PILIHAN HEADLINE

Resign Dini, Pensiun Dini dan Menikah Dini

11 Januari 2017 16:23:30 Diperbarui: 11 Januari 2017 19:27:34 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Resign Dini, Pensiun Dini dan Menikah Dini
Ilustrasi Kompasiana

Target pribadi banyak orang seringkali berbeda tergantung jenjang usia dalam hidupnya.

Mereka yang masih jomblo hepi, tapi mulai bosen sampai ke ubun- ubun ditanyain, “Kapan kawin?” “Undangannya mana?” “Calonnya mana?” “Bakal calonnya mana? Mama udah bisa voting belum?” kayaknya berhadapan dengan isu menikah dini.

Mereka yang udah bosan ‘dikeramasin’ dan disembur oleh atasannya, yang saking seringnya dipanggil si bos sampe udah kayak makan, “Sehari diomelin tiga kali biar sehat, omelan pagi, siang, dan malam. Kadang- kadang ada waktu omelan tea time, biar seger”. Targetnya ingin resign dini.

Dan mereka yang bekerja sambil lirik kiri kanan dan punya selingkuhan bisnis atau usaha sampingan, biasanya bermimpi, mengumbar, dan kerap ketahuan berdiri dengan mata memandang kejauhan seperti petapa di atas gunung tinggi, dan mendambakan pensiun dini.

Saya jadi penasaran.

“Siapa sih yang namanya Dini?”

Kok dia sampai bisa dicari dan jadi impian banyak orang begini? Ngetop banget.

Mirip- mirip lah dengan minuman susu murni yang juga bikin saya penasaran, “Siapa sih yang namanya Murni? Anak mana? Kuliahnya dimana? Kok susunya… eh maksudnya bisnis susunya bisa sampai kemana- mana?” *gagal fokus*

Tapi kembali ke topik, sebenarnya, walaupun ada di sisi dunia yang sama sekali berbeda, dan didorong oleh alasan yang nampaknya kayak langit dan bumi, motivasi dibalik semua ‘dream’ itu, untuk sebagian besar orang, sebenarnya sama.

“Harapan untuk kondisi yang lebih baik”.

Harapan Kebahagiaan dalam Kondisi yang Lebih Baik

Dalam hal keinginan untuk tumbuh menjadi lebih baik, manusia itu sebelas dua belas lah sama tanaman.

Sama- sama ingin tumbuh.

Walaupun pengertiannya agak berbeda dari pengertian teman saya, yang waktu beratnya nambah dari 72 jadi 92, dia alasannya “Gue banyak pertumbuhan bro”. Itu sih bukan tumbuh, Jek, itu sih ‘kemajuan’ dan ‘perkembangan’. Maju perutnya ke depan dan berkembang pantatnya ke kiri kanan atas bawah.

So, harapan untuk jadi lebih baik ini adalah ESENSI untuk Anda menjadi lebih baik dari kemarin!

Kalau Anda nggak punya ambisi untuk tumbuh, maka Anda akan ‘mati’ (secara perkembangan karir dan pribadi).

Tapi dalam hal tertentu, terlalu napsu ingin ber- ‘dini’ ria juga bisa membawa unsur negatifnya sendiri. Apalagi kalau target ‘dini’ kita cuma ikut- ikutan trend dan kutipan yang lagi populer saja.

Jadi persiapkan diri Anda dengan baik sebelum ikut ber- dini ria!

Dalam Resign Dini

Sejak pertama kali saya memasuki dunia kerja dan bisnis dulu, dan berhadapan dengan karyawan dalam sesi- sesi coaching sayadi berbagai perusahaan, resign dini adalah salah satu dini yang diidamkan semua orang (khususnya karyawan), ibarat gadis seksi bernama Dini Sastro yang merupakan saudari kembarnya Dian Sastro.

Beberapa motivasi di balik keinginan resign ini biasanya simple. Nggak suka sama kerjaannya. Nggak suka sama rutinitas kantornya. Nggak suka sama bosnya dan omelan bosnya. Nggak suka sama gajinya. Nggak suka nggak suka pokoknya nggak sukaaaaaaa!

Dan harapan untuk menjadi lebih baiknya biasanya lebih simple lagi. Semoga bisa dapat pekerjaan lebih baik. Semoga bisa dapat rutinitas lebih baik. Semoga dapat bos lebih baik. Semoga dapat gaji lebih baik. Semoga semoga pokoknya semogaaaaaa!

Sebagian dari yang melakukan resign dini ini mencoba untuk bekerja di tempat lain, dan yang lainnya mencoba berbisnis sendiri. Mencoba menjadi lebih baik dan mendapatkan kerjaan dan rutinitas yang lebih baik dalam segala hal.

Dalam melakukan ini, resiko negatif yang bisa dihadapi antara lain adalah langkah gegabah untuk resign HANYA karena berbagai masalah kecil, dan terlalu cepat keluar dari pekerjaan yang saat ini dijalankannya, tanpa perencanaan yang matang!

