Deni Mildan
Deni Mildan

geologiwan muda | Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tak Cukup dengan Sikut-sikutan

12 Maret 2017   11:07 Diperbarui: 12 Maret 2017   12:11 36 0 0

Saya tak pernah sekalipun menyaksikan manusia memakan uang. Memakan uang di sini, saya tegaskan, dalam arti yang sebenarnya. Makan sepertihalnya kita makan nasi atau tikus makan sabun. Barangkali terlalusayang jika uang masuk begitu saja melewati kerongkongan.

Lainhalnya dengan nasi yang begitu dikonsumsi langsung mengenyangkan,uang tidak demikian. Terkadang begitu sampai di tangan uang malahmembingungkan. Seringkali pikiran menerawang jauh, merenung hendakdiapakan uang tersebut. Uang yang sedikit membuat kepala pusing tujuhkeliling. Uang banyak pun tak jarang membuat hati resah dan gelisah.

Nasi(yang berasal dari beras) memang hanya memiliki satu fungsi, untuk dimakan. Satu dan hanya satu. Kesederhanaan fungsi membuat nasi (atauberas) bisa lebih mudah dinikmati. Uang lain cerita. Kegunaannyasebagai alat tukar bisa mengonversi uang menjadi barang macam-macam.Multilevel, lebih rumit. Paling tidak butuh satu langkah tambahanuntuk bisa dinikmati secara langsung. Manusia tidak makan uang, dalamarti sebenarnya.

Kesederhanaan nasi inilah yang (barangkali) membuat manusia jarang berebut nasi dengan cara kasar. Jika sebakul nasi disajikan di atas meja makan(tentunya lengkap dengan lauk pauknya) untuk 8 orang, bisa sayapastikan tidak akan ada pertikaian dalam perebuutan bulir-bulir nasi,Paling parah, mungkin hanya aksi sikut-sikutan. Itupun disertai candatawa.

Uang,sudah tidak bisa dimakan langsung, perebutannya malah selalumenimbulkan pertarungan sengit. Berkelakuan tak pantas pun takmasalah, asal mendapat uang. Orang-orang berani berseteru di mejahijau hanya karena uang, meski jumlahnya tak seberapa. Karena uang,seorang anak berani menuntut orang tuanya secara perdata, mengklaimharta yang diakuinya bukan hak ayah-ibunya. Karena uang, seorangsupir angkot tega menabrak pesaingnya dari komunitas ojek online,khawatir penghasilannya berkurang. Uang tak cukup diperebutkan hanyadengan sikut-sikutan.