yang hobi menuliskan kisah perjalanannya.

Trip kali ini adalah One Day Trip dan berkat dibangunnya tol Cikopo-Palimanan (Cipali) jarak antara Jakarta-Cirebon bisa ditempuh dalam waktu tiga jam saja. Tentunya ini akan menjadikan Cirebon sebagai alternatif wisata warga Jakarta selain Puncak atau Bandung yang kian sumpek.

Cirebon dikenal sebagai kota keraton atau kota ziarah karena memiliki banyak bangunan bersejarah. Namun kota yang bernama asli Caruban ini juga memiliki kuliner yang sudah go-lokal seperti ketoprak dan tahu gejrot yang berasal dari Cirebon.

Kota ini memiliki banyak potensi wisata, mulai dari wisata sejarah, wisata budaya, wisata kuliner sampai wisata belanja. Dan ini menjadi tugas kami sebagai smart traveler untuk mempromosikannya karena sudah saatnya kita pegang kendali wisata, salah satunya Cirebon. Lalu apa yang menarik dari kota yang kental dengan peradaban islamnya ini?

Menikmati lezatnya nasi lengko.

Setelah tiba di Cirebon dan briefing sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Bangunan ini memiliki arsitektur berwarna dominan merah tua. Kami tiba tepat jam 12 siang dimana umat muslim akan melaksanakan ibadah sholat dzuhur. Beberapa peserta pun turut masuk ke dalam masjid untuk beribadah.

Berhubung saya nonmuslim, saya memutuskan untuk mencari brunch. Awalnya agak sulit untuk mencari pedagang makanan di sekitar masjid, apalagi di bulan puasa seperti sekarang ini. Namun ternyata di seberang masjid ada banyak penjual makanan dan minuman yang menutupi lapaknya dengan kain terpal/tenda.

Bersama peserta nonmuslim lainnya dan peserta yang sedang 'absen' berpuasa, kami menuju lapak pedagang makanan yang sekilas mirip warteg. Si ibu penjual dengan ramah melayani kami dan menawarkan menu makanan. Saat menyebut nasi lengko, sontak kami semua memutuskan untuk mencicipi hidangan khas Cirebon ini.

Nasi lengko adalah makanan yang mirip dengan nasi pecel. Hidangannya berupa nasi putih dengan potongan tahu dan tempe, mentimun yang sudah dirajang, tauge kemudian ditabur daun kucai dan bawang goreng. Nasi disiram dengan bumbu kacang dan kecap manis encer ditambah sambal. 

Nikmatnya nasi lengko langsung terasa di suapan pertama. Meski terkesan sederhana, nasi lengko cocok dijadikan sebagai menu sarapan atau makan siang dan pas sebagai pengbungkam perut yang sedari tadi sudah berteriak.

Jika Anda sedang berkunjung ke Cirebon, cobalah untuk merasakan lezatnya nasi lengko karena hidangan ini mudah ditemukan baik di pinggir jalan sampai restoran.

Keberagaman di Keraton Kasepuhan

Tak jauh dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa, berdiri salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang di kota udang ini. Keraton Kasepuhan, itulah tempat dimana sultan tinggal dan keturunannya sampai saat ini juga menetap disana. Bangunan ini terdiri dari beberapa area. Disana ada juga paseban atau pendopo yang merupakan bangunan semi terbuka.

Akulturasi budaya Jawa, Sunda, Arab, Cina, India dan Eropa terasa kental. Dua patung singa di depan keraton menunjukkan kuatnya pengaruh agama hindu pada masa itu, ditambah gerbang yang juga menyerupai pura di Bali. Ukiran di daun pintu gapura bergaya eropa serta pagar di beberapa area terbuat dari keramik cina. Jangan lupakan bata berwarna merah khas jawa.

Yang menarik adalah keramik porselen dari Tiongkok yang menghiasi dinding keraton. Meski keraton ini memiliki budaya islam yang kental namun lukisan yang tergambar dalam keramik tersebut adalah kisah dari agama nasrani (seperti gambar Yesus Kristus dan Musa). 