Persiapan Resign Dini

Persiapan untuk memastikan pertumbuhan agar tidak gegabah melakukan resign dini: Pastikan Anda TAHU persis apa yang tidak Anda sukai dalam pekerjaan lama Anda, agar tidak mengulangi hal yang sama. Pastikan Anda TAHU persis apa yang ANDA SUKAI dan Anda inginkan dalam pekerjaan baru Anda. Pastikan Anda sudah tahu mau kemana Anda, dan rencana Anda, sebelum surat resign Anda tempelkan pakai selotip di jidat bos Anda. Pastikan Anda sudah memiliki jalur jelas dan rencana cadangan yang memang Anda SUKA agar tidak jadi kutu loncat tukang mengeluhkan pekerjaan.

Dalam Pensiun Dini

Yang satu ini menurut saya adalah jebakan betmen.

Sejak keluarnya buku “Rich Dad, Poor Dad” belasan tahun lalu, konsep pensiun dini jadi sangat populer. Dan mungkin lebih populer dari resign dini tadi. Kalau resign dini tadi ibarat Dini Sastro kembarannya Dian Sastro, pensiun dini ini mungkin selevel dengan Angelina Jolie, jadi Angelina Dini lah.

Konsepnya simple.

Ingin cepet- cepet kaya raya dunia, supaya bisa berhenti kerja se- dini mungkin. Pensiun dini, artinya bisa berhenti kerja di usia 30, 35, atau malah 40 tahun. 40 tahun malah udah agak ketuaan, katanya.

Tapi disinilah jebakan betmennya.

“Setelah pensiun, terus ente mau ngapain? Duduk duduk jalan- jalan nonton TV doang? Saya jamin bakal mati muda juga karena bosan dan kurang tantangan!”

Pensiun dini, menurut saya adalah konsep untuk mereka yang NGGAK SUKA SAMA PEKERJAANNYA.

Saya ulangi.

Pensiun dini HANYA untuk mereka yang nggak suka sama pekerjaannya!

Kenapa? Karena orang yang suka sama pekerjaannya, sesungguhnya nggak akan pernah mau berhenti bekerja begitu saja. Apalagi ‘dini’- ‘dini’ segala!

Buat mereka yang bekerja dalam Passionnya, dan menikmati rutinitas kerjanya, bekerja itu menyenangkan, sumber motivasi, dan sekaligus adalah hiburannya! Jadi ngapain pengen cepet- cepet berhenti?

Hayao Miyazaki misalnya, maestro animasi dari Ghibli Studio, telah berkali- kali mengatakan ingin pensiun. Tapi berkali- kali pula menyatakan kembali untuk ‘satu karya terakhir’. Bahkan setelah ia menyatakan pensiun setelah animasi terakhirnya “The WInd Rises”, kemarin, ia menyatakan akan kembali lagi, untuk ‘satu karya terakhir’.

Kita membutuhkan tantangan dalam hidup kita. Pensiun dini dengan definisi ‘berhenti bekerja’ adalah saran terburuk yang bisa Anda ambil begitu saja!

Saran untuk Pensiun Dini

Ubah mindset ‘pensiun dini’ Anda! Jangan memandang pensiun dini sebagai saatnya Anda berhenti bekerja begitu saja, tapi: Pensiun dini adalah saatnya Anda berhenti melakukan profesi yang TIDAK Anda sukai, dan memulai profesi yang memang Anda sukai dan memberi Anda makna! Passion Anda! Pensiun dini bukan berarti leyeh- leyeh di sofa menikmati kekayaan, tapi saatnya memberi diri tantangan yang lebih besar lagi! Tapi yang Anda nikmati. Kalau Anda sudah mencintai apa yang Anda lakukan, tidak ada gunanya musingin ‘pensiun dini’ hanya karena teman Anda memimpikannya.

Dalam Menikah Dini

Para jomblo kumpuuuul!

Hmmm. Untuk yang satu ini, sebenarnya hanya Tuhan yang tahu, dan hanya Anda yang bisa merasakannya. Urusan hati, dan urusan jodoh, bukan masalah saya, apalagi kalau jodoh Anda beneran namanya “Dini”, itu sih langsung saja menikahi si Dini itu.

Kalau Anda kawinnya nggak ngundang- ngundang saya, nah itu baru jadi urusan saya! Apalagi kalau ada kambing guling. Jiahhh.

Persiapan Menikah Dini

Kata kakek saya, kawin cuma butuh cinta dan selembar tikar. Tapi walau begitu, ada beberapa persiapan dan hal yang perlu Anda persiapkan. Pastikan Anda dan dia punya keyakinan yang sama. Artinya, kalau Anda yakin Anda ganteng, pastikan dia juga yakin Anda ganteng, kalau nggak bisa repot. Pastikan Anda menikah karena pilihan. Pilihan masing- masing, bukan pilihan tetangganya si dia yang kesal karena motor Anda 24 jam selama 7 hari diparkir menghalangi pintunya dengan kembang 7 rupa. Pastikan nama calon Anda memang “Dini”, jadinya bisa menikah Dini. Kalau nama pasangan Anda Kokom jadinya bukan menikah dini, tapi menikah kokom.

Tau ah! Emang saya biro jodoh, mak comblang, atau dokter cinta?


Yang pasti, sadari setiap pilihan dan PERSIAPKAN diri dalam setiap harapan dan langkah Anda untuk menjadi lebih baik!

Dedy Dahlan

/dedydahlan

Penulis buku Best Seller "Lakukan Dengan Hati", "Ini Cara Gue", dan "Passion!". CEO Mitologi Media dan Inspira Asia. Anggota International Coach Federation (ICF).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana