Aku Jatuh Cinta padamu, Jogja

04 Januari 2013 16:13:19 Dibaca :

Aku jatuh cinta padamu, jogja Kuinjak basah rumput jogja pagi ini, berjalan di bawah hangatnya mentari pagi yang semakin naik untuk melaksanakan tugasnya. Kuhirup perlahan udara kota ini , kurasakan ada udara segar mengelilingi paru-paruku dan kurasakan sejuk menyapa otak kanan dan kiriku. Ku berjalan perlahan untuk membunuh sepi yang kurasa di kota yang baru ku injak pagi ini. Sepanjang jalan aku mulai melihat kesibukan dari penghuni jogja, tukang becak mulai mengayuh dengan semangatnya, penjaja makanan manis mulai merapikan dagangan dengan senyum pengharapan agar dagangannya terjual habis. "gudegnya dek, masih hangat istirahat dulu sini .. Mari mampir cah ayu " dengan logat jawa  yang amat kental samar ku dengar salah seorang dari mereka memanggilku untuk mampir. "nggeh bu, matur nuwun " jawabku sambil benar-benar mampir untuk mengisi perutku yang sudah  meronta kelaparan. "Bu, Gudegnya setunggal nggeh, mboten pedes kaleh unjukkane setunggal" kataku mantap memesan satu porsi gudeg dan minuman hangat sebagai teman berbagi pagi di Jogja. Jogja adalah kota yang kupilih untuk meneruskan kuliahku, entah kenapa aku suka jogja, mungkin aku jatuh cinta dengan keramahan penduduknya, dengan kesederhanaan hidup tapi cukup buat mereka. "monggo nduk " ujar ibu pedagang itu membuyarkan lamunan ku tentang jogja . Tanpa pikir panjang langsung kulahap dan kuhabiskan sarapanku pagi itu. "Kamu datang dari mana nduk ? Sepertinya bukan penduduk asli sini  jawanya juga kaku " tanya ibu pedagang membuka percakapan, "saya dari jakarta bu, mau sekolah disini baru sampai pagi ini dari jakarta , disini tempat-tempatnya bagus ya bu saya pagi ini sudah jatuh cinta sama alun-alun dan gudegnya ibu " kataku sambil tertawa lepas. "iya nak, disini bayak tempat menarik, juga banyak kuliner yang ga ada di jakarta ada banyak pantai, ada gunug juga, juga banyak museum dan wisata sejarah menarik" kata ibu itu lugas. "iya bu nanti saya akan melihat-lihat keindahan kota ini dari sudut ke sudut " kataku sambil pamit pergi Kuhempaskan tubuhku dalam empuknya tempat tidur di kamar kos sederhana yang sudah jauh hari dipesan olehku. Sederhana namun apik dilihat , dengan taman kecil diluar, lokasi pun tak jauh dari kampus dimana tempat aku menimba ilmu. Juga tak jauh dari Jantungnya jogja yaitu malioboro. Teringat masa Sma saat ada study tour disana. Melewati setiap jalan malioboro dengan kayuhan becak, belanja sepuasnya dengan harga – harga yang terjangkau dan akhirnya mendapatkan barang bagus yang tudak murahan. Dalam lamunanku aku pun beranjak terlelap dan terbangun dengan langit yang menghitam. Rasa sesal menelusuk saat aku melewati siang menjadi malam hanya dengan tidur. Apalagi aku baru aktif kuliah sekitar 2 minggu lagi, “masih banyak waktu untuk menjelajah kota ini “ gumamku sendiri. Setelah bebersih diri aku mulai menjelajah malioboro malam ini, mencari pengisi perut yang sudah berteriak kelaparan. Berhubung tak jauh dari Malioboro akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri jalan di Jogja malam ini. Ditemani cahaya bintang dan juga hembusan sang bayu yang sedikit mengigit kulitku Malioboro malam selalu membuat ku jatuh cinta, ramai kaki lima yang menjajakan sajian khas, suasana yang tak kan ku dapat di kota manapun, sayup-sayup terdengar lantunan penyanyi jalanan berlarian di telinga, persis seperti gambaran dalam lagu kla project yang bercerita tentang jogja. Ku hentikan langkahku dan memasuki salah satu warung penjual bakmi jawa. “pak bakmi gorengnya satu sama minumnya teh hangat satu ya pak” kataku mantap memesan dan kunikmati semangkok bakmi diiringi lantunan musisi-musisi jalanan nan syahdu. Usai makan , ku bersiap untuk pulang ke kos-kosan kembali dengan jalan kaki tapi lewat arah yang berbeda. Kali ini mataku disuguhi dengan benteng-benteng tua “benteng vredebrug” tukasku sambil membaca tulisan di depan benteng itu. “suka sama pemandangan jogja ?” kudengar parau suara seseorang bertanya kepadaku.           Kulihat sosok lelaki muda berambut tipis, bermata coklat dibalut dengan kacamata merah marun, dan berjaket kulit tebal. “iya, suka.. indah juga nyaman.. feel homey setiap kesini” jawabku . “aku juga sudah hampir 2 tahun aku disini dan aku ga pernah bosen akan suasana malam di ujung malioboro,” jawabnya sambil menyunginggkan senyum tipis dari bibirnya. “oya ??? aku juga akan disisni selama 4 tahun dan aku yakin ga akan merasa bosan untuk tinggal disini, namaku ana, kamu ??”. “aku ragil, besok kalo kamu ga keberatan aku ajak kamu ke pantai dan tempat-tempat menarik di jogja. Aku yakin kamu pasti suka” akhirnya kita berjanji untuk bertemu lagi di ujung jalan malioboro esok hari. Pagi kedua di Jogja, aku sudah bersiap untuk mengarungi lagi kota ini apalagi sudah ada temannya dan ganteng pula. Lamunanku sudah membuat ku geli di pagi ini, diujung jalan malioboro ku tunggu “dah lama?? Mumpung masih pagi mampir pasar beringharjo yuk.. banyak sarapan enak disana” serobotnya membuyarkan lamunanku. “ucap salam dulu kek ngaggetin aja” ucapku ketus. “lagi siapa suruh ngelamun mikirin siapa kali” ujarnya sambil tertawa renyah. Pagi kedua di Jogja menikmati bakpia hangat isi kacang ijo dan teh hangat di iringi riuh ramai pasar beringharjo. “nanti kita mau kemana mas?” tanyaku polos. “mas?? Tua banget kamu manggil aku ?? panggil aja ragil gitu, berasa tukang becak depan pasar dipanggil mas hahaha, nanti kita keliling pantai aja.. mau ?, pantai  ngobaran … jangan parang tritis aja taunya”  jelasnya panjang . “hmm” aku hanya mengangguk walau aku juga tak tau parang tritis itu dimana. Perjalanan dua jam dari kota membuat ku mulai jenuh . pantai ini terdapat di daerah gunung kidul yang jauh dari kota, tapi jauh-jauh kesini sungguh tak merugi. Letih perjalanan dibayar dengan melihat hamparan laut biru nan cantik juga mengenggam pasir pantai nan bersih merasakan angin sejuk nan tentram ditambah lagi lantunan syahdu ombak-ombak yang saling berkejaran. “bagus sekali pantainya… tapi kenapa banyak rumput laut begini??”tanyaku heran “kalo airnya surut kita bisa melihat hamparan rumput laut ini kalau lagi pasang ini akan tertutup dengan air laut, eh kita keatas yuk disana ada empat bangunan peribadatan yang berbeda” ajaknya sambil menarik tangan ku. Menapaki tangga untuk naik ke bagian atas tempat ini masih membuat ku ternganga betapa eksotisnya pantai ini dilihat dari sudut manapun. “lihat itu ada pura, ada masjid, ada joglo (tempat beribadat penganut kejawen) , juga ada patung –patung budha” katanya menunjuk ke empat arah yang berbeda. “kok banyak banget sih ?? jadi bingung” kataku tersungut. “biar ga bingung nyobain landak goreng aja yuk di sini , terkenal lho” katanya sambil menarik tanganku yang daritadi bagaikan karet ditarik-tarik saja. Kuhabiskan senja dan menikmati matahari pulang ke tempatnya dengan sepiring landak laut goreng nan kenyal. Di perjalanan pulang kami merencanakan untuk wisata sejarah besok, dan wisata kuliner lusa. Tak ada habisnya dalam menceritakan jogja katanya, aku jatuh cinta pada kota ini . pada deburan pantainya, pada semilir angin gunungnya, pada tiap gigitan manis makanan khasnya, dan pada tiap jengkal nilai sejarahnya J

dea solliana

/deasolliana

hanya wanita biasa yang selalu berusaha menyenangkan penciptanya. dengan senyum dan ibadah sebagai pegangan hidupnya,,, dan dengan sajak sebagai pengahantar seluruh isi jiwa dan pikirannya Dalam sajak aku menari dalam imajinasiku…. Dalam sajak aku berlari dari nyataku, Dalam sajak aku bercumbu dengan khayalku.. Dalam sajak aku mampu hentikan waktu .. Dan… Ini dunia ku.. Ya Allah ini semua dariMu – dan untukMu saksikanlah, berkahhilah….
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?