Ini menunjukkan bahwa Cirebon adalah kota yang toleran dan menerima keberagaman. Tak heran bila disini terdapat banyak bangunan keagamaan yang hidup berdampingan dan masyarakatnya juga terdiri dari berbagai suku dan etnis (Jawa, Sunda, Tionghoa, dll). Seperti namanya caruban, yang berarti bersatu padu.

Masih lestarinya becak

Waktu kecil saya sering menggunakan transportasi umum bernama becak. Namun seiring perkembangan zaman, becak mulai terkikis dari ibukota. Meskipun ada beberapa abang tukang becak yang masih suka mangkal, namun sensasi ngebecak yang saya rasakan tidak sama seperti waktu saya masih bocah. Becak di Jakarta bentuknya sudah bukan becak lagi, namun seperti semi gerobak.

Ketika banyak tukang becak berseliweran, kami pun memutuskan untuk menggunakan transportasi tradisional yang 'Indonesia banget' ini. Disini, becak berjalan beriringan dengan kendaraan bermotor lainnya. Bentuk becak khas Cirebon berukuran lebih kecil. Ukuran bangkunya hanya cukup menampung dua orang bertubuh ramping. Mereka yang bertubuh tambun lebih cocok duduk sendiri.

Sayangnya seperti kasus becak-becak pada umumnya yang kerap saya temui jika naik becak di kota-kota lain. Ada oknum abang tukang becak yang kerap meminta ongkos tambahan dari harga yang sudah ditentukan semula. Meski demikian, masih dilestarikannya transportasi lokal dan tradisional ini juga turut mengangkat pariwisata Cirebon dan juga Indonesia di mata dunia. Jika Thailand punya tuktuk dan Filipina memiliki jeepney, maka di Indonesia ada becak.

Mitos sumur di Keraton Kanoman

Berkunjung ke Keraton Kanoman, pengunjung akan dibawa ke bagian belakang dimana terdapat sumur yang memiliki mitos yang dipercaya oleh masayarakat setempat. Adalah sumur witana dimana mereka yang mencuci muka atau minum air sumur itu akan mendapatkan jodoh. Beberapa peserta beramai-ramai membasuh wajah dan minum air sumur witana. Saya juga sempat cuci muka di sumur ini karena cuaca di Cirebon saat itu sangat terik.

Tak jauh dari sumur tersebut ada sumur kejayaan. Pada zaman dahulu, para prajurit mandi di sumur ini sebelum berperang. Jika mereka membasuh diri di sumur kejayaan, niscaya akan meraih kemenangan. Saat ini, sumur kejayaan sering digunakan oleh pejabat dan politikus. Berbeda dengan sumur witana, sumur kejayaan ditaburi kembang dan sesajen. Namun pengunjung juga diperbolehkan untuk membasuh diri atau minum air sumur ini.

Kuliner dan oleh-oleh khas

Seperti turis dan wisatawan pada umumnya jika sedang jalan-jalan. Kuliner dan oleh-oleh adalah dua hal yang tak boleh dilewatkan. Salah satu kuliner khas kota Cirebon adalah empal gentong. Sajian yang mirip gulai atau soto kuning ini memiliki citarasa yang khas karena dimasak menggunakan wadah tanah liat/gentong. Potongan bumbu dan daging dimasak menggunakan arang atau kayu bakar sehingga rasanya meresap ke dalam daging.

Sayangnya penggunaan gentong untuk memasak empal gentong mulai ditinggalkan. Namun masih ada beberapa penjual empal gentong yang meracik menggunakan cara tradisional ini.

Menyantap empal gentong biasanya ditemani sate kambing muda yang berisi potongan daging dan lemak, sate dilengkapi oleh acar dan juga bumbu kacang. Rasa juicy dari sate semakin melengkapi gurihnya empal gentong.

Untuk oleh-oleh kudapan, saya sempat bingung apa yang menjadi oleh-oleh khas Cirebon. Semarang punya lumpia, Jogja punya bakpia, Garut ada dodol, lalu Cirebon punya apa? Ternyata Cirebon memiliki sirup tjampolay (ejaan lama, dibaca campolai), sirup homemade yang sudah diproduksi sejak puluhan tahun silam. Rasanya pun bervariasi mulai dari pisang susu, jeruk nipis, peach, dll. Jika mencari oleh-oleh khas Cirebon, sirup tjampolay adalah jawabannya.

***

Sehari menikmati keindahan kota udang rasanya sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Selain menambah wawasan dengan mengunjungi tempat bersejarah lengkap dengan mitos-mitosnya, kami juga mencicipi kelezatan kulinernya. Pengalaman ini membuat nafsu berpetualang saya menggebu-gebu untuk kembali ke kota ini.

Ada banyak kuliner menarik lainnya yang belum saya cicipi seperti nasi jamblang, mie koclok dan bubur sop. Lalu sebagai traveler yang mencari wisata back to nature, ada tempat-tempat yang menarik seperti desa Ciwaringin dan Cikalahang, Situ Sedong dan Banyu Panas Palimanan. Setelah road trip lewat jalur Cipali, saya ingin merasakan pengalaman berbeda dalam perjalanan ke Cirebon berikutnya, yaitu menggunakan kereta api.

Seperti biasanya, saya mereservasi tiket kereta melalui situs KAI. Selanjutnya saya memesan tiket yang masih tersedia di jalur keberangkatan. Saya memilih berangkat dari stasiun gambir dan tiba di stasiun cirebon.

Jangan lupa untuk mengisi data dengan benar. Pastikan juga nomor HP dan email yang digunakan aktif karena informasi berikutnya akan dikirimkan lewat email.

Setelah data selesai diinput, kita diberikan pilihan untuk melakukan metode pembayaran. Ada beberapa pilihan pembayaran melalui ATM, online banking atau membayar di beberapa merchant yang bekerjasama dengan KAI, seperti minimarket dan kantor pos.

Biasanya saya membayar tiket kereta yang telah saya pesan melalui ATM, namun dengan Danamon Online Banking (DOB) transaksi bisa dilakukan pada saat itu juga. Saya pun tak perlu repot-repot mencari ATM agar tiket tidak hangus (booking tiket kereta hanya tiga jam).

Pada menu metode pembayaran, kita bisa memilih/menchecklist Danamon Online Banking. Setelah mengklik tombol selanjutnya, kita akan dialihkan ke situs www.danamonline.com untuk login dengan user ID dan password bank Danamon kita.

Berikutnya kita akan membaca tentang syarat dan ketentuan pembayaran belanja online via Danamon Online Banking. Setelah setuju, kita akan dialihkan pada tata cara pembayaran dimana kita harus memasukkan kode OTP (ONE Time Password) yang dikirimkan melalui token dan SMS. Tekan tombol lanjut, dan transaksi sukses dilakukan.

Selanjutnya, KAI akan mengirimkam lembar konfirmasi booking resmi ke alamat email kita. Dalam lembar booking tertera nama penumpang, jurusan kereta dan waktu keberangkatan. Lalu ada kode booking yang bisa kita tukarkan dengan tiket fisik satu jam sebelum keberangkatan di stasiun. Dan viola! Saya pun siap berpetualang kembali ke kota udang.

Menjadi salah satu smart traveler yang dipilih untuk mengeksplorasi keindahan kota Cirebon menjadi pengalaman tak terlupakan. Bersama KOTEKA dan Bank Danamon, saya mendapatkan pengalaman baru dan juga teman-teman baru. Bagi para kompasianer yang ingin bergabung bersama KOTEKA, kami membuka tangan selebar-lebarnya karena ada banyak kegiatan positif dan menarik lainnya lewat komunitas ini. Karena inilah saat dimana smart traveler memegang kendali pariwisata, khususnya di Indonesia.

See You Next Adventure!

Facebook || Twitter

Deny Oey

/deny.oey

just love writing and share it
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana